
Preview :
Disaat bersamaan, sosok itu menghilang lagi. Seorang laki-laki bersandar di pohon maple tua sekolah tersebut sambil mendengus. Ia memetik satu tangkai bunga mawar merah yang baru mekar. Lalu, menghirup aromanya dalam-dalam.
"Kali ini, aku biarkan kalian lari. Tapi untuk selanjutnya, tak akan ku biarkan begitu saja." ujar laki-laki itu licik.
***
Sekolah terlihat lebih ramai dibandingkan biasanya. Banyak orang-orang bergerombol ke ruang guru. Siswa-siswi pun banyak yang mengintip ke dalam ruang guru.
Beberapa diantara mereka memilih melihat keadaan di dalam ruangan itu sambil menutup mulut, bahkan berbisik-bisik. Tak hanya itu, petugas keamanan dan 2 orang dokter forensik pun ada di dalam ruangan tersebut.
So Hyun dan Jimin yang baru sampai lobby sekolah itu, melirik secara bersamaan ke arah ruang guru yang menjadi ramai itu. Mereka saling bertukar pandang dengan tatapan kebingungan.
"Apa yang terjadi di sana?" Tanya So Hyun dengan dari yang mengerut.
Jimin hanya bisa mengangkat kedua bahunya, "Molla. Mau coba lihat ke sana?"
Mendengar ajakan Jimin, So Hyun langsung mengangguk setuju. Dengan sedikit usaha dan tenaga, mereka menerobos masuk ke dalam ruang guru.
Karena di dalam terlalu sempit dipenuhi banyak siswa, So Hyun terpisah dengan Jimin. Mereka terpisah dan berusaha menerobos masuk ke dalam masing-masing. Dempetan dan dorongan harus So Hyun rasakan.
Ketika Jimin berhasil lebih dahulu, ia langsung mengembuskan napas lega. Ia menepuk-nepuk jasnya dan membetulkan dasinya.
Setelah berbagai kegiatan kecil itu, Jimin menoleh ke depan. Matanya yang sipit itu berubah menjadi bulat seketika. Ia begitu terkejut untuk melihat apa yang menjadi pusat keramaian itu. Darah... dimana-mana.
Setelah Jimin berhasil, So Hyun pun tak kalah. Ia sampai di bagian paling depan. Namun, keduanya langsung menatap apa yang menjadi pusat perhatian itu.
Sama seperti Jimin, So Hyun tak kuasa menahan rasa kejutnya. Ia menatap sekitar yang di penuhi darah. Dan, kebetulan sekali ia berdiri di sebelah salah satu dokter forensik tersebut.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya?" tanya seorang petugas keamaan kepada dokter forensik itu.
"Terdapat 3 lubang tusukkan di bagian perut, dada, dan punggung. Tapi, saya tidak tahu pasti bagaimana bisa terjadi hal seperti ini. Beruntung, saya sudah menemukan identitas korban." jelas dokter forensik tersebut.
"Kalau boleh tahu siapa, dok?"
"Entahlah. Saya rasa beliau berasal dari keluarga..." jawab dokter forensik itu lagi. Sayangnya, So Hyun tidak dapat mendengar jelas nama keluarga itu.
Ketika ia melihat sebuah jas yang familiar di dekat kaki meja Guru Kim, ia hanya terdiam kaku.
Mata So Hyun semakin terbuka lebar.
Mulutnya sudah menganga saking terkejutnya.
Darah ada dimana-mana...
Mual, itulah yang di rasakan oleh So Hyun. Tiba-tiba saja, tubuhnya terasa terhuyung-huyung dan kepalanya terasa sangat pusing. Gadis itu menyentuh keningnya dan memilih untuk melangkah mundur, menjauhi kawasan itu.
Sedangkan, Jimin masih menatap darah yang berceceran di lantai dan di meja guru. Ia sedikit memicingkan matanya ke arah meja guru yang satu itu.
Ia mencoba mengingat siapa yang menempati meja guru itu. Ketika pikirannya telah menemukan jawabannya, otaknya terasa seperti terpukul. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
Jimin mengepalkan tangannya saermbil tetap menatap meja guru yang sudah seperti tersiram darah. Di bagian bawah dekat kaki meja, ia dapat melihat sepasang sepatu hitam yang di letakkan begitu saja. Ia mengenali sepatu itu.
"Apa darah ini adalah darah Yoo sonsaengnim?" gumamnya pelan, sambil melangkah mundur.
