
Happy reading 😉
-----
Review:
Kedua mata So Hyun terbelalak lebar. Ia menyeret tubuhnya sedikit menjauhi tempat Yoongi berdiri. Kepalanya semakin lama semakin berat, bagaikan ingin meledak. Tatapan laki-laki itu juga begitu menusuk.
"Tidak... Aku mohon hentikan..." ujar So Hyun tiba-tiba.
***
Yoongi menatap So Hyun yang memegangi kepalanya itu. Tatapannya terlihat puas melihat gadis itu kesakitan. Tangannya terulur untuk menyentuh pergelangan tangan So Hyun. Apa yang ia rencanakan, kini sudah hampir berhasil. So Hyun sudah hampir mencapai mental-breakdownnya.
Taehyung yang baru saja kembali dari tempat favoritnya, memergoki Yoongi dan So Hyun. Ia langsung berlari menghampiri mereka. Ia juga menepis tangan Yoongi keras-keras, dan menghalanginya. So Hyun menatap Taehyung yang menghalanginya itu.
"Kau apakan dia?" tanya Taehyung dingin.
Yoongi tersenyum, serta mendengus sekaligus, "Aku tidak apa-apakan dirinya. Dia saja yang langsung memekik sakit kepala. Kau tahu, aku itu berniat untuk menolongnya."
"Bohong!" teriak So Hyun, ia masih memegangi kepalanya itu.
Taehyung menatap So Hyun sekilas. Sejak tadi bertemu dengan Yoongi, Taehyung memang sudah merasa ada yang aneh. Ia masih mengingat jelas apa yang dikatakan oleh Dokter Jung saat itu. 'Orang yang baru muncul, mungkin saja dia adalah pelakunya. Atau bisa dibilang, dia adalah dewa kematiannya.'
Yoongi mendelik ke arah So Hyun dengan tatapan cukup tajam. Kemudian ia mengembuskan napasnya, "Sudahlah, kalau kau tidak percaya. Kau lindungi saja nona itu. Lindungi dia semampumu."
Taehyung sedikit tertegun dengan ucapan Yoongi itu.
Setelah mengatakan hal itu, Yoongi berjalan dengan kedua tangan dibelakang tengkuk kepala-lehernya. Laki-laki tersebut berjalan dengan seringaian. Taehyung mengepalkan tangannya erat menatap punggung laki-laki itu sebelum hilang sepenuhnya.
"Akh!" pekik So Hyun memegangi kepalanya. Denyutan sakit kepala masih memeluknya.
Tersadar dari pikirannya sendiri, Taehyung langsung membantu So Hyun berdiri. "Kau tak apa?" tanyanya pelan. Ia mencengkram lengan kanan So Hyun perlahan.
"Tak apa. Aku hanya sakit kepala biasa." jawab So Hyun. Ia melepaskan genggaman Taehyung dari lengannya sendiri. Lalu, kembali memijat-mijat dahinya.
"Lebih baik kau pulang saja," ujar Taehyung, namun dijawab dengan gelengan kepala. "Daripada kau tidak bisa mengikuti pelajaran sama sekali? Sudahlah. Aku akan meminta izin dari Guru Kim, lalu akan aku antara kau pulang."
"Tidak." ujar So Hyun pelan. Tubuhnya merinding lemas.
"Ikuti saja apa yang aku sarankan tadi. Atau sesuatu yang buruk akan terjadi padamu." ujar Taehyung pelan.
So Hyun hanya diam saja. Taehyung terus mendesaknya agar ia pulang dan beristirahat.
Mau tak mau, ia menuruti apa kata Taehyung itu. Perlahan tapi pasti, Taehyung menuntun gadis itu agar tidak jatuh karena sempoyongan.
***
Namjoon berjalan dengan santai menuju rumahnya itu. Hutan pinus adalah jalan yang sering ia lalui. Jalanan yang terkenal dengan sepi dan misterinya itu adalah rute satu-satunya agar ia bisa sampai ke rumahnya. Ia berjalan begitu saja ketika melewati pagar-pagar lumutan dan hawa senyap itu.
"Bagaimana? Apa kau bisa melindungi mereka?" tanya seseorang secara tiba-tiba.
"Aku lupa. Kau bukan melindunginya, malah membiarkannya." sindir orang itu sekali lagi.
