Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)

Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)
Episode 18 - The Story 'Bella'



Preview


Hari Minggu yang indah. Matahari bersinar cukup terang dan embusan angin yang menyejukkan.


So Hyun terduduk di balkon kamar santai. Di sebelahnya terdapat 3 buku yang ditumpukkan secara berkala. Gadis itu mengembung-kempiskan pipinya saat menatap ketiga buku itu.


Pada akhirnya, ia memilih buku yang berjudul 'Bella'. Buku-buku itu pemberian Namjoon, kecuali buku yang berjudul 'La' tentunya.


Ia membuka lembaran buku tua itu perlahan. Tulisan-tulisan kuno tercetak jelas disana. Kertas-kertas yang sudah usang dan berlubang, seperti menjadikan buku itu seperti keramat. So Hyun menatap lembaran buku itu dengan saksama. Ia membuka lembaran buku itu hingga menemukan halaman bab pertama.


.


.


*Dahulu kala, ada dua bocah kembar dari sebuah dinasti kuno, namun memiliki paras yang berbeda. Sang kakak yang lebih tua 8 menit dari adiknya, memiliki paras yang buruk rupa. Sedangkan adik kembarnya memiliki paras yang cantik jelita. Seorang peramal mengatakan, bahwa mereka itu hanya memiliki satu nyawa saja yang berada di dua tubuh berbeda.


Orang-orang yang bertemu dengan sang adik selalu terpukau dengan kecantikan gadis itu. Mereka memuji-muji sang adik dan membanggakannya. Hal itu membuat sang adik semakin percaya diri. Tapi, pandangan orang-orang terhadap kakaknya berbeda. Mereka membicarakan hal yang tidak-tidak terhadap gadis yang itu.


Semenjak itu, sang kakak hanya bisa hidup di kamar saja. Orangtuanya dengan sengaja mengurungnya di kamar selama bertahun-tahun. Alasannya memang sangat tidak logis, yaitu malu dengan paras dari gadis itu.


Sang kakak pun berkecil hati. Setiiap hari, ia hanya bisa menghabiskan waktunya dengan menangisi paras dan hidupnya itu.


Adik kembarnya juga egois karena tidak pernah mengingat keberadaan kembarannya. Ia merasa bahwa hanya dia-lah seorang tanpa ada kata 'kembar'. Meskipun adiknya tidak mengingat keberadaannya, awalnya sang kakak tidak membencinya.


Tapi ketika adik kembarnya menginjak umur 15 tahun, ia mengingat kembali keberadaan kembarannya. Mulai saat itu, mereka berdua dekat kembali. Meskipun, sang adik harus masuk ke dalam kamar usang yang sudah menjadi tempat kembarannya di kurung.


Mereka terlihat akrab seperti kembar pada umumnya. Orangtua mereka membiarkan mereka terus bercengkrama asalakan tidak membawa sang kakak keluar kamar.


Tapi ketika menginjak usia 18 tahun, sang adik tidak pernah menginjakkan kakinya di kamar kembarannya lagi. Lalu, mereka bertemu kembali. Di saat itu juga, sang adik mengatakan sesuatu yang membuat hati sang kakak tersayat. Sang adik dengan egoisnya mengatakan bahwa dia terlahir seorang diri, tanpa kakak kembar.


Sang kakak menahan tangisnya. Ia tidak percaya adiknya akan mengatakan hal itu tanpa alasan yang pasti. Adiknya juga mengatakan bahwa sang kakak bukanlah kembarannya.


Sang adik sedikit menaikkan egoisnya, dan mengatakan bahwa dia tidak memiliki kakak kembar dengan wajah yang jelek seperti itu. Hati sang kakak semakin tersayat. Sebisa mungkin ia menahan rasa kesalnya pada sang adik yang sangat egois itu, hingga rasa kesal itu tertimbun dilubuk batinnya.


