
Preview
Ia benar-benar merasa tercengang sekarang. Ia tidak menyangka keluarga ini tidak ingat akan In Hyong sebagai anak mereka. Anehnya, mereka mengingat siapa So Hyun.
'Kenapa...' Batin So Hyun mulai berbicara lagi.
Ia mengingat betul omongan kedua orang tua dari In Hyong itu. Tak hanya itu, tiga hari setelah insiden, tidak ada orang yang mengingat siapa itu In Hyong. Bahkan, teman-teman sekelasnya juga sama.
Yang masih bisa mengingat In Hyong siapa itu hanya dirinya sendiri -So Hyun-, Eun Soo, Taehyung dan Jimin. Oh ya satu lagi, Mi So... Sisanya, mereka seperti hilang ingatan.
***
Semilir angin kembali menerpa wajahnya. Ia bisa merasakan ketenangan di hatinya, namun tidak di pikirannya.
Ketika ia membuka kedua kelopak matanya, ia mendapati seorang gadis seumuran dengannya tengah berdiri radius 5 meter dari tempat ia duduk. Gadis itu tersenyum dengan dandanan rambut yang khas.
So Hyun langsung menggosokkan matanya, memastikan apa yang ia lihat itu nyata. Gadis itu tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah So Hyun.
Gadis itu adalah In Hyong. So Hyun langsung bangkit dan mulai melangkah mendekati In Hyong. Tetapi, gadis itu malah melangkah mundur.
"So Hyun-ah, tolong aku..." ujar In Hyong.
Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi. Ia terlihat ingin mengajak So Hyun ke sebuah tempat.
Dengan perasaan peduli, So Hyun langsung melangkah mengikuti In Hyong secepat mungkin. Semakin dekat, tapi In Hyong melangkah menjauh dengan terburu-buru.
So Hyun langsung mempercepat langkahnya. In Hyong terus berjalan cepat. Di saat mengejar In Hyong, tubuh So Hyun terasa seperti tertarik ke belakang. Lalu, membentur sesuatu yang agak keras.
Seketika itu juga pandangannya menjadi buyar. Ia sudah berada di dalam dekapan seseorang. Gadis itu mendongak dan menatap siapa yang telah mendekapnya itu. Taehyung...
Dia muncul lagi. Secepatnya gadis itu mendorong tubuh laki-laki tersebut keras, dan bersiap lari mengejar In Hyong. Tubuh Taehyung seperti akan jatuh ke belakang karena dorongan itu. Namun Taehyung menggenggam tangan kiri So Hyun, menahan gadis itu untuk tidak pergi.
"Sebegitunya kau mengkhawatirkan sahabatmu, sampai kau ingin bunuh diri seperti ini?" Taehyung berkata dengan penuh penekanan. Namun, So Hyun sama sekali tidak mengerti kalimat itu.
'Bunuh diri? Siapa yang ingin bunuh diri?' Batin So Hyun bergumam.
Ia segera tersadar dari ucapan batinnya. "Lepaskan aku! In Hyong sedang minta tolong, bodoh!" ujar So Hyun keras. Ia terlihat tetap bersikukuh untuk mengejar sosok In Hyong yang tadi ia lihat.
"Di sini tidak ada siapa-siapa bodoh!" balas Taehyung tak kalah kerasnya.
So Hyun menoleh menatap Taehyung kebingungan. Padahal ia mendengar dan melihat sosok In Hyong dengan sangat jelas.
Gadis itu memaksakan diri untuk melepaskan genggaman tangan yang terus mencengkramnya. Meskipun, tangan kanannya terasa nyeri akibat gerakan tubuhnya yang berusaha keras melepaskan diri dari Taehyung itu.
"Aku melihatnya! Ia sedang meminta tolong. Jadi, lepaskan aku! In Hyong sudah ketemu!" So Hyun menarik-narik tangannya.
"Dengarkan aku." gumam Taehyung pelan. "Di sini tidak siapa-siapa kecuali kau dan aku. Coba, kau lihat ke bawah...."
So Hyun mulai mengalihkan tatapannya ke bawah. Matanya membulat sempurna. Kedua telapak kakinya sudah berada di ujung atap sekolahnya yang datar itu.
Ia dapat merasakan bahwa ia berdiri di ketinggian kurang lebih 12 meter. Badannya mulai bergetar takut. So Hyun mulai memundurkan langkahnya perlahan.
