
PREVIEW :
Jimin tak bisa menahan rasa kejutnya ketika seseorang memecahkan lamunannya di atap sekolah ini. Ia dikejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki yang ia lihat di UKS bersama Dokter Jung tadi siang. Laki-laki yang tersenyum dengan gigi putih itu, sama sekali tidak mengeluarkan suara apapun.
"SIAPA KAU?!" ujar Jimin keras. Namun, laki-laki itu hanya membalasnya dengan suara kekehan licik.
Jimin berdiri dari posisinya dan berjalan mundur dengan tangan yang memberi isyarat kepada laki-laki itu untuk mundur. Namun, laki-laki yang tersenyum licik itu tidak menggubrisnya. Ia tetap melangkah maju dengan kedua tangan yang berada di saku celananya.
Sekali lagi, Jimin memundurkan langkahnya. Ia juga melihat ke belakang alih-alih agar ia tidak jatuh atau sudah mencapai ujung atap yang rata itu. Ia tidak bisa menahan ekspresi terkejut dan anehnya. Kerutan dahinya bahkan begitu terlihat.
"Kau mendengar semuanya, kan?" Pada akhirnya, laki-laki itu menghentikan langkah kakinya. Kemudian, membuka mulut dan melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Jimin sedikit merinding.
"Apa... apa yang kau katakan? Mendengarkan apa?" tanya Jimin yang sedikit terusik.
Laki-laki itu tersenyum licik dengan setengah mengendus, "Kau adalah orang yang berada di depan UKS tadi, kan? Kau mendengar semua obrolanku dengan Dokter Jung, kan? Jangan kira kalau aku tidak melihatmu."
Mata Jimin sedikit membulat. Ia tidak menyangka bahwa laki-laki yang ada di hadapannya mengetahuinya. Padahal, ia ingat betul kalau laki-laki itu tidak menoleh ke arahnya sama sekali.
Jangankan menoleh, kedua mata laki-laki itu hanya menatap lawan bicaranya saja. Jimin sedikit meneguk ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering.
"Kau yang ada di sana, kan?" Laki-laki itu kembali menyerdik.
Jimin mengatus ekspresi wajahnya agar sedikit terlihat tenang. Namun, tidak bisa. Ia mengembuskan napasnya, kemudian menjawab ucapan laki-laki itu. "Bagaimana... kau bisa tahu?"
***
Laki-laki itu mengendus tenang. Ia juga sempat terkekeh kecil mendengar pertanyaan Jimin itu. Laki-laki itu mengeluarkan tangannya dari sakunya, kemudian berkata, "Itu rahasiaku. Kita saja belum saling mengenal. Aku Min Yoon Gi. Anak dari kepala sekolah ini."
"Tidak mungkin. Aku ingat betul kalau kepala sekolah tidak punya anak laki-laki sepertimu." celoteh Jimin cepat.
Laki-laki yang bernama Yoongi itu menjentikkan jarinya sambil kembali tersenyum licik. Ia kembali terkekeh seperti memamerkan giginya, "Tepat sekali. Pertanyaanmu sama seperti teman perempuanmu kala itu. Aku memang bukan anak 'tetap' dari kepala sekolah. Tapi, aku hanya anak 'sementara'" jelas laki-laki itu santai.
"Apa? Jadi... kau pelakunya? Kau yang membunuh semua orang yang menjadi misteri selama ini?" tanya Jimin langsung.
"Kau sudah mengetahui jawabannya." sahut Yoongi cepat.
"Kau gila! Kenapa kau membunuh mereka yang tak bersalah?!" tanya Jimin keras.
"Aku membunuhnya sesuai dengan permintaan mereka. Gadis yang bernama Eun Soo itu, meminta dirinya untuk mati dan menyusul ibunya. Guru Yoo yang sedikit stress dengan pekerjaannya juga berkata yang sama. Ibunya Eun Soo juga berkata hal yang sama. Mi So juga mengatakan hal itu. Aku hanya melaksanakan tugasku saja." jelas Yoongi mendelik ke suatu arah. Ia merasa ada yang menuju ke tempatnya saat ini.
