Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)

Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)
Episode 16 - The Suspect



Preview


‘Astaga.’ batin Namjoon kembali bergumam. Ia melirik So Hyun sekilas dengan tatapan panik, sangat panik.


“Sunbae? Ada apa?” So Hyun yang memerhatikan Namjoon sedari tadi, langsung bertanya.


Ia menatap buku-buku yang di jajarkan Namjoon. Tanpa ba-bi-bu lagi, So Hyun langsung mengeja apa yang ia lihat, “La… Bella… Muerte?”


Namjoon langsung menoleh ke arah So Hyun, “K-kau?”


“Apa? Aku hanya mengejanya saja. Itu bahasa asing, aku tahu itu. Hanya saja aku tidak tahu apa arti dari itu,” ujar So Hyun dengan kepala yang sedikit dimiringkan. “Sunbae, kenapa kau terlihat begitu takut? Memangnya La Bella Muerte itu apa?”


Namjoon mendesis pelan, “Sepertinya, kau memang tidak tahu apa-apa.” Ia menumpukkan ketiga buku itu dan mendorongnya ke hadapan So Hyun, “Ini. Kau baca saja ketiga buku itu.” jelas Namjoon yang memilih untuk cepat-cepat membungkam mulut.


“Untuk apa? Aku sudah bilang aku…” Lagi-lagi ucapan So Hyun di sela oleh sunbaenya itu.


“Ssstt! Sudahlah. Turuti apa yang aku katakan. Dan usahakan, buku ini tidak dibaca oleh orang lain. Kecuali…” Namjoon terdiam ebentar.


“Kecuali, apa?” tanya So Hyun datar.


“Tidak. Pokoknya, turuti apa yang aku katakan itu.


***


Jam istirahat adalah jam yang paling di tunggu-tunggu oleh para pelajar. Begitu juga dengan Jimin dan So Hyun. Mereka sudah melawan kantuk yang begitu berat dalam menghadapi pelajaran sejarah itu.


Tak hanya mereka berdua, semua teman sekelasnya pun sama. Ketika guru sejarah itu keluar, mereka mengembuskan napas lega secara bersamaan.


So Hyun melirik ke arah tasnya yang ia letakan di bawah meja. Karena ucapan Namjoon tadi pagi, ia jadi ingin membaca buku itu lagi. Apalagi, ia mendapat kata-kata baru yang sepertinya berhubungan dengan alur hidupnya sekarang.


Namun, ia tidak bisa membaca buku itu sekarang. Jimin tak henti-hentinya melirik dan mendelik ke arahnya. Sepertinya, Jimin tahu kalau So Hyun tengah menyembunyikan sesuatu.


Sekelompok siswi yang terdiri dari 5 orang, duduk bergerombol di kursi belakang So Hyun dan Jimin. Siswi-siswi itu sepertinya tengah tertarik dengan suatu hal. Sehingga, tak jarang dari mereka langsung berteriak kecil.


So Hyun dan Jimin masih duduk di tempat mereka, tanpa pergerakan sedikitpun. Jimin sibuk dengan buku IPA-nya, sedangkan So Hyun masih bergelut dengan pikirannya.


“Kau tahu, laki-laki itu tampan sekali!” ujar siswi yang berkacamata minus itu.


“Iya, aku sudah berpapasan dengannya. Ia sangat tampan. Sayang sekali, kenapa ia tidak sekolah di sini saja, ya?” gumam siswi yang berambut pendek. Ia terlihat bersedih.


Tanpa disengaja, So Hyun terus mendengarkan perbincangan para siswi itu. Tak ada niat untuk menyahut, apalagi ikut campur. So Hyun tetap diam, tidak menimpali perbincangan siswi-siswi itu. Jimin pun sama, ia juga hanya mendengarkan ujaran siswi-siswi itu.


“So Hyun-ah.” panggil salah seorang siswi bagian dari kelompok mereka.


So Hyun menegakkan tubuhnya, lalu menoleh ke belakang menatap mereka. “Ne?” sahutnya pelan.


