
Siapkan hati kalian untuk part terakhir ini! Karena tidak sesuai dengan ekspektasi kalian😊
***
Review:
So Hyun tersenyum tipis yang dipaksakan dengan delikan matanya. Gadis itu menutup matanya perlahan. Detak jantungnya tidak dapat ia kontrol dengan baik. Ujung pisau yang runcing itu mulai ia arahkan ke dadanya sendiri. Se Jung juga mulai menutup matanya perlahan-lahan. Taehyung tetap berusaha melepaskan cengkraman itu.
1... 2... 3...
***
Taehyung berhasil melepaskan cengkraman makhluk itu, meskipun bahunya terasa sangat nyeri. Namun...
Jleb!
"SO HYUN!!!!!" jerit In Hyong tak tahan.
Jimin membeku begitu saja. Tak terasa air matanya jatuh begitu saja. Apa yang ia lihat saat ini sangatlah berat dan begitu menusuk batinnya. Eun Soo yang tak tahan, pada akhirnya ikut menjerit memanggil nama sahabat baiknya itu.
"So Hyun-ssi..." ujar Dokter Jung ketika wanita muda itu sudah membuka matanya. Air matanya juga tidak bisa di bendung lagi. Wanita itu kembali menutup matanya dan menangis.
Ketika jeritan itu sudah bergema, Taehyung hanya bisa berdiam diri dengan bahu yang melemas. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat ini. Ia benar-benar tidak percaya. Darah yang menyembur bebas mulai terlihat di ubin batu yang ia pijak saat ini, membuat dirinya semakin melemas. Laki-laki itu mulai menangis tanpa suara.
"So Hyun!!" jerit Eun Soo dengan diikuti tangisannya.
Seketika saat itu juga, tubuh Se Jung terbiaskan bagaikan cahaya. Gadis itu menghilang begitu saja bersamaan dengan sosok yang selama ini mengcengkram semua orang yang berada di sana. Taehyung hanya bisa menderu dengan tangisannya sendiri. Laki-laki itu menangis dalam diam, hidungnya terlihat sangat merah. Matanya terasa sangat amat panas.
Tubuh So Hyun terhuyung ke belakang perlahan-lahan. Lalu, jatuh tepat ke arah Taehyung. Dengan sigap, laki-laki itu bersedia menangkap tubuh So Hyun yang terhuyung itu di dalam dekapannya. Taehyung menopang tubuh So Hyun yang mulai melemas itu sambil tetap menangis diam. Pisau tajam itu sudah berubah warna. Darah So Hyun tersembur dimana-mana. Gadis itu itu menatap Taehyung dengan mata yang setengah menutup.
Taehyung membalas tatapan itu dengan matanya yang tengah mengeluarkan bulir bening perlahan. So Hyun tersenyum dengan mulut yang penuh darah. Tangan gadis itu mulai terulur menyentuh dahi Taehyung.Â
Tidak, bukan dahi Taehyung. Melainkan pelupuk mata Taehyung yang basah. Gadis itu mengelap sedikit air mata Taehyung yang mengalir lembut menggunakan jari telunjuknya.
Setelah mengelap air mata itu, So Hyun menurunkan tangannya kembali. Ia masih bisa menatap Taehyung dengan mata dan napas yang memberat seperti ini. Taehyung tidak mengatakan apapun selain air mata yang terus mengalir. Air mata yang mengalir itu perlahan turun dan membasahi wajah So Hyun.
Jimin menghampiri Taehyung beserta In Hyong dan yang lain. Ketika melihat kondisi So Hyun saat ini, Dokter Jung tidak bisa menahan air matanya yang akan mengalir lebih deras lagi. Wanita itu mulai menangis tersedu-sedu. In Hyong dan Eun Soo memegang satu sama lain sambil terus menangis. So Hyun mendelik sedikit menatap Jimin. Jimin pun menitikkan air matanya. Sahabat laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya itu kini tengah menangisi dirinya.
"Samhh...paihh... Jumhh...pahh..." ujar So Hyun dengan sangat halus dan pelan.