Suatu hari ketika sang kakak diberikan waktu untuk bebas, tidak sengaja mendengar sebuah percakapan. Percakapan antara calon suami dari adik kembarnya dan seorang kepala pelayan di rumahnya.


Percakapan itu terdengar semua niat jahat dari calon suami dari adiknya itu. Laki-laki itu bersekongkol dengan kepala pelayan dirumah untuk menipu kedua orangtua dari gadis kembar itu.


Ketika sang kakak ingin berlari memberitahu niat jahat laki-laki itu, tanpa lengannya sengaja menyenggol sebuah patung hingga terguling. Laki-laki dan kepala pelayan itu langsung menoleh ke sumber suara. Sang kakak sempat bertemu pandang dengan dua orang jahat itu, sebelum akhirnya ia melarikan diri.


Sayangnya, gerakan sang kakak terlalu lamban. Laki-laki itu menarik lengan sang kakak terlebih dahulu, kemudian mengeluarkan sebuah pisau kecil yang tajam. Tubuh sang kakak langsung bergidik takut. Pisau yang pegang oleh laki-laki itu mengarah ke lehernya.


Pada akhirnya, ujung pisau kecil laki-laki itu memutuskan urat nadi dari sang kakak. Ya, laki-laki itu telah membunuh kakak kembar dari calon istrinya itu.


Di waktu yang sama, sang adik merasakan sebuah tekanan keras dijantungnya. Sang adik yang sedang menyiapkan pakaian pengantin adat, langsung berjalan sempoyongan. Napasnya tidak beraturan. Tubuhnya memucat pasi.


Ketika ia akan melangkahkan kakinya, tubuhnya sudah hilang keseimbangan. Semua pelayan rumah itu bergerak cepat menghampiri sang adik. Sayangnya, detak jantung sang adik sudah berhenti. Sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya, sang adik sempat meraba-raba bagian lehernya dan terbatuk-batuk.


Kedua gadis kembar itu meninggal disaat bersamaan. Kedua orang tuanya sangat sedih. Untuk menutupi identitas sang kakak yang buruk rupa dari orang-orang yang tidak tahu akan keberadaanya sebagai kakak kembar dari gadis yang sangat cantik itu, mereka memutuskan untuk memakamkan kedua putrinya di tempat yang berbeda.


Sang adik di makam keluarga, sedangkan sang kakak di sebuah hutan tak terurus. Untuk sang kaka mungkin bukan dimakamkan, melainkan abunya di biarkan begitu saja.


Semenjak itulah, hutan yang tidak terurus itu memiliki hawa mistis yang kuat. Tiap kali bulan purnama, munculah gadis cantik dan manis. Tatapan yang sayu dan menenangkan, begitu terasa bagi siapapun yang menatapnya. Tapi, siapapun yang sudah bertemu dengannya pasti akan ditemukan tidak bernyawa.


Konon katanya, sang adik terlahir kembali menjadi manusia. Sedangkan, sang kakak memang terlahir kembali, namun bukan menjadi manusia. Melainkan menjadi Yeowang. Meskipun mereka terlahir di kehidupan dan 'tempat' berbeda, nyawa mereka masih saja satu.


Yeowang adalah sebutan khusus untuk orang terlahir kembali sebagai ratu. Namun, ada banyak presepsi ratu dari yeowang itu. Tapi, yeowang sering disebut juga ratu gelap.


Ratu yang terlahir karena sebuah kebencian ketika ia meninggal. Kehadirannya dengan paras yang cantik dan anggun seperti membutakan pandangan orang terhadap sosok aslinya. Yeowang berparas manusia. Oleh karena itu, sangat sulit membedakan yeowang dengan manusia biasa.


Sang kakak yang terlahir menjadi yeowang itu bertemu dengan sebuah laki-laki yang memiliki paras tampan. Namun, bersifat devil. Mereka bertemu ketika waktu 49 hari sang kakak sudah habis.