Jimin terdiam dengan tubuh yang sedikit kaku. Ia terkejut ketika laki-laki ini adalah raja dari semuanya yang terjadi, "Jangan bilang kau juga yang membunuh In Hyong?!"
Yoongi kembali menatap Jimin dengan senyuman liciknya itu, "Benar sekali! Kau adalah anak yang pintar rupanya!"
"Kau pasti yang memaksakan mereka untuk mengatakannya!" serdik Jimin yang mulai melupakan rasa terkejut dan takutnya itu.
"Mengatakan apa? Aku tidak mengatakan apa-apa pada mereka. Mereka sendiri yang mengatakannya, kau tahu? Untuk apa kau membuang-buang tenaga hanya untuk hal itu?" balas Yoongi sinis.
"Aku tahu kau bisa memainkan 'soul' orang lain. Kau yang memainkan 'soul' mereka, kan? Kau sengaja melakukan hal ini untuk membuat So Hyun drop. Kau juga menggunakan 'soul' mereka untuk menghantuinya. Aku tahu itu!" sahut Jimin keras. Ia harus melawan sosok yang sudah menjadi penjahat dari semuanya ini.
"Kau hebat sekali. Kenapa kau sangat pintar, Park Ji Min? Ya, aku yang memainkan mereka semua. Apa kau juga mau? Aku bisa memainkan 'soul'mu kapanpun..."
"Kau kemanakan jasad mereka?!" sela Jimin dengan pertanyaannya itu. Ia benar-benar tidak tahan untuk melihat dan mendengar celotehan laki-laki itu.
"Kau mau tahu?" tanya Yoongi dengan tatapan mengejeknya. Bola matanya berubah menjadi mengkilat seketika. "Kau benar ingin tahu?"
Jimin memundurkan langkahnya perlahan, "Ya, tentu." jawabnya sedikit ragu.
Yoongi sedikit menjentikkan jarinya. Tiba-tiba saja, seorang gadis yang begitu familiar dimata Jimin muncul. Entah dari mana asalnya, gadis itu muncul dengan kedua tangan dan kaki yang diikat hingga membuatnya meringkuk.
Jimin membulatkan matanya ketika melihat gadis yang terikat itu. Itu... adalah sosok yang paling ia cari.... Cha In Hyong.
"Kau tanyakan saja padanya. Dia adalah sosok yang paling kau cari, kan?" Nada bicara Yoongi memang seperti kurang ajar. Bola matanya yang sudah mengkilat itu, terus menatap Jimin tanpa berkedip.
"In Hyong-ah!" pekik Jimin tak tahan. Ingin sekali ia berlari mendekati gadis yang terikat dengan tambang besar itu, namun naluri dalam dirinya menahannya.
"Baiklah. Aku yang akan melepaskannya." ujar Yoongi yang kemudian berjongkok di hadapan In Hyong dan melepas semua ikatan tambang besar itu.
Tak tanggung-tanggung, bukan membantu gadis itu berdiri dengan lembut, Yoongi malah menjambak rambut gadis itu agar berdiri dengan paksaan yang keras.
"Jauhkan tanganmu darinya! Kau hanya melukainya!" pekik Jimin sekali lagi. Kedua matanya tidak lepas menatap In Hyong yang dipenuhi luka itu. "Lepaskan jambakkanmu!"
"Jimin..." In Hyong mengeluarkan suaranya yang lemah, hingga membuat Jimin terdiam. Namun, Yoongi tidak melepaskan jambakkan dari rambut gadis itu. "Aku mohon tolong aku..."
Jimin tidak bisa menahannya. Ia mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia juga menggigit bibir bagian dalamnya keras. Laki-laki itu sudah kelewatan melukai orang yang pernah ia sukai itu. Atau masih bisa dibilang, Jimin masih menyukai In Hyong.