"Lihat? Apa kau sudah percaya? Tidak ada siapa-siapa disini." Taehyung mendengus meyakinkan. Ia juga membantu So Hyun untuk melangkah mundur.
"In Hyong..." gumam So Hyun. Ia sangat yakin kalau ia melihat sosok In Hyong yang meminta tolong padanya tadi.
Taehyung mengenduskan napasnya. Sekali lagi, nyawa So Hyun terselamatkan atas kehadirannya yang selalu tiba-tiba itu.
***
Jimin dan Eun Soo mengelilingi sekolah di lantai dua. Mereka mencari-cari dimana So Hyun berada.
Sekolah sudah sepi. Hanya ada lampu yang bersinar dengan cahaya remang-ramang, seperti akan mati. Langit juga sudah seperti menyuruhnya untuk pulang sesegera mungkin, sebelum mereka harus menerjang hujan lebat.
Ketika sedang melewati laboratorium Fisika, Eun So menghentikan langkahnya dengan mata yang terbelalak. Ia merasakan embusan angin lewat telah menerpa tubuh bagian kanannya.
Tak hanya angin, ia juga melihat seorang gadis berpakaian seragam lewat secara sepintas. Tubuhnya mulai merinding.
"Ji- Jimin-ah... Aku rasa kita harus pulang secepatnya." Eun Soo berkata dengan suara yang bergetar. "Karena tadi aku melihat sosok yang melewatiku dengan cepat..."
Jimin sedikit menahan tawanya. Ia merasa apa yang Eun Soo ucapkan padanya terdengar konyol. Sejak mereka melewati laboratorium tersebut, ia tidak merasakan ada embusan angin lewat di sebelahnya. Eun Soo masih tetap pada posisinya, lalu Jimin membalikkan badannya.
Kedua mata Jimin langsung terbelalak lebar. Tepat dibelakang Eun Soo yang masih berdiri ketakutan itu, sosok gadis berpakaian seragam berdiri dengan senyum manis.
"Eun Soo-ah! Itu In Hyong!!" pekik Jimin keras.
Eun Soo tersadar dan menatap Jimin kebingungan. Jujur saja, bulu kuduknya langsung berdiri. Tubuhnya merinding, di sekitarnya terasa sangat dingin.
Sosok yang Jimin bilang bahwa itu adalah In Hyong, langsung melarikan diri ke arah perpustakaan.
Dengan cepat, Jimin menarik tangan Eun Soo untuk membututi In Hyong yang berlari dengan sepatu yang berdecit.
.
.
.
"Jimin-ah, jangan!" larang Eun Soo dengan ketakutan yang hebat.
"Tenang saja. Kita hanya mengajaknya pulang sesegera mungkin." Jimin mengelak dengan suara yang sangat yakin.
Mau tidak mau, Eun Soo masuk sambil membututi Jimin tepat di belakangnya.
Jimin berjalan terlebih dahulu menuju tempat In Hyong tengah duduk sambil tetap tersenyum manis dan ramah. Jimin langsung membalas senyuman In Hyong tak kalah hangatnya. Mungkin karena faktor, kalau Jimin pernah menyukai In Hyong.
Semakin dekat langkah Jimin, In Hyong langsung bangkit dan menyodorkan telapak tangannya. Gadis itu terlihat tersenyum riang untuk menerima ajakan dari Jimin. Jimin semakin melangkah pasti ke arah In Hyong. Eun Soo masih terdiam takut, ia hanya bisa berdiri di rak buku sastra lama.
Jimin sudah semakin dekat dengan In Hyong. Laki-laki itu semakin melangkah dengan pasti. Karena tersenyum terlalu lebar, mata Jimin terlihat seperti garis yang melengkung terbalik. Ia terlihat amat fokus dengan sosok In Hyong yang terlihat cantik menurutnya.
Tiba-tiba suara halilintar menyambar dengan kerasnya. Tubuh Eun Soo langsung bergidik ngeri saking kagetnya. Matanya tertutup rapat dan kedua tangannya menutup telinganya.
Ketika suara halilintar itu mulai mereda, Eun Soo kembali membuka kelopak matanya perlahan. Matanya sudah melek sepenuhnya, dan ia mendapatkan sosok yang membuatnya kaget bukan main.
Jimin berjalan mendekati sosok bayangan hitam yang tengah mengacungkan sebuah belati ke arahnya. Tidak ada sosok In Hyong di sana. Jimin terus melangkah sambil terus tersenyum. Eun So mendelik kedua arah sekaligus. Gadis itu langsung melangkah cepat menuju Jimin.
