Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)

Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)
Episode 26 - The Truth Of Our 'Soul'



•BUDAYAKAN LIKE DAN COMMENT SETELAH MEMBACA CERITA INI🙏•


°2 PART TERAKHIR DIMULAI DARI SEKARANG.°


***


Review:


Taehyung memundurkan langkahnya sedikit. Namun, Namjoon menahannya. Dengan terpaksa, Taehyung kembali menjajarkan dirinya. Laki-laki itu berjalan semakin dekat hingga berhenti dibawah sinar matahari yang bisa menerobos rimbunnya hutan. Taehyung bisa melihat sosok laki-laki itu jelas sekarang. Yoongi tengah menatap mereka denga nsenyum miringnya.


"Selamat datang kembali di rumahmu, Kim Namjoon."


***


Setelah rantai di kakinya dilepaskan, So Hyun di tarik oleh sosok hitam tanpa wajahnya keluar dari jeruji besi itu. Teman-temannya yang lain juga ditarik oleh sosok yang tak dikenal lainnya keluar jeruji. Se Jung sudah berjalan keluar terlebih dahulu dengan senyum kemenangannya. Ia berjalan ke sebuah lemari tua, kemudian menarik lacinya.


Kedua tangan So Hyun di tekuk ke belakang, hingga ia tidak bisa memberontak sama sekali. Teman-temannya yang lain di berhentikan beberapa meter dari tempat So Hyun berdiri. Untuk saat ini, So Hyun-lah yang diseret dan berdiri paling dekat dengan posisi Se Jung.


In Hyong menatap Eun Soo serta Dokter Jung dengan ekspresi ingin menangis. Dokter Jung hanya bisa membalas ekspresi In Hyong dengan wajah datar namun ketakutan. Wanita muda itu mencoba menggoyang-goyangkan lengannya agar bisa lepas. Nihil. Cengkraman sosok tanpa wujud yang jelas itu mencengkramnya sangat kuat.


Jimin menatap So Hyun yang berdiri tak jauh di belakang. Pikirannya bergelut takut. Entahlah, satu-satunya orang yang belum tertangkap seperti mereka hanyalah Taehyung. Jadi, secara reflek pikiran mengharapkan kehadiran Taehyung sekarang. Percuma saja Jimin melepaskan cengkraman ini, toh sosok itu akan mencengkram dan menyeretnya lagi.


"Sudah sekian lama aku mencarimu..." ujar Se Jung sembari mengacak lacinya.


So Hyun menatap punggung Se Jung dengan dahi yang mengerut. Gadis itu sedari tadi tidak bisa diam. Berulang kali ia meronta dan menggerakkan lengannya kencang. Ia tidak menyahut ujaran Se Jung sama sekali.


"Aku sudah mencarimu. Beruntung sekali, aku bisa menemuimu sekarang..." ujar Se Jung yang terdiam ketika mendapatkan benda yang ia cari dari dalam laci itu. 


"Tak disangka bukan? Dendamku akan terbalaskan hari ini juga!"


Kedua mata Jimin dan yang lain terbelalak lebar. Sebuah pisau berukuran sedang mengkilat tengah digenggam Se Jung. Gadis itu mendekatkan ujung pisau itu ke pipinya sendiri tak jelas, kemudian mencoba menggoreskan pisau itu diwajahnya sendiri. Anehnya, luka goresan itu merapat kembali dengan cepat. So Hyun merasakan kakinya mulai bergetar seperti tak sanggup berdiri.


"Kau tahu pisau ini, pisau apa? Ini adalah pisau yang digunakan untuk membunuhku di masa lampau. Aku mengambil pisau ini ketika aku berkeliaran di penjuru rumah." ujar Se Jung dengan kekehan pelannya.


So Hyun tercengang. Ia tidak tahu bahwa Se Jung mati karena dibunuh. Gadis itu menggigit bibir bawahnya sekilas, kemudian berkata, "Si... Siapa yang telah membunuhmu?"


Se Jung tertawa kecil dengan tangan yang mengusap bagian tajam pisau itu, "Kau pikir siapa lagi? Calon suamimu itu membunuhku."


