Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)

Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)
Episode 21 - Punishment



Review:


Ketika mendengar semua celotehan gadis itu, Yoongi tiba-tiba saja tersenyum tanpa alasan yang jelas. Ia menopangkan dagunya dan mendelik ke arah pintu UKS. Ia kembali tersenyum aneh.


"Sepertinya... ada yang datang ke sini." ujarnya licik. 'Kita lihat saja. Hukuman apa yang pantas diterima oleh seorang penguping' batinnya terasa sangat senang.


***


So Hyun masih mengingat jelas ketika matanya bertemu pandang dengan Jimin saat hendak keluar kelas. Rasanya ia ingin sekali menyapa Jimin seperti biasa, tapi sepertinya itu tidak memungkin untuk saat ini.


Jimin menatapnya sedikit tajam dan tak acuh. Itu sebabnya ia lebih memilih mengunci bibirnya rapat-rapat. Tapi karena itu juga, sebuah beban dibatinnya semakin terasa.


Kini, ia berjalan sendirian diwaktu sekolah telah berakhir. Diantara semua siswa yang tengah berjalan bersama-sama, hanya dia-lah yang sendirian. Jimin sepertinya sudah berjalan dan pulang lebih dahulu dari padanya.


Sesekali, So Hyun menoleh ke belakang berharap Jimin sedang berjalan menujunya dengan senyum uniknya itu. Gadis itu kembali menatap lurus ke depan dan mengembuskan napas beratnya.


Sepi. Rasanya ia kesepian. Dari awal bel istirahat pertama berbunyi, So Hyun tidak melihat Taehyung. Benar-benar tidak terlihat. Ia mengembuskan napas berat dengan rasa tertekan lagi.


Gadis itu berjalan dengan kepala yang sedikit menunduk. Rasanya matanya kembali panas dan perih. Buliran air bening itu seakan-akan menghalangi penglihatannya. Ia kembali menyalahkan dirinya sendiri tanpa alasan yang jelas, dan sebuah pertanyaan yang tak logis muncul dipikirannya.


'Apa aku ini juga bukan manusia? Haha... Itu konyol, So Hyun-ah!' batinnya terus perang melalui rutukkan dirinya sendiri. Ia bertengkar dengan dirinya sendiri seperti menatap cermin yang tengah memantulkan bayangan dirinya.


Namun, suara batinnya itu membuat dua bulir bening itu kembali jatuh. Ia semakin menundukkan kepalanya dan berhenti melangkah.


Tak peduli berapa kali tubuhnya ditabrak oleh kalangan siswa yang masih berlalu lalang, ia tetap menghentikan langkahnya di sana. Ia menjilat bibirnya yang kering dan membiarkan buliran air itu jatuh.


'Aku harus apa sekarang?' hatinya terus saja bergumam.


Ia mengelap air matanya perlahan. Ketika ia hendak mengadahkan kepalanya kembali, seseorang langsung menarik tangannya erat, membuat badannya sedikit terhempas ke depan cukup kencang. Tapi, untung saja ia dapat menjaga keseimbangan badannya. Ia tahu yang tengah menariknya saat ini adalah laki-laki.


Awalnya, ia tersenyum senang jika laki-laki itu adalah Jimin. Sayangnya, orang yang menariknya bukanlah Jimin, melainkan Namjoon.


"Ikut aku!" ujar Namjoon dengan suara cukup tegas. Ia berkata dengan volume suara yang dapat ditangkap oleh gendang telinga So Hyun, namun ia tidak menatap So Hyun sama sekali.


Namjoon menariknya ke taman belakang sekolah. Ia juga mendudukkan So Hyun di kursi tua yang sama. Hanya saja, kondisi kursi sedikit aneh dengan kaki yang bengkok.


So Hyun mengikuti apa yang Namjoon suruh padanya melalui gerakan itu. Gadis itu menatap sekitar dirinya. Di tempat itu, di kursi itu, ia bertemu dan menghadapi pelaku pembunuhan secara langsung dan juga sendirian.


Namjoon ikut terduduk di sebelah So Hyun dengan napas yang mengembus berat. Ia menoleh ke segala arah, kemudian menatap gadis yang tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Ia tahu gadis itu sedih karena hal tadi pagi. Bertengkar dengan sahabat adalah hal yang buruk bagi gadis itu.