Namjoon menghentikan langkah kakinya dan mencari siapa pemilik suara itu.
Seorang laki-laki tengah terduduk di atas pagar besi itu dengan tersenyum licik. Namjoon mendesis sinis. Sudah cukup lama ia tidak bertemu orang yang tengah menyindirnya itu. Sejak, Namjoon memilih pilihannya sendiri. Ehtah, pilihan apakah itu.
"Aku rasa, kau seperti membunuh mereka secara perlahan-lahan." sindir orang itu lagi. Orang itu turun dari posisinya dan berdiri menatap Namjoon licik.
"Aku tidak membunuh mereka secara perlahan-lahan," sahut Namjoon dingin. "Bukankah, aku sudah mengatakannya? Aku akan melindungi mereka."
"Mana buktinya? Sudah hmm... berapa orang yang berhasil aku ambil rohnya, ya? Satu... Dua... dan tiga, termasuk guru dari sekolah itu," Laki-laki itu berujar sambil menghitung menggunakan jari tangannya itu.
Namjoon menatapnya tajam ketika laki-laki itu menghitung dengan nada yang tidak menyenangkan, "Maaf? Sepertinya akan menjadi empat."
"Tsk. Kau bicara apa?" sahut Namjoon tak mau kalah.
"Orang selanjutnya. Orang yang akanku ambil rohnya. Bantu aku memilih... Taehyung atau So Hyun?" Orang itu semakin menatap Namjoon licik, ia senang melihat ekspresi kesal Namjoon itu.
"Bagaimana kalau aku langsung membunuh sang target? Membunuh perempuan itu tidak perlu menghabiskan tenaga. Aku heran kenapa ia yang memiliki setengah nyawa dari yeowang. Padahal, ia adalah gadis yang lemah."
Namjoon mengepalkan tangannya erat, "Jangan berbicara macam-macam. Kalau kau bertingkah seperti itu, usahamu pasti akan gagal. Karena mereka akan mengetahui sosok yang ada dibalik wajahmu itu."
"Beberapa dari mereka sudah tahu itu," sela orang itu cepat, Namjoon hanya bisa membungkam mulutnya.
"Aku sengaja memberitahukan identitasku ketika bertemu dengan mereka. Ternyata, gadis itu benar-benar lemah. Kalau identitasku sepertinya tidak masalah mereka ketahui. Bagaimana dengan identitasmu? Apa mereka juga tahu kalau kau... sama sepertiku?"
Namjoon masih terdiam. Ia mengeratkan kepalan tangannya. Orang itu benar-benar memancing emosinya. Memang benar apa yang dikatakan oleh orang itu. Tapi, Namjoon merasa tidak suka kalau orang itu terus membahasnya.
"Bagaimana? Kalau kau peduli, kenapa kau tidak berani memberitahukan identitasmu? Berarti... kau pengecut. Hanya sekedar identitas saja kau takut." ujar orang itu lagi.
Bugh!
Namjoon memukul wajah orang itu hingga terpelanting ke kanan. Orang itu langsung meraba pipinya yang terasa nyeri. Deru napas kesal Namjoon mulai terdengar. Ia menatap orang yang telah meremehkannya benci. Ia terus-terus menggretakkan giginya kuat. Orang yang sedang berada di hadapannya ini benar-benar memancing emosinya muncul.
"Ya! Yoongi! Aku tidak membiarkan kau membunuh So Hyun hanya untuk mengambil setengah nyawa dari yeowang!" ujar Namjoon yang kemudian berlaki pergi. Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah. Entah rumah apa yang ia maksud.
"Benarkah?" gumamnya licik.
***
Hari Minggu yang indah. Matahari bersinar cukup terang dan embusan angin yang menyejukkan.
So Hyun terduduk di balkon kamar santai. Di sebelahnya terdapat 3 buku yang ditumpukkan secara berkala. Gadis itu mengembung-kempiskan pipinya saat menatap ketiga buku itu.
Pada akhirnya, ia memilih buku yang berjudul 'Bella'. Buku-buku itu pemberian Namjoon, kecuali buku yang berjudul 'La' tentunya.
Ia membuka lembaran buku tua itu perlahan. Tulisan-tulisan kuno tercetak jelas disana. Kertas-kertas yang sudah usang dan berlubang, seperti menjadikan buku itu seperti keramat. So Hyun menatap lembaran buku itu dengan saksama. Ia membuka lembaran buku itu hingga menemukan halaman bab pertama.