Jimin, In Hyong, dan Eun Soo langsung bertukar pandang bersamaan. Dahi In Hyong yang mengerut seakan-akan mengatakan sesuatu. Mereka semua terkejut dengan ujaran Se Jung. Tak ada yang menyangka bahwa So Hyun telah memiliki calon suami.


"Jadi... sakit yang mencengkam di leherku itu... karena urat nadimu digores oleh pisau itu?" tanya So Hyun dengan suara yang mulai melemas.


"Tepat sekali. Dan, aku ingin kau mati juga dengan merasakan tajamnya pisau ini." ujar Se Jung, ia melangkah mendekat menuju So Hyun dengan tatapan biru spiral mengkilatnya.


So Hyun membuang tatapannya. Ia tidak bisa membayangkan betapa tajamnya pisau itu hingga bisa membuat urat nadi Se Jung putus. Ia mencoba untuk menjilat bibirnya yang kering itu, namun rasanya terasa sulit sekali. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Ia belum siap dengan hal ini. Ya, ia belum siap.


"Pisau ini sebenarnya adalah pisau kutukan. Kalau pisau ini tertancap di dada atau di bagian tubuhmu, secara tak langsung rohmu akan masuk ke dalam tubuhku. Kita akan menghilang bersama tanpa sisa, lalu kembali 'pulang'" jelas Se Jung dengan mata yang terlihat melotot itu.


So Hyun tak tahan lagi. Ia memejamkan matanya dan tidak berkutik lagi. Tubuhnya bergetar hebat karena takut. Keringat dingin sudah membanjiri pelipisnya serta telapak tangannya. Ia hanay bisa berdoa saja... Namun mau bagaimana lagi, ini adalah takdirnya setelah reinkarnasi. Mati dibunuh di depan teman-temannya secara langsung.


"Jangan dekati dia!" teriak seorang laki-laki keras.


Se Jung, So Hyun, beserta yang lain sama-sama menoleh ke sumber suara. Jimin mengembuskan napasnya perlahan. Sosok yang satu-satunya bisa diharapkan untuk saat ini telah datang. So Hyun menatap laki-laki itu itu dengan meneguk ludahnya sendiri. Sedangkan Se Jung, senyum senangnya semakin melebar.


"Tae... Taehyung?" ujar So Hyun pelan.


***


Namjoon menatap Yoongi tajam. Taehyung tetap pada posisinya. Namjoon terus menahannya agar tidak melangkah maju. Sesaat dua orang itu hanya bertukar pandangan mata dingin yang menusuk. Taehyung ikut menatap Yoongi dengan tatapan yang sama. Ingin rasanya, ia berlari kemudian masuk ke dalam banguan itu.


"Aku sudah menduga kalau kau akan mengajak orang itu ke sini." ujar Yoongi santai.


Namjoon mengepalkan tangannya erat bersamaan dengan suara dehaman, "Itu bukan urusanmu, kan?"


Yoongi mendengus meremehkan, "Memang bukan. Tapi, percuma saja kau membawanya ke sini. Aku tidak akan membiarkan kalian masuk sebelum penyatuan roh itu berhasil."


"Penyatuan roh? Maksudmu, So Hyun akan..." Tanpa sengaja, Taehyung menyahut ujaran Yoongi itu. Namjoon menatap Taehyung dengan tatapan dingin yang belum melunak.


"Mati. Ya, mungkin hal itu akan terjadi sebentar lagi. Oleh karena itu..." Yoongi menundukkan kepalanya sebentar dan tersenyum licik, "Aku tidak akan membiarkan kalian mengganggu!"


Seketika, Yoongi berlari cepat dengan kepalan tangan yang sangat erat. Namjoon sudah bersiap menerima pukulan laki-laki itu lagi. Namun, perkiraannya salah. Yoongi tidak mengarahkan serangannya kepada Namjoon, melainkan kepada Taehyung. Karena Taehyung terkejut dengan serangan tiba-tiba itu, ia merasa kaku untuk bergerak. Tatapan dari bola mata mengkilat Yoongi membuat dirinya membeku dingin.


