
Review:
Namjoon hanya bisa menjilat bibir, kemudian mengembuskan napasnya. Lensa matanya sudah berubah menjadi mengkilat karena ulah gadis cantik yang tiba-tiba muncul itu.
Namjoon menatap gadis yang terduduk itu dalam. Namun tiba-tiba, Taehyung dan Jimin berjalan menghampiri Namjoon dan So Hyun. Dua laki-laki itu sepertinya memiliki sorot mata yang bercampur aduk. Antara tidak percaya, bingung, dan juga dingin.
Jimin menatap sekitar dengan dahi yang mengerut kebingungan, "Apa yang kalian lakukan pagi-pagi di aula loker ini?"
***
Namjoon langsung menghilangkan tatapannya yang terlihat begitu mencolok karena lensa matanya itu.
So Hyun yang sempat melihat lensa mata dari sunbaenya, masih terdiam. Ia terpaku dengan warna lensa yang mengkilat. Taehyung berjalan menuju loker yang pintunya masih terbuka itu. Sedangkan Jimin, ia berjalan menghampiri So Hyun.
"Kenapa aula ini berantakan? Kalian melakukan sesuatu, ya?" tanya Jimin lagi ketika sepasang matanya menangkap salah satu loker rubuh. Buku-buku yang So Hyun bawa di dalam tasnya juga berserakan bagaikan sampah.
So Hyun dan Namjoon masih terdiam. Namjoon mengusap kedua matanya dan mengembuskan napas berat, "Tidak apa-apa. Tadi, So Hyun hampir tertimpa loker itu."
Mendengar alasan yang di dasari sebuah kebohongan dari Namjoon, So Hyun langsung menatap Jimin dengan tatapan yakin. Walau sebenarnya, itu bohong. "Y-ya. Itu benar. Tadi, aku terpeleset dan loker itu hampir menimpaku."
Taehyung tidak peduli dengan obrolan mereka. Tapi, ia dapat mendengarkan obrolan mereka dengan jelas.
Ia berjalan mendekati loker yang diketahui milik So Hyun itu. Ia mengambil buku-buku yang berserakan, beserta selembar kertas tua. Ia menatap tiga buku yang ada di dekapannya. Kedua matanya yang sedikit tajam itu, langsung memicing. Cepat-cepat ia mengambil kertas itu, kemudian membacanya.
"Aku baru tahu, kalau hanya hampir tertimpa loker, kau bisa terpelanting ke sana. Itu juga... Kenapa jendela besar itu bisa terbuka? Kalau dia menolongmu, kenapa jendela itu ikut-ikut terbuka?" Taehyung menyerdik sambil membaca kertas tua itu. Sayangnya, kertas itu hanyalah kertas biasa tanpa sebuah coretan sedikitpun.
"Ah, itu..." So Hyun menoleh ke arah Taehyung. "Tidak! Jangan sentuh!" Gadis itu langsung bangkit dan berlari kencang menuju Taehyung.
Jimin menatap reaksi So Hyun yang begitu panik ketika Taehyung menyentuh buku-buku berserakan itu. Karena So Hyun berlari di hadapannya, Jimin langsung menangkap lengan So Hyun dan menghentikan gadis itu.
"Memangnya kenapa kalau ia menyentuh buku itu? Apa kau sedang menyimpan sebuah rahasia dari kami, ya?" serdik Jimin. Ia juga sempat mendelik ke arah Namjoon yang tengah membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.
"La Bella Muerte?" ujar Taehyung dengan suara beratnya. Namjoon dan So Hyun langsung bertukar pandang. Raut wajah mereka terlihat panik.
Usahakan buku itu tidak dibaca orang lain...
Ucapan Namjoon ketika di perpustakaan waktu itu kembali terngiang dibenak So Hyun. Ia melepaskan tangan Jimin dari lengannya cepat, kemudian berlari ke arah Taehyung. Gadis itu seperti hendak menubruk Taehyung agar melepaskan buku-buku itu.
Laki-laki yang tengah membaca beberapa paragraf dari buku yang berjudul Muertte itu, mendelik ke arah gadis yang tengah berlari ke arahnya. Dengan cepat, ia mengangkat kedua tangannya yang menggenggam ketiga buku itu sekaligus.
"Berikan padaku!" ujar So Hyun sedikit keras.
"Kalau kau sedang tidak menyimpan sesuatu dengan laki-laki itu, berarti buku ini bolehku baca. Lagi pula, ini hanya buku biasa. Untuk apa kau dan laki-laki itu begitu takut ketika aku membaca buku ini?" Taehyung berkata sambil menjauhi diri dari So Hyun.
