
Preview :
Tiga cermin dari empat cermin yang ada di toilet perempuan itu, pecah menjadi serpihan-serpihan kecil. Di dalam toilet itu hanya tinggal Mi So seorang.
Namun di bilik kamar mandinya, terdapat jas sekolah dengan name tag In Hyong. So Hyun terdiam. Ia yakin In Hyong pasti ada di dalam toilet ketika insiden aneh ini terjadi.
Setelah menerawang cukup lama, ia tidak mendapati sosok In Hyong dalam toilet itu. Ceceran darah dimana-mana.
Taehyung yang tadinya tidak ingin melihat ke dalam, akhirnya terbengong menatap kondisi toilet itu. Kacau balau, serpihan kaca dimana-mana. Begitu juga dengan darah.
Taehyung menatap Mi So yang menjadi teman sekelasnya itu, lalu berkata, "Dimana In Hyong?"
Mi So menatap Taehyung masih dengan tubuh yang bergetar, "I- I - In- Hy- Hyong..."
***
Langit di luar terlihat hitam keabuan, seperti siap menurunkan hujan deras. So Hyun terbaring lunglai di ranjang UKS sekolahnya dengan mata yang masih membengkak, serta hidungnya yang memerah.
Rasa nyeri terus menyebar di seluruh tubuhnya. Apalagi, setelah di pasang gips sederhana di tangan kanannya. Cengkraman gips yang kuat itu membuat tangannya seperti di genggam terlalu kuat.
Di UKS tersebut, So Hyun di temani oleh Jimin, yang ternyata tidak memiliki luka serius. Eun Soo juga ada di sana, gadis itu juga tidak memiliki luka di kepala yang tidak seberapa.
Diantara mereka bertiga, So Hyun-lah yang paling parah. Kejadiannya menghadap In Hyong telah membuat pergelangan tangannya tidak berfungsi dengan normal.
Ah, bukan! Lebih tepatnya, ujung tulang hastanya telah retak dan telah mengenai sendi engselnya.
"Tenang saja. Retakmu tidak seberapa. Sendi engselmu juga tidak terlalu parah rusaknya. Penyembuhan akan semakin cepat jika kau ke rumah sakit. Tapi, kalau kau tidak mau... gips itu cukup untuk membantu penyambungan tulangmu itu." jelas Dokter wanita itu dengan sangat ramah. Alunan suaranya terdengar menenangkan dan juga menghibur.
"Ah, Doker Jung, apakah butuh waktu lama?" Tanya Jimin saking pedulinya dengan keadaan sahabatnya itu.
So Hyun hanya diam sambil terisak kecil. Ia sudah menangis lama, lebih tepatnya ia sekarang tengah meringis.
Sedari tadi, ia hanya menangis dan meringis tanpa mengeluarkan airmata. Hidungnya sudah memerah, bahkan ia terlihat seperti orang yang sedang flu berat. Mungkin, karena pemasangan gips yang kuat itu.
"Ya, saya tidak bisa menjamin kapan tangannya akan pulih kembali. Namanya cara sederhana, pasti hasilnya tidak secepat cara modern. Kurang lebih 2 minggu-an." Dokter Jung hanya menjawab Jimin sambil melirik ke arah tangan So Hyun yang gips itu.
Jimin hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya. Ketika Dokter Jung pergi keluar UKS, Eun Soo berdeham pelan. Mereka bertiga tidak berbicara apa-apa. Yang terdengar hanya suara isakkan So Hyun yang belum berhenti juga. Tampaknya, gadis itu menderita.
"Aku tidak tahu kenapa In Hyong seperti itu tiba-tiba." Eun Soo akhirnya angkat bicara. Gadis itu menatap keluar jendela, memerhatikan rintik-rintik hujan yang mulan turun. "Sekarang dia pergi kemana, ya?"
"Molla." sahut Jimin santai. Laki-laki itu mandang So Hyun yang belum juga berhenti meringis.