Namjoon langsung mendorong Taehyung keras hingga laki-laki itu tersungkur, bahkan menabrak batang pohon pinus yang berdiri kokoh itu. Namjoon menggeretakkan giginya dan menepis pukulan Yoongi. Sepertinya, tepisannya itu kurang kuat. Pukulan Yoongi masih terus berlanjut dengan menerobos tepisan tangan Namjoon, lalu berakhir di bagian perut Namjoon..


Karena dorongan yang sangat keras, Taehyung tidak dapat menggerakkan tubuhnya beberapa saat. Punggungnya terasa sanagt sakit. Ia hanya bisa menatap Namjoon yang menundukkan kepalanya sambil memegangi perutnya. Yoongi tersenyum puas, lalu kembali mengarahkan tatapannya kepada Taehyung. Laki-laki itu bergerak cepat menuju Taehyung. Lalu, Taehyung segera bangkit dan menghindar.


Yoongi mendengus licik dan kembali menyerang Taehyung. Pukulan laki-laki itu sedikit meleset, namun tetap mengenai tangan Taehyung yang ia gunakan untuk menepis. Tangan yang terluka pada saat itu, Taehyung gunakan untuk melindungi dirinya. Meskipun, rasa sakit dan nyeri kembali menjalar di sekujur tubuhnya. Sayangnya, ia tidak bisa menahan pukulan Yoongi lebih lama lagi. Namun, Taehyung terus berusaha mempertahankan tepisannya dengan menggunakan tangan yang terluka itu.


Buagh!


Yoongi kembali menyerang Taehyung dengan pukulannya yang lebih keras. Karena tidak sanggup untuk menepis lagi, Taehyung pun tersungkur dengan bahu yang terasa sangat nyeri. Laki-laki itu menangis kesakitan sambil terus meringis. Namun sepertinya Yoongi belum puas untuk melukai Taehyung. Hingga kakinya itu mengayun ke belakang bersiap untuk menendang perut Taehyung.


Bugh!


Namjoon yang sudah bangkit dari rasa nyeri di perutnya itu, langsung memukul Yoongi keras. Napasnya menderu ketika berhasil memukul Yoongi, sebelum Yoongi menendang Taehyung. Yoongi yang sempat tersungkur itu melemparkan tatapan yang lebih menyeramkan dari sebelumnya. Bola mata yang mengkilat bagaikan ujung pisau itu seakan-akan berubah warna. Laki-laki itu bangkit dengan cepat dan menderu.


Seiring berubahnya tatapan Yoongi, bola mata Namjoon pun ikut berubah. Taehyung masih bergelut dengan ringisannya. Bahunya seperti ingin lepas dari sendi pelurunya. Meskipun begitu, ia mencoba bangkit dengan lutut yang bersimpu terlebih dahulu. Embusan napasnya terdengar tidak teratur. Terkadang, ia terbatuk-batuk dengan air mata yang sudah mongering dengan cepat. Sakit dan nyeri, itulah yang ia rasakan saat ini.


Yoongi kembali menyerang ke arah Taehyung yang terlihat sudah lengah itu. Namjoon menatap gerak-gerik Yoongi, lalu menghalangi Taehyung. Sebelum Yoongi melepaskan pukulan keras ke arahnya, Namjoon pun berteriak.


"Cepat bangkit! So Hyun sedang berada dalam bahaya sekarang! Lupakan rasa sakitmu itu daripada kau harus melihat gadis itu terbaring kaku di hadapanmu!" seru Namjoon yang menatap Taehyung sekilas. Pada saat itu, pukulan Yoongi pun datang.


Taehyung mendongakkan kepalanya. Ia melihat Namjoon seperti melindunginya dari serangan. Tak lama setelah mendengar seruan Namjoon, laki-laki itu mulai mengukir senyum baru. Sebuah senyum keyakinan dan semangat yang ada pada dirinya. Lekas, Taehyung pun bangkit sambil sedikit memegangi bahunya.


