
Preview:
Sebuah daun maple yang kering tiba-tiba jatuh di telapak tangannya yang terbuka. Laki-laki itu tersenyum sinis, dan menatap daun kering itu dalam. Lalu, ia menutup telapak tangannya keras. Daun itu hancur di dalam genggamannya seketika.
Ia tersenyum sinis, "Kita lihat saja nanti."
***
Taehyung menatap So Hyun datar sambil tetap mengunyah permen karetnya. Ia tengah duduk bersama yang lain untuk menenangkan Eun Soo.
Gadis itu masih menangis dan memeluk So Hyun erat. Tak ada tempat lain untuk kunjungan mereka, kalau bukan UKS. Bisa dibilang, mereka adalah langgangan pasien UKS akhir-akhir ini.
Jimin menatap keluar jendela dengan tangan menyilang di depan dadanya. Sesekali ia mengembuskan napas lelah.
Suara isak tangis Eun Soo masih terdengar jelas di telinga mereka. Sudah berkali-kali, So Hyun coba menenangkannya. Tapi, Eun Soo mencengkram jas sekolahnya erat hingga kusut. Dan selalu meminta tolong, padahal semua temannya sudah berada di sana. Persis seperti Miso.
"Kenapa hal ini terulang lagi?" Taehyung bergumam sambil mencoba membuat gelembung dari permen karetnya. Ia menatap So Hyun dengan tatapan biasa.
So Hyun mendekap Eun Soo, ia menatap Taehyung bingung. Gadis itu sudah merasakan kemeja seragamnya mulai basah karena air mata sahabatnya itu.
"Apa maksudmu?"
Taehyung mengendus dan mengeluarkan selembar kertas bekas bungkus permen karetnya. Kemudian mengeluarkan permen karet dari dalam mulut, lalu membuangnya.
Ia berdeham sebentar dan berkata, "Miso juga seperti itu."
Jimin menoleh ke arah Taehyung. Ia mengendurkan silangan tangannya itu, "Apa dia menjerit-jerit seperti itu?"
"Ya, Miso juga begitu. Meskipun semua orang sudah berada di sekelilingnya, ia tetap merasa ketakutan. Ia juga tetap berteriak minta tolong. Pada akhirnya, ia menganggap ku seperti monster. Kacau." jelas Taehyung yang berjalan mendekati tempat So Hyun duduk memeluk Eun Soo.
"Tapi, Eun Soo tidak sampai gila sepertinya." Jimin menyahut.
Taehyung mengangkat kedua bahunya. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah So Hyun.
Dari tempat ia duduk, ia dapat melihat wajah Eun Soo yang masih menangis. Keningnya sudah mengeluarkan banyak keringat dingin. Kedua matanya membengkak, dan ujung hidung yang memerah.
Dengan santainya, Taehyung mengangkat dagu gadis yang masih memeluk So Hyun.
So Hyun sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang ketika tangan Taehyung terulur begitu saja. Ia sempat kebingungan mengapa tiba-tiba Taehyung mengangkat dagu Eun Soo.
Mau tidak mau, Eun Soo mengangkat kepalanya dan menatap Taehyung. Taehyung menatap Eun Soo dalam, ia seperti menangkap sesuatu di balik mata gadis itu. Seketika, Eun Soo mengeluarkan air mata dari mata kanannya saja. Taehyung seperti melihat sesuatu di pantulan bayangan bola mata itu.
Karena Taehyung terlalu lama menelusupi banyangannya yang terdapat di mata Eun Soo, gadis itu langsung menodorong Taehyung keras-keras. Lalu, ia berteriak sambil menangis. Tubuh gadis itu bergetar. Tak hanya Taehyung yang terpental, So Hyun pun ikut terpental. Kursi yang mereka duduki, terguling ke belakang beserta tubuh mereka.
Jimin langsung berlari mendekati Eun Soo, mulai menyentuh bahu gadis yang tengah bersujud sambil menangis itu. Eun Soo menangis tersedu-sedu, dan berteriak. Jimin mengelus punggung Eun Soo dengan ragu.