Laki-laki itu sudah seperti kakaknya. Awalnya sang kakak tidak mengingat kehidupan lamanya, tapi laki-laki itu mengingatkannya. Laki-laki itu seperti mengucapkan sesuatu hingga membuat sang kakak bersujud kesakitan.


Saat itulah, sang kakak menjadi yeowang sepenuhnya. Hatinya sudah dipenuhi kotoran batin yang ingin balas dendam, serta rasa iri hati terhadap adiknya yang telah ia simpan selama hidupnya.


Tujuan utamanya sekarang adalah membunuh adik kembarnya yang memiliki setengah nyawa dan rohnya. Tak ada cerita yang jelas terhadap hal ini. Tetapi, yeowang itu tengah mencari setengah rohnya yang dimiliki adiknya itu.


So Hyun langsung menghentikan kegiatannya sebentar. Kepalanya kembali berdenyut. Ia menopang dahinya, kemudian memijat-mijat dahinya. Entah mengapa, kepalanya terasa sangat pusing ketika membaca buku itu. Meskipun begitu, So Hyun tetap melanjutkan bacanya. Dengan kondisi sakit kepala yang begitu mencengkram, So Hyun melanjutkan membaca buku itu. Buku yang mungkin bisa menjadi 'kata kunci' dari semua ini.


Bersama dengan laki-laki misterius itu, yeowang mencari dimana adiknya sekarang. Ia bertekad membunuh adiknya sendiri yang terlahir berbeda dengan dirinya itu. Laki-laki misterius itu sebenarnya adalah dewa kematian. Yeowang selalu meminta dewa kematian itu untuk membunuh targetnya, kecuali adiknya.


Dewa kematian itu juga memiliki ciri-ciri yang sama dengan manusia. Hanya saja, ia bertubuh dingin, kulit putih dan lensa mata yang mengkilat. Ia bergerak secara diam-diam, lalu membunuh orang yang menjadi target selanjutnya melalui mimpi ataupun cermin. Ia juga bisa memainkan kondisi batin orang lain.


Ia juga tidak segan membunuh orang-orang itu dengan menggunakan roh orang lain. Setiap orang yang sudah mati, maka rohnya akan ia simpan. Lalu, ia menggunakan roh-roh tersebut untuk membunuh orang lain. Ia sering kali merubah wujud roh orang-orang itu menjadi hantu pembunuh. Dan, orang yang telah dibunuh itu akan secara menghilang dari pikiran orang-orang terdekatnya.


Dewa kematian itu juga tidak sendirian. Ia memiliki teman yang terlahir kembali sama sepertinya. Mereka berdua bekerja sama untuk mengincar gadis yang menjadi target Yeowang. Tapi karena suatu hal, teman dari dewa kematian itu mengkhianati Yeowang.


Sedangkan ciri-ciri sang adik yang berada di dunia manusia adalah gadis yang hidup dengan kebahagiaan dibatinnya. Ia memiliki teman yang yang sangat mengerti keadaannya. Sayangnya, Yeowang menghancurkan ciri umum adiknya sendiri.


Ia meminta dewa kematian untuk menghantui dan merusak hidup adiknya. Berbagai cara yang akan dilakukan, meskipun itu tragis. Yeowang senang melihat adiknya menderita. Kenapa? Karena batinnya sudah rusak karena kebencian.


Sang adik yang terlahir kembali menjadi manusia itu tidak dapat mengingat kehidupan lampaunya. Ia hanya mengerti ia hidup di saat ini saja.


Tanpa disadari, dewa kematian bergerak untuk mengambil orang-orang terdekatnya. Dan yang terakhir... menculik sang adik itu. Lalu, memberikannya kepada yeowang*...


Kits!!


So Hyun merasa kepalanya seperti ditusuk dengan obeng. Sakit sekali. Buku itu terlepas dari genggamannya. Air mata mengalir dari kedua sudut matanya itu. Ringisannya semakin menjadi. Kepala benar-benar sakit.


