
***
Dokter Jung kembali ke ruang UKS itu. Taehyung masih ada di sana sendirian dengan mengompres pipinya yang lebam. Jimin meninggalkannya untuk mengejar So Hyun. Melihat Taehyung masih meringis, Dokter Jung tersenyum tipis menatap laki-laki itu.
“Kau kenapa?” tanya Dokter Jung berjalan perlahan mendekati Taehyung. “Apa So Hyun memukulmu?”
Taehyung hanya mendelik saja, ia tidak menjawab sama sekali. Karena denyutan pada lebamnya begitu mencengkramnya. Namun, Dokter Jung masih menatapnya dengan sebuah senyuman.
Ia seperti menunggu sahutan dari Taehyung. Dokter perempuan itu duduk di dekat Taehyung sambil tetap menunggu sahutan.
Taehyung mengendus, “Ya.” Ia hanya menyahutnya dengan sangat singkat.
Dokter Jung kembali tersenyum, kali ini semakin lebar. “Apa kau mau tahu kenapa Eun Soo meninggal?”
Taehyung menatap Dokter perempuan itu dengan keseriusan, “Tidak. Aku hanya mengetahuinya kalau ia masuk rumah sakit saja.”
“Itu karena dewa kematian sudah menjemputnya.” sahut Dokter Jung cepat.
Taehyung menatap Dokter Jung dengan dahi yang mengerut. Ia tidak menyahut apapun. Melihat tatapan dari Taehyung yang penuh dengan kebingungan, “Saya tahu kau penasaran dengan apa yang saya maksud barusan. Kalau diizinkan, bolehkah saya mengatakannya?”
“Katakan saja.” sahut Taehyung dengan nada datarnya. Denyutan dari lebamnya semakin menjadi-jadi.
Dokter Jung tersenyum pasti menatap Taehyung, “Kau tahu tidak kalau… dia pernah minta mati agar bisa bersama ibunya?” Taehyung mendelik dan mengangguk. “Dewa kematian itu datang atas permintaannya tersebut. Makanya, kau tidak boleh berkata yang macam-macam.”
“Maksudmu?” tanya Taehyung dengan kata-kata informalnya.
“Dokter kepala rumah sakit mengatakan Eun Soo meninggal dalam tidur. Karena, dewa kematian itu hanya datang ke dalam mimpi buruknya. Jadi, di hari itu juga dewa kematian datang. Di hari itu juga ia membunuh orang ‘itu’, namun hanya terjadi di dalam mimpi. Bahkan, panggilannya sekarang saja bukan dewa kematian.” jelas Dokter Jung panjang lebar. Namun, Taehyung hanya bisa mendengarkan tanpa menyahut apapun.
“Ia akan menyimpan roh orang-orang yang sudah menjadi targetnya. Tak hanya itu, ia juga bisa mempermainkan ‘soul’ dari orang yang lemah, begitu juga dengan perasaannya. Kalau ada orang yang tiba-tiba sikapnya berbeda daripada sebelumnya, bisa jadi dewa kematian itu sedang memainkan ‘soul’ dari orang itu, lho. Mereka juga bisa menyamar menjadi apapun yang mereka mau. Bahkan, manusia sekalipun. Jadi, kau harus berhati-hati, Taehyung-ah.” sambung Dokter Jung lagi.
“Bukankah, kedatangan‘nya’ tidak bisa diprediksi?” Taehyung menyahut setengah niat. Kompresan lebamnya masih berada di pipinya itu.
“Berhati-hati jika ada orang baru yang tiba-tiba muncul. Bisa jadi dia adalah dewa kematian atau pembunuh yang tengah menyamar. Dan, orang yang awalnya marah padamu, tiba-tiba jadi baik sekali padamu. Kau tidak ingin salah satu dari temanmu di bunuh dan hilang lagi, bukan?” tanya Dokter Jung santai.
“Tidak. Itu tidak akan terjadi lagi.” ujar Taehyung pasti. Ia yakin setelah ini, tidak ada hal aneh yang terjadi lagi. Ya, tidak akan pernah lagi.
