
Spesial nih panjang 3000 kata
Happy Reading^^
Preview :
Napas dingin laki-laki begitu terasa di bibir So Hyun. Gadis itu menggigit bibir bagian dalamnya, mencoba menghindar.
Ia memikirkan segala cara untuk kabur dan menjauhi sosok aneh itu. Namun, badannya benar-benar terimpit. Tinggal sedikit lagi…
***
So Hyun berhenti bergerak. Tubuhnya semakin mendingin, seakan-akan membeku total. Ia embali menarik napasnya dalam-dalam, kemudian di tahan sebentar hingga kedua pipinya sedikit mengembung. Bibir laki-laki itu juga semakin mendekati bibirnya. Dan…
Buagh!
Laki-laki itu langsung menjauhkan wajahnya dari So Hyun dengan tangannya yang memegangi bibirnya. Laki-laki itu meringis sambil memegangi bibirnya yang luka.
Merasakan suhu tubuhnya kembali normal dan dapat digerakan lagi, So Hyun membuka matanya lagi. Kepalanya terasa sangat sakit dan kembali berkunang-kunang. Tangannya mulai meraba-raba keningnya. Sebuah denyutan mulai terasa di keningnya itu.
Karena sama-sama terkejut, So Hyun sedikit menghampiri laki-laki itu sambil meminta maaf. Ia sedikit melupakan kelakuan laki-laki itu yang hampir membunuhnya dengan membekukan dirinya. Ia juga sedikit melupakan rasa takutnya.
“Maaf! Aku sungguh minta maaf.” Ia berujar sambil menangkupkan kedua tangannya. ‘Bukan bibirmu saja yang sakit, keningku juga sakit.’ batinnya meringis.
Laki-laki itu masih memegangi bibirnya yang luka itu. Luka yang membenjol tepat di bagian depan bibirnya terlihat begitu merah. Mendengar permintaan maaf So Hyun, laki-laki itu mendengus kesal.
Ia mengelap sesuatu yang mengalir dari bibirnya itu, kemudian tersenyum licik, “Boleh juga. Biasanya, perempuan yang dihimpit seperti itu langsung pasrah. Ternyata, kau berbeda.”
So Hyun terdiam sebentar, ia menatap laki-laki itu lama. Kulit laki-laki itu seperti bukan manusia. Kulitnya terlalu putih untuk seorang manusia dan warna lensa matanya juga berbeda dari manusia kebanyakan.
“Baiklah. Kali ini, aku biarkan kau melawan. Tapi, untuk lain kali… Kau harus pastikan semua temanmu selamat.” ujar laki-laki itu tersenyum licik, lalu berjalan santai hingga menghilang di balik belokan sudut sekolah.
Menyadari ada sesuatu yang aneh, tubuh So Hyun kembali memucat. Tangan yang putus itu masih ada disana, namun sudah berhenti bergerak. Mual dan pusing kembali menyelubunginya. Ia terduduk lunglai dengan tatapan kosong. Disaat itu juga, seseorang datang menghampirinya dengan santai.
“Sedang apa kau di sini?” Jimin bertanya dengan tangan yang ia masukan tangan ke dalam saku celana sekolahnya. Ia bisa mengetahui So Hyun berada di sini, karena Dahee sempat berpapasan dengannya.
So Hyun langsung menoleh dan menatap Jimin dengan tatapan bergetar, ia tidak menyahut sama sekali. Kepalanya terasa seperti di putar-putar setelah melihat sesuatu pada laki-laki misterius itu.
Dengan santai, Jimin melangkahkan kakinya menuju So Hyun. Tanpa melihat apa yang ia injak, Jimin terus melangkah menuju So Hyun dengan tatapan dingin. Hingga pada akhirnya, salah satu kakinya menginjak tangan yang putus itu.
“Apa ini?” Jimin melihat ke bawah, melihat apa yang ia injak. “Ya! Tangan siapa ini?!” pekiknya kagetnya. Saking kagetnya, ia menendang tangan yang putus itu kencang.
Tangan itu tiba-tiba bergerak lagi. Kali ini terbang seperti burung, dan siap menyakar seperti elang. Melihat hal itu, Jimin tak kuasa menahan rasa takutnya. Tanpa memikirkan sikap dingin dan sebagainya, ia langsung menarik tangan So Hyun dan mengajaknya berlari.