Yoongi yang sedang tersenyum licik itu, menatap Jimin yang mulai terpancing amarahnya. Ia memanfaatkan kondisi ini dengan menarik wajah In Hyong ke hadapannya.
Jimin dapat melihat apa yang dua orang itu lakukan dari tempat ia berdiri. Mereka terlihat seperti sedang berciuman. Padahal, Yoongi hanya melemparkan tatapannya itu dan memberi suatu isyarat pada In Hyong. Saat itu pula, kaki gadis itu melemas. Gadis itu terjatuh dengan kepala yang menunduk, membuat Jimin semakin memikirkan yang tidak-tidak.
"Wah! Sepertinya dia lelah..." ujar Yoongi dengan nada mengejeknya.
"Kau urus saja dia. Nikmati waktu kalian. Selamat ber-reuni-an ria!" ujar Yoongi yang berjalan ke arah pintu atap sekolahnya.
Jimin berjalan menghampiri tubuh In Hyong yang terlihat lemas itu. In Hyong tidak mengangkat kepalanya atau menggerakannya sedikit pun.
Jimin tak bisa menahan rasa kesal dan marahnya itu, langsung menarik gadis itu untuk berdiri, kemudian memeluknya. Yoongi dengan santai menonton semua acara 'reuni' yang manis itu dengan senyum kemenangan.
Sayangnya, acara 'menonton'nya itu terganggu dengan kehadiran Namjoon yang tiba-tiba membuka pintu atap itu. Dengan cepat, Yoongi menghalau jalan Namjoon. Senyum kemenangan yang sangat licik itu masih menghiasi wajahnya. Namjoon menghentikan langkahnya ketika mendapati Yoongi menghalanginya.
"Ku terlambat, Namjoon-ssi..." ujar Yoongi yang masih menghalangi langkah laki-laki itu.
Namjoon tidak bisa menahan tatapan kesalnya terhadap Yoongi. Ia berusaha keras menyingkirkan Yoongi dari hadapannya, lalu pergi untuk menyadarkan Jimin. Namun, Yoongi tidak mau berpindah tempat. Ia pun menghajar Namjoon secara tiba-tiba, kemudian menelungkupkannya. Yoongi tersenyum puas, ketika ia sudah duduk dengan santainya di atas punggung Namjoon.
"Mari kita lihat acara 'reuni' ini." Yoongi berujar dengan nada senang. Namun, terdengar sangat mengejek di telinga Namjoon.
Namjoon seperti tidak bisa apa-apa sekarang. Tubuhnya harus menangung bobot tubuh Yoongi yang tengah mendudukinya santai. Kedua tangannya juga ditarik ke belakang dan dipegangi erat oleh Yoongi. Saat ini hanya kedua kaki dan kepalanya saja yang masih bisa digerakan dengan bebas.
Jimin memeluk tubuh In Hyong erat dan mulai mengatakan sesuatu dengan mendesis pelan. In Hyong yang di peluk oleh Jimin itu hanya bisa menangis tanpa mengatakan apapun.
"Aku senang kita bisa bertemu lagi. Aku kira kau sudah mati..." ujar Jimin, ketika ia menyudahi pelukannya terhadap In Hyong itu.
"Ya, aku juga..." sahut In Hyong dengan kepala yang masih menunduk.
"Cha In Hyong tatap aku..." ujar Jimin yang menggenggam kedua tangan In hYong lembut. Ia ingin sekali bertatap langsung dengan gadis yang masih ia sukai ini.
"Tidak! Jangan! Jimin-ah!" teriak Namjoon yang berteriak sekencang mungkin.
Yoongi semakin mengeratkan genggamannya untuk menahan tangan Namjoon agar tidak lepas. Namjoon masih saja berusaha pelepaskan dirinya itu. Seketika, suara tawa Yoongi kembali terdengar.
"Kau teriak sekencang apapun, mereka tidak akan dengar." ujar Yoongi santai. Ia kembali menonton sebuah 'reuni' itu dengan santai. Ia seperti menanti sesuatu terjadi.