“Kalau begitu…” Dokter Jung sedikit menggantungkan ucapannya, kemudian ia bangkit dari duduknya. Ia mengembuskan napas, dan berjalan menuju pintu keluar lagi,
“Kau pasti ‘kan Namjoon itu manusia atau bukan. Karena dia satu-satunya siswa baru di sini, kan? Siapa tahu dia pelakunya, dan dia adalah ‘devil’nya. Begitu juga dengan So Hyun. Mungkin ‘soul’nya juga sedang dimainkan.”
Taehyung termenung mendengar ujaran Dokter Jung. Ia merasakan apa yang ia curigai selama ini adalah benar. Batinnya sudah berkali-kali mengatakan bahwa Namjoon pelakunya.
Ya, itu pasti. Pasti Namjoon adalah ‘dewa pembunuh’ seperti yang jelaskan dokter Jung. Kalau soal So Hyun, entahlah ia tidak pernah merasa ada yang ganjil dengan gandis itu.
“Saya hanya menyarankan saja.” ujar Dokter Jung santai.
Taehyung masih terdiam dengan pikiran yang terus menggeluti perasaan dan otaknya. ‘Kenapa semakin lama, semakin rumit?!’ rutuk batinnya, ketika mendapati Dokter Jung keluar lagi UKS. ‘Gila. Ini semakin gila!’
***
Selama pelajaran berlangsung, Jimin dan So Hyun hanya diam seribu bahasa. Jimin yang sekarang duduk bersebelahan dengan So Hyun, hanya dapat membungkap mulutnya.
Tatapan gadis itu juga masih sangat tajam dan sinis terhadap dirinya. Tiap kali Jimin mengajaknya berbicara, So Hyun tidak menanggapinya. Menatapnya pun tidak, apa lagi menjawabnya.
Saat pelajaran Matematika, Jimin hanya diam sambil mencorat-coret buku tulisnya. Sementara, So Hyun terlihat sibuk mencoba memecahkan sebuah soal yang cukup sulit.
Entah mengapa, semangat belajarnya hilang karena rasa bersalah itu. Sesekali Jimin melirik ke arah So Hyun, namun gadis itu masih fokus dengan soal matematika yang berada dihadapannya. Lagi-lagi, Jimin hanya bisa mengembuskan napasnya.
Jam pelajaran kedua sudah hampir berakhir, namun mereka berdua tak berbicara sedikitpun. So Hyun tetap pada rasa fokusnya, Jimin masih pada pikirannya. Mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Atau, Jimin yang gengsi mengajak obrol So Hyun. Nyalinya seperti menciut ketika harus berbicara dengan So Hyun dengan keadaan seperti ini. Ia merasa dirinya bodoh.
.
.
.
Bel istirahat berdering keras sekali. So Hyun menatap keluar kelas sebentar, kemudian menutup buku matematikanya. Gadis itu tersenyum singkat, dan bangkit dari tempat duduknya.
Ketika ia akan meninggalkan tempat duduknya tanpa sepatah kata pun, Jimin langsung menahan So Hyun cepat. Ekspresinya sangat kalut, ia benar-benar merasa sangat bersalah.
“Maaf…” ujar Jimin dengan setengah bergumam. Ia menatap So Hyun sedih.
So Hyun membalas tatapan sedih itu dengan tatapan dingin. Ia tidak menyahut ataupun melepas tangan Jimin. Ia hanya diam menatap Jimin dingin dan penuh rasa kecewa. So Hyun tetap pada tatapan matanya yang begitu menusuk, hingga Jimin mulai berbicara lagi.
“Maaf sudah membohongimu. Aku sungguh minta maaf.” ujarnya sekali lagi. Kali ini, suara Jimin menjadi sedikit parau dan pelan. Berbeda dengan biasanya.
So Hyun hanya mendesis sinis. Ia merasa waktunya sedikit terbuang hanya untuk mendengar suara parau Jimin itu.
Ketika So Hyun melanjutkan langkahnya lagi dengan melepaskan tangan yang menggengamnya, Jimin mengeratkan genggamannya.