"Kau benar... Tugasku masuk ke hutan ini adalah mencari So Hyun, bukan menangis kesakitan..." ujar Taehyung sambil mengukir senyum keyakinannya itu. "Karena aku sudah berjanji pada Ji Hyun noona untuk membawa So Hyun pulang!"


Yoongi mendengus dengan alunan napas mengejek. Laki-laki itu membiarkan Namjoon yang sudah bersiap menepisnya, lalu mengarahkan pukulannya lagi ke arah Taehyung.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" ujar Yoongi sembari mengarahkan pukulannya.


Namjoon kembali bergerak cepat dan menghalangi Taehyung. Tepisannya kali ini cukup kuat. Senyum ejek Yoongi memudar ketika Namjoon langsung memukulnya di bagian bahu seperti yang dilakukan laki-laki itu pada Taehyung. Laki-laki itu langsung terpelanting jatuh dengan suara erangannya.


"Jangan banyak bicara! Cepat masuk ke dalam, bodoh!" pekik Namjoon keras.


Taehyung mengangguk mengerti. Ia langsung berlari menuju pintu kayu tua bangunan itu tanpa memedulikan rasa nyeri yang melekat di tubuhnya itu. Laki-laki yang tadi terpelanting itu langsung berdiri dengan cepat. Ia mendelik tajam, lalu bergerak menuju pintu juga. 


Bagaikan penjaga pribadi, Namjoon kembali melindungi Taehyung yang hendak membuka pintu itu. Sejenak, Namjoon menahan Yoongi seperti yang Yoongi lakukan padanya di atap kala itu. Ya, menduduki tubuhnya dan mencekram kedua tangannya ke belakang.


Brak! Brak!


Pintu tidak mau terbuka sama sekali. Taehyung terus menggedor-gedor keras pintu. Besi tua yang menggantung seperti menggantikan bel otomatis itu, ia terus adukan ke permukaan pintu tersebut. Karena tak kunjung terbuka, laki-laki itu menundukkan kepalanya sesaat seperti orang yang tengah berdoa. Taehyung mengembuskan napas tak sabarannya. Ia mengepalkan tangannya itu. Kemudian...


Brak!!!!


Laki-laki itu menendang keras pintu yang sepertinya sudah sedikit rapuh itu. Karena tendangannya itu, pintu tua bangunan itu akhirnya terbuka lebar. Saking kencangnya tendangan laki-laki itu, engsel besi karatan pintu tersebutpun terlepas dan hilang. Taehyung melepaskan tangan yang masih terbalut perban itu tanpa alasan. Lalu, ia berlari masuk ke dalam.


Melihat Taehyung berhasil masuk ke dalam, Yoongi mengeluarkan seluruh kekuatannya dan menyingkirkan Namjoon dari punggungnya. Laki-laki itu tertawa tidak jelas dan menatap Namjoon tajam.


"Aku rasa, waktunya kita menyelasaikan ini satu lawan satu."


***


"Oh! Sepertinya, akan semakin seru kalau dia di sini." ujar Se Jung senang. Ia menghentikan langkahnya dan tersenyum miring menatap Taehyung.


"Lepaskan dia!" ujar Taehyung keras. Jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah So Hyun yang tengah di cengkram erat itu.


"Taehyung-ah!" pekik Eun Soo halus.


Taehyung menoleh ke suara pekikan itu berasal. Ia menatap Eun Soo, In Hyong, Jimin serta yang lainnya secara bergantian. Taehyung menurunkan jari telunjuknya. Bibir dan lidah terasa kelu untuk mengeluarkan suara. Ia menatap semuanya bingung.


"Kalian kenapa bisa di sini?" tanya Taehyung bingung.


"Kau tidak ingat? Kita semua mati diburu oleh 'mereka', namun sebenarnya kami tidak mati sungguhan. Roh dan jasad kami di kunci di bangunan ini. Setiap kami berhasil kabur dari bangunan ini, kami tidak berhasil menemukan jalan keluar. Kami semua hanya bisa berharap ada yang menolong kami." jelas In Hyong perlahan.


"Jimin? Bagimana kau bisa..." Taehyung menatap sahabatnya dengan penuh tanya.