Sementara itu, So Hyun memegang bagian tangannya yang di gips. Karena terpental dan juga terguling, tubuhnya menimpa tangan kanannya sendiri.
Telapak tangan Jimin sudah berada di punggung gadis itu. Ia mulai menepuk-nepuk pelan sambil bergumam, "Sudah. Jangan di teruskan lagi tangisanmu. Kami semua ada di sini. Kami tidak akan meninggalkanmu sendirian. Tenanglah."
Mendengar Jimin berucap seperti itu, suara tangis Eun Soo mulai meredam. Suara tangisnya sudah mulai pelan, serta tidak ada suara teriakkan seperti tadi. Lambat-laun, Eun Soo mulai bisa menenangkan dirinya.
.
.
.
Tak sampai di situ, kini So Hyun yang menangis. Tulang hastanya seperti tertusuk bor listrik, hingga membuat rasa nyeri di tangannya muncul lagi.
Taehyung yang sudah bangkit dari posisinya, langsung menghampiri So Hyun. Tangannya terulur untuk meraba bagian tangan gadis yang masih berbalut gips itu.
"Aku rasa, tulang hastanya benar-benar bergeser..." Taehyung bergumam sambil meraba-raba tangan kanan So Hyun.
***
Semenjak hari itu, So Hyun harus di rawat di rumah sakit selama beberapa hari setelah operasi yang ia lakukan. Bersama dengan kakak perempuannya, So Hyun dapat menjalani hari di rumah sakit tanpa rasa kesepian.
"So Hyun-ah, sepertinya aku harus pergi dulu." ujar Yoo Min. "Aku di telepon oleh pihak kantor untuk segera mengikuti rapat. Apa tak apa kalau aku meninggalkanmu sendirian selama beberapa saat."
So Hyun yang tengah membaca manhwa terbaru, langsung menoleh menatap kakaknya. Ia menutup manhwa nya, "Sampai kapan eonnie akan pergi?"
Mau tak mau, ia mengangguk dengan senyum tipis. "Baiklah. Jangan ingkari janjimu."
"Tenang saja. Aku tidak mungkin meninggalkan yeodongsaengku sendirian ketika sakit." Yoo Min menjawab sambil melepas genggaman tangannya, lalu mengambil tas selempangnya.
"Baiklah. Aku pergi dulu. Annyeong!"
"Annyeong." sahut So Hyun pelan. Jujur saja, ia tidak ingin sendirian di tempat seperti itu.
Sebelum kakaknya pergi, ia merasa dirinya di awasi oleh seseorang. Entah dari mana orang-orang bisa mengawasinya, tapi So Hyun bisa merasakannya. Padahal, jendela kamar inapnya masih tertutup gorden yang rapi. Ia mengembuskan napasnya berharap itu hanya perasaannya saja.
Setelah selesai membaca manhwa yang pernah di bawakan oleh Taehyung ketika menjenguk, So Hyun langsung membuka lemari yang berada di sebelah ranjangnya.
Ia merogoh-rogoh isi laci lemari itu dengan tangan kirinya. Ia terlihat mencari sesuatu yang penting di sana. Ketika ia telah mendapatkan apa yang ia cari, ia membiarkan laci itu terbuka begitu saja.
Apa yang ia cari adalah buku yang sama dengan buku milik Namjoon . Buku yang hanya berisikan misteri seseorang yang sampai saat ini belum terpecahkan.
Ia memberanikan dirinya untuk membuka halaman yang terakhir kali ia baca. Ia sempat meneguk ludahnya. Namun, tangannya mulai tergerak untuk membuka lembaran halaman buku itu.
---
Dua hari setelah di temukannya mayat misterius itu, hutan itu di tumbuhi bunga mawar berwarna-warni. Orang-orang yang masih melewati hutan itu, seringkali melihat seekor kuda putih berlarian di dalam hutan aneh itu. Kuda putih yang cantik dan indah, bagaikan kuda kerajaan. Seperti kuda yang di khususkan seorang putri.
Sosok kuda itu hanya muncul ketika terjadi gerhana matahari saja. Selebihnya, ia hanya bayangan kuda saja yang muncul. Kuda putih yang di kenal indah itu, memiliki bola mata yang berwarna biru mengkilap. Atau lebih tepatnya, seperti warna batu sapphire.
