Descendants Of The Moon

Descendants Of The Moon
DIBELIKAN PONSEL



"Mau makan apa?"


Elaina yang kini sedang seru-serunya menonton serial televisi yang berjudul Upin Ipin menoleh ke arah Elang yang baru saja datang dari dapur.


"Apa aja. Gue kan nggak tau makanan di sini apa aja." Ucap Elaina yang kemudian kembali fokus menonton televisi.


Elang yang bingung mau memasak apa malah di tambah bingung dengan jawaban Elaina. Seharusnya Elang berpikir, Elaina kan dari Klan Bulan. Bagaimana bisa ia mengetahui masakan Bumi?


"Apa aja ya? Oke..." Elang itu adalah tipe cowok yang bisa memasak. Tinggal di apartemen membuatnya belajar hidup mandiri. Lagipula ia tidak suka tinggal bersama orang tuanya. Mau tinggal bersama orang tua atau pun di apartemen, keduanya sama saja. Sepi. Orang tuanya terlalu sibuk dengan dunia masing-masing.


Setelah selesai membuat makanan, Elang memanggil Elaina yang masih sibuk menonton televisi. Bahkan saat di panggil pun Elaina tidak menyahut. Membuat Elang kesal. "Apa serunya sih, bocah-bocah botak." Ucap Elang sambil berjalan menghampiri Elaina. Elaina terlihat sangat menyukai film itu.


"El," Elang menyentuh bahu Elaina, membuat gadis itu menoleh.


"Ayo makan. Udah siap."


"Bentar dulu." Elaina kembali menatap televisi. Mengabaikan Elang yang benar-benar sudah kehabisan akal untuk menyuruh Elaina makan.


"Oke, kalo lo nggak makan, jangan nangis kalo besok TV nya gue jual, jadi lo nggak bisa nonton Upan Ipun lagi." Ucap Elang yang membuat Elaina langsung menatapnya.


"Jangan dong!"


"Makanya makan."


Walaupun Elaina terpaksa melakukan ini, ia tetap melakukannya karena ternyata perutnya juga lapar.


"Lo masak apa?" Tanya Elaina. Ia menatap masakan yang sudah di hidangkan di meja makan oleh Elang.


"Gue cuman bikin tumis kangkung sama ayam goreng. Lo suka nggak?"


Elaina menatap Elang. Ia tertawa. "Kamu gimana sih. Kan aku belum pernah makan." Ya beginilah Elaina, gadis itu sering berbicara campur. Kadang gue-lo. Kadang aku-kamu atau yang lebih formalnya ia menyebutnya 'kau'. Tergantung apa yang keluar dari mulutnya.


"Oh iya ya. Lupa gue. Ya udah, sekarang kita makan." Keduanya akhirnya makan. Elang baru ingat. Ia langsung mencegah tangan Elaina yang akan menyendok tumis kangkung. Sedangkan Elaina yang memang sudah lapar menatap Elang dengan tatapan tidak sabaran.


"Kenapa? Gue udah lapar."


"Di Klan Bulan lo ada nasi?" Tanya Elang dan Elaina mengangguk.


"Tapi namanya bukan nasi. Cuman bentuknya sama kayak gini."


"Oh," Elang melepaskan tangan Elaina lalu kembali fokus mengambil nasi.


"Udah, gitu doang?" Elang mengangguk. Malah cowok itu kini sedang sibuk menggigit paha ayam goreng.


"Kirain penting." Ucap Elaina lalu melanjutkan kegiatannya tadi yang sempat tertunda. Ia baru tersadar sesuatu, dengan cepat matanya kembali menatap ayam goreng yang sedang di makan Elang.


"Mirip yang punya si Ipin!" Pekik Elaina kesenangan.


Elang yang bingung menatap ayam goreng yang di pegangnya lalu menatap Elaina dengan bergantian. Ia mengangkat kedua bahunya tidak peduli lalu melanjutkan makan.


"Gue juga mau." Elaina mengambil satu paha ayam yang masih ada. Ia memakan ayam itu gaya Upin Ipin yang ia lihat di televisi. Ia tersenyum dan senang sendiri.


"Kalo makan jangan senyum-senyum sendiri. Nanti makanannya ada yang ngambil." Ucap Elang karena melihat Elaina yang tersenyum tidak jelas.


"Iya?"


Elang mengangguk dengan wajah serius sambil memakan paha ayamnya. Ia tidak menatap Elaina.


"Ya udah deh nggak bakal senyum." Elaina merubah wajahnya menjadi datar dan itu malah terlihat lucu di mata Elang.


'Eh, gue apaan si..' Elang langsung menormalkan rait wajahnya yang awalnya menahan tawa karena ekspresi Elaina.


