Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)

Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)
Episode 8 - Who ? (2)



Preview


"Dengarkan aku. Aku tidak akan langsung mengambilmu secepat ini. Ini terlalu mudah bagiku. Aku hanya ingin bermain-main denganmu dan teman-temanmu dulu." Laki-laki itu berujar dengan napas yang tidak sedingin tadi. Kebiruan itu mulai memudar.


"Kau pastikan semua teman-temanmu selamat..." Laki-laki itu kembali berujar. Ia menjauhi bahu So Hyun dan telinga gadis itu. Lalu, ia tersenyum licik.


Laki-laki itu membuka gorden kamar inap itu dan membuka jendelanya juga. Ia membiarkan sinar matahari menelusup masuk ke dalam.


Seketika, So Hyun bisa merasakan tubuhnya dapat di gerakan kembali. Jantungnya juga kembali berdetak. Melihat So Hyun sudah bisa bergerak, laki-laki itu langsung melompat dari jendela itu. Jendela itu berada di lantai 11.


So Hyun menggenggam tangannya sendiri dan kepalanya terasa berat.


***


Jimin dan Taehyung tengah duduk di kantin bersama sunbae baru mereka, Kim Namjoon. Mereka bertiga hanya duduk sambil meminum hwachae mereka.


Meskipun mereka bertiga sempat berbasa-basi, sekarang mereka diam dalam kegiatan masing-masing. Jimin hanya meminum hwachae-nya tanpa mengatakan apapun. Taehyung memikirkan keadaan sesuatu yang ganjil di perasaannya. Perasaan tidak mengenakan hati terus ia rasakan.


Eun Soo yang sudah kembali seperti biasa, datang menghampiri para laki-laki itu. Ia mengambil tempat duduk yang berjarak jauh dari Taehyung, Namjoon, termasuk Jimin. Ia merasa canggung. Ketiga laki-laki itu tengah serius dengan pikirannya masing-masing.


Di tengah-tengah kediaman mereka, Namjoon mengeluarkan sebuah buku. Kemudian, ia mulai membacanya. Eun Soo yang mendengar suara gesekan membalik halaman buku, langsung menoleh ke arah Namjoon. Gadis itu memicingkan matanya untuk melihat sampul buku itu dengan detail


"Itu... itu 'kan buku yang sama dengan So Hyun." Eun Soo berucap sambil menunjuk ke arah Namjoon.


Taehyung dan Jimin menoleh ke arah Namjoon bersamaan. Jimin menatap dengan keseriusan, sedangkan Taehyung datar.


Karena sadar diperhatikan yang lain, Namjoon menatap meraka satu per satu. Laki-laki itu langsung memerhatikan sampul bukunya sendiri dengan tatapan kebingungan.


"Namjoon sunbae, dari mana kau dapatkan buku itu?" tanya Eun Soo lagi.


Namjoon menatap sampul bukunya sekilas, lalu menjawab, "Ah... Buku ini... aku dapatkan di sekolahku yang dulu." Ia terlihat sibuk menjawab pertanyaan Eun Soo.


"Apa dulu buku itu di jual?" sahut Jimin.


"Tidak." jawab Namjoon singkat.


"Lalu, kenapa sekolahmu bisa mendapatkan buku itu?" serdik Taehyung.


"Aku tidak tahu. Guruku memberikan buku ini padaku." jawab Namjoon santai. "Memangnya kenapa?"


Eun Soo menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Jimin. Suara bising dari siswa-siswi lain yang baru saja keluar untuk pulang membuat suara Namjoon sulit terdengar.


"Bukumu itu sama seperti yang dimiliki So Hyun." sahut Eun Soo pasti. "Itu judulnya apa?"


Namjoon kembali melirik ke arah sampul buku itu. "Molla. Di sini hanya terulis 'Muertte' saja."


"Muertte? Padahal sampul dan ketebalannya sama, kenapa judulnya berbeda?" Jimin menegakkan posisi tubuhnya.


"Memangnya, buku yang di miliki So Hyun judulnya apa?" tanya Taehyung yang tidak mengerti apa yang di bicara oleh ketiga orang itu.