"Apa kau tak apa?" tanya Namjoon dengan suara pelan. Ia merasa bodoh sekarang karena menanyakan pertanyaan itu.


So Hyun mengangkat kepalanya, lalu menatap Namjoon. Sorot matanya terlihat berbeda dari biasanya. Gadis itu seperti menahan tangisnya, "Aku tak apa. Sudahlah, bukankah aku sudah mengatakannya berkali-kali?"


Namjoon mengembuskan napasnya lagi dengan cukup berat, "Ya, aku sudah dengar itu. Tapi dari fisikmu itu, kau tidak terlihat bahwa kau 'baik-baik saja'"


Tanpa terasa sebulir air bening itu meluncur bebas dari pelupuk mata So Hyun. Dengan cepat, gadis itu mengelap bulir air matanya itu. Namun, buliran air mata itu semakin banyak. Ia tidak bisa menahannya lebih lama. Pada akhirnya, ia tidak menyahut ucapan Namjoon. Ia terus berusaha mengelap air matanya hingga benar-benar mengering.


"Ah! Sial! Kenapa air ini terus saja keluar, sih?!" umpat So Hyun sambil terus mengelap pelupuk matanya dengan menggunakan lengan jas sekolahnya.


Namjoon diam tidak mengeluarkan suara lagi. Ia membiarkan gadis itu mengumpat dan menyelesaikan 'tangis'-nya. Ia berdeham pelan dan menopang dahinya sesaat. Ia memikirkan langkah selanjutnya yang memang harus ia lakukan untuk 'menjaga' gadis di sebelahnya itu dari Yeowang.


Tetapi, Namjoon tidak mau berlama-lama untuk diam saja. Ia menatap So Hyun yang masih menekan-nekan pelupuk matanya pelan untuk menahan air matanya, kemudian berkata, "Kalau kau memiliki sesuatu yang ingin kau ceritakan, kau ceritakan saja."


So Hyun menatap Namjoon dengan delikkan matanya saja, "Hmm... Tidak ada. Aku hanya merasa kesepian saja. Tidak ada yang perlu aku ceritakan secara detail, kan?"


"Aku tahu kau berbohong. Aku tahu kau merasa sangat bersalah kepada kedua temanmu itu. Apalagi, Taehyung... Aku benar, kan?" Namjoon menatap So Hyun santai namun, menenangkan. Ia juga sedikit tersenyum dan menampil sepasang lesung pipi yang manis.


So Hyun menatap Namjoon dengan mata yang kembali memanas, "Sunbae..." Gadis itu kembali melepaskan buliran air matanya. Ia menutup wajah dengan kedua telapaknya.


Namjoon masih tersenyum, "Jangan pernah berusaha menyembunyikan sesuatu yang tak bisa kau sembunyikan. Aku tahu kau menyukainya..."


So Hyun melepaskan kedua telapak tangannya dari kedua wajahnya. Ia mengelap matanya lagi, kemudian bergumam, "Aku juga bingung dengan apa yang aku rasakan. Kalau ditanya aku menyukainya, aku tidak bisa langsung menjawabnya. Tapi, sepertinya lebih ke tidak. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada laki-laki itu." Ia bergumam pelan dengan penuh penjelasan.


"Kau yakin? Apa kau sedang berbohong lagi?" serdik Namjoon dengan nada yang mengalun bersama dengan ejekan yang tersirat.


"Aku yakin itu. Aku tidak menyukai Taehyung. Sama sekali tidak." jawab So Hyun pasti. Kini, air matanya sudah mulai berhenti mengalir. Bahkan, sudah berganti dengan tatapan seriusnya yang agak menusuk itu.


"Benarkah? Tapi, kenapa kau merasa sangat bersalah seperti itu? Kau juga tadi mengatakan, kalau kau kesepian, kan?" Namjoon tak henti-hentinya menyerdik So Hyun dengan alunan ucapan mengejek.