“Kau sudah melihat anak dari kepala sekolah kita belum?” tanya gadis itu lagi.


So Hyun menggelengkan kepalanya, “Belum.”


“Hah~ Kau harus melihatnya. Karena kita ini perempuan, kau pasti akan memujinya dengan kata ‘tampan’. Jujur, ia sangat tampan. Kau harus melihatnya.” ajak gadis yang rambutnya terurai sebahu.


“Aku baru tahu kepala sekolah membawa anaknya kemari.” ujar So Hyun dengan kebingungan. Ia juga merasa siswi-siswi itu seperti menuntutnya untuk bertemu dengan anak dari kepala sekolahnya itu.


“Bukan membawa. Kau kira dia masih bocah. Dia juga anak SMA sama seperti kita. Hanya saja, ia tidak bersekolah di sini. Karena sekolahnya libur, ia datang berkunjung menemui ayahnya, sang kepala sekolah.” jelas gadis berambut pendek itu dengan lengkap.


“Apa aku harus bertemu dengannya?” tanya So Hyun dengan malas.


“Tidak juga. Tapi, sepertinya hanya kau saja yang belum melihat laki-laki itu.” sahut gadis yang bertubuh sedikit besar dan gemuk.


“Lalu, untuk apa kau memberitahuku?” tanya So Hyun setengah tidak peduli. Mendengar So Hyun menyerang dengan pertanyaan itu, Jimin langsung menutup mulutnya menahan tawa.


“Kami hanya memberitahu saja. Huft. Kau ini mungkin terlalu lama berteman dengan laki-laki itu, ya? Sampai-sampai, tidak tertarik dengan yang baru.” ujar gadis yang rambutnya terurai, telunjuk menunjuk ke arah Jimin.


Merasa dirinya di bicarakan, Jimin langsung menoleh menatap mereka secara tiba-tiba. Kelima siswi itu langsung tersentak bersamaan, “Kalian bicara apa?” tanya Jimin santai.


“Tidak. Hanya bergurau saja. Jimin-ah, tidak usah merasa seperti itu. Kami hanya bercanda. Kenapa kau merasa dibicarakan?” rayu gadis yang menggunakan kacamata itu.


“Kalimat tanyamu itu yang membuatku merasa dibicarakan.” sahut Jimin santai.


“Maaf,” ujar gadis yang bersangkutan. “Omong-omong, Eun Soo apa kabar, ya? Apa kalian berdua tidak tahu kabarnya? Sudah 4 hari ia tidak masuk sekolah tanpa kabar. Aku jadi khawatir.”


Wajah So Hyun dan Jimin berubah menjadi pucat seketika. Memang, So Hyun dan Jimin mengetahui bahwa Eun Soo sudah meninggal. Tapi, sampai sekarang pihak rumah sakit tidak memberitahu dimana Eun Soo beserta Ibunya dimakamkan ataupun dikremasi.


“I-itu…” So Hyun bergumam kecil.


“Kalian kenapa pucat seperti itu? Apa benar terjadi sesuatu pada Eun Soo?” serdik gadis berkacamata itu sambil membetulkan posisi kacamatanya.


“Ah, tidak. Dia tidak apa-apa. Dia masih harus di rawat di rumah sakit.” sahut Jimin dengan sangkalannya. Laki-laki itu memang pandai menyangkal sesuatu.


“Astaga! Apa separah itu sakitnya? Setelah Mi So yang terpaksa harus menjadi pasien tetap rumah sakit jiwa, sekarang Eun Soo?” sahut gadis berambut pendek dengan sedikit kaget.


“Eun Soo memang di rawat di rumah sakit, tapi bukan rumah sakit jiwa.” sahut So Hyun pelan. “Ia masih di rawat. Kata dokter, kondisinya sudah membaik, tenang saja. Omong-omong Mi So, apa kalian tahu kabarnya?”