"Aku dibunuh kemarin. Tepatnya, diatas atap sekolah ketika aku tengah mencarimu." sahut Jimin.


Se Jung tersenyum miring mendengar ujaran dan balasan antara Taehyung dan lainnya. Ia kembali mendekatkan langkah kakinya menuju So Hyun. Pisau tajam itu menjulang tepat ke arah dada So Hyun. Taehyung kembali menolehkan kepalanya, lalu berlari menuju So Hyun yang sepertinya akan ditusuk itu.


"Hentikan!"


Bugh!


Namun itu tidak berlangsung lama, Se Jung kembali terkekeh senang. Apa bibir atau giginya tidak kering? Ia selalu terkekeh dan tertawa ketika melihat gerak-gerik seseorang yang akan menolong So Hyun tanpa alasan.


Sosok gelap itu kembali muncul. Sepertinya, sosok itu akan menyerang Taehyung. Se Jung mengangkat telapak tangannya. Gadis itu mengisyaratkan agar sosok itu tak perlu menyerang Taehyung. Atas perintah Se Jung, sosok itu kembali hilang bagaikan debu. Se Jung melipat kedua lengannya santai, sambil membalas tatapan Taehyung.


So Hyun menatap Se Jung dari balik punggung Taehyung. Gadis itu mengepalkan tangannya di depan dadanya. Yang lainpun hanya bisa merasakan sakitnya cengkraman sosok gelap itu. Secara reflek, Taehyung menggenggam tangan So Hyun erat. Ia seperti berkata, bahwa ia tidak akan membiarkan So Hyun mati begitu saja.


"Aku tak akan membiarkanmu menusukkan pisau itu ke dirinya!" Taehyung berujar yakin tanpa rasa takut sedikit pun. Ia mulai berani menatap bola mata mengkilat biru spiral itu.


Se Jung kembali terkekeh, "Kau ini bicara apa?"


"..." Taehyung melunakkan tatapan tajamnya ketika Se Jung membalasnya enteng.


"Aku mungkin akan menusukkan pisau ini ke dadanya, tapi itu akan terjadi karena dirinya sendiri. Atau bisa dibilang, ia yang mungkin akan menusuk dadanya sendiri." ujar Se jung dengan menatap pisau berwarna keprekan itu dengan sebuah senyum khas.


"Apa maksudmu?" tanya Taehyung dengan kepala yang sedikit dimiringkan.


So Hyun dapat merasakan genggaman tangan Taehyung yang lebih besar darinya itu semakin erat. Gadis itu melirik tangan yang tengah menggenggamnya, kemudian dahi gadis itu mengerut bingung. Tangan yang tengah menggenggamnya itu penuh luka. Bahkan, masih ada sedikit noda darah kering di sana. Ia tidak dapat memperkirakan apa yang dilakukan Taehyung hingga seperti itu. Luka itu sepertinya sangat serius.


'Taehyung-ah...'


"Bagaimanapun ucapanmu, aku tidak akan membiarkanmu membunuhnya! Tidak akan pernah!" ujar Taehyung keras.


Entah kenapa, Eun Soo menitikkan air matanya. Ia memejamkan matanya ketika mendengar teriakan Taehyung. Air matanya semakin deras hingga terdengarlah suara sesegukan. In Hyong menatap Eun Soo dengan kedua tangan yang masih di cengkram ke belakang. Dokter Jung juga menatap Eun Soo khawatir. Begitu juga dengan sang Ibu tercinta. Mereka semua menatap Eun Soo bingung dan khawatir sekaligus.


"Aku percaya padamu!" ujar Eun Soo tiba-tiba. "Aku percaya padamu, Taehyung! Kau pasti bisa menyelamatkan So Hyun! Aku yakin itu..."


So Hyun menatap Eun Soo yang menangis tersedu-sedu itu. Hati gadis itu mencelos dalam. Ia merasa sangat sedih melihatnya. Namun, Se Jung tidak mudah jatuh begitu saja. Gadis itu malah berujar dengan nada yang semakin menyebalkan.