"Begini, buku Namjoon sunbae dan So Hyun itu sama. Namun, judulnya berbeda. Milik Namjoon sunbae berjudul 'Muertte' sedangkan milik So Hyun hanya berjudul 'La'" jelas Eun Soo perlahan.


Mendengar penyebutan kata 'La' dari mulut Eun Soo, Namjoon langsung terdiam.


Ia merasa seperti tercekat terhadap suatu hal. Ia seperti merasakan sesuatu yang berhubungan dengan dua kata itu. Melihat reaksi Namjoon yang aneh itu, Taehyung langsung menatap Namjoon dengan sedikit menyercit.


"Sunbae, kenapa seperti tercekat?" serdik Taehyung begitu saja.


Namjoon langsung tersadar dan menoleh ke arah Taehyung. Ia berdeham pelan, lalu menegakkan tubuhnya. Ia serasa di serang pertanyaan sulit. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana dari Taehyung dengan cepat. Laki-laki itu memasukkan buku itu secara diam-diam, sambil terus berdeham.


"Sunbae?" panggil Eun Soo pelan.


Namjoon menghela napas, "Ah, tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya... bingung saja. Kata kalian, buku ini sama dengan So Hyun. Namun, beda judul. Aku juga tidak tahu." Namjoon terlihat menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum kaku. Senyuman yang langsung memerlihatkan lesung pipinya.


"Sunbae yakin?" tanya Eun Soo. "Sunbae terlihat seperti panik."


"Aku tidak apa-apa. Sungguh." Namjoon berusaha keras menyangkal.


Taehyung masih menatap Namjoon curiga, begitu juga dengan Jimin.


Tatapan menusuk Taehyung, seolah-olah membuat Namjoon menjauhi tatapan itu. Jimin juga seperti itu. Namun, sebuah senyuman kebohongan Jimin terlihat menutupi perasaan curiganya. Sehingga laki-laki itu terlihat biasa saja.


"Kalau begitu, aku pulang dulu. Ada yang mau ikut berjalan bersama ke halte?" Eun Soo langsung mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, ayo." ajak Eun Soo tanpa rasa curiga seperti kedua temannya itu. "Jimin-ah, Taehyung-ah, aku pulang duluan, ya? Kalau kalian ingin menjenguk So Hyun lagi, sampaikan salamku padanya."


Jimin hanya membalas dengan anggukan dan lambaian tangannya. Taehyung juga hanya mengangguk saja.


Dua laki-laki itu masih merasakan curiga terhadap Namjoon yang terlihat begitu tercakat dan panik. Mengetahui sosok Eun Soo dan Namjoon sudah menghilang di balik lobby, Jimin menoleh ke arah Taehyung.


"Ya. Aku bisa membaca pikiran dari mimik wajahmu." ujar Jimin begitu saja.


"Maksudmu?" tanya Taehyung dengan dahi yang mengerut.


"Jangan pura-pura bodoh. Tak hanya perempuan saja yang bisa membaca pikiran sahabatnya, laki-laki pun bisa. Tanpa kau sangkal dengan kebohongan dan wajah yakin, aku juga memiliki pikiran yang sama denganmu." jelas Jimin, lalu meminum hwachae-nya yang tersisa sedikit lagi.


"Jangan konyol. Kau tahu apa tentang apa yang ada dipikiranku ini?" ujar Taehyung menyangkal.


"Kau menyangkal, kan? Sudahlah, Taehyung-ah, aku tahu apa yang ada dipikiranmu." sahut Jimin dengan sedikit senyuman yang agak sinis.


"Apa?" tanya Taehyung dengan ekspresi tidak santainya.


"Kau curigakan dengan sikap Namjoon tadi?" Jimin menyerdik Taehyung begitu saja.


Serdikannya langsung membuat Taehyung terdiam. "Aku juga berpikir seperti itu. Tapi, kita tidak boleh berburuk sangka, kan?"


Taehyung berdeham pelan. Ia berpura-pura membetulkan jas sekolahnya dan dasinya. Laki-laki itu sedikit mengacak-acak rambutnya dengan bergumam, "Ya. Tentu saja..."