Kelima gadis itu langsung bergidik takut. Tak ada satupun dari mereka yang menyahut pertanyaan So Hyun.


Dua diantara mereka langsung menundukkan kepalanya. Gadis kacamata itu melempar tatapan keluar kelas. Ia seperti mengambil napasnya dalam-dalam.


“Ia sudah meninggal…” ujar gadis berkacamata itu.


Jimin menatap semua gadis itu dengan mata yang terbelalak lebar. Ia menatap So Hyun yang juga sedang menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya, “Sejak kapan?”


Bulu kuduk So Hyun langsung meremang seketika. Rasa merinding langsung melingkupi mereka semua. Jimin mengelus lengannya yang seperti tercengkram rasa dingin akibat merinding. Kaget, dan tak percaya, itulah yang ada di pikiran dua sahabat itu.


“Lalu, ia dimakam dimana?” tanya Jimin sedikit serius.


“Entahlah. Aku tidak tahu sampai sejauh itu. Orangtua Mi So juga tidak mengingat bahwa Mi So adalah anaknya. Aku sudah mencari tahu keberadaan makam Mi So. Tapi, tidak ada seorangpun yang mengenal Mi So, begitu juga dengan orang tuanya. Aku pikir, kalian juga tidak mengenal dan melupakan Mi So.”


So Hyun merasakan telapak tangannya berkeringat. Apa yang di ucapkan oleh temannya itu, persis dengan kejadian saat In Hyong tiba-tiba menghilang.


Tidak ada orang mengingat dan mengenal nama Mi So, kecuali yang bersangkutan. In Hyong juga begitu. Orang tuanya tidak mengingat bahwa mereka memiliki anak perempuan.


Jimin menatap So Hyun yang sepertinya terlihat pucat itu. Gadis itu juga *** roknya erat hingga kusut. Saat itu juga, kepala So Hyun terpelanting ke belakang. Gadis itu langsung jatuh dari tempat duduknya dalam mata yang terbelalak takut. Kelima gadis itu dan Jimin langsung berteriak bersamaan.


“Gwenchana?” tanya Jimin yang langsung bangkit mendekati So Hyun.


“So Hyun-ah, Gwenchanayo?” tanya gadis yang berkacamata itu panik.


So Hyun memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing itu. Ia menatap Jimin dan gadis-gadis itu bergantian.


Lalu, ia mencoba beranjak dari posisinya. “Ani. Gwenchana.”


***


Taehyung berjalan menuju sebuah tempat yang biasa menjadi tempatnya untuk membaca manhwa. Tak biasanya, ia kembali kepada kebisaannya. Hal yang biasa ia lakukan ketika mengenal So Hyun, ia selalu bersama So Hyun, Jimin dan Eun Soo. Tapi, mulai kemarin… sepertinya tidak akan lagi.


Taehyung mengembuskan napas leganya, ketika ruangan itu sedang tidak di gunakan. Dengan langkah diam-diam, Taehyung memasuki ruangan yang menjadi tempat favoritnya untuk membaca manhwa itu. Ketika ia menutup pintu dan menyalakan lampu, ternyata ada seorang laki-laki yang duduk di sana.


“Nuguya?” tanya Taehyung dengan dahi mengerut. Sesaat ia mengingat postur orang itu. Itu adalah orang yang kemarin menggunakan seragam sekolah lain.


“Oh, hai, Taehyung-ssi.” sapanya.


“Darimana kau tahu namaku?” Taehyung masih berdiri padadi belakang pintu yang sudah tertutup itu.


Laki-laki itu bangkit dan tersenyum miring, “Apa perlu aku memberitahumu?”


“Aku ‘kan tadi bertanya.” sahut Taehyung datar. Lagi-lagi ada orang baru yang harus ia waspadai. Apalagi, kemunculan ‘orang baru’ yang satu ini benar-benar tidak masuk akal.


“Nanti juga kau akan tahu.” ujar laki-laki itu. Ia mendorong tubuh taehyung ke samping, agar tidak menghalanginya untuk membuka pintu.