“Maaf. Aku minta maaf. Aku dan Taehyung membohongimu karena…” ucapan Jimin terpotong oleh sahutan So Hyun yang terdengar begitu sinis.
“Karena aku dekat dengan Namjoon sunbae, seperti kata Taehyung tadi pagi?” So Hyun menjawab dengan begitu sinis. Ekspresi datar, tatapan yang menusuk. Itulah yang terbaca di wajahnya ketika menyela ucapan Jimin itu. “Sudahlah. Urus saja rahasia kalian itu.”
“Aku tahu berbohong itu salah. Aku tidak berniat menyimpan rahasia sendirian dengan Taehyung. Sungguh! Itu aku lakukan, karena aku dan Taehyung tidak ingin kau depresi lagi. Mengingat betapa depresinya kau dengan kematian dan hilangnya In Hyong… Aku tidak ingin kau juga mengetahui Eun Soo meninggal. Aku tahu betul betapa sedih dan depresinya kau saat itu. Karena itu aku dan Taehyung ingin menyimpan cerita tentang Eun Soo ini… sampai menemukan waktu sesuai. Soal Taehyung yang menyangkut pautkan pada Namjoon sunbae, itu hanya kiasan belaka. Taehyung sengaja membuatmu marah. Aku juga tidak tahu dengan jalan pikirannya. Tapi, aku yakin ia memliki maksud lain. Dia tidak bermaksud melukai perasaanmu dengan ujarannya yang begitu menusuk itu.” jelas Jimin dengan penuh keyakinan, suaranya semakin parau.
“…” So Hyun hanya diam menatap Jimin. Ia menutup matanya sebentar. Memang benar apa yang dikatakan Jimin terhadap dirinya.
“Bisakah kau memaafkanku?”
So Hyun melepaskan genggaman tangan Jimin sedikit keras. Ia menatap Jimin dingin, “Tidak, aku belum bisa memaafkan kalian.”
“Kenapa kau tidak memaafkanku?”
So Hyun mengembuskan napas beratnya. Ia merasakan buliran air bening mulai menggenangi pelupuk matanya. Sebisa mungkin ia menahan untuk tidak menangis. So Hyun memasang wajah sedingin mungkin, dan tatapan tajam kepada Jimin.
Mendengar ujaran So Hyun, Jimin hanya bisa terdiam lesu. Ia yakin, So Hyun memasukkan ucapan Taehyung itu ke dalam batin perasaannya. Melihat So Hyun pergi dengan langkah cepat, Jimin hanya bisa mengembuskan napas frustasi.
‘Lalu, aku harus apa sekarang?’ Jimin bergumam seorang diri melalui batinnya. Matanya tetap mengekori So Hyun sampai menghilang di luar kelas. ‘So Hyun-ah, ada apa dengan dirimu?’
***
Sebelum sampai di taman belakang sekolah, air mata So Hyun sempat mengalir di kedua pipinya. Ia berjalan secepat yang ia bisa. Seperti tadi pagi, harapannya air mata ini akan cepat mengering.
Dibohongi oleh seorang teman yang kau percaya, bagaimana rasanya? Kecewa. Ya, hal itu masih saja menyelubungi So Hyun. Ditambah, ia bertengkar dengan mereka juga. Batinnya semakin merasa tertekan dan sesak.
So Hyun menghentikan langkahnya di depan kursi yang tadi pagi ia duduki. Ia menatap sekitar, mencari sosok Namjoon. Namun, Namjoon ternyata belum di sana.
Gadis itu hanya menghela napas pelan, kemudian duduk di kursi tersebut. Ia menatap sekitar sebentar, lalu menatap arlojinya.
“Padahal aku sudah terlambat 5 menit, kenapa sunbae belum datang juga?” Ia bergumam seorang diri sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya.
Ketika ia masih menatap arlojinya, terdengas suara helaan napas di telinganya. So Hyun langsung mengadahkan kepalanya dan menoleh ke sumber helaan. Tidak ada siapa-siapa di sekitarnya. Hanya ada tanaman bunga mawar dan pohon maple tua. Ya, pemandangan yang sudah sering ia lihat.