"Apa aku terlihat sedang bercanda? Sunbae, aku kesepian karena tidak ada yang mengajakku berbicara dengan ramah lagi. Mereka yang biasanya selalu membuatku dan Eun Soo tertawa, sudah menjauhiku mulai hari ini. Memangnya siapa yang suka bertengkar dan pada akhirnya berjauhan dengan teman seperti itu? Tidak ada, kan?" jelas So Hyun serius. Ia sedikit menghalaukan tatapan setengah mengejek Namjoon.


Namjoon mendengus tertawa kecil, ia membuang tatapannya sesaat dari pandangan mata So Hyun, "Maaf, aku hanya bergurau. Kalau kau merasa sangat bersalah dengan mereka berdua, terutama Taehyung, kenapa kau tidak mencarinya?"


"Untuk apa?" tanya So Hyun dengan dahi yang mengerut.


Namjoon menatap So Hyun lagi, "Meminta maaf padanya. Kau jelaskan semuanya yang ada pada buku itu. Aku rasa dia sangat berperan kuat untuk menghalangi langkah Yeowang yang akan mengambilmu."


So Hyun terdiam sejenak. Setelah Namjoon mengatakan bahwa ia harus meminta maaf, terbesit diotaknya sebuah ide yang tidak terpikirkan. Ia merasa bodoh karena tidak terpikirkan sebelumnya. Ia tidak berpikir bahawa ia harus mencari Taehyung dan meminta maaf pada laki-laki itu. Baiklah, ia kembali salah jalan.


So Hyun mengembuskan napasnya, "Aku rasa aku salah ambil jalan keluar."


Namjoon tersenyum kecil mendengar tanggapan So Hyun yang lesu itu. Ia sangat yakin gadis itu akan menangis lagi. Kemudian tangannya terulur untuk mengacak-acak rambut So Hyun asal.


Meskipun sedikit canggung, Namjoon berusaha untuk tidak membuat suasana semakin canggung, "Mungkin. Kenapa kau tidak mencarinya sekarang?"


Gadis itu terdiam merasakan telapak tangan yang tengah mengacak rambutnya asal, namun lembut. Kemudian ia berdeham, "Hmm... Maaf, bisa kau lepaskan tanganmu dari kepalaku? Aku tidak suka di tenangkan dengan cara seperti itu."


"Ah! Maaf," ujar namjoon yang langsung menarik tangannya. Suasana canggung semakin mencengkam. "Kalau begitu, kenapa kau masih diam saja? Cari dia dan minta maaf."


"Tapi, aku harus pulang. Harusnya aku sudah naik bus sekarang! Andai saja sunbae tidak menarikku ke sini, pasti aku tidak akan tertinggal bus." umpat So Hyun tertele-tele. Ia menjelaskan dengan gerakan tangan yang tidak beraturan.


"Justru itu. Kalau kau sudah tertinggal bus, kau bisa bisa gunakan waktu yang ada untuk mencari Taehyung, kan? Hitung-hitung waktu untuk menunggu bus selanjutnya datang." balas Namjoon lagi.


"Bus itu tidak punya jadwal. Mereka datang kalau memang sedang melewati rute yang ada." balas So Hyun yang masih keukeuh untuk tidak mengikuti ujaran Namjoon sebelumnya.


"Aku tidak kabur dari hal ini! Aku hanya ingin menenangkan pikiranku dulu saja. Aku ingin melepas semua hal baru yang membuat kepalaku hampir pecah ini!" So Hyun berceloteh dengan nada yang semakin meninggi. Ketika selesai berceloteh, ia mengatur deru napasnya. Baiklah, sifat egois dan keras kepalanya kembali muncul.


Namjoon sedikit melongo menatap celotehan keras So Hyun. Namun tak lama kemudian, ia tertawa kecil. "Jangan marah seperti itu. Aku 'kan hanya bercanda. Tapi, candaanku itu juga saran."


"..." So Hyun tertegun sejenak. Ia memijat dahinya pelan untuk menghilangkan berat di kepalanya itu.


"Sudahlah. Daripada kau menangis menyalahkan dirimu sendiri, lebih baik kau mencari Taehyung lalu meminta maaf. Aku yakin dia akan mengerti." ujar Namjoon lagi.


"Bagaimana kalau dia sudah pulang? Lalu, bagaimana dengan Jimin?" tanya So Hyun bertubi-tubi.