"Aku juga sampai ketakutan dengan sosok In Hyong yang baru itu. Bahuku membiru karena ia melemparkan pot keramik, di tambah dengan gelas jus. Padahalkan, aku hanya berkata ia sudah salah teknik pembuatan keramik tersebut" jelas Jimin panjang lebar. Ia sedikit meraba-raba bahunya.
"Aku juga begitu. Aku hanya meminta untuk menggantikan sapu yang ijuknya lepas karena ulahnya. Tiba-tiba ia menarik rambut, dan mengatakan kalau rambutku cocok untuk mengantikan ijuk yang lepas itu..." sahut Eun Soo pelan, namun ia terdiam ketika mendengar suara orang membuka pintu UKS.
Taehyung membuka pintu UKS dengan gerakan tergesa-gesa. Tanpa basa-basi lagi, ia juga membuka tirai yang melingkupi tempat So Hyun terbaring lemas.
Laki-laki itu menatap sekitar dengan napas menderu. Rambutnya berantakkan, jas sekolahnya juga hanya ia sampirkan di bahunya. Ia terlihat depresi dalam sekilas. Namun, sepertinya bukan. Mana mungkin mendapat depresi secepat itu?
"Taehyung-ah, kenapa kau terlihat berantakkan seperti itu?" Jimin menyapa sahabatnya dengan pertanyaan kebingungan.
Taehyung tidak menjawab apa-apa. Ia terdiam untuk mengatur deru napasnya. Matanya melirik ke sebuah tangan yang telah berbalut gips cokelat muda. Dan, berlanjut ke pemilik tangan itu.
So Hyun menatapnya tanpa berkata apapun. Eun Soo dan Jimin sama-sama menyerang Taehyung dengan tatapan heran.
"Tadi, aku menemui Mi So yang sepertinya melihat semua kejadian itu. Tapi, sepertinya ia terlalu takut." ucap Taehyung.
"Lalu?" Dengan susah payah, So Hyun mulai membuka mulutnya. Ia terlalu khawatir terhadap In Hyong.
"Dia diamankan rumah sakit kejiwaan..." Taehyung menjawab dengan gumaman suara pelan. Ia terlihat pasrah.
Kedua mata Jimin dan Eun Soo sama-sama terbelalak. So Hyun pun hanya bisa mengeluarkan tatapan sendu.
"Kejiwaan?" Eun Soo berkata dengan dahi yang mengerut. Mulutnya ia tutupi dengan tangannya karena saking kagetnya.
"Mungkin ia melihat semuanya, sampai membuatnya ketakutan seperti itu. Ketika aku bertanya apa yang terjadi, ia hanya bergumam dengan ringisan dan tubuh yang bergetar. Namun, ketika aku menyebutkan nama In Hyong di dalamnya. Kejiwaannya pun seperti rusak. Ia menjerit-jerit seperti kerasukan. Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa. Kalian sudah lihat sendiri bagaimana penampilanku sekarang, kan? Kacau." jelas Taehyung serius. Tangannya sempat membetulkan rambutnya yang jabrik ke atas.
"Tapi, apa In Hyong sudah ketemu?" tanya Jimin.
"Belum. Setiap aku berhasil menenangkan Mi So yang terus menjerit-jerit itu, pasti ia ketakutan lagi. Jika aku bertanya hal yang sama, ia akan menjerit seterusnya sambil berjalan mundur. Ia bergumam tidak jelas seperti nenek yang sudah sensitif dengan suara. Terkadang ia menutupi telinga sambil menjerit-jerit minta tolong." Taehyung menatap So Hyun terlihat ingin menangis lagi.
"Entahlah, aku belum menanyakan hal itu juga." Taehyung mendengus pasrah.
"Sudahlah. Nanti In Hyong juga akan ketemu. Soal pecahan kaca, ini masih diselidiki. Hanya Mi So yang tahu." ujar Eun Soo dengan suara yang seperti di tekan.