“Kau tunggu saja… di waktu yang tepat.” ujar laki-laki itu sekali lagi, sebelum hilang di balik pintu.


***


Gerombolan siswi tengah mengerumuni seseorang. So Hyun yang baru saja kembali dari UKS untuk mengambil obat, hanya diam menatap kerumunan itu.


Tanpa ada rasa ingin tahu, So Hyun berjalan dengan sekantong obat yang di berikan oleh Dokter Song. Entah mengapa, belakangan ini Dokter Jung sudah jarang terlihat.


Ketika ia hendak melewati kerumunan itu, sebuah tangan menahan lengannya untuk pergi. So Hyun membetulkan poninya dan menatap siapa yang menahannya itu. Orang yang menahannya itu tersenyum miring dan licik kepadanya.


Mata So Hyun membulat karena terkejut. Orang itu menyapanya di dekat lorong gudang dan laboratorium komputer. Lorong yang terkenal sepinya. Gerombolan siswi itu juga sudah tidak ada. Melihat keanehan lagi, pening di kepala So Hyun semakin menjadi.


“Halo, Kim So Hyun.” sapa orang itu.


So Hyun menyentuh dahinya dan sedikit memijatnya. Orang yang ada di hadapannya ini… adalah orang yang selama ini ia lihat, tanpa tahu identitasnya. Ia memundurkan langkahnya dan menggelengkan kepalanya tidak jelas.


“Kenapa terlihat begitu terkejut? Bukankah, kita sudah ‘sering’ bertemu?” ujar orang itu lagi. Senyum liciknya semakin menjadi.


Gadis itu langsung mendesis sakit karena kepalanya seperti tertekan benda berat. Ia bisa mengingat kehadiran sosok ini sekarang. Sosok yang mengawasinya, sosok yang hampir membekukan tubuhnya, dan sosok dari pelaku semuanya ini.


Ia mendelik ke arah orang itu dengan mata yang setengah menutup, “Kau… Kenapa bisa ada di sini?”


Orang itu tetap pada senyum licik itu, “Aku memang sudah lama ada di sini. Namun, kau tidak menyadari keberadaanku.”


“Siapa kau sebenarnya?” tanya So Hyun yang pusingnya masih angin-angin-an itu. Kadang mencengkram, kadang menghilang.


Laki-laki mengdengus kasar, “Aku… Min Yoon Gi. Aku seorang pelajar, sama sepertimu. Aku adalah anak dari kepala sekolahmu ini. Hanya saja, anak ‘sementara’.”


Tiba-tiba saja tubuh So Hyun kembali sempoyongan dan pada akhirnya, ia jatuh duduk. Bungkusan obat yang ia bawa tadi sudah tidak berada digenggamannya.


Orang bernama Yoongi itu tersenyum dengan kepala yang dimiringkan. Ia menatap So Hyun yang jatuh duduk seperti orang yang di rundungi kepanikan seumur hidupnya itu.


“Apa… apa… apa kau yang selama ini menjadi pelakunya?” tanya So Hyun dengan sedikit tergagap. Kerumitan alur hidupnya ini semakin membuat kepala pusing.


“Pelaku apa? Oh, orang-orang itu ya?” Yoongi melirik ke sekitarnya sekilas, lalu menatap So Hyun dengan seringaian aneh. “Itu memang aku.”


Kedua mata So Hyun terbelalak lebar. Ia menyeret tubuhnya sedikit menjauhi tempat Yoongi berdiri. Kepalanya semakin lama semakin berat, seperti ingin meledak. Tatapan laki-laki itu juga begitu menusuk.


“Tidak… Aku mohon hentikan…” ujar So Hyun tiba-tiba.


***


To Be Continue


***


Woah!! Yoongi is back!! Haduh sudah terungkap nih, gimana tanggapan kalian?


Like Comment ya!!😊😊


Gimana cerita ini menurut kalian? kasih tanggapannya ya harapkan untuk pembaca🙏