"Bagaimana kalau aku menawarkan sesuatu?" ujar Se Jung dengan tangan yang memainkan pisau itu lincah.


Taehyung sedikit menyerngit ngilu melihat gadis itu memainkan benda tajam tersebut. Ia semakin menggenggam tangan So Hyun erat. Firasatnya kian semakin memburuk.


"Begini saja, kalau kau membiarkan So Hyun bersamaku. Aku akan melepaskan semua orang yang telah aku dan Yoongi bunuh itu. Tapi, kalau kau tidak mau... Akanku bunuh mereka semua secara nyata. Beserta, kau. Aku juga akan mengirimmu ke alam baka. Bagaimana?" jelas Se Jung dengan menodongkan pisau itu ke arah Taehyung.


So Hyun kembali tercengang. Ia menatap Se Jung tersenyum miring itu dengan sendu. Ia tidak ingin teman-temannya mati begitu saja. Ia adalah targetnya, bukan yang lain. Ia juga yang memiliki maslah ini, bukan yang lain. Batinnya mulai bergerak untuk mengatakan sesuatu.


"Baiklah... Ak..." Ketika So Hyun hendak menyetujui hal itu, Taehyung menyela keras sambil melepaskan genggaman tangannya.


"Jangan!" teriak Taehyung cepat.


Taehyung menatap So Hyun yang mulai melangkah maju dan berdiri di hadapannya. Se Jung kembali tersenyum licik. Ia dapat melihat kepalan tangan gadis itu. Ia tidak percaya dengan apa yang di lakukan gadis itu. Jimin dan yang lain juga begitu, mereka menatap So Hyun tak percaya.


"Aku tidak akan membiarkanmu membunuh mereka semua! Tidak! Tidak akan pernah! Jadi, lebih baik aku saja yang mati!" ujar So Hyun dengan berani.


Se Jung kembali tersenyum dengan suara dengusannya. Gadis itu menurunkan todongannya dan menatap reaksi selanjutnya. So Hyun terlihat begitu yakin dengan ucapannya. Gadis itu juga merentangkan sebelah tangannya ke hadapan Taehyung. Rentangan tangan itu terlihat seperti 'aku akan melindungimu, percayalah padaku'.


"Apa kau gila?!" ujar Taehyung tak percaya. 


"Tak ada jalan lain. Kita harus menyelesaikan ini secepatnya. Aku tidak ingin angka kematian orang terdekatku semakin bertambah," ujar So Hyun dengan menatap bola mata pekat Taehyung dalam.


Taehyung terdiam mendengar ujaran gadis itu. Ujaran itu mirip sekali dengan ujaran yang ada di alam mimpinya kemarin. Mimpi dimana ia bertemu So Hyun di bukit Hwaniwon. Taehyung menjilat bibirnya, "Aku tidak akan membiarkanmu mati begitu saja. Aku... aku tidak mau kehilangan orang yang aku sukai lagi..."


So Hyun mengerutkan dahinya, "Apa maksudmu?"


"Apa kau tidak bisa mendengarnya? Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sukai lagi... Itu berarti aku menyukaimu. Aku sangat menyukaimu. Oleh karena itu, aku tidak ingin kau mati. Aku akan menjagamu dari orang itu! Percaya padaku!" jelas Taehyung dengan suara yang parau dan serak, namun terkesan sangat tegas.


Jimin yang baru mengetahui perasaan Taehyung terhadap sahabatnya itu diam terkejut. Laki-laki itu baru menyadarinya. Padahal, selama ini Taehyung sudah menunjukkan tingkah dan perasaannya. Tapi, kenapa ia baru menyadarinya?


'Jadi... karena itu ia yang paling marah saat salahpaham waktu itu...' batin Jimin bergumam.


Mulut So Hyun pun ikut menganga terkejut. Kemudian, gadis itu mengembuskan napasnya perlahan, "Kau tak seharusnya menyukaiku..."


Degh!


