
Preview:
So Hyun menoleh ke arah kakaknya sebentar, "Tidak. Eonnie ke mobil duluan saja. Aku akan menyusul."
"Ya, baiklah. Jangan lama-lama, karena 1 jam lagi aku ada pertemuan di tempat kerja." sahut Yoo Min sembari menyeret koper miliki dirinya dan adiiknya.
So Hyun hanya mengangguk. Gadis itu berjalan menuju tempat dokter wanita itu tengah berdiri. Dokter wanita itu tengah menatap keluar jendela besar.
Wanita yang bertubuh cukup ramping dan tinggi itu, terlihat serius menatap ke arah keluar jendela. Padahal, diluar jendela hanya ada pemandangan hutan saja.
Tanpa malu atau apapun lagi, So Hyun menghampiri dokter wanita itu. Tepat ketika So Hyun ingin berdiri di sebelah dokter itu, dokter tersebut membalikkan tubuhnya. Mereka langsung bertemu pandang. Mereka juga sama-sama terkejut.
***
"Dokter Jung?" So Hyun menunjuk ke arah dokter wanita itu dengan kepala yang di miringkan sedikit. Ia tidak menyangka, ia akan bertemu dengan Dokter UKS sekolahnya sendiri.
"Ah, kau..." Dokter Jung juga sama terkejutnya dengan So Hyun.
"Aku, Kim So Hyun. Dokter pernah menangganiku di sekolah beberapa minggu yang lalu." jawab So Hyun. "Dokter sedang apa di sini?"
Dokter Jung menerjapkan matanya sebentar, lalu merubah ekspresinya. "Aku bekerja di rumah sakit ini juga. Bagaimana kondisi tanganmu?"
So Hyun menatap pergelangan tangan kanannya yang masih di balut perban setelah operasi.
"Oh, ini... Seharusnya sudah sembuh, tapi ada kecelakaan kecil yang menimpaku. Sehingga, tulang hastaku benar-benar bergeser. Ya, seperti yang Dokter lihat sekarang. Aku baru saja melakukan operasi beberapa hari yang lalu." jelas So Hyun panjang lebar. Ia berbicara sambil memerharikan tangannya sendiri.
"Hmm... Lekas sembuh, ya." Dokter Jung mengangguk saja. "Ah, sepertinya aku harus kembali ke ICU." ujarnya pelan.
"Ehm. Semoga dokter dapat menanggani pasien itu dengan baik, ya." sahut So Hyun singkat dengan sebuah senyuman. Gadis itu terlihat menyemangati Dokter Jung.
"Ya." sahut Dokter Jung singkat. Wanita itu langsung melangkahkan kaki cepat menuju ruang ICU.
Tanpa merasa curiga sedikit pun, So Hyun pun melangkahkan kakinya menuju elevator. Gadis itu berjalan dengan santainya.
Tanpa ia sadari dua bola mata dengan tatapan menusuk tengah menatapnya dari belakang.
.
.
.
Di waktu yang sama, Dokter Jung menutup pintu ruang ICU itu sedikit. Ia menatap So Hyun dengan sebuah senyuman licik di bibirnya. Kemudian, ia menutup pintu itu.
"Gadis bodoh." ujar Dokter Jung sambil melangkah ke arah ranjang yang telah terbaring seorang gadis dalam keadaan terpejam bersama penguap.
"Apa dia tidak merasa curiga?"
***
Jimin menatap dua kursi kosong yang berada di depan kursinya. Biasanya ia sedang bercanda dengan dua orang gadis yang telah menjadi sahabatnya.
So Hyun, sudah jelas ia tidak masuk karena masih harus beristirahat. Sedangkan, Eun Soo? Entahlah, pihak keluarganya tidak memberikan kabar apapun.
Mengingat kemana Eun Soo, Jimin tertegun sejenak. Ia masih terus memikirkan sosok gadis yang terbaring lemah kemarin.
"Fuh... Rasanya sepi sekali." gumamnya sambil meluruskan lengannya. Ia meletakkan kepalanya di atas lengannya yang sudah diluruskan itu. Lalu, ia terdiam menutup matanya.
Setelah beberapa menit ia memejamkan matanya, Jimin membuka matanya lagi. Ia menatap keluar kelas dengan datar, lalu mengembuskan napas bosannya. Ia menegakkan tubuhnya lagi, lalu terdiam.
Ia benar-benar merasa sangat bosan sekarang. Tak ada lagi orang yang bisa ia jahili, dan tak ada pula yang mengajaknya bercanda. Rasanya, ia ingin membolos saja.
Tiba-tiba, sebuah ide sederhana muncul di pikirannya. Ia bergegas bangkit dari tempat duduknya, lalu izin keluar kelas ke guru yang tengah mengajar.