"Dia belum pulang. Aku yakin itu. Soal Jimin, biar aku saja yang menjelaskan semua padanya." Namjoon mengembuskan napas lelahnya perlahan. Ia menengakkan tubuhnya lagi, dan meluruskan kakinya ke tanah.


"Darimana kau tahu? Dan, kenapa kau yang menjelaskan kepada Jimin? Kenapa kau saja yang menjelaskan pada Taehyung dan aku menemui Jimin?" tanya So Hyun lagi. Sifat masa lampaunya kembali muncul. Namjoon bisa merasakan Shin Ah Jung masa lampau sekarang.


Namjoon mengembuskan napas jengkelnya. Gadis yang ada di sampingnya ini terlalu banyak berceloteh dan keras kepala. Andai saja So Hyun terlahir bukan seorang gadis, ingin sekali ia memotong lidah So Hyun itu.


Namun, sebisa mungkin Namjoon menahan jengkelnya. Meskipun, cara bicara So Hyun untuk saat ini sangat menjengkelkan. Ditambah, pertanyaan dan penawaran itu.


"Karena dia butuh penjelasan darimu. Dia-lah yang paling merasa dibohongi olehmu. Kau tidak ingat ketika kau bertengkar dengannya dan menuduhnya sebagai pembohong? Kini, kau-lah yang ia nilai sebagai pembohong. Percaya padaku, dia hanya butuh penjelasan darimu. Kalau aku yang menjelaskan padanya, ia pasti akan berpikir yang tidak-tidak padaku. Mengerti? Jadi, hentikan celotehan menjengkelkanmu itu!" jelas Namjoon, dengan akhiran cukup keras.


So Hyun sedikit melengos terkejut dengan suara kencang Namjoon diakhir sarannya. Ia menundukkan kepalanya bersalah. 'Ada apa dengan diriku? Kenapa aku tidak bisa mengatur rasa ego-ku sendiri?' batinnya kembali merutuki dirinya sendiri.


"Cari dia sekarang. Atau..."


"SIAPA KAU?!"


Namjoon menggantungkan ucapannya dan mendelik. So Hyun yang sedikit terkejut dengan teriakkan itu, langsung mengangkat kepalanya. Ia menerawang ke sekitar. Kemudian, kepalanya menatap ke atas lurus-lurus. Di atap sekolah yang datar itu, ia bisa melihat seseorang yang melangkah ke sana-sini tanpa berhenti.


"Ini bahaya!" ujar Namjoon tiba-tiba yang langsung bangkit. Ia juga menarik paksa So Hyun untuk berdiri dan menatapnya.


"Ada apa?" tanya So Hyun bingung. Tatapan Namjoon terlihat begitu cemas dan terburu-buru. Laki-laki itu juga mencengkram kedua bahu So Hyun cukup erat.


"Sekarang kau cari Taehyung sampai ketemu dan jelaskan semuanya padanya. Soal Jimin, biarkan aku saja. Sekarang kau harus mencari Taehyung secepatnya, sebelum ia benar-benar pergi." jelas Namjoon cepat-cepat. Ia langsung membalikkan tubuh gadis itu dan medorongnya untuk masuk ke dalam gedung sekolah lewat pintu samping.


"Apa maksud, Sunbae?!" tanya So Hyun yang merasa punggungnya didorong kuat oleh Namjoon.


"CARI TAEHYUNG DAN JELASKAN SEMUANYA PADANYA SEBELUM TERLAMBAT!" ujar Namjoon dengan suara teriak, kemudian menutup pintu samping sekolah itu kencang hingga sedikit bergetar.


So Hyun terdiam sebentar untuk menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu. Kemudian ia menggelengkan kepalanya tidak jelas, dan mengepalkan tangannya erat.


Tanpa ragu, ia membalikkan tubuh dan berlari ke seluruh penjuru gedung sekolahnya itu. Ia berlari sekencang mungkin, dan membuka tiap pintu kelas yang ia lewati.


'Taehyung-ah! Apa kau sudah pulang? Dimana kau?'


