
Title : Darkside (Chapter 1)
Cast :
Kim So Hyun
Ryu Eun Soo
Cha In Hyong
Park Ji Min
Kim Tae Hyung
Kim Nam Joon
The Other also coming soon…
Genre : Adventure, Love-life, School life, Mystery, Horror, Thriller, and Sad Ending.
***
Ketakutan…
Orang-orang warga sana pun berlarian menjauhi kawasan hutan itu. Konon katanya hutan itu memiliki penghuni yang misterius. Hawa sealu berkabut, jika bulan purnama muncul suara yang tidak mengenakkan hati. Orang-orang itu mulai resah. Tidak sedikit dari mereka mulai memilih untuk pindah rumah.
Hingga pada suatu saat…
Mayat seseorang yang di kenal, ditemukan di pinggiran hutan oleh anak-anak kemah. Di lengan dan paha laki-laki terdapat cakaran hewan buas. Darahnya masih mengalir, dan wajah laki-laki itu berlumuran darah, dan juga terdapat cakaran hewan yang sama.
Semenjak itulah, hutan itu di segel. Wilayah sekitar hutanpun dikosongkan, lalu di gusur. Di sekelilingnya telah di tanam pagar besi yang kokoh. Wilayah beserta hutan itu telah terisolir dari kehidupan. Pagar-pagar besi yang dulunya berwarna perak ke abuan, juga sudah berubah warna menjadi hijau berkarat. Namun dipagar itu, tumbuhlah pohon mawar merah yang cantik secara misterius.
Sampai saat ini… Misteri itu belum terpecahkan.
So Hyun membaca bukunya sambil menguap tidak jelas. Ia membaca bukunya di tengah-tengah jam istirahat sekolahnya. Ia menopang sebelah pipinya dan membaca buku terus-menerus. Buku yang menyimpan banyak cerita misteri itu masih berada genggamannya seharian.
Ketika semua teman-temannya memilih untuk memakan bekal dan berjalan-jalan, ia masih duduk di sana. Kadang-kadang, kedua temannya menghampiri hanya untuk sekedar basa-basi. Sisanya, So Hyun habiskan untuk membaca buku itu.
“Kau tidak makan?” Tanya Jimin sambil berjalan di sebelah kursi So Hyun. Tangan laki-laki itu penuh dengan tumpukkan kertas-kertas folio untuk laporan tugas sains harian.
So Hyun menegakkan kepalanya dan melihat Jimin yang tengah menatapnya aneh.
Gadis itu menutup bukunya dan memasukkan ke kolong meja, “Ah, tidak. Aku tidak lapar. Kau makan saja sana.” sahut So Hyun yang terkesan seperti tergencet dalam keadaan terusik.
“Jangan ketus seperti itu. Aku ‘kan hanya sekedar bertanya. Lagipula, siapa juga yang ingin mengajakmu untuk makan bersama?” Jimin tersenyum, namun dilanjutkan dengan ejekkan dan kekehannya.
So Hyun mendengus pelan. Ia menatap Jimin jengkel begitu saja, “Terserah kau saja.”
***
Jam istirahat berakhir, itu berarti berakhir pula waktu untuk membaca bagi So Hyun.
Eun Soo, teman sebangku So Hyun, menatap dengan tatapan penasaran. Sedari tadi, So Hyun mengacuhkan ajakan bicaranya.
Eun Soo ingin sekali melihat judul buku yang sedang dibaca oleh So Hyun itu. Tapi, So Hyun terlihat seperti menyembunyikan sampul buku itu.
“Kau sebenarnya membaca apa, sih?” Eun Soo melirik ke arah So Hyun penasaran.
“Buku,” jawab So Hyun datar.
“Maksudnya judul bukunya,” sahut Jimin dari belakang. Ia tersenyum aneh menatap dua orang perempuan yang tengah berbicara singkat itu. “Apa buku itu tentang misteri? Tadi aku baca sedikit dari sini, tentang kematian tanpa sebab, ya?” Jimin bertanya dengan sedikit serius.