So Hyun pun tersenyum tipis namun terlihat sangat tenang. Ia kembali menatap Taehyung yang tak kunjung mengatakan sesuatu. Pada akhirnya So Hyun memutar bola matanya, lalu secara perlahan-lahan kelopak matanya mulai tertutup. Saat itulah, kelopak matanya tak pernah terbuka kembali untuk memperlihatkan bola mata hitam khasnya.
Taehyung dan Jimin mulai menangis dengan suara sedu yang sedikit terdengar. Eun Soo dan In Hyong kembali menjerit-jerit memanggil nama So Hyun. Dokter Jung melepaskan kacamatanya, lalu berjalan mendekati dua sahabat itu. Dengan tangan yang bergetar, Dokter Jung memeluk In Hyong dan Eun Soo sekaligus. Ibu Eun Soo dan yang lain juga menutup mulut kemudian ikut menangis tak tahan.
"So Hyun!!" teriak Taehyung keras hingga bergema. Ia benar-benar tidak bisa menahan suara sesegukannya.
***
Mereka semua beranjak bangkit untuk meninggalkan bangunan itu setelah merasakan getaran yang terasa cukup kuat di lahan yang mereka pijak. Taehyung mengangkat kemudian memapah tubuh So Hyun dan memimpin jalan keluar. In Hyong dan yang lain mengikuti gerak cepat Taehyung.
Dengan kemampuan ingatannya, Taehyung dapat mengingat jalan yang dilaluinya bersama Namjoon tadi. Tidak peduli itu adalah hutan yang hilang, tapi Taehyung yakin ia bisa keluar dari hutan itu.
Getaran di lahan hutan itu semakin terasa. Dinding bangunan tua itu juga perlahan-lahan rontok dan hancur. Mereka semua berlarian keluar ke arah yang sama dengan Taehyung. Tak jarang, In Hyong dan Eun Soo harus terjatuh karena getaran yang semakin lama semakin kuat.
Sebuah deretan pilar beton berlubang terlihat di pandanagn mata Taehyung yang masih memapah tubuh yang So Hyun mulai mendingin itu. Itu adalah pilar pembatas antara sekolahnya dengan hutan ini.Â
Melihat itu, Taehyung sedikit mengeluarkan senyum tipisnya dan mempercepat langkahnya. Namun, karena sesuatu ia menghentikan langkah kakinya tepat di sebelah pilar beton itu. Ia merasa ada anggota yang tidak terlihat pergi keluar bersamanya. Namjoon! Ya, ia melupakan Namjoon. Laki-laki itu menatap sekitar kebingungan menunggu sesuatu yang tak pasti.
Ketika Jimin sudah memijakkan kakinya di dekat Taehyung, tanpa ba-bi-bu lagi Taehyung memeberikan tubuh So Hyun agar Jimin yang memapah gadis itu. Kerutan dahi Jimin yang kebingungan muncul seketika.
"Kau bawa dia dan yang lain keluar! Aku harus mencari Namjoon sekarang!" ujar Taehyung tegas.
"Kau gila? Banguan itu sudah hancur! Pohon-pohon juga mulai rubuh!" teriak Jimin ketika ia sudah memapah tubuh So Hyun itu.
"Namjoon yang membawaku kemari, jadi aku harus membawanya keluar juga!" pekik Taehyung sambil berlari menjauh.
Ia berlari melewati Eun Soo hingga menabrak bahu gadis itu. Gadis itu sedikit meringis dan menatap Taehyung yang kembali berlari masuk ke dalam hutan. Ia menatap Jimin bingung lalu bertanya, "Dia mau kemana?!"
"Ia kembali ke dalam untuk mencari Namjoon!" teriak Jimin.
"Apa dia sudah gila? Di sana pohon-pohon sudah mulai rubuh berantakan!" balas Eun Soo.
"Aku ti... Ya! Kau mau kemana?!" Jimin kembali berteriak ketika melihat Eun Soo berlari ke dalam hutan juga seperti Taehyung.
"Menyusulnya, kemudian mengajaknya keluar! Kalian keluar duluan saja!" balas Eun Soo sambil berlari kencang mengejar Taehyung.
"Jimin, pilarnya..." ujar In Hyong ketika melihat sebuah lubang pilar yang semakin lama semakin mengecil dengan sendirinya.
