
Preview:
Tanpa melihat ke belakang lagi, gadis itu langsung berjalan cepat menyusuri trotoar itu. Di sebuah pertigaan jalan, ia berhenti sebentar. Ia menoleh ke arah kiri, lalu mendapati seekor kuda putih yang berada di trotoar yang sama dengan tempat ia berdiri.
Kuda putih itu berjalan dengan anggunnya. Bulunya putih bersih bagaikan salju, dengan ekor yang menjuntai indah. So Hyun menatap kuda itu serius.
"Kuda itu..."
***
So Hyun menatap kuda itu dengan mata yang memicing. Ia memiringkan kepalanya sambil berpikir. Karena penasaran, ia pun melangkah menuju kuda putih itu. Kuda tersebut tengah memakan rumput dan tangkai-tangkai lunak pohon kecil.
Langkah kaki So Hyun semakin mendekat, kuda itu pun menghentikan pekerjaannya. Lalu, kuda itu menoleh ke arah So Hyun dan mengendus.
So Hyun tersenyum kecil, "Oh... Hai, kuda manis."
Kuda itu menatap So Hyun dengan mata birunya. So Hyun tersenyum kaku dan masih berjalan mendekati kuda itu. Tak tahu harus apalagi, So Hyun berniat mengelus kepala kuda itu. Menganggap kuda itu bagaikan hewan peliharaan yang manis. Ketika So Hyun mulai mengelus, kuda itu menutup matanya.
"Sedang apa kau di sini? Darimana asalmu?" tanya So Hyun dengan tangan yang tergerak untuk mengelus rambut kuda yang menjuntai itu.
"Apa aku gila? Aku berbicara dengan kuda..." gumam So Hyun sambil terus mengelus.
Kuda itu hanya diam saja. Jelas, mana mungkin hewan berbicara. So Hyun hanya menatap kuda berbulu putih itu dengan tatapan terpesona. Ia bahkan sudah sedikit lupa tentang wujud kuda itu. Wujud yang sama dengan buku yang ia baca.
Karena bulu kuda putih itu halus, tiba-tiba saja So Hyun ingin sekali memeluk kepala kuda itu. Terlalu halus untuk di sentuh, dan terlalu sayang jika tidak di peluk.
Ucapan itu mengembara di dalam batinnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk memeluk kuda itu. Perlahan-lahan, ia mulai mendekatkan jaraknya dengan kuda itu.
"Kau sedang apa?" suara seorang laki-laki mengagetkannya. So Hyun kembali pada kesadaran sepenuhnya. "Kenapa kau ingin memeluk pohon itu? Apa kau gila? Atau kau sedang merindukan pacarmu?"
So Hyun menggelengkan kepalanya. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya, lalu terpejam. Tak berapa lama, ia membuka matanya kembali.
Ia begitu terkejut. Kuda putih berbulu halus itu... sudah tidak ada. Hanya ada pohon pinus yang menjulang di hadapannya.
"Ya, So Hyun-ah, aku berbicara padamu." ujar laki-laki itu lagi.
So Hyun menoleh ke arah belakang. Ia langsung mendapat sosok seniornya, Kim Namjoon. Dengan perasaan malu dan bingung, ia berpura-pura menggaruk kepalanya.
"Ah... Sunbae... Hehe... Apa kau melihat kuda putih yang sedang makan di sekitar sini?"
Namjoon mengerutkan dahinya bingung, "Kuda? Tidak. Aku hanya melihat kau yang mengelus pohon pinus itu dengan penghayatan. Makanya, aku menghampirimu. Aku kira kau gila."
"Yang benar?" So Hyun menatap Namjon dengan tatapan aneh. "Tadi aku melihat kuda putih disini. Dia sedang makan dedaunan. Apa benar sunbae tidak melihatnya?"
"Tidak. Aku tidak melihat makhluk lain selain kau disini." ujar Namjoon santai.
'Lalu, yang tadi itu apa?' batin So Hyun bertanya dengan perasaan kalutnya.
***
Jimin yang tengah berjalan menuju kelasnya, menatap ke arah pohon maple yang sering di tunjuk oleh So Hyun. Ia menerawang pohon itu dengan konsentrasi yang tinggi.
Ia juga memicingkan matanya, memastikan apa yang So Hyun lihat itu benar. Sayangnya, ia tidak melihat siapa-siapa disana. Ia sempat berpikir bahwa So Hyun itu gila.