"Kenapa hanya membaca saja, rasanya sesakit ini?" Ia bergumam sambil terus memegangi kepalanya. Ia sedikit *** halaman buku yang tengah ia baca itu tanpa sengaja.


***


Pagi-pagi sekali, So Hyun sudah berjalan menuju kelasnya dengan bibir yang putih pucat. Rambutnya juga ia biarkan tergerai tak terurus. Karena kemarin, kepalanya terasa sangat berat sampai saat ini.


Meskipun begitu, So Hyun tetap memutuskan untuk pergi ke sekolah. Padahal, ibunya sudah berusaha keras melarangnya untuk tidak masuk sekolah sehari saja. Gadis itu tetap mengelak dan memaksa untuk sekolah. Benar-benar gadis yang sangat keras kepala.


Sebelum ke kelasnya, ia pergi ke aula khusus loker yang sudah lama tidak ia singgahi. Karena ia lebih sering membawa semua bukunya pulang, dari pada menyimpannya di loker.


Aula tersebut juga masih sepi, tak ada orang. Mungkin karena ia datang terlalu pagi. Ia merogoh-rogoh saku jas sekolahnya untuk mencari dimana kunci tua dari loker tersebut. Untuk merogoh saku jasnya saja, ia seperti membutuhkan tenaga lebih. Lemas sekali. Ia benar-benar seperti mayat hidup sekarang.


Ketika sudah menemukan apa yang ia cari, So Hyun langsung memasukkan kunci itu ke lubangnya. Ia mengembuskan napas sebentar, lalu memutar kunci loker itu. Ia menarik pintu loker dan mendapati secarik kertas yang ujung-ujungnya sudah dimakan oleh kutu buku. Ia mengambil kertas itu dan membaca tulisan yang ada di kertas itu.


***


Hai...


Aku tak menyangka kalau akan secepat ini. Tapi, inilah aku. Aku ada lagi di kehidupanmu, Ah Jung-ah. Apa kau telah melupakanku? Aku rasa iya. Karena kau memang egois sejak dulu. Dari kita menjadi manusia bersama, kau juga sudah melupakan kehadiranku.


Kau tahu bagaimana perasaanku? Sakit... Sakit sekali.


Kau selalu menjadi kebanggaan keluarga, bagaimana denganku? Aku hanya dikunci di kamar berdebu itu selama bertahun-tahun.


Lalu, ketika kita sudah mati... Apa kau ingat aku? Itu sepertinya tidak mungkin.


Apa kau sudah bertemu dengan partnerku? Mungkin disaat kau membaca kertas ini, ia sedang menatapmu. Karena di saat itu juga... dia akan membawamu... membawamu untuk bertemu denganku lagi... Dan kita akan kembali menyatu... menjadi satu nyawa dan roh yang utuh.


*


**


So Hyun terdiam membaca kertas itu. Ia merasa kepalanya bertambah pening. Lagi-lagi, tubuhnya mulai tidak seimbang. Ia menumpukan sebelah tangannya pada pintu loker yang masih terbuka.


Namun disaat bersamaan, seseorang mendorong tubuhnya hingga punggungnya menabrak lokernya sendiri. So Hyun menatap siapa yang mendorongnya itu. Secarik kertas itu terlepas dari genggamannya begitu saja. Sepasang bola mata mengkilat tengah menatapnya licik.


"Sudah siap?" tanya Yoongi dengan tatapan licik itu.


Gadis itu hanya bisa diam tidak menjawab apapun. Ia menggerakkan tangannya untuk melepaskan cengkraman Yoongi dari bahunya itu. Meskipun hanya memiliki tenaga sedikit, So Hyun masih mengelak namun tidak menjawab apapun.


"Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu. Karena aku tidak memiliki tugas untuk itu. Lagipula, aku sudah lelah karena mengejar dan menculikmu." Yoongi berujar aneh.