"Lompat ke sana! Cepat!" suruh Jimin keras. Ia mempererat papahan tangannya agar So Hyun tidak terjatuh.
In Hyong dan yang lainpun mengangguk pasti. Kemudian, In Hyong meletakkan satu kakinya terlebih dahulu lalu bersiap untuk melompat. Satu per satu dari mereka mulai melompat keluar dari celah lubang yang masih bisa dilalui.
"Taehyung-ah, Eun Soo-ah,cepat kembali!" pekik Jimin keras, meskipun ia tahu tidak ada yang mendengarnya.
"Jimin-ssi, ayo!" seru Dokter Jung keras.
Jimin menoleh, lalu mengangguk. Laki-laki itu semakin mengeratkan papahan tangannya ke tubuh So Hyun yang sudah dingin itu. Dan, ia pun melompat keluar.
***
"Namjoon sunbae! Kim Namjoon! Dimana kau?!" teriak Taehyung keras ketika ia sampai di sebuah tempat dimana ia bertemu dengan Yoongi di sini.
Tak ada suara lain selain suara reruntuhan dan gesekan dedaunan kering yang seperti terseret. Taehyung terus menyusuri tempat itu sambil terus meneriaki nama Namjoon. Tak ada sahutan. Taehyung mulai berjalan menuju bangunan yang rupanya sudah roboh total itu. Ketika ia baru melangkahkan kakinya, sebuah dahan besar miring ke arahnya.
"Awas!" pekik Eun Soo yang menarik tangan Taehyung agar menjauh.
"Kau? Kenapa kau ikut ke sini?" tanya Taehyung dengan kebingungan. Tapi berkat muncul Eun Soo secara tiba-tiba itu, ia selamat.
"Tak ada waktu untuk mencarinya. Sekarang ayo kita keluar!" balas Eun Soo dengan suara kerasnya.
"Tapi, bagaimana dengan Namjoon?" tanya Taehyung.
"Sudahlah! Ayo!" Tanpa basa-basi lagi, Eun Soo menarik tangan Taehyung. Mereka berdua berlari menuju pilar beton tadi.
Lubang di pilar itu semakin lama semakin mengecil. Eun Soo yang bertubuh kurus itu tak yakin bisa keluar dari lubang sekecil itu.
"Kau duluan!" ujar Taehyung keras-keras, karena suara mereka kalah dengan suara gemersik daun yang terseret dan goncangan lahan yang dipijak itu.
Eun Soo hanya mengangguk dan mencoba memaksakan dirinya agar keluar bisa keluar melalui lubang pilar yang cukup kecil itu. Tak beberapa Eun Soo berhasil menyeplos keluar, Taehyung-pun mengikuti gadis itu dari belakang. Tepat Taehyung berhasil menyeplos, lubang di pilar itu menutup.
***
Altar yang dihiasi berbagai bunga yang memberikan harum semerbak terlihat begitu menenangkan sekaligus menyedihkan. Di meja altar atau disebut meja abu itu terdapat sebuah bingkai foto yang memapangkan sebuah foto gadis yang tengah tersenyum formal, namun terlihat manis. Sayangnya, senyum formal nan manis itu membuat suara tangisan semakin menjadi-jadi.
Semua orang yang berdatangan menggunakan pakaian serba hitam, dan itu berlaku untuk Taehyung serta yang lainnya. In Hyong yang terduduk di sebelah ayahnya dengan mata yang memerah, terus mengepalkan tangannya agar tidak menangis. Jimin juga tak kuasa untuk terus menahan rasa sedihnya itu, akhirnya menangis diam. Sedangkan Eun Soo, gadis itu tengah membantu menenangkan ibu dari So Hyun.
"Anakku... Kenapa kau bisa sampai begini..." ujar Ibu dari So Hyun sambil menangis tersedu-sedu. Wajah wanita paruh baya itu mulai memerah karena terlalu lama menangis.
"Ahjumma harus sabar... Aku yakin So Hyun terlahir di alam yang bahagia sekarang..." ujar Eun Soo sambil memeluk Ibu dari So Hyun itu.