***


Eun Soo membuka pintu rumahnya dengan sebuah senyum sumringah di bibirnya. Namun, ia merasakan hal yang aneh dengan keadaan rumahnya.


Terlihat sepi seperti rumah kosong. Engsel pintu juga sudah patah. Halaman rumahnya sudah berantakkan. Pot tanaman sudah terguling dimana-mana. Pintu depan rumahnya juga terbuka lebar begitu saja. Melihat itu semua, senyuman riangnya menghilang begitu saja.


Rumah yang ia tinggali bersama ibunya, terlihat seperti habis di rampok. Kaca rumah bagian depannya juga pecah, lalu terbuka lebar. Eun Soo langsung melepaskan genggaman tasnya dengan lunglai. Gadis itu menutup mulutnya, dan berlari masuk ke dalam rumah. Ia tahu pasti ibu ada di rumah, ketika aksi perampokan ini terjadi.


'Eomma, eodiga?'


Tanpa melepas sepatu sekolahnya, Eun Soo berlari masuk ke dalam rumahnya. Isi rumah itu sudah seperti kapal pecah. Guci-guci koleksi milik keluarganya juga hancur dilantai. Tidak ada siapa-siapa di dalam rumah itu. Seluruh ruangan di rumah itu terlihat amat sangat gelap. Eun Soo tidak melihat sosok ibunya di rumah itu.


Gadis itu berinisiatif berjalan menuju dapur. Ketika ia berjalan menuju dapur, tercium bau amis darah. Tangan Eun Soo mulai bergetar takut, ia tidak berani memasuki dapur rumah sendiri. Namun, ia meneguk ludahnya dan bertekad. Akhirnya, ia melangkahkan kakinya ke dalam dapur tersebut.


Mata Eun Soo terbelalak sempurna. Gadis itu menutup mulut beserta hidungnya dengan kedua tangannya. Bau amis darah segar yang begitu menyengat, terlalu menusuk indra penciumannya.


Gadis itu menatap jasad ibunya yang tergeletak tak berdaya, dengan mata yang setengah terpejam. Eun Soo mulai mengeluarkan suara ingin menjerit. Ia tidak percaya ibunya sudah tergeletak kaku seperti itu.


"Selamat datang di rumah, Eun Soo-ah." Terdengar suara dari kamar mandi rumah. Suara perempuan yang cukup familiar.


Eun Soo menatap ambang pintu kamar mandi itu. Ia mulai melangkah mundur. Namun, sosok pemilik suara itu telah memunculkan sosoknya.


Rasa takut mulai menghinggapi perasaan Eun Soo. Gadis itu begitu cengang, takut dan bergetar. Ditambah, sosok di hadapannya begitu menyeramkan.


"Kau tahu... hahaha... aku sudah... menunggumu..." ujar gadis itu lagi dengan suara tertawa yang sangat aneh.


Eun Soo menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia terus berjalan mundur, namun gadis itu terus mendekat.


Ketika Eun Soo mengambil satu langkah mundur lagi,  ia tersandung guci antic yang posisinya masih terguling. Gadis yang memiliki suara tawa yang aneh itu tertawa lebar. Poni yang menutupi seluruh wajahnya yang berantakkan. Serta kepala yang selalu miring ke samping. Eun Soo sudah dapat merasakan air matanya siap keluar.


Suara tawa gadis itu semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya gadis itu berkata, "Halo, Eun Soo-ah. Bukankah, kita bersahabat? Kenapa kau takut seperti itu?" Gadis itu mulai berkata sambil mengangkat poninya ke atas.


Eun Soo menatap aksi mengangkat poni gadis itu. Sambil mengangkat poni, gadis itu tertawa terbahak-bahak dengan suara yang melengking.


"Mi... Mi... So?" pekik Eun Soo dengan suara ketakutan.


***


To Be Continue


***


Uh!! Sungguh melelahkan membuat part ini!! Perasaan deg-degan selalu terasakan ketika buat cerita ini!! Semoga kalian juga merasakannya!!😁


Jangan lupa Vote dan Comment ya, biar aku tambah semangat nih lanjutinnya!!