“Ayo, Lari!!” ujar Jimin dengan wajah ketakutannya.
Mendengar seruan Jimin yang ketakutan, So Hyun sedikt tersenyum. Entahlah, ia ingin sekali menertawai ekspresi Jimin ketika menginjak tangan dari sosok wanita yang putus itu.
***
Namjoon keluar kelas dengan langkah yang terburu-buru. Ia berjalan sambil memegangi keningnya frustasi. Ia juga melihat arlojinya sekilas.
Sudah 10 menit dari bel istirahat berbunyi, Namjoon ingin sekali berteriak kepada guru IPA itu. Ia dapat pastikan So Hyun sudah menunggunya di kursi taman belakang sekolah itu. Oleh sebab itu, ia berjalan dengan terburu-buru.
“Kenapa guru itu senang sekali berbicara di depan kelas dengan memakan durasi yang sangat lama?!” Namjoon berjalan sambil menggerutu sendirian.
Ketika ia hendak menuruni tangga di sebelah belokan laboratorium IPA, sebuah tangan terulur menahan bahunya. Kemudian, si pemilik tangan itu menghalanginya.
Namjoon menatap orang yang sengaja menghalangi jalannya. Taehyung sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam. Namun, Namjoon menanggapinya dengan tatapan bertanya-tanya.
“Ada apa?” tanya Namjoon.
Tangan Taehyung masih berada di bahu Namjoon dengan tatapan yang tidak berubah sedikitpun. Ia berujar dengan sedikit dingin, “Sunbae, apa sunbae sedang menyimpan rahasia?”
Tatapan Namjoon semakin aneh. Ia bingung dengan pertanyaan dari Taehyung yang secara tiba-tiba, apalagi tanpa asal-muasal seperti itu. Tiba-tiba saja ia merasakan telapak tangannya berkeringat, “Kau bicara apa?”
Taehyung mendengus meremehkan, “Jangan pikir kalau aku tidak tahu,” Taehyung melepaskan tangannya dari bahu Namjoon, yang kemudian tergerak meraba luka lebamnya. “Sunbae ini, tengah menyimpan rahasia yang begitu dalamkan terhadap So Hyun?”
Tatapan Namjoon kembali berubah menjadi seperti orang yang terusik. Ia sedikit meneguk ludahnya. Pertanyaan Taehyung seperti menyerangnya tiba-tiba.
Taehyung masih menatap seniornya barunya itu dengan tatapan tajam. Merasa terusik, Namjoon langsung berdeham seperti tidak merasakan apa-apa.
“Jangan bicara yang macam-macam. Aku tidak pernah menyembunyikan rahasia apapun terhadap kalian, ataupun So Hyun. Kenapa kau terlihat begitu curiga?” Namjoon menyangkal dengan ekspresi santai yang dipaksakan.
“Karena aku tidak bisa dibodohi,” Taehyung kembali menjawab.
“Kenapa kau terlihat begitu takut sunbae?” serdik Taehyung lagi. Ia terlihat begitu menginterogasi seniornya itu.
“Kau ini memang sudah kebanyakan membaca manhwa rupanya.” sahut Namjoon dengan sebuah endusan napas.
“Itu tidak ada hubungannya.” jawab Taehyung dingin.
“Jelas ada. Manhwa itu penuh dengan imajinasi yang tinggi,” Namjoon tersenyum sebentar, kemudian melangkah melewati Taehyung dari sampingnya. “Jangan mencurigai orang sembarangan.” Ia kembali berujar sambil berjalan di sebelah Taehyung.
Namjoon berlalu begitu saja dengan santainya. Ada sedikit kelegaan ketika ia dapat menyudahi serdikan Taehyung itu. Tapi, ternyata serdikan Taehyung tidak sampai di situ.
Ketika Namjoon sudah berjalan menuruni 4-5 anak tangga, Taehyung kembali menyerdiknya sinis dan dingin. Lebam dipipinya semakin menambah keseriusan dan tajamnya tatapannya.
“Apa kau pelaku dari semua pembunuhan ini?” Taehyung yang sudah membalikkan tubuhnya, menatap Namjoon. “Apa sunbae yang melakukan semuanya? Atau, sunbae bukan manusia?”