Potongan ingatan kuno tiba-tiba saja berputar di pikiran So Hyun.


Kepalanya kembali seperti ditekan dan ditusuk. Melihat reaksi So Hyun seperti itu, kedua sudut bibir Yoongi seperti tertarik. Ia tersenyum licik mengetahui gadis yang sudah menjadi targetnya itu akan mengingat semuanya. Bahwa, gadis itu hanya hidup dengan setengah arwah dan roh saja...


"Shin Ah Jung, kenapa kau diam seperti itu?" ujar Yoongi seperti memancing.


Tatapan yang memancing, senyuman yang licik, dan alunan suara yang mengejek, Yoongi begitu puas melihat So Hyun yang kembali terjatuh dalam jurang kebingungannya.


Mendengar nama 'Shin Ah Jung', kedua mata So Hyun kembali terbuka. Dibenaknya kita muncul dua orang kembar yang tengah berjalan bersama, namun hanya sesaat.


Meskipun hanya sebentar, So Hyun dapat melihat paras dari dua orang kembar yang tengah bersama itu. Salah satu dari gadis kembar itu, memiliki paras serupa dengan dirinya.


Shin Ah Jung, kenapa kau melupakan kakakmu ini? Kenapa? Aku ini Shin Se Jung, kakakmu...


Cetak!!


Jaringan ingatan dalam otak gadis itu seakan-akan tersambung dan memunculkan sebuah ingatan yang telah menghilang. Ia mulai mengingat nama yang disebutkan dalam potongan ingatan itu.


Yoongi mulai melonggarkan cengkraman tangannya pada bahu So Hyun. Pada saat itu juga, gadis itu merosot ke bawah dan terduduk. Ia memalingkan kepalanya dari Yoongi dengan lemas. Tatapannya kosong.


Merasa seperti déjà vu, Yoongi menatap gadis yang terduduk lemas itu menunduk. Ia memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya. Ia menanti sebuah kata yang keluar dari mulut gadis itu. Gadis yang diketahui memiliki nama asli Shin Ah Jung..


"Bagaimana?" tanya Yoongi dengan tersenyum miring.


So Hyun mengadahkan kepalanya menatap Yoongi dengan tatapan kosong, "Kau kemanakan semua teman-temanku..." Gadis itu bergumam lemas dan tak jelas.


Yoongi menghela napasnya, "Semua 'soul' teman-temanmu ada padaku. Untuk mengembalikan semuanya, kau harus ikut aku. Shin Ah Jung, apa kau akan membiarkan semua temanmu mati satu per satu hanya mempertahankan gadis egois sepertimu?"


"Aku tidak bermaksud seperti itu..." So Hyun menjawab dengan kepala menunduk.


Dia baru menyadari bahwa dirinya adalah target yang sebenarnya dari semua kejadian misterius ini. Dan juga sifatnya yang egois di masa lampau, masih terbawa dan ada sampai sekarang.


"Lalu? Kau ingin membiarkan semua teman-temanmu mati lagi? Itu adalah pekerjaan yang mudah untukku. Tapi, kalau kau ikut denganku, aku tidak akan menggangu teman-temanmu lagi. Bahkan, aku akan melepaskan mereka dan kembali hidup di dunia ini." Yoongi berbicara dengan nada berbisik dan penuh penekanan.


"Memang bisa? Bukankah itu mustahil untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati?" So Hyun bertanya dengan tatapan sayunya, namun ekspresi seriusnya tetap terlihat.


Yoongi memunculkan senyuman manisnya, meskipun masih terlihat licik. Ia menyentuh dagu gadis itu agar menatapnya.


Tatapan hipnotis yang sering ia munculkan ketika tersenyum sinis, "Bisa. Karena aku dewa kematian. Kalau kau ingin teman-temanmu hidup tanpa siksaan seperti ini, kau harus ikut denganku. Setelah itu, teman-temanmu akan aku bebaskan. Bagaimana?"


