
Preview
Ketika ia sudah selesai membereskan tasnya, Namjoon tersenyum kepada So Hyun. Kemudian, ia berjalan keluar dengan tas yang hanya di gantung hanya sebelah bahu.
'Buku itu...' Batin So Hyun bergumam.
Mata So Hyun menangkap sampul buku yang tadi Namjoon baca. Ia sangat mengenali sampul buku itu.
Buku yang sama dengan apa yang ia baca sebelum insiden In Hyong terjadi. Mengingat buku dan In Hyong kepalanya terasa pusing. Sejak itu, ia sudah tidak membaca buku itu
***
Keesokkan harinya, Jimin dan So Hyun mendapat giliran untuk duduk bersebelahan. Jimin memanfaatkan Eun Soo yang pergi ke laboratorium biologi untuk belajar bersama dengan So Hyun.
Eun Soo yang pandai dalam biologi itu, masuk ke dalam daftar lomba. Jadi, mulai hari ini ia harus menghabiskan waktu lebih banyak di laboratorium biologi untuk persiapan lomba.
"Sudah tahu tentang Yoo sonsaengnim kemarin, belum?" Jimin berbicara pelan sambil membuka-buka halaman buku sainsnya. Ia berbicara dengan mata yang masih terpaku dengan bagan-bagan organisme yang tercetak di buku itu.
"Katanya ia ditusuk seseorang sampai 3 kali, kan?" So Hyun menjawab dengan tangan yang sibuk menulis rangkuman.
"Ditusuk? Yang aku tahu itu adalah cakaran hewan buas. Dokter forensik itu yang mengatakannya." Jimin menatap So Hyun dengan serius.
'Hewan buas?' Batin So Hyun berbicara.
Ia menghentikan gerakan tangannya sebentar dan terdiam. Ia masih ingat dengan sebuah paragraf yang ia baca 1 minggu yang lalu. Paragraf itu menulis sebuah penemuan laki-laki yang mati dengan cakaran hewan buas di sekujur tubuhnya. Mengingat hal itu, tubuh So Hyun merinding seketika.
"Jangan bercanda. Mana ada hewan buas yang dapat masuk melompati pagar beton sekolah?" So Hyun meletakkan pensilnya keras-keras.
"Entahlah. Aku juga tidak tahu pasti. Dokter forensik telah membersihkan darah yang mengering di sekujur tubuh Guru Yoo. Lukanya berbeda dengan luka tusukkan. Dari 3 luka, 2 diantaranya adalah cakaran. Ya, satunya lagi memang tusukkan. Tepatnya dibagian jantung." jelas Jimin dengan suara sedikit mengecil.
"Yang benar saja." sahut So Hyun tidak percaya.
Ia menegakkan tubuhnya. Semakin lama, tubuhnya semakin mendingin. Telapak tangannya juga mengeluarkan keringat. Bulu kuduknya berdiri. Ia merasa seperti ada yang menatap tajam dirinya dan Jimin. So Hyun hanya bisa menegakkan badan.
"Kau kenapa? Tubuhmu terlihat kaku." Jimin memiringkan kepalanya bingung. Ia menyadari tingkah laku aneh So Hyun yang seperti menahan sebuah perasaan.
"Aniya." sahut So Hyun pendek. Ia berusaha menyembunyikan rasa ketakutannya yang hinggap secara tiba-tiba itu kepada Jimin.
"Hmm... baiklah." Jimin kembali fokus kepada bukunya.
So Hyun mencoba mengatur deru napasnya yang mulai tidak beraturan. Ia terasa tercekat sekarang. Ia merasa ada yang tidak beres dengan keadaan di sekitarnya.
Alih-alih ingin membuang tatapan keluar jendela, justru matanya menangkap sebuah bayangan laki-laki di bawah pohon maple tua itu.
Mata So Hyun memicing untuk menajamkan penglihatannya. Laki-laki itu tersenyum kepadanya dengan senyuman licik, lalu melambaikan tangan padanya.
Pada saat itu juga, dua jari laki-laki itu mendekati matanya sendiri, lalu menunjuk ke arah So Hyun. Jika diartikan dalam sebuah ucapan. Kurang-lebih tepatnya laki-laki itu berkata seperti ini, 'Aku akan selalu mengawasimu!'
Mengerti maksud dari jari itu, tubuh So Hyun terasa membeku. Gadis itu menerjapkan matanya berkali-kali.
"Ji-Jimin-ah..." So Hyun mulai terusik dengan tatapan bayangan itu. Ia menarik-natik lengan jas sekolah Jimin pelan.
"Ji-Jimin-ah..." Panggilnya sekali lagi.
Jimin mendengus kesal ketika konsentrasinya di ganggu. Ia mendecak lidah, "Apa?!"
"Itu... siapa?" Suara So Hyun mulai bergetar. Ia bertanya dengan jari telunjuk menunjuk lurus ke arah bayangan yang tengah menatapnya licik dan tajam itu.