Namjoon langsung menghentikan langkah kakinya. Ia mendelik sebentar, kemudian berdeham. Lalu, ia mengembuskan napasnya.
Ternyata, Taehyung memang orang yang sangat sulit untuk dijauhi serdikannya. Rasa curiganya, memang membuat Namjoon merasa begitu terusik.
Tanpa menyahut apapun lagi, Namjoon kembali berjalan menuruni anak tangga sekolah itu dalam diam. Sedangkan, Taehyung masih menatap punggung Namjoon yang tengah menuruni anak tangga, hingga tidak terlihat.
Merasa diacuhkan begitu saja, Taehyung langsung menghela napasnya. Denyutan lebamnya masih begitu terasa ketika ia berbicara. Tapi, rasa curiganya terhadap Namjoon sangatlah kuat. Ia tidak akan menyerah untuk hingga mengetahui yang sebenarnya. Ya, tekadnya sudah bulat.
***
Jimin dan So Hyun sudah berada di kursi kantin sekolahnya. Napas mereka masih tidak beraturan karena berlari kencang menjauhi tangan putus yang terbang itu.
Mereka duduk dengan jarak cukup jauh, meskipun masih berada dalam satu kursi. Entahlah, mungkin So Hyun masih kecewa dengan hal yang tadi pagi.
Mereka kembali diam tanpa kata. So Hyun menunduk sambil tersenyum kecil. Sedangkan, Jimin masih berdiam diri tak tahan melihat tangan yang terbang itu.
Syukurlah, tangan itu sudah tidak terbang mengikutinya lagi. Jimin mendelik menatap So Hyun yang masih tertunduk diam. Ia masih mengumpulkan keberanian mengajak So Hyun berbicara karena permintaan So Hyun ketika di kelas.
“Huph!” Terdengar suara So Hyun yang tiba-tiba membekap mulutnya sendiri. Rasa takut dan mualnya, kini sudah berganti dengan tawa yang sedang ia tahan.
Jimin menoleh ke arah So Hyun lagi. Ia menatap sahabatnya dengan dahi yang mengerut bingung, “Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?” Terlintas dipikirannya, bahwa orang yang ia bawa lari ini adalah orang lain, bukan So Hyun. Merasa pikiran itu berkelebat, tubuhnya menjadi merinding.
So Hyun masih diam dengan suara tawa yang tersendat. Kedua tangannya masih menutup mulutnya, kepalanya juga masih menunduk.
Melihat hal itu, apa yang dikatakan oleh pikiran Jimin semakin menjadi. Ia merasa bahwa ia salah ‘membawa’ lari ‘orang’. Ia berpikir orang yang ada di sebelahnya itu bukan So Hyun, melainkan yang ‘lain’.
“So Hyun…” Jimin mulai mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu So Hyun.
Belum sampai tangan Jimin untuk menyentuh bahu So Hyun, gadis itu melepaskan bekapan tangannya. Kemudian, tertawa lepas tanpa melihat lingkungan sekitar.
Siswa-siswi yang sedang berada di kantin langsung menoleh ke sumber suara. So Hyun tertawa begitu lebar sambil memegangi perutnya. Jimin langsung menarik tangannya cepat.
“Puahahaha!” tawa So Hyun semakin kencang. Saking gelinya, gadis itu mengeluarkan air matanya. Suara tawanya tidak berhenti juga.
Jimin langsung menjauhi So Hyun. Ia rasa apa yang pikirannya katakan itu benar. Orang yang ia ajak lari ini bukan So Hyun. Ya, batinnya juga mengatakan seperti itu.
Siswa-siswi di sana menatap Jimin dan So Hyun dengan dahi yang mengerut. Namun, itu tidak bertahan lama. Mereka kembali membawa nampan mereka dan melanjutkan makan. Tapi, Jimin tidak tenang dengan pikirannya sendiri.
Ketika Jimin hendak bangkit, dan pergi. Tangan So Hyun langsung menarik jari manis dan kelingking Jimin. Ia mencengkramnya dengan sedikit kuat, masih dengan kondisi tertawa terbahak-bahak.
Karena So Hyun menahannya pergi secara tiba-tiba, tubuh Jimin langsung merinding. Tangan So Hyun begitu dingin dan warna kukunya juga membiru. Namun, gadis itu terlihat sangat amat bahagia sekarang.