Jimin menatap dua orang yang belakangan ini sudah menjauh itu. Ia sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Taehyung yang pikirannya terlalu logis dengan misteri itu terlalu kuat.
Terkadang, Jimin hanya bisa diam ketika temannya itu mulai mencurigai sosok baru tanpa alasan yang jelas. Tapi untuk Namjoon, Jimin percaya akan hal itu.
"Kembalikan bukuku!" So Hyun tidak menggubris ucapan Taehyung sedikitpun. Ia masih menarik-narik lengan jas Taehyung yang direntangkan ke atas itu.
Dengan sedikit kekerasan, Taehyung mengibaskan sebelah lengannya itu agar So Hyun menjauh. Usaha itu berhasil, namun mau tidak mau tubuh So Hyun sedikit kehilangan keseimbangan. Taehyung menatap tajam gadis itu, ia juga melempar tatapan yang sama kepada Namjoon sejenak.
"Aku jadi curiga denganmu," ujar Taehyung. "Kenapa belakangan ini sifatmu berubah-ubah tak pasti? Dan kenapa... kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan sosok yang mencurigakan? Apa kau adalah salah satu dari 'mereka'?" Taehyung bertanya dengan tatapan dinginnya.
So Hyun terdiam tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya dari Taehyung. Ia seharusnya tidak memunculkan rasa terusik agar Taehyung tidak curiga. Namun apa daya, karena terlalu panik, ia reflek melarang Taehyung menyentuh buku itu.
"Lalu, kau yang melakukan ini semua? Kau memintanya untuk membunuh temanmu sendiri? Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiranmu, Kim So Hyun!" sambung Taehyung lagi.
"Bukan... Aku bukan bagian dari mereka. Sungguh!" So Hyun mulai angkat bicara dan mengelak. Tapi memang benar, kan? Dia memang bukan bagian dari 'mereka'.
"Lalu? Hanya karena buku ini disentuh, kau sampai marah seperti itu? Sekarang aku ingin tanya..." Taehyung mengembalikan buku-buku itu kedekapan So Hyun dengan sedikit kasar.
Saking kasar dan kencangnya, perut So Hyun sedikit tertekan dan membuat gadis itu sedikit mengendus, "Siapa yang sebenarnya sedang menyimpan rahasia?"
So Hyun menatap Taehyung dengan mata kebingungan. Ia kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian dimana ia menuduh dan marah-marah ke Taehyung tentang suatu kejadian yang menyangkut Eun Soo. Taehyung menatapnya tajam dengan durasi cukup lama, lalu ia mengakhirinya dengan dehamannya.
"Kau, kan? Bukan aku! Tapi aku tidak mau memaksamu untuk memberitahu, karena... Karena kau sudah punya orang yang lebih pasti. Kenapa kau percaya dengan orang itu?!" Pertanyaan Taehyung semakin melenceng. Suaranya sedikit menekan dan menunjuk ke arah Namjoon.
"Taehyung-ah, sudahlah..." Jimin akhirnya menyahut dari kejauhan. Ia kembali sebagai pelerai yang tidak tahu apa yang terjadi.
Taehyung mendelik ke arah Jimin, kemudian tersenyum sinis. Ia meraba-raba pipinya sebentar, kemudian mendekatkannya ke hadapan So Hyun. So Hyun sontak menjauhi wajahnya dari pipi Taehyung, agar bibirnya tidak menyentuh pipi laki-laki itu.
"Kau ingat lebam ini? Ini karena siapa? Itu karena kau. Kau langsung memukulku tanpa mengetahui alasanku dan Jimin berbohong padamu. Tapi, aku tidak akan pernah menuntutmu untuk memberitahu apa yang sedang kau simpan saat ini..."
So Hyun menatap luka lebam kebiruan yang sudah sedikit memudar. Ia merasakan hatinya mencelos. Gadis itu mengeratkan dekapannya pada buku-buku kuno itu dan menunduk.
Ia merasa bersalah sekarang. Tapi ada benarnya kata-kata Taehyung itu, belakangan ini sifatnya mudah berubah-ubah tak pasti. Ia juga tidak tahu kenapa.
"Itu bukan rahasianya. Dia juga baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu." Pada akhirnya, Namjoon juga ikut dalam pertengkaran itu. Bagaimanapun, ia juga terlibat dengan hal itu.
Taehyung, Jimin, dan So Hyun menoleh bersamaan ke arah Namjoon.
