
Preview
***
Selama pelajaran berlangsung, Jimin tak henti-hentinya menatap So Hyun yang duduk sedikit jauh dari tempatnya. Ia merasa bersalah akan hal ini.
Sebenarnya, ia tidak marah pada gadis itu. Hanya saja rasa kecewa yang ada pada Taehyung itu, seakan-akan menularinya. Ia mengingat bahwa So Hyun memintanya untuk tidak duduk bersamanya saat itu. Entah mengapa, ia jadi menyetujui hal tersebut. Walaupun, mereka sebenarnya sudah berbaikan.
Guru yang sedang menerangkan materi, ia acuhkan sesaat. Ia ingat jelas bahwa tadi So Hyun terlihat lesu di tempat duduknya. Jimin juga sempat melihat kedua bahu gadis itu bergetar dan naik turun.
Bisa ditebak kalau gadis itu sedang menangis. Namun apa daya, Taehyung memintanya untuk menjauhi sahabatnya sendiri. Dan… Lagi-lagi, ia kembali menyetujui itu.
Dari tempat duduknya sekarang, Jimin melihat So Hyun hanya diam sambil menopang pipinya. Aura gadis itu terlihat berbeda dari biasanya. Dia yang biasanya duduk tegap dan mencatat semua materi yang tengah di jelaskan, sekarang hanya bisa diam sambil menopang pipi. Jimin mengembuskan napasnya dan kembali fokus pada pelajaran yang tengah berlangsung.
‘Maafkan aku, So Hyun…’ batinnya tidak henti-hentinya mengucapkan itu.
***
Di waktu istirahat, Jimin berjalan sendirian menuju kelas Taehyung. Ia juga sempat berpapasan dengan So Hyun, namun hanya sekilas. Gadis yang berpapasan dengannya itu langsung berjalan cepat menghindarinya.
Ia tidak tahu kemana gadis itu akan pergi. Tapi batinnya mengatakan dengan sangat yakin, bahwa gadis itu akan menemui Namjoon. ‘Sahabat’ barunya.
Jimin berjalan dengan santai menuju kelas Taehyung. Ketika sudah berada di depan kelas Taehyung, salah satu teman kelasnya mengatakan Taehyung tidak ada di kelas sejak tadi pagi.
Jimin terdiam mengingat kejadian tadi pagi. Ia dan Taehyung sama-sama berjalan menuju kelas. Tapi karena kelas mereka berbeda lorong dan lokasi, jadi mereka berpisah didepan lorong perpustakaan.
Mengetahui hal itu, Jimin hanya menganggukkan kepalanya saja. Sebelum ia pergi, ia sempat mengucapkan terima kasih pada orang itu.
Dengan langkah kebingungan, Jimin menoleh ke arah kanan dan kiri untuk mencari sosok temannya itu. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah itu.
Namun, langkahnya terhenti tepat didepan pintu UKS yang agak terbuka. Sebelum melewati UKS sepenuhnya, Jimin sempat tak sengaja melihat ke dalam.
Kedua pasang mata yang sipit namun indah itu mendapatkan dua orang asing yang tengah berbincang-bincang di dalamnya. Raut wajah dari dua orang itu terlihat cukup serius. Jimin sedikit memicingkan matanya untuk melihat orang-orang itu lebih jelas.
Salah satu dari mereka adalah seorang perempuan. Jimin semakin memicingkan matanya hingga terlihat seperti garis melengkung terbalik–lagi–.
Kini sosok perempuan itu sudah jelas, yaitu Dokter Jung. Namun untuk laki-laki yang sedang bersamanya, Jimin tidak bisa mengatakan itu siapa. Karena ia baru pertama kali melihat sosok laki-laki itu.
Dari postur tubuh dan rambutnya, jelas sekali bukan Namjoon, apalagi Taehyung. Karena penasaran, Jimin memutuskan untuk mendengarkan perbincangan Dokter Jung dan laki-laki itu.
“Kau tahu? Kalau kau tidak muncul, mungkin aku sudah dihabis oleh Namjoon.” ujar laki-laki itu.
Perempuan yang Jimin yakini adalah Dokter Jung itu, terkekeh pelan sembari menatap ke luar jendela UKS itu, “Sudah seharusnya kau berterima kasih padaku.”
Laki-laki itu sedikit mendengus pelan, “Baru sekali kau menolongku. Harusnya kau yang berterima kasih padaku, karena aku kau bisa menemukan setengah rohmu yang hilang.”
Telinga Jimin mendengar jelas kata ‘roh’ itu, langsung menyandarkan punggungnya di dinding dekat kusen pintu UKS itu.
Ia mengerutkan dahinya dan bergumam tidak jelas, “Roh? ‘Setengah rohmu yang hilang’ Apa maksudnya itu?”
Jimin kembali mengintip ke dalam UKS itu. Tampak sekali bahwa Dokter Jung begitu dekat dan kenal laki-laki yang tengah berbicara dengannya.