In Hyong tak kunjung mengangkat kepalanya. Hingga akhirnya, Jimin menyentuh dagu gadis itu. Kemudian, mengangkat kepala gadis itu agar menatapnya lurus.
Ketika tatapan mereka sudah bertemu, tubuh Jimin seakan-akan membeku. Gadis itu menatap Jimin dengan tatapan teduh, hingga membuat Jimin terdiam.
"Baiklah. Sudah dimulai. Namjoon-ah, kau harus lihat ini." ujar Yoongi bersamaan dengan suara kekehannya. Namun, Namjoon hanya bisa menatap sedih itu.
"Aku... aku..." ujar Jimin terbata-bata. Entah mengapa, lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan gadis yang ia sukainya itu.
Tiba-tiba, In Hyong mendekatkan jarak di antara mereka. Gadis itu sedikit berjinjit dan mendekatkan bibirnya ke bibir Jimin.
"Aku menyukaimu..." ujar In Hyong dengan napas dingin. Jimin terdiam membeku. Ia hanya bisa menatap wajah In Hyong yang semakin mendekat.
Namjoon terus mengelak agar bisa melepaskan dirinya. Ia ingin sekali berlari ke sana dan menampar Jimin agar sadar bahwa di hadapannya memang In Hyong, tapi yang 'lain'.
Yoongi yang merasa 'hal' itu sudah akan terjadi, melepaskan Namjoon begitu saja. Saat itu juga, Namjoon langsung bangkit dan berlari menuju Jimin. Tapi, sesuatu menghambat langkah kakinya.
"Aku jug... Akh!" pekik Jimin dengan kedua mata yang terbelalak.
"Tidak! Jimin-ah!!" pekik Namjoon keras.
Yoongi tersenyum licik ketika melihat hal itu. Ia terkekeh senang. Lalu, In Hyong sedikit menoleh ke arahnya, kemudian mengangguk kecil. Yoongi membalas anggukkan kepala gadis itu dengan acungan jempolnya.
Merasa tugas untuk 'menghukum' Jimin sudah selesai, ia pun membalikkan badannya dan menghilang begitu saja. Tak hanya Yoong Gi yang menghilang begitu saja, In Hyong pun juga.
"Itu hukumanmu..." ujar Yoongi licik, sebelum ia benar-benar pergi dan meninggalkan atap sekolah itu.
***
Perban yang dibalutkan itu rasanya lebih dari cukup untuk mengobati luka goresan yang lebar dan darah yang mengucur.
Taehyung berjalan dengan kondisi tangan yang memang sudah dibalut perban yang cukup tebal. Karena dirinya yang tidak berhenti memukul-mukul dinding, jadilah luka yang cukup fatal itu.
Beruntung retakkan tulang yang dialaminya adalah retakkan ringan, sehingga dapat sembuh dengan sendirinya. Berkat luka itu juga Taehyung bisa menghilangkan kekesalan dan kekecewaannya. Ya, meskipun tidak seluruhnya rasa itu menghilang.
Ia melangkahkan kakinya di lorong lantai 3 dengan santai. Ia baru saja menyelesaikan pelajaran susulan yang menjadi hukumannya karena tidak mengikuti pelajaran 1 sampai 4.
Ia seperti siswa terakhir yang pulang. Ia mengusap wajahnya sedikit frustasi dengan diikuti suara dehaman. Tak hanya di situ, ia juga sempat menendang dinding lorong itu tanpa alasan.
Ketika ia kembali melanjutkan langkah kakinya menuju tangga, seseorang memanggilnya dengan suara yang parau. Suaranya terdengar begitu familiar di gendang telinga Taehyung. Taehyung menghentikan langkah kakinya, namun ia tidak membalikkan badannya. Ia hanya mendecak lidah. Ia sangat mengenal pemilik suara itu. Suara So Hyun.
"Taehyung-ah..." panggil So Hyun sekali lagi. Suara tangis sesegukannya terdengar sangat mendominasi.