Taehyung mendengus kesal, "Oh, begitu. Kalau begitu, kau bisa pecahkan masalahmu sendiri. Aku rasa dia adalah orang yang pasti akan menyelesaikan semuanya untukmu. Dan, dia juga adalah orang yang mungkin akan lebih melindungimu." Taehyung berujar dengan sangat sinis.
So Hyun kembali menatap Taehyung. Mulutnya sedikit menganga. Rasa bersalahnya semakin membulat, "Tae-Taehyung-ah..." gumamnya pelan.
Taehyung mendengus, kemudian membalikkan badannya cepat. Ia sedikit menarik napas dalam, karena terlihat dari bahunya yang sedikit naik.
Kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam sakunya, "Kau lihat sekarang? Siapa yang sebenarnya dibohongi? Aku atau kau? Jimin-ah, ayo pergi! Sepertinya, kita sudah tidak dianggap lagi."
Jimin menerjapkan matanya perlahan. Untuk kedua kalinya, ia menjadi orang yang netral dan tak tahu apa-apa. Ia seperti sebatang kayu lapuk yang terombang-ambing arus laut. Kemanapun angin bertiup dan ombak menelusur, ia akan ikut terbawa. Ya, ia merasakan dirinya seperti kayu itu untuk saat ini.
Taehyung langsung mengambil langkah pergi meninggalkan aula loker itu sendirian.
Namjoon menatap So Hyun yang terlihat ingin menangis. Gadis itu menatap punggung laki-laki yang telah mencurahkan sebuah rasa kecewa langsung padanya.
Jimin menatap sekitarnya, kemudian mendesis. Ia berlari menyusul langkah Taehyung yang semakin menjauh.
Sembari berlari menyusul Taehyung, ia berbisik pelan ke So Hyun, "Maafkan aku, So Hyun-ah."
So Hyun yang dapat mendengar jelas bisikkan singkat dari Jimin itu. Ia menatap dua orang yang telah menolong dan ada untuknya itu lesu. Tak lama setelah ke punggung kedua laki-laki itu menghilang, ia langsung terduduk. Sebulir air bening jatuh dari pelupuk matanya. Ah tidak, bukan hanya sebulir, buliran air itu terus mengalir tanpa henti.
"Maaf..." ujar Namjoon yang kini sudah berada di belakang So Hyun.
Ia berdiri dengan kepala menunduk untuk menatap So Hyun yang terduduk itu. "Maafkan aku... Aku rasa aku memberikan buku itu di waktu yang ti..."
"Sudahlah," So Hyun menyela cepat ujaran Namjoon.
Ia mengelap buliran air bening itu menggunakan punggung tangannya. "Jika mereka meninggalkanku seperti ini, berarti aku telah melindungi mereka dari pembunuhan target selanjutnya, kan?"
"Ah... Kau yakin?" tanya Namjoon ragu. Ia tidak bisa menangkap rasa tenang sedikitpun di wajah So Hyun.
"Aku yakin. Bukankah, aku yang selama ini yang mereka incar? Jadi, kalau mereka berdua tidak bersamaku lagi, berarti tidak akan ada yang mati, kan?" So Hyun menjawab dengan mencoba bangkit dari posisinya.
"Tapi, aku rasa kau tidak sanggup sendirian." sahut Namjoon lagi.
"Aku sanggup. Aku yakin itu. Sudahlah. Selama mereka tidak diincar, aku akan baik-baik saja. Toh dengan mereka mengetahui ini, mereka tidak akan menghalangi atau menolongku. Jadi... mereka mungkin tidak akan menjadi incaran selanjutnya. Kan, aku sudah sendirian." jelas So Hyun, gadis itu memasukkan ketiga buku kuno itu ke dalam loker.
.
.
Tiba-tiba saja, lingkungan sekolah menjadi ramai dengan siswa-siswi yang mulai berdatangan. Banyak dari mereka berbincang-bincang sambil berjalan menuju kelas mereka, bahkan ada juga yang mampir sebentar ke aula loker tersebut.
So Hyun mengunci lokernya cepat, kemudian menyampirkan tasnya di salah satu bahunya. Ia mengembuskan napasnya, lalu tersenyum tipis menatap Namjoon.
"Terima kasih, sunbae. Aku hargai ucapanmu itu," ujarnya sedikit lesu.
"Kalau begitu, aku ke kelas sekarang, ya? Annyeong." So Hyun melambaikan tangannya sedikit kaku.
Gadis itu berjalan dengan kepala yang sedikit menunduk. Namjoon menatap So Hyun yang mulai menghilang di antara siswa-siswi yang tengah berlalu-lalang di lorong. Kemudian ia menoleh kanan-kiri, lalu mengenduskan napas berat.