So Hyun yang menatap langsung kedua bola mata mengkilat Yoongi. Seketika tubuhnya melesu dan menjadi yakin dengan apa yang di ucapkan Yoongi, "Benarkah?" tanyanya sayu.


"Apa aku terlihat berbohong di matamu?" ujar Yoongi yang semakin memperkuat tatapan hipnotisnya itu.


"Baiklah, aku akan ikut dengan..." So Hyun tidak bisa melanjutkan ucapannya, ketika seseorang memecahkan rasa tegang itu tiba-tiba.


"Yoongi!" teriak seorang laki-laki dengan keras.


So Hyun dan Yoongi sama-sama menoleh ke sumber suara. Namjoon berdiri di sana dengan dada yang naik-turun. Yoongi tersenyum menang dan berjalan sedikit mendekati Namjoon.


"Oh, Namjoon-ah!" ujar Yoongi. "Sepertinya, kau sedikit terlambat. Tapi tak apa, kau bisa melihatku membawa gadis itu ke hadapan Yeowang."


Namjoon mengepalkan tangannya erat, lalu memukul wajah Yoongi lagi. Sama seperti kemarin, sebuah lebam langsung timbul di tulang pipi laki-laki yang berkulit putih itu. So Hyun melihat semuanya. Tapi karena efek hipnotis dari dewa kematian itu, kesadarannya belum kembali.


So Hyun-ah, ayo sadar!!


Entah darimana asalnya, So Hyun dapat mendengar gemaan suara kedua sahabat baiknya, yaitu Eun Soo dan In Hyong.


So Hyun menggelengkan kepalanya tidak jelas, lalu bangkit dari posisi duduknya itu. Namun ketika ia menoleh ke arah jendela aula loker itu, seorang gadis cantik tengah duduk di jendela sambil tersenyum manis.


"Ah Jung..." panggil gadis itu tersenyum hangat. Kemudian, tangannya mengulur ke arah So Hyun.


Kesadaran So Hyun kembali menghilang, tatapannya kembali kosong. Secara reflek, tangannya juga ikut terulur untuk menggapai uluran tangan dari gadis cantik itu.


Gadis cantik itu merubah senyum hangatnya menjadi senyum licik. Namjoon yang masih berkelahi dengan Yoongi, dapat menatap sosok gadis itu langsung.


"Tidak! Jangan!" teriak Namjoon yang menghentikan perkelahian dengan Yoongi, lalu ia berlari ke arah So Hyun.


"Ayo. Ikut kakakmu ini. Aku ingin sekali berbincang dengan adik kembarku ini. Ayo, sedikit lagi..." Gadis cantik itu terus bergumam dengan alunan suara yang lembut ketika uluran tangan So Hyun dan So Hyun semakin mendekatinya.


Namjoon yang bergerak cepat itu, langsung menarik So Hyun mundur dengan keras. Tubuh gadis itu menghantam salah satu loker lagi.


Seketika senyuman gadis cantik itu luntur, dan bertemu pandang dengan Namjoon. Tidak sampai di situ, Namjoon juga menarik dan menekan leher gadis cantik itu hingga hampir tercekik.


Yoongi yang sedikit terkapar karena pukulan Namjoon, hanya bisa menatap apa yang terjadi. Ia sudah tidak melakukan apapun jika gadis cantik itu bertemu dengan Namjoon.


So Hyun juga kembali pada kesadaran dirinya. Ia menatap Namjoon yang setengah mencekik gadis cantik itu. Yoongi dan So Hyun hanya bisa berdiam diri melihat itu.


"Oh, hai, Namjoon-ah. Sudah lama kita tidak bertemu semenjak kau mengkhianatiku." ujar gadis cantik itu. Padahal lehernya sudah setengah tercekik, tapi ia masih saja tersenyum licik dan berujar.


"Hentikan semua rencana konyolmu. Aku muak dengan semua itu." balas Namjoon kesal.