"Bangun, Jimin Bodoh!" teriak Eun Soo sambil melangkahkan kakinya mendekat.
Jimin tidak menoleh sedikitpun ke arah Eun Soo. Ia tetap berjalan munuju bayangan hitam yang rupanya menyeramkan dan bahkan tidak berbentuk.
Hanya terlihat tangan yang tengah menyodorkan belati. Jimin masih tetap berjalan ke sana. Itu adalah ilusi semata. Jimin masih melangkah menuju bayangan itu. Di matanya, itu adalah sosok In Hyong yang masih tersenyum.
Tanpa berpikir panjang lagi, Eun Soo menarik ensiklopedia yang tebal. Ia berteriak sambil memukul punggung Jimin cukup kencang menggunakan ensiklopedia itu.
"JIMIN BODOH! AYO SADAR!!"
Jimin langsung menghentikan langkahnya seketika, ia berteriak kencang. Laki-laki itu langsung meraba-raba punggungnya yang terasa panas dan berdenyut.
Ia membalikkan badannya dan menatap Eun Soo sebal. Tapi bagi Eun Soo, ia bersyukur bahwa kesadaran Jimin sudah kembali.
"Akh! Apa kau tidak punya perasaan?! Sakit, bodoh! Sekuat-kuat laki-laki, kalau kau memukulku dengan buku setebal ini, rasa sakitnya bukan main!" omel Jimin keras.
Eun Soo mendelik ke arah belakang Jimin dan matanya kembali terbelalak. Bayang itu mulai berjalan cepat ke arah Jimin yang tengah mengomelinya. Belati itu masih berada di genggaman bayangan aneh itu.
"Jimin-ah dibelakangmu!!" Pekik Eun Soo kencang.
Jimin membalikkan tubuhnya cepat, bayangan itu berada beberapa senti dari tempatnya berdiri.
Ternyata bayangan itu tak hanya memiliki tangan, namun mata juga. Mata yang menyala merah, dan lama-kelamaan sosoknya menyerupai manusia.
Jimin yang kesadarannya sudah kembali terkejut. Ia menyadari, selama ini ia tersenyum dan menghampiri sebuah bayangan yang hendak membunuhnya. Bukan menghampiri In Hyong.
"Aku rasa..." Jimin langsung menggenggam tangan Eun Soo kuat. "Aku rasa kita harus lari!"
Jimin menarik tangan Eun Soo sambil berlari sekencang-kencangnya. Pada akhirnya bayangan itu berhenti melangkah, dan menghilang bagaikan debu yang terbawa angin.
***
Taehyung menarik tangan kiri So Hyun perlahan menuju lobby. Napas mereka terasa berat dan memburu. Mereka mencoba mengatur napas masing-masing.
Mereka berlari dari atap menuju lobby karena sesuatu yang mengejar mereka. Entahlah, sosoknya menyerupai gumiho.
Di tengah-tengah mereka istirahat menenangkan napas, Eun Soo dan Jimin berlari sambil berteriak. Suara langkah kaki mereka terdengar seperti kuda yang sedang menarik kereta kencana.
Langkah lari mereka terhenti tepat di depan Taehyung dan So Hyun. Jimin mengatur napasnya yang menderu sambil terbatuk-batuk.
"Aku... hosh... rasa kita... hosh... harus pulang segera!" ujar Jimin dengan napas ngos-ngosan.
Taehyung terdiam membeku. Sosok yang tadi ia lihat ketika diatap bersama So Hyun, kini sudah berdiri di antara pintu lobby masuk dan ruang guru.
Eun Soo juga melihat itu. Sosok yang sama seperti di perpustakaan tadi. Namun, kini menyerupai perempuan serba hitam.
"Lari!!" teriak mereka bersamaan.
***
Disaat bersamaan, sosok itu menghilang lagi. Seorang laki-laki bersandar di pohon maple tua sekolah tersebut sambil mendengus. Ia memetik satu tangkai bunga mawar merah yang baru mekar. Lalu, menghirup aromanya dalam-dalam.
"Kali ini, aku biarkan kalian lari. Tapi untuk selanjutnya, tak akan ku biarkan begitu saja." ujar laki-laki itu licik.
***
To Be Continued
***
Wih!! Siapa ya lelaki itu? Bayangan? Ilusi? Perempuan serba hitam? Apalagi ini? Misteri banyak yang belum terpecahkan! Tambah banyak pertanyaan!😂