Saat mereka berdua sibuk menyantap makanan masing-masing, bunyi bel mengalihkan perhatian mereka. Elang langsung melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam lima sore. Pas sekali.


"Siapa?"


"Lo tunggu sini aja." Setelah mencuci tangan Elang berjalan ke arah pintu. Ia mengintip dan memang benar, dia orangnya. Elang langsung membukakan pintu.


"Hey," Elang tersenyum lebar. Ia menyapa dengan gaya laki-laki.


"Gimana kabar lo?"


"Baik lah. Ini HP pesenan lo kan."


"Oh iya," Elang menerima ponsel yang di bawa oleh Edis, pria yang kini berada di hadapannya. Ponselnya masih baru ya, masih berada di dalam kotak. Elang sudah lama kenal dengan Edis. Jadi mereka terlihat akrab sekarang. Edis adalah anak yang bekerja di salah satu tempat penjualan ponsel.


"Ini bukan buat gue."


"Terus buat siapa?"


"Ada aja. Lo mau mampir dulu nggak?" Tawar Elang yang langsung di tolak halus oleh Edis.


"Nggak lah. Gue buru-buru soalnya."


"Buru-buru banget?"


"Iya, nanti aja ya lain kali."


"Oh, ya udah kalo gitu, hati-hati di jalan."


"Oke." Setelah pamit, Edis pergi dari hadapan Elang lalu menghilang karena masuk ke dalam lift. Setelah Edis tidak terlihat lagi, Elang masuk untuk memberikan ponsel itu pada Elaina.


Elang berjalan menghampiri Elaina yang masih belum menghabiskan makanannya. Kenapa wanita makan begitu lama?


"Lama banget El."


Elaina menoleh saat mendengar suara Elang. "Lama apanya?"


"Makannya."


"Gue udah selesai. Tapi gue nambah lagi."


Elang menatap piring Elaina yang memang sepertinya nambah. Karena kalau tidak nambah, tidak mungkin masih sebanyak itu.


"Lapar lo?"


"Nggak sih. Biasa aja. Tapi enak makanannya. Jadi bawaannya laper mulu." Ucap Elaina yang membuat Elang tersenyum.


"Jadi ceritanya lo lagi muji gue?" Ucap Elang yang membuat Elaina menatap cowok itu dengan garpu yang mengambang di udara.


"Muji apanya?"


"Lo bilang tadi makanannya enak."


Elaina mencerna ucapan Elang. Setelah mengerti apa yang di maksud Elang, ia tertawa. Elaina menatap Elang. "Jadi lo mau di puji?"


"Terus tadi lo nggak muji gue?"


"Gue nggak ada niatan buat muji lo. Tapi emang makanan ini tuh enak. Makasih udah di masakin. Kali-kali ajarin gue masak ya."


Elang memilih untuk duduk di kursi dan tidak menghiraukan ucapan Elaina. Entah kenapa ia merasa ada yang aneh.


"Lo mau HP kan? Gue udah beliin." Elang menyodorkan paper bag yang sedari tadi ia bawa. Menyerahkannya pada Elaina.


"Ini isinya HP?"


Elang mengangguk. Ia memperhatikan Elaina yang sedang membuka paper bag. Mengeluarkan ponsel yang masih di bungkus. Elang bisa melihat senyuman yang muncul saat melihat ponsel itu. Wajah Elaina terlihat bahagia.


"Ini gimana nyalainnya?" Tanya Elaina yang memang tidak mengerti.


"Sini." Elaina menyerahkan ponselnya pada Elang lalu Elang menyalakan ponselnya. Elang sudah menyuruh Edis untuk menyetting semuanya sebelum di bawakan ke sini.


"Ini," Elang memberikan kembali ponsel itu.


"Makasih Elang!" Ucap Elaina senang. Ia benar-benar berterima kasih dengan orang yang ada di hadapannya kini. Elaina tidak akan melupakan Elang sampai kapan pun itu.


"Terima kasihnya nggak spesial. Gue pengen yang spesial." Ucap Elang. Ia juga tidak tahu seperti apa itu yang spesial. Tapi ia ingin yang spesial.


Elaina berjalan memutari meja makan. Elang yang tidak tahu apa yang akan di lakukan Elaina diam saja, sampai----


Cup!


"Makasih Elaaang!!!" Setelah mencium Elang tanpa izin Elaina langsung kabur menuju kamarnya lalu mengunci kamar itu. Takut Elang masuk.


Elang yang masih kaget dengan apa yang di lakukan Elaina hanya terdiam sambil memegang pipinya yang baru saja di cium Elaina. Ia sampai geleng-geleng kepala. "Kalo gue ada di zaman dia, udah jadi tranding topic kali gue karena di cium Puteri Raja." Ucap Elang pelan.


*****