“Ya, kau kenapa?” tanya Jimin dengan sedikit takut. Jujur saja, suhu dingin yang ada pada So Hyun, seakan-akan berpindah ke tubuhnya. Pelipisnya juga mengeluarkan keringat dingin. Ia semakin ragu kalau gadis itu adalah So Hyun yang sebenarnya.
“Apa kau tidak merasa? Hahaha,” So Hyun kembali menyahut dengan diselingi tawanya. “Ekspresi wajahmu tadi…” So Hyun kembali melanjutkan tawanya. Namun, suaranya sudah sedikit lebih pelan dari sebelumnya.
“Wajahku kenapa?” Jimin memiringkan kepalanya. Ia merasa sedikit tenang sekarang.
“Wajahmu! Astaga! Jelek sekali! Hahaha,” So Hyun masih tertawa. “Andai saja tadi ada yang mengambil foto wajahmu. Kau pasti tidak akan bisa berhenti tertawa seperti ku. Oh ya Tuhan, kenapa Jimin bisa sejelek itu?” So Hyun terus menertawakan ekspresi Jimin yang ia lihat ketika berlari tadi.
“Ya, jangan bicara macam-macam.” sahut Jimin dengan wajah yang tidak santai. Keraguannya mulai hilang, ia yakin gadis itu adalah So Hyun, bukan yang ‘lain’.
“Aku serius. Kau terlihat Jelek, sangat jelek!” So Hyun masih tertawa lepas. Tapi, lambat laun ia menghentikan suara tawanya. Sudut matanya sudah basah karena air mata ‘bahagia’nya itu.
“Ah, maaf.” So Hyun berujar sambil melepaskan cengkramannya pada dua jari Jimin.
“Tak apa.” sahut Jimin cepat. Ia tidak menyangka So Hyun akan terlihat begitu bahagia, dan menahan pergi. Padahal, bukannya tadi ia sangat kecewa dengan Jimin? Entahlah. Jimin juga tidak habis pikir dengan itu.
“Aku kalau aku boleh jujur. Wajahmu jelek sekali. Matamu segaris. Mulut menganga lebar. Dan, lubang hidungmu… oh, astaga. Aku sudah tidak bisa membayangkannya lagi.” jelas So Hyun mengelap sudut matanya.
Jimin yang sudah bangkit, kembali terduduk di kursi itu. Ia menatap sahabatnya dengan sedikit senyum. Sudah cukup lama ia tidak melihat So Hyun tertawa hingga mengeluarkan air mata semenjak… tragedy itu terjadi.
Ah salah, ia baru ingat bahwa So Hyun pernah tertawa seperti ini juga saat di rumah sakit. Tapi, entah mengapa tawanya di rumah sakit dan saat ini, terasa sangat berbeda.
“Hmm… Baiklah, aku jelek,” ujar Jimin dengan senyum tipisnya. Ia menatap So Hyun dengan tatapan minta maafnya, “Apa sekarang kau sudah memaafkanku?” Ia bertanya dengan sedikit hati-hati.
So Hyun langsung menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Jimin dengan tatapan yang berbeda dengan yang tadi. Tatapan gadis itu terlihat sedikit datar, tak ada rasa ceria. Kemudian So Hyun menyungging senyum simpulnya, “Tentu.”
Mendengar permintaan maafnya diterima, Jimin langsung menyungging senyum senang. Tapi, masih ada perasaan yang agak ganjil dibatinnya.
Kenapa So Hyun secepat itu memaafkannya? Padahal… ah sudahlah. Yang terpenting bagi Jimin, sahabat ‘satu-satunya’ ini sudah tidak kecewa padanya.
“Kau tahu? Ternyata sebenci apapun kau pada sahabatmu, pasti semuanya terkalahkan begitu saja. Karena sahabat itu berbeda dengan kekasih. Ketika bertengkar, pasti akan kembali lagi dan melupakannya. Kita juga begitu. Maaf, kalau aku egois padamu tadi pagi. Aku akui apa yang dikatakan Taehyung memang benar. Terima kasih juga, kau datang ke taman belakang.” jelas So Hyun panjang lebar. Senyumnya terlihat begitu mendominasi sekarang.
“Kau benar. Aku suka kata-katamu itu. Cara menghadapi masalah dalam persahabatan adalah dengan tertawa lebar, kemudian melupakannya.” tambah Jimin dengan senyumnya. Lega rasanya, So Hyun kembali seperti sebelumnya.