***
So Hyun yang memilih keluar terlebih dahulu dengan berjalan mundur, akhirnya hampir sampai di dekat ambang pintu ruang guru itu. Kepalanya seperti di tekan kanan kiri, dan langkah kaki yang semakin tidak menentu. Tubuhnya terasa sangat ringan, seperti siap jatuh.
Dan benar saja, tubuhnya terjengkang ke belakang. Mual yang ia rasakan diperutnya, seperti mempercepat tubuhnya yang terhuyung itu untuk jatuh.
Penglihatannya seperti muncul titik-titik hitam, kemudian menjadi rabun. Ia dapat merasakan tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. So Hyun hanya pasrah dan tak bisa bergerak lebih cepat lagi. Untuk melangkah mundur saja, ia seperti tidak memiliki tenaga.
Bruk.
Saat itulah, keseimbangan tubuh gadis itu menghilang seketika. Ia sudah merasakan bahwa tubuhnya terjatuh.
Namun, ia merasa tubuhnya tidak jatuh ke lantai. Tak ada rasa terbentur atau apapun. Yang ada hanya embusan napas hangat.
Sebelum ia pingsan total, ia mendelik dengan memutar bola matanya. Gadis itu hanya bisa melihat wajah seseorang yang tengah menatapnya dengan tersenyum sekilas. Lalu, menghilang dari pandangannya begitu saja.
***
Setelah keluar dari ruang guru, raut wajah Jimin langsung berubah drastis. Ia bersandar di dinding sebelah pintu masuk ruang guru itu.
Ia mengembuskan napasnya yang sedikit menderu itu. Disaat ia sedang mengatur napas terkejutnya, Eun Soo datang sambil memeluk buku-buku pelajaran di dekapannya. Ia menatap Jimin kebingungan.
"Jimin-ah? Apa yang terjadi? Dimana So Hyun?" tanya Eun Soo tanpa jeda sedikit pun.
Jimin membuka matanya perlahan. Ia mendapati Eun Soo yang menatapnya dengan dahi yang mengerut. Jimin langsung meneggakkan tubuhnya dan menjawab pertanyaan Eun Soo, "Ada pembunuhan. Aku tidak tahu siapa yang terbunuh. Tapi, semua darah yang amis itu berceceran di meja Yoo sonsaengnim."
Eun Soo menerjapkan matanya berkali-kali, "Yang benar? Astaga!"
"Aku tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi, pikiranku mengatakan seperti itu." jawab Jimin lagi. Ia terlihat seperti mengajak Eun Soo untuk berjalan bersama ke kelas mereka.
"Tunggu sebentar, kau ke sekolah sendirian?" Eun Soo tetap pada posisinya. Ia terlihat seperti gadis yang kebingungan.
Jimin langsung menepuk keningnya pelan, "Astaga! Aku tinggalkan So Hyun di dalam!"
***
Sinar lampu yang menyilaukan matanya, semakin menambah kesulitan untuk terbangun sepenuhnya. So Hyun merasakan ada kehadiran orang lain di dekatnya.
Seorang laki-laki asing terlihat sibuk membaca bukunya. Ia tidak menyadari kesadaran dari So Hyun. Laki-laki itu tetap pada posisinya, duduk bersandar sambil baca buku.
So Hyun menerjapkan matanya sekali lagi, lalu menoleh ke arah laki-laki itu. Gadis itu mulai menegakkan tubuhnya perlahan ingin bangun.
"Akh!" desis So Hyun pelan.
Laki-laki itu mendengar desisan So Hyun, dan langsung melirik. Melihat So Hyun ingin bangkit dari posisinya, laki-laki itu langsung menutup buku, lalu menyimpannya. Tangan laki-laki itu terarah untuk mendorong punggung So Hyun perlahan.
"Ah... Terima kasih." gumam So Hyun malu-malu.
"Sama-sama." sahut laki-laki itu sdengan sebuah senyum yang manis. Lesung pipi terlihat di kedua pipinya, memberi kesan manis yang lebih.
"Kau siapa? Kau bukan siswa sini, ya?" tanya So Hyun ketika matanya menatap seragam yang berbeda. Laki-laki itu menggunakan seragam sekolah lain, bukan sekolah ini.
"Ya, aku bukan siswa sini. Aku hanya menjadi siswa pindahan dari Yongin." sahut laki-laki itu.
"Oh." Hanya itu yang bisa So Hyun keluarkan dari mulutnya. Ia terdiam, laki-laki itu juga terdiam. Ruangan itu sangat sunyi.
"Kim Namjoon." ujar laki-laki itu tiba-tiba.