Ketika ia sedang serius memerhatikan pohon maple itu, seseorang datang secara diam-diam. Orang itu awalnya sudah berdeham. Namun, Jimin masih tidak menyadari kehadiran orang itu. Ia tetap fokus menerawang pohon maple tua itu. Hingga akhirnya, orang itu mulai bertanya secara tiba-tiba dengan suara beratnya.
"Sedang melihat apa?"
Jimin langsung membalikkan badannya ketika seseorang mengajaknya bicara. Ia tahu suara itu adalah suara laki-laki, kalau sudah terkejut, tetap saja terkejut. Ia mendapati sosok Taehyung dengan tatapan lurus ke arah pohon maple juga.
"Ya, kau mengagetkan ku," ujar Jimin.
"Payah. Kau 'kan laki-laki, mana mungkin mudah terkejut." sahut Taehyung santai.
"Siapapun akan terkejut jika kau berbicara tiba-tiba seperti itu." celoteh Jimin. "Tumben, kau datang pagi." sindir Jimin dengan setengah bercanda.
Kedua mata Jimin masih mendelik ke arah pohon maple tua itu sesekali. Namun, ia tidak mendapat sosok yang ia cari. Ia hanya mendengar dengusan Taehyung yang agak jengkel.
"Ada yang aku ingin katakan padamu." jawab Taehyung dengan wajah yang sangat serius.
"Apa?" tanya Jimin dengan menahan tawa. "Kau tahu? Cara kau berbicara seperti ingin menyatakan cinta padaku." Jimin tertawa dengan suara kekehan saja.
"Aku serius. Ini menyangkut Eun Soo" Taehyung tidak tertawa sedikitpun.
"Ada apa dengan Eun Soo?" Kini, tatapan mata Jimin berubah menjadi serius. Suara kekehannya juga sudah menghilang, berganti keseriusan.
"Apa yang kau lihat di rumah sakit waktu itu benar Eun Soo. Sekarang ia menjadi lumpuh dengan keretakan tulang dimana-mana. Sepertinya, aku tahu siapa pelakunya." Taehyung berdeham sebentar.
"Lumpuh? Bagaimana bisa? Apa karena makhluk hitam tidak jelas itu?" Jimin bertanya dengan keseriusan.
"Ya. Kemarin aku pergi menemuinya. Bukan, pelakunya adalah manusia. Mi So, dia adalah pelakunya."
"Bagaimana kau tahu?"
"Kemarin malam, ada acara berita yang menyiarkan hilangnya seorang gadis gila dari rumah sakit jiwa X. Ciri-ciri yang disebutkan adalah Mi So. Eun Soo juga mengatakan itu. Kau tahu, ibunya juga dibunuh Mi So." jelas Taehyung.
"Jangan bercanda." Jimin menyangkal dengan raut wajah yang tidak percaya.
"Aku seri..."
"Annyeong, Taehyung-ah, Jimin-ah." sapa So Hyun dengan riang.
Taehyung dan Jimin sama-sama menoleh dengan wajah tegang dan sedikit terkejut.
Mereka berdua langsung berhenti membicarakan tentang Eun Soo. Karena takut So Hyun curiga, Jimin langsung menoleh dan tersenyum. Ia memaksakan dirinya untuk mengeluarkan ekspresi bahagia. Bahagia karena sudah kembali. Sayangnya, So Hyun datang di saat yang tidak tepat.
"Ah... annyeong So Hyun-ah! Akhirnya, kau masuk juga. Aku bosan di kelas karena tidak ada yang bisa ku jahili." ujar Jimin dengan aktingnya.
"Annyeong," sapa Taehyung datar. "Kau berangkat ke sini bersama sunbae?"
So Hyun menoleh ke arah belakang. Namjoon memang berdiri di belakang So Hyun dengan santainya. Ia sedikit tersenyum. Senyum yang langsung menunjukkan lesung pipinya.
"Ya, tapi hanya kebetulan saja." jawab So Hyun.
Taehyung hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia mendelik menatap Namjoon masih dengan tatapan curiga.
Jimin pun sama, rasa curiganya bahkan melebihi Taehyung. Ia masih ingat jelas, kalau Namjoon lompat dari ketinggian yang sangat tinggi itu tanpa jejak. Semenjak saat itu, ia mulai ragu kalau Namjoon adalah manusia yang bernapas.