"Ini bahaya..." ujar Namjoon pelan, kemudian berjalan cepat menuju kelasnya.
***
Kelas terasa begitu berbeda bagi So Hyun untuk saat ini. Ia mengedarkan pandangannya yang sedikit sayu karena kejadian tadi pagi. Ketika ia sampai di tempat duduknya, tas Jimin tidak ada di sana.
Tas ransel yang biasa Jimin pakai itu berada di meja belakang dekat jendela. So Hyun mengerutkan dahinya saat ia mengetahui teman sebangkunya bukan Jimin.
"So Hyun-ah," panggil seseorang. Suara itu adalah suara seorang perempuan, dan itu adalah gadis yang berkacamata waktu itu.
"Y-ya?" sahut So Hyun dengan lesu.
"Mulai dari sekarang aku akan menjadi teman sebangkumu. Tadi Jimin memintaku untuk bertukar teman sebangku. Ia bilang, kau sudah setuju. Bahkan, kau yang minta." jelas gadis berkacamata itu sambil membetulkan posisi kacamatanya dengan telunjuknya.
So Hyun terdiam sebentar. Ia sedikit menjilat bibirnya yang kering, kemudian menatap Jimin yang tengah bermain dengan siswa laki-laki di kelasnya itu. Mendengar penjelasan gadis berkacamata itu, So Hyun kembali teringat dengan ucapannya beberapa hari yang lalu.
"Dan, aku harap setelah istirahat selesai... kau tidak duduk di sebelahku lagi."
Ia kembali teringat dengan ucapannya sendiri ketika ia kecewa dengan Taehyung dan Jimin. Ya, memang ini bukan setelah jam istirahat, melainkan sebelum bel masuk berbunyi.
Hati So Hyun semakin mencelos karena rasa bersalah yang semakin menjadi. Ia mengembuskan napas sedihnya dan mengusap dahinya hingga poninya terangkat ke atas. Ia tidak percaya, Jimin akan menepati ucapan itu. Meskipun, mereka 'sempat' berbaikan.
"So Hyun-ah?" panggil gadis itu sekali lagi. "Kau tak apa?"
So Hyun tersadar dari renungan sepintasnya. Ia menggelengkan kepalanya ringan dan menejapkan matanya beberapa kali.
Tak lama setelah itu, ia tersenyum tipis atau lebih tepatnya tersenyum pahit, "Ah, ya. Aku yang meminta Jimin untuk bertukar tempat duduk denganmu. Aku? Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing."
Dahi gadis itu sedikit mengerut, kemudian mengendur sedikit. Ia menatap So Hyun dengan lensa kacamatanya yang sedikit buram karena uap napasnya, "Kau yakin? Aku rasa kau sedang bertengkar dengannya. "
So Hyun meletakkan tasnya di atas meja, kemudian menatap gadis yang kini menjadi teman sebangkunya. Ia kembali tersenyum tipis, "Ya, aku yakin. Lagipula, tidak mungkinkan Jimin harus bermain dengan teman perempuan terus-terusan? Biarkan dia bergaul dengan yang lain juga." So Hyun kembali berucap dengan keyakinan. Walaupun, dipaksakan.
Gadis berkacamata itu mengembuskan napasnya, "Ya, sudah. Terserah apa katamu saja. Tapi aku tetap ti..."
So Hyun langsung menyela ucapan gadis itu cepat. Ia mulai mengeluarkan senyum ceritanya dengan bibir yang kering, "Sudah aku bilang. Aku tidak apa-apa. Jimin dan aku tidak sedang bertengkar. Kalau bertengkar sekalipun, itu tidak akan parah seperti orang yang berpacaran. Tenang saja."
"Baiklah," ujar gadis itu mengalah. Ia tidak ingin memaksakan So Hyun untuk memberitahunya. Toh, baru kali ini ia duduk bersama So Hyun. "Aku pergi ke perpustakaan dulu, ya?"
"Ya." sahut So Hyun singkat, sebuah senyum ceria yang ia paksakan masih menghiasi ekspresi wajahnya. Tetapi, senyum itu tidak bertahan lama.
Setelah gadis berkacamata itu keluar kelas dengan teman gerombolannya, So Hyun menghela napasnya.
Tiba-tiba saja matanya terasa panas, ia juga merasakan buliran air bening itu kembali berkumpul dipelupuk matanya. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangannya yang dibertopang pula di atas meja. Ia menahan rasa panas dan buliran aie itu sebisanya. Ia tidak ingin menangis di kelas. Apalagi, menangisi sahabatnya sendiri.