So Hyun menolah lagi menatap laki-laki itu dengan dahi mengerut. Ia tertawa kecil melihat raut kebingungan gadis itu, "Kim Nam Joon imnida."
"Ah... ya. Hmm... So Hyun. Kim So Hyun imnida." jawab So Hyun sedikit terbata.
"Senang bertemu dan berkenalan denganmu, So Hyun-ah. Tampaknya, kau lebih muda dari padaku, ya?" Laki-laki yang bernama Namjoon itu bertanya dengan senyuman yang manis.
"Ah, ya. Aku siswi kelas 1. Bagaimana denganmu?"
"Aku kelas 2."
"Oh." So Hyun hanya bisa mengeluarkan jawaban yang monoton. Kalau tidak 'oh'. pasti 'ya'. Gadis itu memang sangat canggung jika berkenalan dengan orang-orang baru.
"Tangan kananmu kenapa?" tanya Namjoon yang terlihat ingin tahu.
"Ehm... Ini tulang hastaku retak, dan sendi yang sedikit bergeser." jawab So Hyun sembari menatap gips yang ada pada tangannya. Warna gips itu sudah memudar.
"Hmm... tampaknya parah. Kalau begitu, lekas sembuh." ujar Namjoon lagi.
"Ne. Gomawo."
Tiba-tiba, pintu UKS itu terbuka. Terdengar suara keramaian dari balik pintu kaca UKS itu. So Hyun dan Namjoon sama-sama menoleh ke arah pintu. Jimin, Eun Soo, dan Taehyung masuk ke dalam secara bergantian.
Eun Soo langsung berlari menghampiri sahabatnya itu. Ini sudah kedua kalinya ia melihat So Hyun berada di ranjang UKS, semenjak tulang hastanya retak.
"Ya! So Hyun-ah! Gwenchana?!" pekik Eun Soo kencang. Gadis itu langsung mendekati So Hyun dari sisi kirinya, tanpa melihat kehadiran Namjoon sedikitpun.
So Hyun hanya tersenyum dan mengangguk. Sedangkan Jimin berjalan di sebelah Taehyung sambil menggaruk-garukkan kepalanya cengengesan. Ia tahu ia bersalah meninggalkan So Hyun sendirian di ruangan yang penuh darah itu. Tapi, sebenarnya So Hyun sudah keluar lebih dahulu dibanding dirinya.
Taehyung yang hanya berjalan santai sambil mengunyah permen karet, hanya menatap So Hyun datar. Ketika matanya mendelik, ia langsung mendapati sosok Namjoon yang tengah duduk tersenyum.
"Nuguya?" Taehyung menunjuk ke arah Namjoon dengan santainya.
Suara berisik Eun Soo akibat terlalu khawatir, langsung menghilang seketika. Ia baru menyadari kalau ada orang lain yang sudah menemani So Hyun selama di UKS. Eun Soo melepas genggamannya pada So Hyun dan tersenyum canggung kepada Namjoon. Namun, Namjoon membalas dengan senyuman manis yang tadi.
"Dia siapa?" tanya Jimin kepada So Hyun.
"Kim Nam Joon imnida. Aku adalah siswa pindahan dari Yongin." sambar Namjoon dengan cepat. "Kalian teman-teman So Hyun?"
Taehyung dan Jimin hanya mengangguk secara bersamaan, namun dengan tatapan datar.
"Kalau begitu, aku tinggal, ya? Aku rasa So Hyun akan lebih nyaman bersama kalian. Permisi." ujar Namjoon.
"Memang seharusnya seperti itu, bodoh." gumam Taehyung pelan.
"Jaga bicaramu." desis Eun Soo dengan penuh penekanan.
Namjoon yang sepertinya tidak mendengar gumaman Taehyung, terlihat bersikap biasa saja. Ia memasukkan buku yang tadi ia baca ke dalam tas.
Ketika ia sudah selesai membereskan tasnya, Namjoon tersenyum kepada So Hyun. Kemudian, ia berjalan keluar dengan tas yang hanya di gantung hanya sebelah bahu.
'Buku itu...' Batin So Hyun bergumam.
Mata So Hyun menangkap sampul buku yang tadi Namjoon baca. Ia sangat mengenali sampul buku itu.
Buku yang sama dengan apa yang ia baca sebelum insiden In Hyong terjadi. Mengingat buku dan In Hyong kepalanya terasa pusing. Sejak itu, ia sudah tidak membaca buku itu lagi.
***
To Be Continued
***