Taehyung tak menyahut apapun. Ia hanya mengembuskan napas beratnya dan hendak melangkahkan kakinya lagi. Namun, sebuah cengkraman tangan menahannya untuk pergi. So Hyun menarik lengan jas sekolah laki-laki itu erat dengan tangan yang sedikit bergetar.
Taehyung menghentikan langkahnya lagi. Dan, membiarkan tangan bergetar milik gadis itu menarik lengan jasnya. Yang bisa ia lakukan saat ini untuk menahan rasa kesalnya adalah mengembuskan napas keras-keras, hingga membuat bahunya naik turun tak pasti.
"Maaf..." ujar So Hyun pelan. "Aku minta maaf.... Aku-lah yang sedang berbohong padamu. Bukan, kau yang sedang berbohong padaku. Kumohon... maafkan aku." Gadis itu terus meminta maaf dengan suara yang sangat serak.
Awalnya, Taehyung hanya berniat untuk menyingkirkan tangan gadis itu dan melangkah pergi begitu saja. Tapi sepertinya, hal itu tidak akan terjadi saat ini. Ia sedikit mengepalkan tangannya yang tidak terluka ketika mendengar permintaan maaf dari So Hyun. Denyutan di tangannya satunya lagi semakin terasa, karena ia memaksakan dirinya untuk mengepalkan tangannya yang terluka itu.
"Aku minta ma..." So Hyun tidak bisa melanjutkan ucapannya, ketika Taehyung langsung membalikkan badan tiba-tiba.
Laki-laki itu menatap So Hyun kesal. Tatapan kesal yang dingin itu begitu menusuk di mata So Hyun. Sampai-sampai, ia bisa melihat pantulan dirinya di bola mata Taehyung. Sejenak, mereka bertukar pandang dan terdiam. Lalu, diakhiri dengan endusan napas Taehyung.
"Kau pergilah..." ujar Taehyung. "Kau pergi saja dengan laki-laki itu."
So Hyun mengelap air matanya yang masih mengalir, "Apa maksudmu?"
"Kau selesaikan masalahmu sendiri. Jangan pernah menemuiku lagi. Aku sudah lelah membantumu." ujar Taehyung yang terdengar tidak jelas.
"Kenapa?" tanya So Hyun serak.
"Karena kau sudah memiliki pengawal sesungguhnya, kan? Kau juga sedang membohongiku. Untuk apa aku membantu seorang pembohong." jawab Taehyung dengan penuh penekanan pada kata 'pembohong'nya.
So Hyun tidak bisa menahan air matanya lagi. Taehyung seperti benar-benar kesal padanya.
Disaat So Hyun terdiam, Taehyung langsung membalikkan badannya lagi. Ia merasa sudah tidak yang harus dikatakan lagi. Rasanya, ia ingin sekali pergi dari hadapan gadis itu. Rasa sukanya terhadap So Hyun, mulai hancur begitu saja karena rasa kesalnya itu.
So Hyun mendelik ke salah satu tangan Taehyung. Tanpa aba-aba, So Hyun menarik tangan yang terdapat balutan perban itu. Dengan sangat terpaksa, Taehyung kembali menghentikan gerakan langkah yang sempat tertunda. Ia mendecakkan lidahnya, kemudian menggretakkan giginya keras. Ia merasa rahangnya seperti ikut mengeras.
"Apa luka ini karena aku?" tanya So Hyun dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Bukan. Ini karena ulahku sendiri. Untuk apa aku melukai diriku sendiri hanya untuk seorang pem..."
"Pembohong! Aku tahu! Maafkan aku... Aku tidak bermaksud membohongimu... sungguh..." So Hyun menyela ucapan Taehyung cepat dan kembali menunduk.
Taehyung dapat merasakan tetesan air mata So Hyun jatuh di atas telapak tangannya yang tidak tertutupi perban. Melihat gadis itu menangis lagi, rasanya ia merasa ada yang tersangkal di batinnya. Ia menjadi merasa bersalah.