.
.
*Dahulu kala, ada dua bocah kembar dari sebuah dinasti kuno, namun memiliki paras yang berbeda. Sang kakak yang lebih tua 8 menit dari adiknya, memiliki paras yang buruk rupa. Sedangkan adik kembarnya memiliki paras yang cantik jelita. Seorang peramal mengatakan, bahwa mereka itu hanya memiliki satu nyawa saja yang berada di dua tubuh berbeda.
Orang-orang yang bertemu dengan sang adik selalu terpukau dengan kecantikan gadis itu. Mereka memuji-muji sang adik dan membanggakannya. Hal itu membuat sang adik semakin percaya diri. Tapi, pandangan orang-orang terhadap kakaknya berbeda. Mereka membicarakan hal yang tidak-tidak terhadap gadis yang itu.
Semenjak itu, sang kakak hanya bisa hidup di kamar saja. Orangtuanya dengan sengaja mengurungnya di kamar selama bertahun-tahun. Alasannya memang sangat tidak logis, yaitu malu dengan paras dari gadis itu.
Sang kakak pun berkecil hati. Setiiap hari, ia hanya bisa menghabiskan waktunya dengan menangisi paras dan hidupnya itu.
Adik kembarnya juga egois karena tidak pernah mengingat keberadaan kembarannya. Ia merasa bahwa hanya dia-lah seorang tanpa ada kata 'kembar'. Meskipun adiknya tidak mengingat keberadaannya, awalnya sang kakak tidak membencinya.
Tapi ketika adik kembarnya menginjak umur 15 tahun, ia mengingat kembali keberadaan kembarannya. Mulai saat itu, mereka berdua dekat kembali. Meskipun, sang adik harus masuk ke dalam kamar usang yang sudah menjadi tempat kembarannya di kurung.
Mereka terlihat akrab seperti kembar pada umumnya. Orangtua mereka membiarkan mereka terus bercengkrama asalakan tidak membawa sang kakak keluar kamar.
Tapi ketika menginjak usia 18 tahun, sang adik tidak pernah menginjakkan kakinya di kamar kembarannya lagi. Lalu, mereka bertemu kembali. Di saat itu juga, sang adik mengatakan sesuatu yang membuat hati sang kakak tersayat. Sang adik dengan egoisnya mengatakan bahwa dia terlahir seorang diri, tanpa kakak kembar.
Sang kakak menahan tangisnya. Ia tidak percaya adiknya akan mengatakan hal itu tanpa alasan yang pasti. Adiknya juga mengatakan bahwa sang kakak bukanlah kembarannya.
Sang adik sedikit menaikkan egoisnya, dan mengatakan bahwa dia tidak memiliki kakak kembar dengan wajah yang jelek seperti itu. Hati sang kakak semakin tersayat. Sebisa mungkin ia menahan rasa kesalnya pada sang adik yang sangat egois itu, hingga rasa kesal itu tertimbun dilubuk batinnya.
Suatu hari ketika sang kakak diberikan waktu untuk bebas, tidak sengaja mendengar sebuah percakapan. Percakapan antara calon suami dari adik kembarnya dan seorang kepala pelayan di rumahnya.
Percakapan itu terdengar semua niat jahat dari calon suami dari adiknya itu. Laki-laki itu bersekongkol dengan kepala pelayan dirumah untuk menipu kedua orangtua dari gadis kembar itu.
Ketika sang kakak ingin berlari memberitahu niat jahat laki-laki itu, tanpa lengannya sengaja menyenggol sebuah patung hingga terguling. Laki-laki dan kepala pelayan itu langsung menoleh ke sumber suara. Sang kakak sempat bertemu pandang dengan dua orang jahat itu, sebelum akhirnya ia melarikan diri.
Sayangnya, gerakan sang kakak terlalu lamban. Laki-laki itu menarik lengan sang kakak terlebih dahulu, kemudian mengeluarkan sebuah pisau kecil yang tajam. Tubuh sang kakak langsung bergidik takut. Pisau yang pegang oleh laki-laki itu mengarah ke lehernya.