Perlahan, kedua kelopak matanya terpejam. Air matanya langsung mengalir begitu saja dari pelupuk dan langsung jatuh ke meja. Ia merasa sangat bersalah sekarang.
Di dalam benaknya, ia merutuki dirinya sendiri. Ia juga tidak tahu kenapa Taehyung bisa semarah itu. Dan parahnya, ia juga baru tahu kalau ialah target sebenarnya. Ucapan rasa kecewa Taehyung kembali berputar dan terngiang.
Ia menurunkan topangannya, kemudian melipat tangannya di atas meja. Ia menunduk di atas lipatan tangannya sendiri. Sebelah matanya yang terlihat dari sebuah celah lipatan tangan, masih mengeluarkan buliran bening tadi.
"Kau benar... Aku yang telah membohongimu..."
***
Taehyung berjalan ke sebuah tempat, yang tak lain dan tak bukan adalah tempat favoritnya selama ini.
Ia menutup pintu ruangan itu keras-keras, kemudian menguncinya dengan selotan pintu yang berwarna perak itu. Ia menggretakkan giginya keras-keras, kemudian menendang meja yang ada di sana. Rasa kesalnya meluap secara tiba-tiba.
"Sialan!!" ujarnya kesalnya.
Suara gaduh terus terdengar diruangan itu. Taehyung tak henti-hentinya memukul dinding sekat ruangan itu. Ia juga berteriak. Untung saja ruangan itu seperti ruang hampa, tidak akan ada yang mendengar teriakannya dari luar.
Ia mengumpat keras-keras. Marah, kecewa, serta ada satu rasa lain yang ia rasakan di batinnya. Cemburu... Ia merasa bahwa ia sedikit cemburu.
"Kenapa?!" umpatan terakhir Taehyung itu membuat ia tak sengaja mengeluarkan air matanya begitu saja.
Tangan kiri laki-laki itu sudah memar dan memerah. Telapak tangan itu seakan-akan tidak bisa berfungsi untuk menggenggam sesuatu.
Taehyung masih menahan bobot tubuhnya yang berdiri tegap itu pada dinding yang sudah menjadi tempat 'pelampiasannya'. Deru napasnya tidak beraturan, sehingga terdengarlah dengusan napas keras.
Entah berapa kapasitas paru-paru yang ia miliki, Taehyung tak henti-hentinya mengembuskan napasnya keras-keras. Ia menatap dinding dihadapannya dengan sorot mata yang sedikit terpenuhi dengan kekecewaan.
Ia kembali menggretakkan giginya, dan meninju dinding itu sekali lagi. Hasilnya, memar di tangannya semakin menjadi.
Laki-laki itu masih saja menderu kesal. Entah sudah berapa banyak bulir air matanya yang telah jatuh begitu saja. Taehyung sedikit mengepalkan tangannya yang sedang bertumpu di dinding. Ia menundukkan kepalanya sesaat. Tak lama kemudian, ia mengangkat kepalanya dan kembali menatap dinding itu.
"Kenapa... Kau berbohong padaku?" ujar laki-laki dengan suara yang terdengar sedikit berat.
Bel masuk berbunyi keras sekali, tapi Taehyung tidak buru-buru keluar dari ruangan itu. Ia masih terus menumpu kedua tangannya di dinding tersebut.
Buliran air matanya sudah berhenti mengalir. Bahkan, tatapannya sudah bukan sedih lagi. Melainkan, menyeramkan dan tajam. Ia memukul dinding itu sekali lagi. Pukulan terakhir itu menimbulkan sebuah suara asing di telinga. Jari tengah dan manisnya mungkin patah.
Meskipun ia merasakan nyeri yang begitu menggigit, ia tetap diam dan memfokuskan dirinya pada emosinya yang kian meluap.
Namun, tatapan tajam dan seram itu tidak bertahan lama. Sebulir air bening kembali jatuh dari pelupuk matanya. Taehyung akhirnya melepas egois pada amarahnya, ia juga tidak bisa mengelak dengan batin dan perasaannya sendiri.
Ia kembali menunduk, merasakan nyeri yang begitu terasa di tangan kirinya. Ia yakin tulang dua dari lima jarinya itu retak. Taehyung memendam rasa nyeri itu dan memusatkan dirinya kembali pada perasaannya.
"Kau tahu... Rasa kecewaku ini sepertinya lebih besar daripadamu waktu itu. Karena... aku ini mulai menyukaimu..." gumamnya pelan.
***
To Be continued
***
Aduh Taehyung🙃🙃 sakit atuh tuh tangan. Gimana pendapat readers tentang part penuh konflik ini😖😖
Jangan lupa Like & Comment ya!!