So Hyun menatap sekitarnya dengan posisi yang sama. Sesuatu mengejutkannya. Ketika ia menoleh ke samping kanan, tiba-tiba ada sebuah kepala wanita menatapnya. Tepat sekali di sebelahnya, ah tidak, bahkan menempel di pipi kanannya. Apalagi, kepala wanita itu hancur sebelah hingga memperlihatkan tengkoraknya.
“AKH!” pekik So Hyun kencang sambil menggeser posisinya menjauh.
Wanita tengkorak itu tersenyum aneh dengan mata yang hilang sebelah. Hanya satu mata, itu juga hanya ada bagian putihnya saja. Tak ada kornea ataupun lensanya disana.
Benar-benar putih, dan memperlihatkan saraf merahnya. Wajah So Hyun seketika memucat melihat sosok itu. Wajah dari sosok itu hancur total.
Sosok itu tetap tersenyum aneh kepada So Hyun. Sedangkan, So Hyun masih menggeser duduknya menjauhi sosok wajah itu. Hingga pada akhirnya, tubuhnya terbentur pinggiran kursi taman yang sudah karatan itu. So Hyun meraba-raba pinggiran kursi itu, dengan mata yang masih menatap sosok yang sangat mengerikan itu.
Dari belakang, sosok lain tiba-tiba menempel di punggung So Hyun sambil tertawa. Kedua tangannya kurus kering dan jari tangan yang panjang. Kulitnya keriput bagaikan nenek-nenek yang sudah sekarat.
So Hyun berusaha keras melepas tangan-tangan itu. Sayangnya, tangan itu malah berpindah tempat. Tangan yang satu bergerak ke pinggang, sedangkan yang satunya bergerak keleher. Sepertinya, sosok itu ingin mencekik So Hyun.
So Hyun menggenggam erat dan menarik-narik tangan yang berada di lehernya. Ia terus berusaha melepaskan tangan-tangan itu. Andai saja ia tidak tercekik, pasti ia sudah berteriak sejak tadi.
Napas So Hyun sudah seperti ‘ngik-ngik’ karena cekikan sosok itu. Cekikan itu makin lama, semakin erat. Hingga ia juga dapat merasakan perutnya seperti dipelintir seperti pakaian basah. Tapi, ia tidak putus asa begitu saja. Ia menetakan tulang hasta sosok itu keras-keras.
Sosok itu langsung menarik tangannya dan melepaskan cekikkannya. So Hyun memegang sesuatu di tangannya. Tangan yang ia gunakan untuk menekan tulang hasta sosok itu keras-keras. Ia mendelik ke arah apa yang ia pegang.
Itu tangan…
Tangan dari sosok itu putus… Kemudian bergerak sendiri, bagaikan ekor cicak. Dengan cepat, So Hyun melempar tangan itu.
Suara tawa puas seorang wanita begitu bergema di gendang telinganya. Ia bangkit dari kursi itu dan menatap ke sekelilingnya. Tidak ada tubuh yang menempel di punggungnya.
Tangan yang putus itu masih menggeliat-liat di rerumputan. Ketika So Hyun menoleh ke arah kursi itu lagi, kepala wanita tadi masih ada. Tapi, hanya kepalanya saja. Tanpa badan.
Kepala wanita itu terbang menghampirinya dengan suara tawa yang menggelegar. Wajah So Hyun sudah pucat total. Bibirnya juga sudah memutih. Mungkin karena cekikkan tadi, ia tidak dapat mengeluarkan suara sekeras seperti sebelumnya. Gadis itu hanya bisa mendongak menatap kepala yang terbang sambil tertawa itu dengan langkah kaki yang berjalan mundur.
Langkah kaki yang mundur itu sudah menemukan jalan buntu. Di belakangnya sudah terdapat batang cambium pohon maple yang sudah lumutan itu. Tangan So Hyun meraba-raba kambium itu untuk mencari sandaran.