"Aku tak percaya kau akan pergi mendahuluiku, So Hyun..." ujar Ibu lagi. "Anakku... Ibu menyayangimu... meskipun ibu tidak bisa melihatmu lagi mulai sekarang..."
Taehyung hanya bisa terduduk dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Setiap kali ia menatap altar yang terdapat foto So Hyun itu air matanya langsung meluncur. Ia tidak bisa melihat senyum itu lagi mulai sekarang. Ia juga tak bisa melihat paras unik gadis itu mulai sekarang. Semua yang berkaitan dengan So Hyun tak dapat ia lihat lagi mulai hari ini.
'Ini yang kedua kalinya... Kedua kalinya aku kehilangan orang yang aku sukai...' batin Taehyung berujar terpuruk sedih.
Ketika laki-laki itu tengah membiarkan air matanya mengalir tanpa ia suruh, seorang wanita muda datang menghampirinya kemudian duduk di sebelahnya. Taehyung mengadahkan kepalanya sambil mengapus air matanya yang mengalir bebas itu.
"Noona..." ujar Taehyung pelan, sepertinya ia berniat untuk menyapa namun tidak bisa.
Ji Hyun tersenyum tipis, namun terlihat menyedihkan. Wanita itu menepuk bahu laki-laki itu pelan. Kemudian, wnaita itu berkata, "Terima kasih... Terima kasih karena kau sudah menemukannya. Meskipun, ia sudah mati... tapi rasanya terasa cukup lega jika melihat jasadnya dibawa ke rumah..."
Taehyung hanya bisa terdiam menatap wanita muda yang kini sudah mulai menangis lagi. Tangis kesedihan dan kehilangan Ji Hyun, semakin membuat Taehyung tak berani menatap altar itu. Taehyung tidak dapat menyahut apapun lagi. Ia hanya bisa menahan panasnya pelupuk matanya yang tengah menampung buliran bening itu lagi. Ternyata, laki-laki itu juga bisa menangis ketika di tinggal orang yang di sukainya....
Malam itu adalah malam pertama Taehyung menangis tanpa henti meskipun tanpa mengeluarkan suara. Jimin pun sama. Laki-laki yang sudah bersahabat dan kenal So Hyun lebih lama dari Taehyung itu hanya bisa menunduk membiarkan semua kesedihan itu terseret oleh air mata yang keluar dari pelupuk matanya itu.
Guru Yoo dan Dokter Jung pun ada di sana. Mereka semua berkumpul untuk bersiap mengantarkan So Hyun untuk yang terakhir kalinya.
***
Semuanya berjalan lancar. Upacara pemakaman abu So Hyun yang telah di kremasi itu berlangsung sunyi. Meskipun, suara isak tangis masih terdegar dimana-mana ketika seorang pandita mulai memimpin membacakan doa.
Taehyung yang bertugas membawa foto So Hyun di dekapannya, tak bisa menahan rasa sedihnya lagi. Padahal, kedua matanya sudah sangat memerah karena kelamaan menangis. Jimin juga bertugas untuk mengiring langkah kakinya yang di sejajarkan bersama Taehyung. Semua berjalan dengan lancar dan tenang.
Sepulang dari upacara tersebut, Taehyung hanya bisa terduduk sambil terus mendekap foto So Hyun di rumah Jimin. Entahlah, orang-orang mengatakan bahwa membawa foto orang yang baru saja meninggal sama saja mengajaknya jalan-jalan bersama untuk terakhir kalinya sebelum 49 hari. Dan, Taehyung benar-benar percaya akan itu. Untuk itu ia membawa foto So Hyun ke rumah Jimin untuk berkumpul bersama.
Pukul 7 malam. Tak ada suara obrolan terdengar dari 4 orang tersebut. In Hyong, Eun Soo, Jimin, serta Taehyung hanya bisa membungkam mulut mereka masing-masing. Terkadang, suara sesegukan In Hyong terdengar hingga suasana mencengkam semakin mencengkam.
"Sepi, ya? Andai saja ia masih bersama kita, pasti kita sedang tertawa lebar," ujar Eun Soo pelan.
"Hmm... ya..." sahut Jimin lesu.