Taehyung benar-benar tercengang sekarang. Apa yang muncul dimimpi itu sangat terasa saat ini. Ucapan dan reaksi So Hyun dimimpi, tak ada bedanya dengan sekarang. Gadis itu mulai membuang tatapannya ke lain arah. Se Jung tersenyum menang. 


Gadis itu mulai mengulurkan tangannya untuk memberikan sebuah pisau itu kepada So Hyun. Seperti biasa, yang lain hanya bisa terdiam menyaksikan semuanya. Dan, Eun Soo masih saja menangis meskipun tidak tersedu-sedu lagi.


"Maafkan aku. Secara perlahan, aku menarikmu untuk membereskan masalah ini. Masalah yang sebenarnya hanya aku yang bisa menyelesaikannya sendiri. Seandainya aku tahu dari awal, aku pasti akan memilih mati secepatnya agar kalian semua tidak terlibat," jelas So Hyun yang mulai melangkahkan kakinya mendekati Se Jung.


"Kau..." ujar Taehyung lemas. Mimpi itu benar-benar nyata sekarang.


"Maafkan aku. Sekali lagi, maafkan aku. Memang tak seharusnya kau menyukaiku," ujar So Hyun sekali lagi.


Langkah kaki gadis itu semakin mendekati Se Jung. Ketika jarak mereka sudah sedikit memendek, So Hyun mulai mengulurkan tangannya juga. Telapak tangan gadis itu mulai terbuka. Hal ini membuat senyum kemenangan Se Jung kembali terlihat. Sedangkan Taehyung hanya bisa menatap So Hyun beku.


***


Namjoon dan Yoongi masih beradu pukulan hingga wajah mereka penuh dengan lebam serta darah. Tapi, tak ada satu pun dari mereka yang menyerah dan melemas. Meskipun napas mereka berdua sudah menderu berat, mereka tetap saja melanjutkan aksi kekerasan satu sama lain itu tanpa lelah. Terkadang, terdengar suara erangan dari mulut mereka berdua. Sekujur tubuh mereka terlihat dipenuhi darah. Entahlah, sepertinya Yoongi bukanlah dewa kematian yang tembus pandang seperti yang di cerita-cerita.


Deru napas lelah begitu tengar di tengah hutan yang sunyi ini. Namjoon mencoba untuk bangkit dari posisinya itu. Kakinya seperti sudah kehilangan tenaga untuk berdiri. Berulang kali ia mencoba bangkit, namun ia pasti terduduk kembali. Tempurung lututnya terasa sangat amat nyeri saat ini.


Yoongi mendesis tak menyerah. Ia juga memaksakan dirinya bangkit dari posisinya. Namun, ia berhasil untuk berdiri dan melangkah. Dengan tubuh yang agak terhuyung dan kehilangan keseimbangan, Yoongi berjalan mendekati Namjoon lagi. Kepalan tangan yang masih sanggup untuk memukul itu mulai berayun ke arah Namjoon.


Bugh!


Namjoon kembali tersungkur lemas. Ia tertelungkup lunglai. Wajahnya penuh dengan luka dan darah. Tak jarang ketika ia bertohok batuk, darah merah kental menyembur keluar. Yoongi tersenyum ketika melihat Namjoon tertelungkup tak berdaya seperti itu. Dengan santainya, ia mengayunkan kakinya. Ia pun menginjak dan mengoyak kepala Namjoon asal serta meremehkan menggunakan kakinya.


Ia pun tertawa lepas, meskipun bibirnya sudah sobek karena tergores ranting tajam sebuah pohon. Namjoon hanya bisa menerima perlakuan kurang ajar Yoongi itu. Ia terus bertohok kering. Tiap kali ia betohok, darah itu keluar dari mulutnya. Apakah ia akan benar-benar menghilang dari dunia ini?


'Aku gagal lagi...' batinnya berbicara disaat kondisi lemahnya itu.


"Kau lebih lemah daripada sebelumnya!" ujar Yoongi yang masih saja memainkan kakinya secara tidak wajar di kepala Namjoon. Namun, kakinya mulai berpindah untuk membalikkan posisi Namjoon menjadi terlentang.