Setelah mendapat izin, Jimin langsung melangkahkan kakinya keluar kelas. Tujuannya hanya ingin ke kamar mandi. Ia merasa lega ketika ia menghirup udara di lingkungan sekolahnya itu.
Ketika ia ingin berbelok di lorong menuju kamar mandi, ia melihat seorang laki-laki tengah bersandar di lorong tersebut. Ia dapat melihat bahwa laki-laki itu tengah menoleh ke luar jendela lorong bagian depan.
Jimin memicingkan matanya, menatap pasti orang itu. Namun tiba-tiba, orang itu menoleh. Jimin langsung bersembunyi di tumpukkan kursi bekas yang sudah rusak.
"Aku rasa memang itu jalannya..." gumam orang itu sendirian.
Jimin menajamkan pendengarannya, serta menatap orang itu serius. Ia tahu siapa orang itu. Orang itu adalah Namjoon.
Jimin menatap curiga apa yang di lakukan Namjoon saat itu. Yang dilakukan hanyalah bergumam, lalu menatap keluar jendela itu.
"Hmm... sepertinya sudah tidak ada orang." ujar Namjoon lagi.
Kini laki-laki itu berjalan menuju jendela lorong itu. Kemudian, membuka selotannya. Jimin masih saja memperhatikan apa yang sedang di lakukan Namjoon itu.
Sungguh tak di sangka, laki-laki itu menaiki jendela itu dan berjongkok di kusennya. Menatap ke bawah sekilas, kemudian menghilang.
Keringat dingin langsung mengalir dari pelipis Jimin. Masalahnya, Namjoon menghilang secara tiba-tiba. Tak mungkin ia melompat ke bawah, karena ketinggiannya mencapai 10 meter. Sekali pun ia melompat ke bawah, ia dapat pastikan Namjoon sudah meninggal dengan kondisi mengenaskan.
"Jadi, dia itu... apa?" Jimin bergumam menatap jendela lorong itu serius. Jimin berjalan menghampiri jendela lorong itu. Selotannya masih rapih, seperti tak tersentuh sedikitpun.
"Aneh. Kenapa sekarang jendelanya tertutup rapat. Padahal, ia sudah membukanya... Atau..." Jimin hanya bisa mendelik, lalu mendecakkan lidahnya pelan.
***
Taehyung berjalan menuju rumah sakit tempat So Hyun di rawat. Ia berjalan sendirian menuju tempat itu dengan raut wajah tanpa ekspresi. Laki-laki itu juga masih mengenakan seragam sekolahnya.
Ia tahu So Hyun sudah kembali ke rumah, tapi sesuatu mendorongnya untuk mengunjungi rumah sakit itu lagi. Ia teringat Eun Soo. Entah mengapa, ia percaya dengan apa yang di katakan Jimin waktu itu.
Taehyung memasuki lobby rumah sakit begitu saja. Bau khas rumah sakit langsung menyeruak di rongga hidungnya. Dengan langkah pasti, ia langsung melangkahkan kaki memasuki elevator. Ia menekan tombol menuju lantai kamar So Hyun.
Itu Eun Soo. Yakin bahwa itu adalah Eun Soo, Taehyung berjalan santai menuju gadis itu.
"Ryu Eun Soo." panggil Taehyung, tanpa basa-basi lagi.
Eun Soo langsung menoleh ke arah Taehyung dengan mata yang bengkak, serta pipi yang lengket. Gadis itu menatap Taehyung nanar, hingga akhirnya mulai menangis lagi.
"Ya, kanapa kau menangis seperti itu?" tanya Taehyung dengan suara yang sama. Eun Soo masih terdiam dalam isak tangisnya. "Ya, Eun Soo-ah..."
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa..." sahut Eun Soo dengan suara tangisnya.
"Wae? Kau masih mempunyai sahabat yang baik, beserta aku." jawab Taehyung.
Ia mulai menatap Eun Soo dengan tatapan khawatir. Ia menekuk ke dua kakinya, hingga ia bisa menghadap Eun Soo dengan tinggi yang sama.
"Tidak..." jawab Eun Soo. Ia menangis dengan menutupi kedua matanya. "Kalian ya, kalian. Sementara aku hanya sendirian."
"Maksudmu?" Taehyung memiringkan kepalanya sedikit.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa, kau tahu? Ibu tidak punya, ayah tidak punya..."
"Jadi... Wanita yang waktu itu di keluar dari ambulance terlebih dahulu adalah ibumu..." Taehyung bergumam pelan.
"Ya, dia ibuku. Tapi, dia sudah mati. Kenapa aku selamat? Kenapa aku tidak mati saja. Aku tidak ingin sendirian. Aku tidak mau sendirian." ujar Eun Soo dengan suara tangis yang semakin menjadi-jadi.