"Aku tidak menyangka ia kan menusuk dirinya sendiri demi membebaskan kita..." ujar In Hyong serak. Suara seperti habis karena terlalu lama menangis. Hidungnya juga terlihat sangat memerah.
Taehyung menatap In Hyong yang tengah mencoba mengatakan sesuatu lagi.
"Ia adalah teman pertamaku di sekolah dulu... Ia adalah gadis yang aneh nan egois namun baik. Tapi... aku tidak percaya kalau reinkarnasinya buruk seperti ini... Andai saja... Andai saja... aku bisa mengganti alur hidupnya seperti sebuah drama yang di tuliskan di atas buku... maka aku akan menuliskan yang kalah adalah Se Jung sialan itu!" jelas In Hyong sekali lagi.
Eun Soo mengembuskan napasnya, kemudian mendekat ke In Hyong. Gadis itu mengusap-usap penggung In Hyong pelan. "Sudahlah. Yang hanya bisa kita lakukan saat ini hanyalah berdoa agar ia bahagia di sana. Atau menerima reinkarnasi menjadi manusia lagi..."
"Kau benar! Buku! Buku itu dimana?!" tanya Taehyung tak sabaran. Ia menyandarkan bingkai foto So Hyun di sofa tunggal perlahan.
In Hyong mengerutkan dahinya dengan bola mata yang mengikuti gerakan Taehyung yang tak sabaran itu, "Buku? Buku apa? Aku 'kan hanya bilang 'andai saja' Apa kau tidak dengar?"
"Iya, aku dengar. Tapi, bukan buku itu yang aku maksud. Buku itu... Astaga... Kenapa aku tidak ingat?" ujar Taehyung kepada dirinya sendiri. Ia pun masih bersikap tak sabaran seperti tadi.
Jimin ikut menegakkan tubuhnya. Sepertinya ia juga mengingat sesuatu. "Oh! Aku ingat. Buku yang sering di baca So Hyun itu, kan?" Eun Soo pun menatap Jimin dengan dahi mengerut.Â
"Itu! Kau ingat tidak So Hyun melarang kita membaca buku itu?"
Eun Soo pun mengangguk, "Ya, aku ingat. Tapi, apa hubungannya dengan So Hyun?"
"Buku apa? Kalian berbicara apa? Aku tak mengerti maksud kalian." ujar In Hyong dengan nada tak sabaran juga. Ini karena ia yang 'mati' terlebih dahulu dibanding yang lain.
"Buku itu adalah isi dari alasan, cerita, kejadian dan sebagainya dari kehidupan So Hyun. Kalau boleh di bilang, buku itu seperti ramalan atau takdir kehidupan seseorang yang di tulis orang yang misterius. Apa yang tertulis di buku itu adalah jalan hidup yang akan dilalui So Hyun. Oleh karena itu, aku akan mengecek halaman terakhir buku itu. Apakah di situ bertuliskan Ah Jung itu mati atau tidak. Kalau tidak, berarti So Hyun masih hidup." jelas Taehyung yang mulai antusias. Ia terlihat ingin cepat-cepat bangkit dari posisinya dan membaca halaman terakhir buku 'Muerte' itu.
"Kau ini mengingau, ya? Jasad So Hyun sudah kremasi, bagaimana bisa kau bilang ia masih hidup?" ujar In Hyong agak aneh. Suaranya terdengar seperti orang marah.
"Terserah apa katamu. Aku akan pergi mencari buku itu." ujar Taehyung yang bangkit dari posisinya.
"Terakhir kali buku itu So Hyun pegang ketika di aula loker," ujar Jimin pelan.
"Tepat sekali! Baiklah aku pergi!" ujar Taehyung yang langsung berjalan mengambil sepatunya yang terdapat di pintu teras rumah Jimin.
"Kau mau ke sekolah malam-malam seperti ini?! Apa kau gila?" pekik Eun Soo.
"Sekolah masih buka untuk umum sementara ini. Aku takkan lama. Aku akan kembali jika aku sudah menemukan buku itu!" sahut Taehyung cepat dank eras. Kemudian, ia berlari kelaur meninggalkan foto So Hyun di sofa tunggal rumah Jimin.