“Ya, bisa jadi begitu. Memangnya kenapa kalian ingin tahu?” Tanya So Hyun sambil memutar tubuhnya menatap Jimin datar, diikuti Eun Soo yang juga ikut memutar tubuhnya.
“Kami penasaran saja. Sejak tadi pagi, kau hanya membaca buku itu terus. Makan siang tidak, bercanda juga tidak.” Kali ini, Eun Soo yang menjawabnya dengan pasti.
“Boleh aku lihat buku itu?”
So Hyun menggeleng, “Andwae.” Ia mendengus pelan ketika melihat ekspresi Jimin, “Bukannya aku pelit, tapi ini adalah buku rahasia. Aku tidak ingin banyak orang yang mengetahuinya.”
“Kau ceritakan saja.” Jimin menyahut datar.
“Tidak bisa. Jimin-ah, bukankah tadi aku sudah bilang, kalau aku tidak ingin orang-orang mengetahuinya?” umpat So Hyun sebal. Jujur saja, laki-laki didepannya itu memang aneh dan kadang menjengkelkan.
“La…?” Eun Soo bergumam sambil membaca sampul buku secara diam-diam.
Mendengar gumaman sahabatnya itu, So Hyun langsung menoleh dan menarik buku itu secara paksa. Ia mendecakkan lidahnya asal dan mendengus. Buku yang sudah berada di genggaman itu, langsung ia simpan ke dalam dekapannya. Jimin melirik gadis yang ada di hadapannya itu.
“Mian. Ini adalah rahasiaku sendirian.” jawab So Hyun mendelik pelan. Ia merasa tidak tega melukai laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sejak dulu.
Jimin, laki-laki itu adalah sahabat terbaiknya kedua setelah Eun Soo. Mereka selalu berduaan saja, berangkat bersama, begitu juga dengan pulangnya. Bahkan, Taehyung –teman dekat Jimin- meledek mereka berdua untuk menjadi sepasang kekasih. Tapi, entahlah, tidak ada rasa suka yang tumbuh selama mereka bersahabat.
“Ya, ya, ya. Aku mengerti. Aku tidak akan memaksa.” Jimin mengibaskan tangannya sambil tersenyum manis. Sedangkan, Eun Soo hanya mengangguk-angguk tidak jelas.
.
.
Setelah membicarakan buku itu, Guru Yoo masuk tanpa mengetuk pintu kelas. Raut wajah guru itu juga berbeda. Ia tampak sedang kesal, wajahnya juga merah padam. Itu pertanda tidak baik.
Jimin langsung memundurkan kursinya, lalu cepat-cepat mengeluarkan buku Matematika.
Melihat hal yang sama dengan Jimin, Eun Soo memutar tubuhnya ceat. Menarik kursinya agak maju, lalu mengeluarkan buku tulisnya. Lalu, disusul dengan So Hyun dengan gerakan yang santai.
Ekspresi Guru Yoo itu terlihat menyeramkan, hingga membuat siswa lainnya bergerak cepat untuk mengeluarkan buku pelajaran.
Ketika hendak membuka buku cetaknya, So Hyun melirik ke arah ambang pintu secara tidak sengaja. Ia mendapati seseorang tengah mengintip ke dalam kelasnya dari pinggiran pintu kelasnya yang masih terbuka lebar. Ketika So Hyun melirik secara sadar dengan kerutan di dahi, orang itu menghilang secara tiba-tiba.
Gadis itu berdeham dan membuang pandangannya ke seluruh kelasnya. Ia menarik kursi, dan mencengkram pensilnya kuat-kuat.
Yang tadi itu siapa?
***
Suasana kelas terasa sangat sepi, yang terdengar hanya suara gesekkan kain pel dan lantai. Itu juga, hanya ada 4 orang siswa yang masih membersihkan kelas. Kelas yang terletak dekat taman bunga mawar itu memang harus terlihat sangat bersih. Karena peraturan sekolah sudah mendesak mereka seperti itu.