Pada akhirnya, ujung pisau kecil laki-laki itu memutuskan urat nadi dari sang kakak. Ya, laki-laki itu telah membunuh kakak kembar dari calon istrinya itu.
Di waktu yang sama, sang adik merasakan sebuah tekanan keras dijantungnya. Sang adik yang sedang menyiapkan pakaian pengantin adat, langsung berjalan sempoyongan. Napasnya tidak beraturan. Tubuhnya memucat pasi.
Ketika ia akan melangkahkan kakinya, tubuhnya sudah hilang keseimbangan. Semua pelayan rumah itu bergerak cepat menghampiri sang adik. Sayangnya, detak jantung sang adik sudah berhenti. Sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya, sang adik sempat meraba-raba bagian lehernya dan terbatuk-batuk.
Kedua gadis kembar itu meninggal disaat bersamaan. Kedua orang tuanya sangat sedih. Untuk menutupi identitas sang kakak yang buruk rupa dari orang-orang yang tidak tahu akan keberadaanya sebagai kakak kembar dari gadis yang sangat cantik itu, mereka memutuskan untuk memakamkan kedua putrinya di tempat yang berbeda.
Sang adik di makam keluarga, sedangkan sang kakak di sebuah hutan tak terurus. Untuk sang kaka mungkin bukan dimakamkan, melainkan abunya di biarkan begitu saja.
Semenjak itulah, hutan yang tidak terurus itu memiliki hawa mistis yang kuat. Tiap kali bulan purnama, munculah gadis cantik dan manis. Tatapan yang sayu dan menenangkan, begitu terasa bagi siapapun yang menatapnya. Tapi, siapapun yang sudah bertemu dengannya pasti akan ditemukan tidak bernyawa.
Konon katanya, sang adik terlahir kembali menjadi manusia. Sedangkan, sang kakak memang terlahir kembali, namun bukan menjadi manusia. Melainkan menjadi Yeowang. Meskipun mereka terlahir di kehidupan dan 'tempat' berbeda, nyawa mereka masih saja satu.
Yeowang adalah sebutan khusus untuk orang terlahir kembali sebagai ratu. Namun, ada banyak presepsi ratu dari yeowang itu. Tapi, yeowang sering disebut juga ratu gelap.
Ratu yang terlahir karena sebuah kebencian ketika ia meninggal. Kehadirannya dengan paras yang cantik dan anggun seperti membutakan pandangan orang terhadap sosok aslinya. Yeowang berparas manusia. Oleh karena itu, sangat sulit membedakan yeowang dengan manusia biasa.
Sang kakak yang terlahir menjadi yeowang itu bertemu dengan sebuah laki-laki yang memiliki paras tampan. Namun, bersifat devil. Mereka bertemu ketika waktu 49 hari sang kakak sudah habis.
Laki-laki itu sudah seperti kakaknya. Awalnya sang kakak tidak mengingat kehidupan lamanya, tapi laki-laki itu mengingatkannya. Laki-laki itu seperti mengucapkan sesuatu hingga membuat sang kakak bersujud kesakitan.
Saat itulah, sang kakak menjadi yeowang sepenuhnya. Hatinya sudah dipenuhi kotoran batin yang ingin balas dendam, serta rasa iri hati terhadap adiknya yang telah ia simpan selama hidupnya.
Tujuan utamanya sekarang adalah membunuh adik kembarnya yang memiliki setengah nyawa dan rohnya. Tak ada cerita yang jelas terhadap hal ini. Tetapi, yeowang itu tengah mencari setengah rohnya yang dimiliki adiknya itu*.
So Hyun langsung menghentikan kegiatannya sebentar. Kepalanya kembali berdenyut. Ia menopang dahinya, kemudian memijat-mijat dahinya. Entah mengapa, kepalanya terasa sangat pusing ketika membaca buku itu. Meskipun begitu, So Hyun tetap melanjutkan bacanya. Dengan kondisi sakit kepala yang begitu mencengkram, So Hyun melanjutkan membaca buku itu. Buku yang mungkin bisa menjadi 'kata kunci' dari semua ini.
***
To Be Continue
***
Part selanjutnya masih ada kelanjutan story Bella ini, jadi di tunggu ya😉
Atau kalian ada yang ingin menebak gimana cerita selanjutnya? Yuk iseng bermanfaat biar gak kepo😁😁
Jangan lupa Like Comment ya!!