***
Ini sudah hari kelima In Hyong menghilang. Luka yang di derita So Hyun pun tidak terlalu mencengkram lagi. Ia sudah dapat beraktivitas seperti biasa, meskipun menggunakan tangan kiri.
Gadis yang terlahir untuk bisa menggunakan kedua tangannya untuk menulis itu, tampak mengkhawatirkan In Hyong. Ia terlihat begitu ketakutan dengan semua apa yang ia alami semenjak lima hari yang lalu.
Di tambah, kejiwaan Mi So sudah dinyatakan kurang. Ya, bisa ditebak. Gadis itu menjadi gila, dan takut terhadap kegelapan dan cermin.
Tentang cermin yang pecah secara bersamaan dan soal darah, selama lima hari ini, Taehyung tidak mendapatkan informasi apa-apa. In Hyong juga sudah dinyatakan hilang sehari semenjak kejadian itu terjadi.
Untuk sekarang ini, toilet perempuan tengah di pasang cermin baru. Cermin-cermin yang dahulu, sudah di buang. Karena serpihannya benar-benar kecil. Kecuali, cermin terakhir yang tidak pecah itu.
.
.
.
.
Kini, So Hyun tengah berdiri di atap sekolahnya yang luas itu. Ia terduduk di tempat dimana siswa-siswa sering memasang teleskop ketika kemah.
Embusan angin menerpa kulit wajah lembut. Ia pun memejamkan matanya perlahan, sembari mengingat suatu hal. Hal yang membuatnya kebingungan setengah mati.
.
.
.
"Annyeong. Kim So Hyun imnida." sapa So Hyun hangat ketika bertamu ke rumah In Hyong, sahabatnya.
"Ah, So Hyun-ssi. Ada apa kau datang kemari?" Mrs. Cha terlihat menyapa kedatangan So Hyun dengan senang hati.
"Ah, begini. Kedatangan aku kemari, aku ingin memberitahukan sesuatu. Ini kabar buruk." gumam So Hyun pelan.
"Apa?"
"In... In Hyong menghilang." jawab So Hyun dengan volume suara yang sangat pelan.
"In Hyong? Siapa dia?" Mrs. Cha bertanya sambil mengerutkan dahinya.
So Hyun terdiam. Ia tercengang ketika mendengar jawaban dari Mrs. Cha, wanita yang telah melahirkan In Hyong.
Ia terdiam, kepalanya terasa begitu berdenyut. Ia tidak percaya sang ibu tidak ingat anaknya sendiri. Hingga akhirnya, Mr. Cha datang menghampiri untuk mengurai rasa tercengang So Hyun.
"Yeobo, ada apa?" tanya Mr. Cha.
"Ini. So Hyun bilang kalau In Hyong menghilang. Memangnya kita memiliki anak yang bernama In Hyong?" Mrs. Cha terlihat bertanya dengan keseriusan.
"Anak perempuan? Tidak. Yeobo, apa kau lupa? Kita hanya memiliki 2 anak laki-laki saja." sahut Mr. Cha yakin.
Ditengah-tengah obrolan Mr. dan Mrs. Cha, So Hyun memegangi kepalanya yang mulai berdenyut. Ia benar-benar merasa tercengang sekarang. Ia tidak menyangka keluarga ini tidak ingat akan In Hyong sebagai anak mereka. Anehnya, mereka mengingat siapa So Hyun.
'Kenapa...' Batin So Hyun mulai berbicara lagi.
Ia mengingat betul omongan kedua orang tua dari In Hyong itu. Tak hanya itu, tiga hari setelah insiden, tidak ada orang yang mengingat siapa itu In Hyong. Bahkan, teman-teman sekelasnya juga sama.
Yang masih bisa mengingat In Hyong siapa itu hanya dirinya sendiri -So Hyun-, Eun Soo, Taehyung dan Jimin. Oh ya satu lagi, Mi So... Sisanya, mereka seperti hilang ingatan.
***
To Be Continued
***