Namun, sosok kuda itu tidak pernah terlihat saat bulan purnama. Yang biasa di lihat oleh beberapa orang, hanyalah gadis cantik bergaun putih. Hanya beberapa orang saja yang dapat melihat gadis cantik itu.
Anehnya, siapapun yang melihat gadis itu di bulan purnama. Maka, dua hari setelah bulan purnama, orang itu akan di temukan tak bernyawa...
---
So Hyun mengeratkan genggamannya di buku tersebut. Lehernya terasa tegang, terasa jelas embusan napas seseorang. Napas dingin itu menyelimuti daerah sekitar kulit lehernya. Ia meneguk ludahnya lagi, lalu mendelik. Ia berharap itu hanyalah embusan angin dari pendingin ruangan.
Tidak sesuai apa yang ia harapkan. Ketika So Hyun menoleh sedikit, seorang laki-laki berkulit putih tengah merunduk di dekat lehernya.
Mata So Hyun langsung terbelalak lebar. Laki-laki yang berdiri di sebelahnya itu adalah laki-laki yang sering kali ia lihat. Ia tidak percaya mengapa laki-laki itu bisa di sini.
Berbeda dengan So Hyun, laki-laki itu hanya tersenyum licik. Tubuh So Hyun mendadak tidak bisa bergerak. Bibir dan mulutnya sulit sekali untuk mengeluarkan kata-kata. Tangan dan kakinya benar-benar tidak bisa di gerakan.
Lalu, laki-laki itu mengulurkan tangannya dan memegang kedua bahu So Hyun. Bibir laki-laki itu bergerak mendekati telinga So Hyun. Karena tidak bisa melakukan apa-apa, gadis itu hanya menutup matanya rapat-rapat.
Tubuhnya terasa membeku, rasa dingin langsung menerjang kulitnya. Sebelum menutup kelopak matanya, ia melihat ujung kuku tangannya. Kuku-kuku itu berubah menjadi biru bengkak, hingga mencapai buku-buku jarinya.
Laki-laki itu tersenyum sekilas, dan sedikit menempelkan bibirnya di telinga kiri So Hyun. Ketika bibir dingin itu menyentuh telinganya, warna kebiruan yang sama mulai naik hingga pergelangan tangan So Hyun.
Lalu, laki-laki itu mengembuskan napas dinginnya. Warna kebiruan itu terus naik, tiap kali laki-laki itu melakukan sesuatu. Kini, warna kebiruaan beku itu sudah mencapai lengan atas So Hyun.
"Fuh..." Laki-laki itu mengembuskan napasnya yang dingin keras-keras.
Kini, tubuh So Hyun hampir semuanya berwarna biru. So Hyun dapat merasakan, jantungnya seperti berhenti. Namun, ia masih bisa melihat.
"Dengarkan aku. Aku tidak akan langsung mengambilmu secepat ini. Ini terlalu mudah bagiku. Aku hanya ingin bermain-main denganmu dan teman-temanmu dulu." Laki-laki itu berujar dengan napas yang tidak sedingin tadi. Kebiruan itu mulai memudar.
"Kau pastikan semua teman-temanmu selamat..." Laki-laki itu kembali berujar. Ia menjauhi bahu So Hyun dan telinga gadis itu. Lalu, ia tersenyum licik.
Laki-laki itu membuka gorden kamar inap itu dan membuka jendelanya juga. Ia membiarkan sinar matahari menelusup masuk ke dalam.
Seketika, So Hyun bisa merasakan tubuhnya dapat di gerakan kembali. Jantungnya juga kembali berdetak. Melihat So Hyun sudah bisa bergerak, laki-laki itu langsung melompat dari jendela itu. Jendela itu berada di lantai 11.
So Hyun menggenggam tangannya sendiri dan kepalanya terasa berat.
***
To Be Continued
***
Wah sungguh menegangkan membuat part ini! Siapa sebenarnya yang berbuat seperti itu ke So Hyun?
Like Comment sangat diperlukan! Hanya tinggal membaca dan memberi dukungan, apa sulitnya😉.