“Tepat sekali!” So Hyun menyahut dengan suara yang terdengar sangat setuju. “Kau tahu? Menurutku, kau dan Eun Soo adalah orang yang paling berharga kedua setelah keluarga. Meskipun, Eun Soo… ya kau tahu, aku tetap merasakan kebersamaan itu.”
“Aku juga.” timpal Jimin. “Maaf aku membohongimu. Dan, maafkan juga Taehyung. Aku dan dia…”
“Sudahlah. Aku sudah melupakannya karena wajahmu yang jelek tadi.” sela So Hyun cepat. Ia tersenyum ke arah Jimin seperti ingin tertawa lagi.
Jimin dan So Hyun saling bertukar senyum satu sama lain. Mereka sedikit terkekeh tanpa alasan. Namun, So Hyun langsung mengingat sesuatu. Ia menatap arlojinya sebentar, kemudian tubuhnya agak mematung. Kedua matanya sedikit terbelalak. Telapak tangannya langsung memukul dahinya sendiri.
“Astaga!” pekik So Hyun dengan wajah yang sedikit panik.
“Ada apa?” tanya Jimin bingung.
“Aku lupa kalau aku harus menemui Namjoon sunbae!!” ujarnya dengan suara yang cukup keras.
***
Namjoon berjalan cepat menuju taman belakang sekolah dengan terburu-buru. Ia merasa tidak enak pada So Hyun. Guru IPA itu memang menghabiskan waktunya, ditambah dengan Taehyung tadi. Sedikit-sedikit, ia menatap arloji miliknya. Ia sudah terlambat 15 menit dari waktu yang sudah dijanjikan.
Namjoon menghentikan langkah kakinya di rumput taman sekolah itu. Ia menerawang ke sekelilingnya dengan tatapan kesal. Napasnya sedikit memburu karena terburu-buru tadi. Sayangnya, ia tidak mendapatkan sosok So Hyun disana. Dengan perasaan kesal, Namjoon berjalan menuju kursi taman tua itu
Ia menatap kursi itu penuh rasa kesalnya. Kemudian, ia menendang kursi itu keras-keras hingga terdengar suara dengungan besi. Besi tua yang menjadi bagian dari kaki kursi itu membengkok karena tendangan Namjoon yang cukup keras. Tangannya terkepal erat. Amarahnya mulai naik sekarang. Dua orang telah menjadi penghalangnya.
“Sialan!” ujarnya kasar.
***
Taehyung berjalan dengan ransel yang menggantung di sebelah bahunya. Tangan kirinya masih meraba-raba lebam di pipinya. Denyutan lebam itu itu berkurang ataupun menghilang juga.
Tangan kanannya memegang sebuah buku manhwa dan buku catatan sekaligus. Tapi sudah dapat di tebak, Taehyung hanya membuka lembaran manhwa saja. Ia mengabaikan buku catatan itu begitu saja.
Jam sekolah yang sudah berakhir ini, Taehyung berjalan menuju lobby sendirian. Meskipun kedua matanya terlihat serius dengan manhwa yang ada di tangannya. Tapi, ia dapat berjalan tanpa menabrak siapapun.
Orang-orang yang menyapanya, ia acuhkan begitu saja demi membaca manhwa itu. Sorotan matanya yang sedikit menusuk, terlihat begitu terlihat. Bahkan ada seseorang lewat di sebelahnya dengan tatapan menusuk, namun Taehyung tetap mengabaikan itu.
Orang yang menatap dengan tatapan menusuk itu, berjalan tetap di hadapan Taehyung. Taehyung mendelik menatap siapa yang berjalan di hadapannya itu.
Itu adalah seorang laki-laki, namun menggunakan seragam yang berbeda dengan seragam sekolah yang ia gunakan. Ia juga baru pertama kali melihat orang itu.
Ketika sudah sampai di depan gerbang sekolah, laki-laki itu berjalan menuju halte siswa. Halte yang biasa menjadi tempat So Hyun dan Jimin pulang.
Karena merasa orang itu tidak penting, Taehyung langsung berjalan kaki di trotoar. Kali ini, ia pulang sendirian. Ia memilih untuk menjauhi So Hyun beberapa waktu.