Gadis itu membuka pintu UKS cukup keras. Tak ada siapa-siapa di sana. Padahal ia sangat berharap Dokter Jung di sana. Karena Dokter Jung adalah satu-satunya wanita muda yang dekat dengannya. Siapa tahu, Dokter Jung berbaik hati untuk membantu mencari Taehyung. Tapi, ruang UKS terlihat amat sepi dan sunyi. So Hyun kembali berlari dan meninggal pintu UKS yang terbuka begitu saja.


Ia tidak henti-hentinya membuka pintu ruangan ia yang lalui. Sesekali ia berteriak memanggil nama orang yang ia tengah cari itu. Tak ada balasan dan tak ada sahutan. Beberapa siswa yang masih di sekolah pun menatapnya heran. So Hyun merasakan matanya kembali memanas dan ingin sekali menangis.


"Kau mencari Taehyung?" tanya seseorang.


"Ya?" jawab So Hyun dengan bibir yang mulai mengering dan bergetar.


"Ia baru saja menerima hukumannya karena tidak mengikuti pelajaran jam pertama sampai jam ke-empat. Ia berada di lorong lantai 3. Kau bisa ke sana." jelas orang itu dengan sedikit senyum tipis. Orang yang bernama Gong Pyo, teman sekelas Taehyung, terlihat santai menjelaskannya.


"Terima kasih..." So Hyun memicingkan matanya untuk membaca nametag yang disemat di dada kanan laki-laki itu. "Gyo Pyo-ah! Terima kasih!" So Hyun membungkukkan badannya sekilas.


Gyo Pyo hanya mengangguk dengan senyum tipis. Ia menatap So Hyun yang berlari kencang menuju lantai 3 itu. Namun, seseorang memecahkan senyum tipisnya hingga membuatnya bergidik.


"Mau ikut denganku?" ujar orang itu dengan senyum aneh.


Seketika itu juga, kedua mata Gong Pyo membulat.


***


Jimin tak bisa menahan rasa kejutnya ketika seseorang memecahkan lamunannya di atap sekolah ini. Ia dikejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki yang ia lihat di UKS bersama Dokter Jung tadi siang. Laki-laki yang tersenyum dengan gigi putih itu, sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun.


"SIAPA KAU?!" ujar Jimin keras. Namun, laki-laki itu hanya membalasnya dengan suara kekehan licik.


Jimin berdiri dari posisinya dan berjalan mundur dengan tangan yang memberi isyarat kepada laki-laki itu untuk mundur. Namun, laki-laki yang tersenyum licik itu tidak menggubrisnya. Ia tetap melangkah maju dengan kedua tangan yang berada di saku celananya.


Sekali lagi, Jimin memundurkan langkahnya. Ia juga melihat ke belakang alih-alih agar ia tidak jatuh atau sudah mencapai ujung atap yang rata itu. Ia tidak bisa menahan ekspresi terkejut dan anehnya. Kerutan dahinya bahkan begitu terlihat.


"Kau mendengar semuanya, kan?" Pada akhirnya, laki-laki itu menghentikan langkah kakinya. Kemudian, membuka mulut dan melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Jimin sedikit merinding.


"Apa... apa yang kau katakan? Mendengarkan apa?" tanya Jimin yang sedikit terusik.


Laki-laki itu tersenyum licik dengan setengah mengendus, "Kau adalah orang yang berada di depan UKS tadi, kan? Kau mendengar semua obrolanku dengan Dokter Jung, kan? Jangan kira kalau aku tidak melihatmu."


Mata Jimin sedikit membulat. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki yang ada di hadapannya mengetahuinya. Padahal, ia ingat betul kalau laki-laki itu tidak menoleh ke arahnya sama sekali.


Jangankan menoleh, kedua mata laki-laki itu hanya menatap lawan bicaranya saja. Jimin sedikit meneguk ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering.


"Kau yang ada di sana, kan?" Laki-laki itu kembali menyerdik.


Jimin mengatus ekspresi wajahnya agar sedikit terlihat tenang. Namun, tidak bisa. Ia mengembuskan napasnya, kemudian menjawab ucapan laki-laki itu. "Bagaimana... kau bisa tahu?"


To Be Continue...


Siapa laki-laki itu? Kalian akan tau di part selanjutnya..


Thanks for reading! Like Comment 😉😉😉