Mereka bertiga hanya bisa mengembuskan napas berat. Taehyung berlari keluar dengan langkah kaki yang begitu bergema di telinga. Jimin mendelik ke arah foto So Hyun, dimana gadis itu tengah tersenyum.Â
Jimin mengembuskan napas beratnya. Kemudian ia menoleh ke arah bingkai foto tua yang berada di rak bukunya. Ada sebuah bingkai foto lama di sana. Foto dirinya bersama dengan So Hyun dan Eun Soo. Melihat itu, rasa sedih Jimin kembali terkumpul.
'Seandainya, kau masih hidup...' batinnya berujar pelan.
***
Taehyung sampai di depan pintu gerbang sekolahnya. Bangunan sekolah terlihat sedikit redup karena pencahayaan yang bisa dibilang sangat kurang dan remang-remang. Laki-laki itu berlari ke dalam dengan keadaan kancing depan jas hitamnya terbuka. Pintu lobby juga masih terbuka lebar. Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa ia masih bisa mencari 'jawaban' terhadap akhir cerita buku itu.
Ia mempercepat larinya. Tak peduli peluh mulai membanjiri dahinya dan pakaian yang mulai berantakkan, ia terus berlari menuju tangga yang mengarah ke aula loker itu. Suara hentakkan kakinya bergema ke seluruh lorong yang ia lalui.
Taehyung menghentikan kakinya tepat di depan aula loker itu dengan embusan napas yang tak beraturan. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencoba mengingat dimana letak loker So Hyun.Â
Laki-laki itu mencoba membuka loker tua yang berisikan kunci cadangan loker-loker yang ada di sana. Tanpa basa-basi lagi, Taehyung meraup semua kunci yang ada dan mencobanya satu-satu.
Loker pertama yang ia buka bukanlah milik So Hyun. Loker kedua, ketiga, keempat, kelima sampai seterusnya juga bukan milik So Hyun. Ia terus mencoba semua kunci dan loker yang cocok. Tak jarang ia menendang loker yang memang bukan milik So Hyun kesal. Awalnya batinnya memaksa untuk menyerah, tapi dirinya tetap memaksakan.
Loker ke-dua puluh empat. Itu adalah loker milik So Hyun. Taehyung menarik napas beratnya untuk menangkan degup jantungnya karena saking senang dan leganya ia bisa menemukan loker So Hyun. Ketika ia membuka loker itu, tiga buku yang sempat menjadi bahan perebut kala itu masih berada di sana.
Lekas, Taehyung mengambil ketiga buku itu dan mencari buku yang berjudul 'Muerte'. Setelah ia dapatkan, ia langsung membuka halaman paling terakhir buku tersebut. Terdapat halaman yang sobek disana. Bola matanya bergerak mendelik membaca tiap kalimat yang tercetak di buku. Mulutnya menganga seketika, serta jantungnya mencelos.
[Semua berakhir ketika ada dua pilihan yang diberikan oleh Yeowang. Tak ada yang tahu jawaban apa yang akan dipilih oleh sang adik saat itu. Yang jelas, apapun jawaban yang ia pilih... pada akhirnya ia akan mati. Dan, itulah takdir yang memang sudah seharusnya ia terima ketika ia berumur 17 tahun.]
Taehyung langsung membanting buku itu keras. Ia kembali menatap seisi loker milik So Hyun itu. Ingin sekali ia berteriak kesal. Air mata kekesalan dengan akhir buku itu langsung mengalir pelan. Ia mengepalkan tangannya. Takdir gadis itu memang sungguh berat.
"Aku menyukaimu... ah tidak, mungkin aku mencintaimu Kim So Hyun. Tapi sayangnya, aku hanya bisa mengatakan hal itu pada angan-anganku saja. Aku harap kau tenang di sana. So Hyun-ah..." ujar Taehyung perlahan.
"Aku yakin, di kehidupan yang lain atau selanjutnya, aku akan bertemu kembali dengan dirimu..." ujarnya sekali lagi sambil menyandarkan punggungnya di loker itu.
***
Hai! Aku Kim So Hyun!