Kepala tanpa badan yang terbang bagaikan burung itu, tiba-tiba terbang ke arah yang tidak menentu. Menyisakan helaian rambut yang terbang ke arah So Hyun.
Belum sempat mengembuskan napas lega, ada sosok lain lagi datang. Kali ini, mengimpit dan mengunci tubuh So Hyun dengan memanfaatkan batang kambium pohon maple tua itu secara tiba-tiba.
Tangan kanan So Hyun dicengkram erat oleh sosok itu, begitu juga yang satunya. Karena sudah terlalu pucat dan pusing, So Hyun hanya bisa menutup matanya kaget.
Kepalanya seperti diputar-putar. Ia tidak dapat melihat dengan jelas. Kedua kakinya juga bergetar hebat. Tapi cengkraman sosok itu yang menahan tangannya di samping kepalanya, seperti membuatnya untuk tetap berdiri secara paksa.
“Bertengkar dengan sahabat, ya? Rupanya, kau mudah sekali di kendalikan.” sosok itu berujar santai.
Tubuhnya terasa sesak, impitan sosok itu seolah-olah ingin meremukan kerangka tubuhnya. So Hyun bisa merasakan embusan napas dingin di telinga kanannya. Saat itu juga, tubuhnya kembali membeku. Warna kebiruan itu kembali muncul dari kaki dan ujung jarinya, terus melebar jika sosok itu terus mengembuskan napas dinginnya.
“Kalau sendirian nanti aku culik, lho.” bisik sosok itu di telinga So Hyun.
Warna kebiruan itu mulai melebar hampir ke seluruh tubuh So Hyun. Gadis itu bisa mengenali suara itu. Suara yang sama dengan sosok yang pernah menghampirinya di rumah sakit. Sosok itu laki-laki yang pernah berkata akan mengawasinya.
So Hyun mulai membuka matanya perlahan. Wajah laki-laki itu sudah berada di hadapannya dengan jarak cukup dekat. Apa yang So Hyun bayangkan selama ini salah. Wajah laki-laki itu sama seperti manusia biasa. Bukan menyerupai setan.
Laki-laki itu tersenyum licik sambil menatap So Hyun, “Apa aku culik sekarang saja, ya?” Laki-laki itu kembali berbisik dengan senyum jahatnya.
So Hyun menatap laki-laki itu datar. Hampir seluruh tubuhnya berwarna kebiruan, hanya menyisakan bagian lengan atas, paha dan wajahnya saja yang belum terkena.
Laki-laki itu sedikit terkekeh, kekehan kemenangan langsung menyertainya. Cengkraman tangan yang sangat kuat, impitan badan yang seolah ingin meremukan tubuhnya, kaki yang di injak, itu semua membuat So Hyun tidak bisa bergerak.
Laki-laki itu menghentikan kekehannya. Matanya menatap ke arah bibir So Hyun. Laki-laki itu juga mendekatkan bibirnya mendekati bibir So Hyun yang sudah putih pucat itu. Sedikit lagi, sosok laki-laki itu sepertinya akan mencium So Hyun. Namun, ia kembali menatap So Hyun.
“Bagaimana kalau aku bekukan dirimu terlebih dahulu?” Laki-laki itu berujar lima sentimeter tepat di depan hidung So Hyun.
So Hyun menutup matanya rapat-rapat. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Matanya yang memejam terlalu rapat itu, menimbulkan kerutan di pinggiran mata, hidung, begitu juga dengan dahinya.
Bibir laki-laki itu mulai bergerak mendekati bibirnya, So Hyun memundurkan kepalanya hingga benar-benar terbentur batang pohon itu.
Napas dingin laki-laki begitu terasa di kulit wajah So Hyun. Gadis itu menggigit bibir bagian dalamnya, dan terus mencoba menghindar. Ia memikirkan segala cara untuk kabur dan menjauhi sosok aneh itu. Namun, badannya benar-benar terimpit. Tinggal sedikit lagi…
***
To Be Continue
***
Jangan lupa Vote Comment ya!! Menegangkan part ini? Udah kayak di film-film horror😂