"Maaf tidak bisa. Bukankah, kau sudah tahu... Kalau gadis yang sedang kau jaga setengah mati itu adalah bagian dari hidupku juga? Kalau aku membiarkannya tetap hidup, kapan aku bisa menjadi diriku seutuhnya?" jelas gadis itu santai. Tangannya mulai menggengam tangan Namjoon yang tengah mencekiknya itu.


So Hyun menatap Namjoon dan gadis yang mungkin adalah seorang Yeowang itu kosong. Aula loker yang sepi ini, membuat suasana semakin tidak jelas. Yoongi juga hanya bisa diam menatap semuanya. Berbeda dari biasanya.


"Sudah aku bilang, jauhi kehidupannya sekarang juga. Terimalah karmamu!" ujar Namjoon keras.


"Menerima karma? Memangnya terlahir dengan setengah roh itu enak?" balas gadis itu dengan nada suara yang sedikit meninggi.


"Itu salah kau juga, kan? Kau yang membencinya, dan lahirlah kau di alam yang tidak bahagia." balas Namjoon.


"Kau benar-benar sudah mengkhianatiku rupanya?" tanya gadis itu lagi.


Namjoon berusaha keras menahan gejolak emosinya. Ia menatap jendela aula yang sudah dapat di pastikan dari mana gadis itu masuk. Namjoon tidak menjawab apapun. Ia sedikit mengangkat tubuh gadis cantik itu, lalu mendudukkannya di kusen jendela.


"Lebih baik... kau pergi. Sekarang!" Tanpa aba-aba, Namjoon mendorong gadis itu dari jendela aula loker itu. Ia tahu, kalau gadis ini tidak mungkin mati jika jatuh dari tempat setinggi apapun. Toh, gadis itu memang bukan manusia.


So Hyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia begitu syok ketika melihat apa yang Namjoon lakukan terhadap gadis itu, atau lebih tepatnya gadis yang akan ia kenal sebagai kakak kembarnya dimasa lampau.


Perlakuan Namjoon dimatanya saat ini adalah kejam, bahkan ia mengatakan bahwa itu sadis.


Yoongi langsung bangkit dari posisinya, dan ikut menghilang begitu saja bagaikan debu yang tertiup angin. Didalam pikirannya, ia mengakui dirinya kalah dengan temannya itu. Teman yang sudah mengkhianati Yeowang itu.


"Gwenchana?" tanya Namjoon ketika semua sudah 'berakhir'.


So Hyun menegakkan posisinya, lalu menatap sekitar. Ia sudah tidak mendapati laki-laki yang bernama Yoongi dan gadis tadi.


Ia menopang dahinya dan memejamkan matanya perlahan, "Kenapa aku baru sadar... Jadi, buku itu adalah pengingat masa lampau, ya?"


Namjoon hanya bisa menjilat bibir, kemudian mengembuskan napasnya. Lensa matanya sudah berubah menjadi mengkilat karena ulah gadis cantik yang tiba-tiba muncul itu.


Namjoon menatap gadis yang terduduk itu dalam. Namun tiba-tiba, Taehyung dan Jimin berjalan menghampiri Namjoon dan So Hyun. Dua laki-laki itu sepertinya memiliki sorot mata yang bercampur aduk. Antara tidak percaya, bingung, dan juga dingin.


Jimin menatap sekitar dengan dahi yang mengerut kebingungan, "Kalian berdua... Apa yang kalian lakukan pagi-pagi di aula loker ini?"


***


To Be Continue


***


Bagaimana chapter sebelumnya? Udah melepas rasa penasarannya belum? kkkk~~ Oh ya, aku rasa semakin ke sini, aku hanya akan meningkatkan fantasynya dulu. Berhubung pelakunya udah ketahuan, jadi sedikit sulit untuk membuat scene horrornya. Jadi, tolong di maklumi yaa^^


Jangan lupa Like Comment!