Ketika tubuhnya sudah terlentang, Namjoon kembali bertohok keras. Darah kembali menyembur keluar bagaikan semprotan air taman. Yoongi tersenyum menang dan mulai berjongkok di samping tubuh Namjoon itu.


"Namjoon-ssi, sepertinya kau tidak berguna, ya?" ujar Yoongi meremehkan. "Hmm... sepertinya upacara itu sedang berlangsung. Atau sudah berlangsung? Aku dapat merasakan roh yang sedang mencari pasangannya sekarang."


Namjoon hanya bisa mengatur napasnya dan kembali bertohok. Ia bisa merasakan paru-parunya tidak bisa mengisap lebih banyak oksigen, serta detakkan jantung yang mulai melemah.


"Ini berarti tugasku di dunia ini sudah selesai," ujar Yoongi sekali lagi.


Namjoon hanya diam tak menyahut apapun. Ia mendelik ke arah Yoongi perlahan. Yoongi tersenyum menang kemudian menutup matanya. Lalu, laki-laki itu menghilang begitu saja. Sepertinya, menghilang untuk selama-lamanya. Sepertinya apa yang ucapan memang Yoongi benar, upacara penyatuan roh itu tengah berlangsung.


"... Uhuk! Min..." Semburan darah itu adalah semburan darah terakhir sebelum Namjoon menutup matanya, kemudian tak bernapas lagi. Laki-laki itu juga perlahan menghilang tanpa bekas.


***


Tangan So Hyun terulur mengambil pisau tajam yang mengkilat itu. Se Jung semakin memperlebar senyumnya. Ujung jari So Hyun mulai menyentuh gagang pisau itu. Keringat dingin mulai membanjiri pelipis Taehyung. Mulut Jimin mulai terbuka lebar. Cengkraman sosok itu juga tidak mau melonggar.


"Ini yang terbaik untuk semuanya," ujar So Hyun perlahan. Ia mengambil pisau itu dari tangan Se Jung.


Taehyung menatap So Hyun tidak percaya, "Kim... So Hyun..."


"Ini adalah jalan yang terbaik. Dengan ini, aku yakin kalian akan kembali hidup seperti biasa. Maafkan aku telah menyusahkan kalian semua," ujar So Hyun sekali lagi. Kedua matanya menatap pisau itu perlahan, kemudian ia meneguk ludahnya.


"Ja... jangan..."ujar In Hyong yang tak tahan lagi. Gadis itu juga mulai menangis.


Dokter Jung, Mi So, Gong Pyo juga tak kuasa menahan tangisnya. Dokter Jung menutup matanya dan membiarkan buliran air matanya itu membasahi lensa kacamatanya. Ini sangat berat untuk dilihat. Padahal, ia siap saja untuk mati demi menolong gadis itu. Karena So Hyun dan dirinya sudah dekat ketika gadis itu terserang penyakit paru-paru basah ringan kala itu.


"Aku senang bisa mengenal kalian. Terima kasih semuanya..." ujar So Hyun yang mulai mengarahkan ujung pisau yang runcing itu ke arahnya.


Se Jung menjentikkan jarinya bahagia. Kemudian, munculah dua sosok gelap misterius itu. Ia memerintahkan dua sosok itu untuk menahan Taehyung agar tidak mengganggu hal ini. Taehyung yang tidak bisa diam, terus meronta melepaskan cengkraman sosok itu.


So Hyun tersenyum tipis yang dipaksakan dengan delikan matanya. Gadis itu menutup matanya perlahan. Detak jantungnya tidak dapat ia kontrol dengan baik. Ujung pisau yang runcing itu mulai ia arahkan ke dadanya sendiri. Se Jung juga mulai menutup matanya perlahan-lahan. Taehyung tetap berusaha melepaskan cengkraman itu.


1... 2... 3...


***


To Be Continued


***


Akankah taehyung berhasil? atau So Hyun yang akan pergi selama-lamanya bersama setengah rohnya yang lain... maaf jika tidak sesuai dengan harapan kalian..


Harap LIKE dan COMMENT


1 part lagi berakhir..


SEE YOU DI PART TERAKHIR 🤗