Namun, penampilan Dokter Jung sedikit berbeda dari biasanya. Entah mengapa, Jimin merasa wajah Dokter Jung jadi sedikit mirip So Hyun jika tidak menggunakan kacamatanya.
“Ya, ya. Terima kasih, Yoongi-ssi. Tanpamu, mungkin aku tidak akan pernah menemukan adik kembarku yang membawa ‘roh’ku,” Dokter Jung kembali berujar dengan sedikit senyum aneh.
Laki-laki yang bernama Yoongi itu hanya membalasnya dengan dengusan jengkel. “Senang rasanya, kau muncul seperti itu. Kau tahu, selama kau pergi mencari rohku… aku kesepian.”
Jimin mengerutkan dahinya sambil terus mendengarkan obrolan mereka, ‘Yoongi? Siapa Yoongi?’ batin Jimin bergumam dengan penuh pertanyaan. Laki-laki itu kembali mendengarkan obrolan orang yang sedikit misterius itu.
“Tak usah sok merindu seperti itu,” jawab laki-laki yang ternyata bernama Yoongi. “Omong-omong, bagaimana perasaanmu ketika kau menemui adik kembarmu tadi pagi dengan sosok ‘La Bella Muerte’ mu itu?”
Dokter Jung itu kembali tersenyum. Senyum yang tidak pasti, atau lebih tepatnya senyum yang mencurigakan, “Perasaanku sungguh senang. Kau tahu, padahal tinggal sedikit lagi. Sedikit lagi aku bisa mengambil setengah roh itu. Sayangnya, si pengkhianat Namjoon datang…”
Jimin yang masih terus mendengarkan obrolan mereka secara diam-diam, merasakan keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya.
Ia ragu untuk mengatakan kalau Dokter Jung juga bagian dari ‘mereka’ seperti yang Taehyung ucapkan pada So Hyun tadi pagi. Tapi, ujaran wanita muda itu terlihat mencerminkan semuanya.
“Kau masih menganggapnya pengkhianat?” tanya Yoongi lagi, ia sedikit menumpuk salah satu kakinya ke kaki lainnya.
“Bagaimana tidak? Bukankah awal ia datang menjadi siswa di sini adalah untuk membantu menculik gadis itu? Tak tahunya, ia malah mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukannya. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu, padahal ia sudah hampir mendapatkannya ketika gadis itu pingsan! Ohya, kau tahu tidak? Sebenarnya Dokter yang asli sudah aku bunuh. Itu menyenangkan sekali.” jelas Dokter Jung panjang lebar, dan diakhiri kembali dengan sebuah senyuman miring.
Kedua mata Jimin langsung terbelalak lebar. Ia tidak percaya apa yang di katakan oleh Dokter Jung, bahwa ia telah membunuh ‘Dokter asli’.
Jimin mencoba me-review ingatannya beberapa bulan yang lalu. Setelah menemukan ingatan tentang Dokter Jung, Jimin merasa tidak ada yang berbeda dengan Dokter Jung yang dulu sampai sekarang.
Sifatnya sama saja. Hanya saja untuk saat ini, hanya untuk saat ini, Dokter Jung memang sedikit berbeda.
“Ehm,” ujar gadis mengangguk dengan senyum yang sama. “Aku membunuhnya ketika Dokter itu berada di rumahnya. Habisnya, Dokter yang asli terlihat begitu dekat dengan gadis yang awalnya ku kira bukan siapa-siapa itu. Tapi setelah melihat kau dan Namjoon terfokuskan dengan gadis itu, ya… Aku menyamar saja menjadi Dokter Jung itu.”
“Hahaha. Cerdas sekali,” Yoongi sedikit terkekeh mendengar penjelasan Dokter Jung itu. “Sampai kapan kau akan menjadi Dokter palsu seperti ini?”
“Sampai aku bisa membalas rasa kesalku pada Namjoon,” ujar Dokter Jung dengan melempar pandangannya keluar jendela. “Lagipula, kalau tidak ada Namjoon… pasti tidak akan ada yang menghalangi langkahku untuk mengambil roh-ku itu, kan?”
Yoongi mendelik ke arah wanita muda yang sebenarnya adalah seorang gadis dengan santai, “Ya, kau benar. Mau bagi-bagi tugas lagi? Atau…”
“Kau saja yang mengalahkannya. Aku tidak mau tanganku kotor hanya untuk mengalahkan bahkan membunuh si pengkhianat itu. Tanganku ini hanya akan aku gunakan untuk mengambil setengah rohku saja. Selebihnya, itu tugasmu saja.” sela perempuan itu cepat. Tangannya sedikit terkepal mengingat sesuatu. Sesuatu yang telah membuatnya kesal setengah mati.
Jimin tak bisa mengendalikan rasa terkejutnya itu. Ia berusaha keras agar tidak mengeluarkan sebuah seruan terkejut mendengar semuanya langsung. Beberapa siswa menatapnya aneh disaat ia masih terus mengintip ke dalam UKS itu.