In Hyong, So Hyun, Jimin dan Eun Soo, masih berniat untuk membuat kelas itu terlihat lebih harum dari biasanya. Entahlah, guru mereka telah menetapkan hal itu sebagai peraturan harian yang ketat.
Dari sekian banyak siswa laki-laki di kelas, Jimin-lah yang paling setia menunggu So Hyun sampai pulang. Ia bahkan membantu 3 sahabat itu membersihkan kelas, walaupun itu bukan jadwal piketnya.
“Aku muak seperti ini!” In Hyong membanting gagang pel-nya keras.
Ia menendang pelan ember yang masih berisi dengan air yang sudah di campur dengan karbol. “Kenapa kelas kita saja yang dipaksa seperti ini untuk setiap hari? Aku dilihat-lihat kelas Taehyung tidak harus sebersih ini!”
So Hyun dan Eun Soo menatap In Hyong dengan terkejut. Tak biasanya ia mengeluh seperti ini, In Hyong malah disebut-sebut anak terajin membersihkan kelas. Predikat itu ia pegang bersama Jimin.
“Hey, sudahlah.” Eun Soo menyahut sambil menepuk bahu kanan In Hyong pelan. “Ikuti saja apa peraturannya.”
“Aku lelah. Aku ingin pulang.” ujar In Hyong pelan.
“Pulang saja. Lagi pula, sedari tadi kau hanya mengepel lantai itu-itu saja. Maju… Mundur. Itu saja yang kau lakukan sejak 10 menit yang lalu.” So Hyun menyahut dengan suara yang sedikit sinis. Ia sangat sensitif ketika mendengar seseorang mengeluh.
“So Hyun-ah, kau tidak boleh berkata seperti itu.” timpal Jimin.
In Hyong mendengus marah. Ia menendang ember itu sampai airnya menyiram kaki Eun Soo. Gagang pelnya juga ia tendang hingga terseret jauh. Ia berlari mengambil tasnya dan menghilang begitu saja. Gadis itu pergi tanpa pamit. So Hyun terdiam, dan mendecakkan lidah.
“Ada apa dengannya?” Tanya Eun Soo datar. Gadis itu berjongkok membetulkan posisi ember, lalu mengambil beberapa kain dasar untuk mengeringkan lantai itu.
“Entahlah. Tak biasanya, In Hyong begitu.” Jimin menatap ke arah pintu kelas, tepat lurus ke depan.
“Hmm… Kau benar.”
So Hyun terdiam ketika In Hyong benar-benar akan pulang begitu saja. Gadis yang biasanya di kelas dengan keramahan dan kepolosannya, tiba-tiba menghilang dari untaian pikiran begitu saja.
Ketika Jimin membantu Eun Soo mengelap lantai, So Hyun mendelik sebentar.
“Aku merasa aneh dengan orang-orang untuk hari ini.” Eun Soo berbicara sambil terus mengelap air yang berceceran dimana-mana.
“Maksudmu?” So Hyun menyahut dengan dahi yang mengerut tak yakin.
“Kau ingat tidak? Guru Yoo masuk dengan wajah merah padam seperti habis meledak? Selama pelajaran juga, Guru Yoo hanya berbicara sepatah dua patah saja. Lalu sekarang, sifat In Hyong tiba-tiba menjadi keras kepala seperti itu. Apa itu tidak aneh?” jelas Eun Soo.
Jimin menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap So Hyun yang terlihat kebingungan dan panik, “Aku juga merasa seperti itu. Sudahlah. Mungkin mereka ada masalah. Tidak baik mencuriga mereka dengan mudah begitu saja.”
“Ya, aku tahu itu.” Eun Soo menjawab sambil memeras kain pelnya di atas ember yang sempat terguling tadi.
So Hyun menatap lurus ke arah ambang pintu tadi. Ia mengingat seseorang yang tengah mengintip ke dalam kelasnya, lalu menghilang begitu saja.
Ada yang aneh… Kini, batin So Hyun mulai merasakan ada hal yang ganjil.
***
To Be Continued
***
Siapa ya kira-kira yang aneh itu? Dan siapa yang ngintip tadi? Adakah yang penasaran?