Kehadiran orang yang berpakaian seragam beda itu, membuat pikiran Taehyung seperti menambah beban. Sebelum ia melangkah lebih jauh, Taehyung menoleh ke arah halte itu sekali lagi. Orang itu masih ada di sana.
.
.
Selang beberapa saat, bus datang dan orang itu langsung menaiki bus itu. Taehyung masih menatap gerak-gerik orang itu. Sepertinya, orang itu menatap So Hyun dan Jimin yang baru saja keluar dari gerbang sekolah.
Bus itu lewat di hadapan Taehyung dengan kecepatan sedang. Embusan angin yang bertabrakan dengan kinetic bus, membuat helaian rambutnya tertiup angin. Ia bisa melihat orang itu menatap keluar jendela.
“Aku baru tahu, kalau sekolah ini menerima siswa baru lagi…” Taehyung bergumam, matanya masih menatap bus yang di tumpangi orang itu.
***
Seorang laki-laki berpakaian seragam yang berbeda tengah menghadang seorang perempuan yang berseragam sekolah juga diantara tubuhnya dan dinding. Tangan laki-laki itu berada tepat di sebelah kiri kepala gadis berseragam itu dengan mencengkram tangan gadis itu erat. Tangan kanan laki-laki itu juga memegang dagu perempuan itu, hingga kepala gadis itu mengadah menatapnya.
Mereka berdua berada di lorong yang sepi dekat perpustakaan sekolah. Tubuh gadis itu bergetar takut ketika harus menatap laki-laki itu. Apalagi, tatapan laki-laki itu seakan-akan menusuk matanya.
Genggaman laki-laki itu juga sangat erat hingga ia harus menelan rasa sakit dan suara ringisannya. Ditambah, laki-laki itu juga membenturkan punggungnya ke dinding yang terdapat sedikit benjolan tiang.
“Beritahu aku sekarang!” ujar laki-laki itu dengan suara yang sangat dingin.
Dahee –perempuan itu– masih membungkam mulutnya takut. Laki-laki yang tak ia kenali ini terus menambah kekuatan cengkramannya pada tangan serta dagunya itu. Ia masih begitu syok dengan kemunculan laki-laki itu secara tiba-tiba.
“Halo, nona? Apa kau tahu gadis yang bernama So Hyun dimana?” tanya laki-laki sekali lagi, kali ini dengan nada yang meremehkan.
Mau tidak mau, Dahee menjawab pertanya laki-laki itu. Ia meneguk ludahnya untuk membasahi tenggorokkan yang terasa amat kering. Tatapan laki-laki itu telah membuatnya begitu takut.
“Ah! So Hyun tadi…” Dahee menjawab dengan nada yang sangat pelan hingga tidak dapat terdengar jelas. Namun, laki-laki itu bisa mengetahui dari gerakan bibir Dahee.
Dengan segera, laki-laki itu melepaskan cengkramannya yang begitu erat pada Dahee. Kemudian, ia langsung meninggalkan Dahee begitu saja.
Ketika laki-laki itu sudah meninggalkannya, tubuh Dahee yang terasa amat sangat lemas langsung merosot begitu saja. Buku-buku yang tadi ia bawa sudah berserakan dimana-mana. Gadis itu hanya bisa duduk dengan rambut yang berantakan karena merosot dinding begitu saja.
Laki-laki berseragam itu berjalan menuju tempat yang Dahee sebutkan. Seperti apa yang Dahee katakan, ia berjalan menuju halte dekat sekolah. Ia menyamar menjadi anak sekolah yang tengah menunggu bus datang.
Ketika ia menoleh, So Hyun tengah berjalan bersama temannya. Melihat pemandangan itu, laki-laki itu langsung tersenyum licik yang penuh kemenangan. Tepat pada saat itu juga, sebuah bus berhenti dan membuka pintunya. Laki-laki langsung melangkahkan satu kakinya ke tangga bus itu, kemudian bergumam pelan.
“Kim So Hyun, sepertinya kau harus lebih berhati-hati lagi sekarang.” gumam laki-laki itu diikuti suara kekehan liciknya.
***
To Be Continue
***
Fiuh... Siapa lelaki itu? Pada penasaran kah dengan sosoknya? Ada yang bisa nebak?
Jangan lupa Like COMMENT yu!!
Terima kasih yang sudah mau baca😄