‘Apa?! Jadi semua ini…’
“Boleh saja,” Yoongi menggantungkan kalimatnya dan merubah posisi duduknya, “Tak hanya kau yang merasa dikhianati. Aku juga. Tenang saja. Aku melakukan tugasku seperti biasa. Lalu, bagaimana dengan Ah Jung?”
“Soal Ah Jung… Gadis itu akan aku dapatkan setelah kau kalahkan Namjoon itu,” ujar Dokter Jung dengan sedikit penekanan. Batinnya terasa kembali tersulut api emosinya.
‘Siapa Ah Jung? Atau jangan-jangan…’ batin Jimin terus saja mengeluarkan pertanyaan yang begitu penasaran.
‘Apa Ah Jung itu So Hyun? Aku baru tahu kalau ia memiliki nama lain…’
“Kau sepertinya terlihat begitu kesal padanya,” ujar Yoongi dengan melemparkan tatapan datar kepada Dokter Jung.
Dokter Jung membalas tatapan datar itu dengan menusuk, bahkan bola matanya terlihat kebiruan dan mengkilat, “Baiklah. Aku mengerti. Tapi, aku rasa mengalahkan Namjoon saja tidak cukup.”
Jimin yang juga melihat tatapan tajam kebiruan Dokter Jung, kembali menyandarkan punggungnya ke dinding. Ia sedikit menderu setelah melihat dan mendengar semuanya dengan alat inderanya sendiri.
‘Bahaya… ’ Tapi, tetap saja ia mengintip dan kembali mendengarkan percakapan dua orang itu.
Tatapan Dokter Jung sedikit melunak. Ia memiringkan kepalanya sedikit heran, “Maksudmu?”
“Aku tak yakin dengan ini. Tapi, ada seorang laki-laki yang terlihat begitu menghalangi langkahku untuk menculik adikmu itu. Kalau tidak salah namanya adalah Kim Tae Hyung.” ujar ujar Yoongi yang menyandarkan kepalanya santai di sofa UKS itu.
Dokter Jung kembali terkekeh dengan tangan yang berada didepan bibirnya, “Tenang saja. Aku sudah mengadu dombakan dirinya dengan Namjoon.”
“Aku tidak mengerti maksudmu itu.” sahut Yoongi pendek.
“Ya, Yoongi-ssi… Kau ini lebih tua daripadaku. Masa, logikamu tidak berjalan?” ujar Dokter Jung dengan nada yang terdengar… manja.
“Umur tidak berpengaruh. Semua orang juga ada kalanya tidak mengerti ucapan orang lain.” balas Yoongi ketus.
“Ya, ya. Maaf. Jadi begini, aku memberitahu Taehyung bahwa yang patut di curigai adalah Namjoon. Bukan kau. Karena kau baru muncul, dan dia belum terlalu mengenalmu… Sebisa mungkin kau tutupi sifat aslimu itu. Aku yakin, ia akan mempercayaimu untuk membantu menjaga So Hyun dari Namjoon. Atau…”
“Tapi, dia sudah tahu identitasku. Aku rasa adu-domba itu tidak akan berhasil.” sahut Yoongi sedikit tidak yakin.
“Kalau kau tidak yakin dengan cara adu-dombaku, kau bunuh saja Taehyung terlebih dahulu. Bagaimana? Tidak sulit, kan?” balas Dokter Jung cepat.
Yoongi menatap gadis itu sekilas, kemudian tersenyum licik. Senyum yang sering kali keluar ketika ia menampakkan sosoknya di hadapan So Hyun, “Benar juga. Kenapa itu tidak terpikirkan sebelumnya?”
Jimin menghentikan kegiatannya itu. Ia langsung berjalan meninggalkan UKS itu dengan cepat.
Rasanya sulit dipercaya bahwa Dokter Jung adalah ‘ratu’ dari semua ini. Ratu dari segala cerita misterius yang berawal dari sebuah cermin pecah hingga kematian Eun Soo.
Apalagi,ia mendengar bahwa Taehyung adalah orang yang selanjutnya yang akan mereka bunuh. Setelah itu berlanjut pada sahabat baiknya, So Hyun. Memikirkan itu, Jimin langsung mempercepat langkahnya untuk mencari Taehyung.
“Jadi… selama ini bukan Namjoon pelakunya?” Jimin bergumam pelan.
***
Ketika mendengar semua celotehan gadis itu, Yoongi tiba-tiba saja tersenyum tanpa alasan yang jelas. Ia menopangkan dagunya dan mendelik ke arah pintu UKS.
Ia bisa merasakan bahwa ada orang yang mendengarkan pembicaraan mereka. Tak lama setelah merasakan itu, ia kembali tersenyum aneh.
“Sepertinya… ada yang datang ke sini.” ujar Yoongi dengan licik. ‘Kita lihat saja nanti. Hukuman apa yang pantas diterima oleh seorang penguping.’ batinnya terasa sangat senang.
***
To Be Continue
***
Wah Jimin ketahuan tuh? Gimana ya selanjutnya dia? Akankah malah dia korban selanjutnya?
Jangan lupa Like Comment!! Makin seru kan, sudah terbongkar perlahan-lahan identitas dokter Jung😁