Laki-laki itu mengembuskan napasnya, "Berhentilah menangis."
So Hyun tidak mengindahkan ucapan Taehyung. Ia kembali menangis sesegukan sembari begumam kata 'maaf' berulang-ulang. Ia mengeratkan genggamannya pada lengan jas Taehyung yang satunya. Tangisan gadis itu semakin menjadi.
"Sudah aku bilang berhentilah menangis! Apa kau tidak dengar?!" ujar Taehyung dengan sedikit kasar.
So Hyun menggelengkan kepalanya cepat, "Tidak! Aku tidak akan berhenti menangis! Bagaimanapun juga aku yang salah! Aku-lah yang membohongimu! Aku juga sudah memukulmu kala itu. Dan rasa bersalah ini... tidak akan menghilang sampai kau berkata... bahwa kau telah memaafkanku." So Hyun bersikeras untuk tidak menuruti ucapan Taehyung sebelumnya. Ia tetap menangis sesegukan.
Taehyung tak tahan dengan rasa kesalnya sendiri, langsung menarik So Hyun untuk menatapnya dengan jarak yang lebih dekat.
So Hyun menatap Taehyung yang lebih tinggi darinya itu dengan tatapan sendu. Ia masih belum bisa menghentikan tangisannya. Ia benar-benar merasa sangat bersalah sekarang.
"Dengarkan aku! Aku tidak akan sekesal ini, kalau kau tidak bersama Namjoon pagi tadi! Aku akan menerima semua kebohongan begitu saja, selama kau tidak bersamanya. Kau tahu, aku sudah menaruh perasaanmu semenjak semua tragedi ini terjadi. Tapi, apa yang aku dapat? Kau memukulku hingga lebam ini sulit dihilangkan." jelas Taehyung panjang.
"Maaf..."
Hanya itu yang bisa So Hyun ucapan dari bibirnya. Ia tidak bisa menjawabnya, selain dengan kata 'maaf'. Jantungnya juga terasa mencelos, ketika mendengar bahwa Taehyung memiliki perasaan terhadap dirinya. Saat ini, ia hanya bisa menghentikan tangisannya dengan paksa dan berdiam diri.
Sret!
Taehyung memeluk So Hyun sedikit longgar. Jarak mereka pelukan tidak terlalu dekat. Atau lebih tepatnya, Taehyung hanya meletakkan dagunya di bahu kiri So Hyun saja. Merasakan dagu dan embusan napas Taehyung, So Hyun sedikit memejamkan matanya dan tersenyum tipis.
"Baiklah... Aku akan memaafkanmu, jika kau berhenti menangis." ujar Taehyung dengan setengah berbisik. Entah mengapa, batinnya tidak kuat melihat seseorang menangis di hadapannya. Sama seperti, ia menatap Eun Soo yang menangis pada waktu itu.
So Hyun melepaskan genggamannya pada lengan jas sekolah Taehyung. Ia mulai mengukir senyum tipis dengan mata yang sedikit terbuka.
Ia memeluk Taehyung dengan kedua tangannya. Taehyung membalas pelukan So Hyun dan memperpendek jarak diantara mereka berdua. Ia sedikit melingkarkan tangannya di pinggang So Hyun. Hal itu membuat senyum So Hyun semakin melebar dan terlihat lebih cerah.
Suara tangisan telah tegantikan dengan embusan napas senang. Perlahan tangannya menelusup menyentuh perut Taehyung. Entah apa yang dilakukan gadis itu, tapi Taehyung tetap memeluknya.
Di tengah suasana yang manis itu, seorang gadis menatap mereka dengan napas yang tidak beraturan, serta tangan yang terkepal erat.
"Ya! Kim Taehyung!" pekik gadis itu keras.
---
To Be Continue...
---
Thanks for reading! Selama cerita ini berlangsung /? character manakah yang kalian paling suka? [Me : Jimin]
LIKE COMMENT!!