Taehyung mengedipkan matanya sebentar. Lalu, mulai mengulurkan tangannya secara perlahan. "Kau tidak boleh bicara seperti itu..."
"Aku ingin mati saja. Biarkan aku bersama ibuku, aku tidak mau sendirian di sini." Eun Soo menepis uluran tangan Taehyung keras. Suara tangisannya semakin menjadi-jadi. Ia terus menangis sesegukan tanpa melihat keadaan.
"Jangan..." Taehyung bergumam dengan suara beratnya. Ia mulai bangkit dan menghirup udara sebentar.
Ia memberanikan diri untuk mendekap Eun Soo, "Meskipun aku bukan siapa-siapa kau, aku harap keputusanmu untuk mati menghilang. Aku, So Hyun dan Jimin akan menemanimu. Kau tidak sendirian."
Eun Soo masih menangis sekencang-kencangnya. Ia meronta-ronta melepaskan dekapan Taehyung. "Lepas!" ujarnya sambil mendorong tubuhTaehyung kuat.
"Aku tidak akan melepaskannya, jika kau menarik ucapan 'ingin mati'mu itu." Taehyung berkata tegas.
Ia juga tidak tahu mengapa ia mendekap gadis itu. Melihat gadis yang menangis karena kesepian, membuat batinnya seperti sedih juga (he._.)
"Untuk apa aku hidup? Aku hanya bisa menyusahkan orang. Kedua kakiku tidak bisa digunakan. Tangan kiriku bengkok. Apa yang aku bisa lakukan dengan kondisi seperti ini? Mengemis?!" Eun Soo menjawab dengan suara keras, masih tetap menangis.
Taehyung melepaskan dekapannya perlahan. Ia tidak percaya mendengar penjelasan Eun Soo tentang kondisi fisiknya. "Meskipun begitu, kau harus bersyukur kalau kau masih di berikan napas untuk hidup."
"Tidak berguna! Aku lebih memilih mati saja!" teriak Eun Soo sekali lagi.
Taehyung hanya bisa mengembuskan napas beratnya. Ia menatap gadis itu dengan tatapan yang benar-benar khawatir.
.
.
.
Di waktu yang sama juga. Seorang laki-laki menatap kedua orang itu dengan tatapan licik. Ia bersandar di lorong itu dengan senyum kemenangan.
Laki-laki misterius itu mengembuskan napas yang menandakan ia sangat amat senang.
"Ingin mati saja, ya?" ujar laki-laki itu pelan.
Ia melihat sebuah semut berjalan sendirian menuju ke arahnya. Kemudian, telunjuk laki-laki itu terulur untuk menekan semut itu hingga mati. Badan semut itu langsung hancur, sehingga cairannya keluar.
"Itu mudah." gumam laki-laki itu sambil menatap badan semut yang sudah hancur, kemudian tersenyum licik.
***
Hari ini adalah hari yang paling di tunggu So Hyun. Selain ia sudah bisa kembali bersekolah, ia juga berulang tahun. Meskipun tidak ada yang spesial di hari ulang tahunnya, napas untuk hari ini begitu cukup untuknya. Ia tersenyum ketika mengingat berkah itu.
Ia tengah berjalan di trotoar jalan sendirian tanpa Jimin. Entahlah, Jimin tidak menjemputnya seperti biasa untuk pagi ini.
Kini, ia hanya berjalan sambil menatap langkah kakinya. Angin musim gugur mulai bertiup kencang. So Hyun dapat merasakan sebuah ketenangan sendiri.
Sinar matahari juga menghangatkan tubuhnya. Ia kembali tersenyum, lalu menghirup napasnya dalam-dalam. dan mengembuskannya perlahan.
"Tidak ada yang lebih segar daripada udara di pagi hari." So Hyun bergumam sambil tersenyum.
Langkah kakinya menuju sekolah semakin bersemangat. Tapi, perasaannya seperti menunjukkan ada makhluk lain di sekitarnya. So Hyun pun menghentikan langkahnya, ia sedikit menoleh ke belakang.
Terlihat sebuah makhluk berwujud putih berlarian dengan suara hentakkan kaki yang kencang. Tubuh So Hyun langsung bergidik.
Tanpa melihat ke belakang lagi, gadis itu langsung berjalan cepat menyusuri trotoar itu.
Di sebuah pertigaan jalan, ia berhenti sebentar. Ia menoleh ke arah kiri, lalu mendapati seekor kuda putih yang berada di trotoar yang sama dengan tempat ia berdiri.
Kuda putih itu berjalan dengan anggunnya. Bulunya putih bersih bagaikan salju, dengan ekor yang menjuntai indah. So Hyun menatap kuda itu serius.
"Kuda itu..."
***
To Be Continued
***
Jangan lupa Like Comment!! Wah kuda putih siapa itu ya?