Jimin menoleh, mengikuti arah tunjukkan jari So Hyun. Matanya memicing, kemudian ia mendengus. Ia tidak melihat siapapun di sana. Hanya pohon maple tua yang mulai di tumbuhi lumut di sekujur batang kambiumnya yang besar itu.
"Tidak ada siapa-siapa di sana. Kau sedang mengigau, ya?" Jimin berkata sambil tetap menerawang sekitar tempat itu.
"Coba kau lihat dengan baik. Di situ ada seseorang!" pekik So Hyun. Gadis itu menoleh menatap Jimin lekat-lekat. Jari telunjuknya masih menunjuk ke arah pohon maple tua itu.
"Ada juga kau yang harus melihatnya baik-baik!" Jimin memutar kepala So Hyun untuk kembali menoleh ke arah pohon maple tua yang ditunjuk itu.
"Tidak ada siapa-siapa, kan?" Jimin berkata dengan datar. Lalu, kembali fokus pada bukunya.
Kemudian, So Hyun menatap ke arah pohon itu lagi. Benar apa yang dikatakan oleh Jimin. Tak ada siapa-siapa disana. Hanya ada pohon maple tua yang masih berdiri kokoh. Sudah kedua kalinya ia seperti ini, tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin.
'Yang tadi itu... siapa?'
Disaat So Hyun terdiam memikirkan apa yang ia lihat, terdengar suara jeritan keras dari seorang siswi, "AAAAAAA!!"
Tubuh So Hyun langsung tersentak, begitu juga Jimin.
"SESEORANG TOLONG AKU!!"
Bukan hanya mereka berdua, semuanya pun itu terkejut mendengar jeritan itu.
***
Setelah selesai melakukan persiapan untuk lomba kimia dan biologi, Eun Soo hanya tinggal di laboratorium seorang diri.
Gadis itu tengah membereskan tabung elemayer dan beberapa tabung reaksi. Guru pembimbing dan teman-teman dari kelas lain juga sudah meninggalkan laboratorium itu.
Dengan telaten, Eun Soo membereskan tabung-tabung reaksi itu ke tempatnya. Ia juga mengelap tabung elemayer yang ia gunakan untuk mengetes kadar suatu minuman tadi.
Setelah selesai, ia mengangkat tabung-tabung itu dan membawanya ke lemari khusus. Namun tidak sampai di situ saja, ia juga harus menaruh kembali kertas-kertas materi ke dalam lemari besi.
Ia merapikan kertas-kertas itu, kemudian menumpuknya jadi satu. Eun Soo mengembuskan napas senang setelah selesai membereskan semua itu.
Ia membawa setumpuk kertas itu di dalam dekapannya. Tangan katanya terulur untuk membuka kunci lemari besi itu. Ketika sudah terbuka, ia menarik gagang lemari itu.
Karena kaget, Eun Soo jatuh duduk bersamaan tumpukkan kertas-kertas itu. Kedua matanya melebar ketika melihatt sudut-sudut kertas itu basah karena darah. Dengan cepat ia bangkit, dan menjauhi tumpukkan kertas-kertas itu.
Tiba-tiba pintu lemari itu mengayun terbuka dan tertutup dengan sendirinya, hingga mengeluarkan suara benturan yang cukup keras. Juga mengganggu pendengaran. Eun Soo menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya mulai bergetar.
Di sela-sela pintu lemari yang terbuka dan tertutup itu, terlihat sebuah bayangan berada di dalam lemari itu. Berambut panjang, berkulit putih, dan tinggi. Itu adalah seorang. Gadis itu tersenyum ke arah Eun Soo dengan anehnya. Darah segar mengalir di bagian lengan kanannya. Dan, sebuah pecahan kaca yang tajam di tangan kirinya.
Eun Soo memundurkan langkahnya. Namun, gadis itu semakin mendekat. Ia berjalan keluar dari lemari besi itu sambil tersenyum dengan mata yang melebar.
Senyuman dengan deretan gigi putih itu membuat Eun Soo semakin ketakutan. Ia terus berjalan mundur. Tapi, gadis itu mendekat. Tak hanya di lengan, darah segar juga mengalir dari pelipis gadis itu.
"Bukankah... aku sudah meminta tolong padamu untuk menolongku?" gumam gadis itu dengan jalan terhuyung-huyung, dan kepala yang menunduk.
"I- In- In Hyong-ah..." ucap Eun Soo terbata-bata.
"Lalu, kenapa kau tidak menolongku?!" suara In Hyong mulai keras. Ia masih berjalan mendekati Eun Soo.
"Ah... itu..." Eun Soo kehabisan kata-kata untuk menjawab.
"KENAPA?!" Teriak In Hyong keras.
Kepala gadis itu langsung mengadah, menatap Eun Soo dengan tatapan berbeda. Matanya lebih melebar, seperti akan keluar. Bagian putih mata In Hyong juga mengeluarkan urat merah, yang tak lain tak bukan adalah syaraf matanya. Tangan gadis itu juga terulur ke depan. Kulit yang tadi berwarna putih itu, kini berubah menjadi keriput dan urat-uratnya juga terlihat.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa kau tidak menolongku..." In Hyong mengucek-ucek matanya keras-keras. Hingga terlihat darah yang mengalir di telapak tangannya.