Senangnya bisa berujar kembali meskipun aku sudah tak ada. Tapi, ada yang ingin aku sampaikan.
Aku tahu ini sulit.
Aku tahu ini gila.
Tapi... kalau aku tidak melakukan ini, kalian akan mati sia-sia. Aku tidak mau itu terjadi.
Aku melakukan ini karena aku sayang kalian. Aku sangat sayang kalian. Aku tidak mau kalian mati di hadapanku satu per satu.
In Hyong, terima kasih sudah menjelaskan padaku cara menjaga bunga mawar agar tetap segar di dalam vas.
Eun Soo, terima kasih sudah mengajarkanku biologi yang sulit itu. Kau adalah sahabat yang paling sabar menemaniku serta mengajariku!
Lalu, Dokter Jung tanpa dirimu aku mungkin sudah tidak bisa bernapas kala itu. Terima kasih! Aku merasa kau seperti kakak keduaku!
Jimin... Ah... sepertinya aku sudah banyak membuat kesal anak ini. Tapi, ia sangat sabar menemaniku serta menghiburku. Sudah hampir 4 tahun bersahabat denganmu, tapi rasanya begitu singkat, ya? Terima kasih atas semuanya! Aku menyayangimu!
Dan untuk Taehyung...
Terima kasih atas usahamu untuk menolongku. Aku minta maaf kalau aku telah menarikmu ke dalam masalahku ini. Aku sungguh terharu dengan pengakuanmu perasaanmu kepadaku itu. Kau tahu? Meskipun aku baru mengenalmu dekat hanya dalam hitungan bulan, tapi aku merasanya sangat nyaman denganmu.
Aku tidak tahu mengapa kau begitu berarti untukku. Sangat berarti... Namun, aku terlalu malu untuk mengatakannya.
Kalau aku boleh jujur... Aku juga tidak ingin mati dan terpisah jauh denganmu. Tapi, inilah takdir. Aku terima itu. Mungkin di kehidupan ini kita tidak pantas untuk bersatu, namun... percayalah! Jika kita terlahir kembali, kita pasti akan bertemu lagi! Dan... kita akan menjalin hubungan yang tidak tersampaikan ini...
Maafkan aku atas semuanya... Maaf juga kalau aku terlambat bahkan tidak sempat mengatakan ini padamu...
Aku...
Aku menyukaimu Kim Taehyung! Sampai jumpa!
(Without You)
(Without You)
(I just wanna tell you)
(How I'll love you so (for all my life))
(I just wanna tell you)
(Oh I'll miss you so)
(But now it's time to go)
(How I, searched for sunshine)
(You were, always by my side)
(We will, be forever)
(Lovers in the sky)
(I'm put together)
(By your love forever)
(Just wanna let you)
(Take me to the place I know I'll be alright with you.)
(Torn Apart, but never)
(Say goodbye Oh never)
(Go on and tell me)
(I just wanna hold you, won't be)
(Without you)
(Without you)
(Without you)
(Song by Bekah Ex-AfterSchool –Take me to the place)
•••The End•••
°°°
Credits:
Thanks for your attention and your patience to this Fanfiction. Thanks for your positive comments, who makes me always smile when I read it. Sorry for the 'bad' ending or the story. All cast are nore mine. The OC(s) are not mine also. Because, someone may be has a name like that. Remember this is just a fiction story.
°°°
Author's Note:
Selesai... Bagaimana? Maaf kalau alurnya sempat membingungkan dan membosankan. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyelesaikan serta mengubah alur cerita ini agar menarik. Maaf juga kalau endingnya aneh. Terima kasih untuk kalian yang sudah membacanya.... TERIMA KASIH SEMUA :) MAAF JIKA MEMBUAT KALIAN BERURAI AIR MATA..
~ Tidak semua apa-apa yang kita bayangkan dapat menjadi nyata, tidak semua harapan jadi kenyataan, tidak semua yang kita cita-citakan dapat tercapai, tidak semua mimpi dapat terwujud, dan tidak semua doa yang kita panjatkan dapat dikabulkan. Begitulah realita kehidupan yang kadang tidak sesuai dengan ekspektasi. Begitu pun dengan cerita ini. Thanks All -Author- ~