Napas Eun Soo tersendat, ia terus melangkah mundur. Tubuhnya sudah terbentur dengan jendela laboratorium itu. Gadis itu mulai meraba-raba selotan jendela itu.
Namun, ketika ia membalikkan badannya. Sosok In Hyong dengan mata yang mengeluarkan darah itu langsung menempel di jendela. Rasa kejut dan ketakutan Eun Soo begitu memuncak.
In Hyong tersenyum sama seperti sebelumnya. Namun, tampilannya sekarang sudah seperti nenek-nenek dengan rambut yang berantakkan. Tubuh Eun Soo terhuyung ke belakang, gadis itu sudah mengeluarkan air matanya karena ketakutan.
In Hyong membuka jendela itu dan mulai mendekatkan wajah yang sudah berlumuran darah ke Eun Soo. Eun Soo memejamkan matanya rapat-rapat, dan langsung berteriak.
"AAAAAAAA!!"
In Hyong semakin mendekatkan pandangan berdarahnya ke arah Eun Soo yang memejamkan matanya.
"SESEORANG TOLONG AKU!!"
Tatapan itu semakin mendekat...
"MENJAUH DARIKU!!"
In Hyong mulai menyodorkan pecahan kaca yang tajam itu ke arah Eun Soo.
Namun, sosoknya langsung menghilang bagaikan angin ketika seseorang mendobrak pintu dengan kasar. Taehyung, Jimin, So Hyun, Namjoon, dan seluruh siswa yang mendengar jeritan itu langsung berlarian menuju tempat itu.
Eun Soo membuka matanya perlahan. Pipinya sudah lengket dengan air mata ketakutannya. Tubuhnya bergetar hebat. Sosok In Hyong yang seperti nenek itu memang terlalu menyeramkan untuk di lihat oleh batinnya. Siswa-siswi yang lain menatapnya khawatir.
So Hyun berlari menghampiri Eun Soo yang terduduk dengan tubuh bergetar. Melihat So Hyun sudah berada dekat dengannya, Eun Soo langsung memeluk So Hyun erat. Tubuh Eun Soo masih bergetar takut.
Ia memeluk So Hyun erat sambil menangis. So Hyun yang terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu langsung terjatuh duduk.
"So- So Hyun-ah..." Eun Soo memanggil-manggil namanya sambil menangis tersedu-sedu.
"Ya, aku di sini." ujar So Hyun dengan membalas pelukan Eun Soo hangat.
So Hyun mengulurkan tangannya untuk membalas pelukan Eun Soo. Ia dapat merasakan suhu tubuh gadis itu dingin dan kulitnya memucat.
Jimin, Taehyung dan Namjoon berjalan mendekati dua orang sahabat itu. Suara tangis Eun Soo semakin terdengar ketika So Hyun menjawab panggilannya. Jimin dan Taehyung hanya bisa menatap Eun Soo dengan perihatin.
Siswa-siswi itu terlihat sangat khawatir. Beberapa diantara mereka memilih untuk ikut masuk ke dalam laboratorium. Meskipun, tidak semua dari mereka mengenal. Bahkan, senior-senior mereka mulai berjalan mendekati Eun Soo yang masih menangis itu.
Kemudian, Namjoon membuka jendela tempat sosok In Hyong yang menyeramkan itu masuk. Laki-laki itu menatap sekelilingnya, kemudian menatap ke arah pohon maple tua yang berjarak 6 meter ke depan dari jendela itu.
Laki-laki itu memicing ketika melihat seorang laki-laki duduk sambil tersenyum sinis kepadanya di cabang pohon yang besar tersebut.
"Apapun yang terjadi, tak akan ku biarkan kau mengganggu mereka!" ujar Namjoon sambil menatap laki-laki itu dengan tatapan tajamnya.
Kini senyum lesung pipinya, sudah menjadi senyuman serius yang menyeramkan.
***
"Tak akan membiarkanku untuk mengganggu mereka, ya?" Laki-laki itu terduduk sambil mengayunkan kakinya dengan santai.
Sebuah daun maple yang kering itu tiba-tiba jatuh di telapak tangannya yang terbuka. Laki-laki itu tersenyum sinis, dan menatap daun kering itu dalam. Lalu, ia menutup telapak tangannya keras. Daun itu hancur di dalam genggamannya seketika.
Ia tersenyum sinis, "Kita lihat saja nanti."
***
To Be Continue
***
Wah Namjoon juga akan berperan penting juga disini!! Jadi saksikan ya part selanjutnya!!
Jangan lupa Like dan Comment!!
Terima kasih yang sudah baca dan akan lebih menambah semangat author jikalau kalian komen lebih enak nih!! Biar tambah semangat author nih menulis!!