"Kalau begitu, aku ke kelas. So Hyun-ah, selamat belajar." ujar Namjoon yang memecah keheningan dengan sangat canggung. Canggung karena terusik dengan tatapan curiga Jimin, dan juga delikkan mata Taehyung.
"Ya, Sunbae juga." sahut So Hyun riang.
Setelah mengucapkan kata itu, So Hyun langsung menatap Taehyung dan Jimin. Ia bisa melihat tatapan curiga dan tidak suka dari kedua temannya itu.
So Hyun mengerutkan dahinya. Mendapat sebuah tatapan curiga dari So Hyun, Taehyung menepuk ransel Jimin pelan. Guna memberitahu So Hyun tengah menatap mereka berdua curiga. Merasakan ada yang menepuknya, Jimin langsung menoleh ke arah So Hyun.
"Kalian kenapa?" tanya So Hyun suara yang seperti biasa, kasar.
"Akh! Tidak." ujar Jimin yang menyangkal. Laki-laki ini memang sangat pandai untuk menyangkal sebuah ucapan dan serdikan.
"Ya, kami berdua tidak apa-apa." Taehyung hanya bisa menjawab seperti itu saja. Ia bisa merasakan So Hyun menatapnya bingung. "Sudah aku bilang, aku dan Jimin tidak apa-apa."
'Maaf aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Karena aku takut kau frustasi seperti waktu itu lagi...' Batin Taehyung merasa tertekan.
***
Seperti hari sebelumnya, Eun Soo hanya bisa berada di lingkungan rumah sakit saja.
Saat ini, gadis itu hanya terbaring lemas dengan perban baru di bagian kepalanya. Ia baru saja melaksanakan operasi kecil di dekat telinganya. Entah karena apa, tulangnya juga perlu plat besi untuk menjaga bentuknya. Terkadang, ia sempat berpikir kalau ia akan menjadi gadis besi.
Ia tengah menulis sebuah tulisan di sebuah buku diary-nya. Eun Soo hanya bisa mencurahkan semua kekesalan, penyesalan, dan kesedihannya hanya pada buku diary itu. Tak jarang, air matanya menetes dan membasahi lembaran buku itu.
Terkadang karena kondisi fisik belum kuat, ia juga meneteskan darah hidungnya. Ia benar-benar tidak berguna sekarang. Hanya satu keinginannya sekarang. Mati. Ya, ia ingin sekali mati.
Ia terus mencurahkan isi hatinya dengan mata yang sudah membengkak. Tiap kali ia menuliskan perasaannya, sebulir air matanya mengalir dari pojok mata sampai ke pipinya.
Gadis itu memerhatikan pergeseran lemari besi itu. Tubuhnya mulai bergetar takut. Di pojok ruangan itu juga terdapat sebuah vas bunga yang tiba-tiba saja jatuh dengan sendirinya.
Eun Soo langsung menarik selimutnya, lalu menggenggam bukunya erat-erat. Tak hanya suara decitan yang merusak telinga, terdengar juga suara anak perempuan bersenandung. Eun Soo menoleh ke sana kemari, tidak ada siapa-siapa di kamar inapnya itu. Hanya dia seorang.
Lampu yang tadinya menerangi kamar itu, mulai bergetar dan meredup. Terdengar suara konsleting listrik yang mengerikan, sebelum lampu itu mati. Eun Soo menatap proses konsleting lampu itu sampai mati total.
Jendela rumah sakit juga terlihat membuka dan menutup sendiri. Gorden putih itu terlepas karena tiupan angin yang begitu kencang. Eun Soo kembali bergidik takut. Andaikan kakinya bisa ia gunakan untuk berlari, ia pasti akan berlari keluar kamar.
Kursi rodanya yang di letakkan di dekat lemari, melaju dengan sendirinya. Melaju kesana-kemari, seperti ada yang mengendalikannya. Berbagai suara berdengung di telinga Eun Soo.
Gadis itu hanya bisa menggenggam selimutnya erat-erat dan juga menutup separuh wajahnya. Tak sampai di situ, terdengar juga suara tetesan air dari kamar mandi. Dan juga, seperti ada orang yang menekan flush toilet.
Lemari yang bergeser sendiri, terus bergeser. Kursi roda itu, terus melaju ke sana-sini. Eun Soo mencoba berteriak sekencang yang ia bisa. Namun, seperti tidak ada yang mendengar.
"TOLONG!!"
Ia menjerit-jerit ketika suara gaduh semakin menjadi. Kamarnya sudah menjadi gelap. Ia hanya bisa melihat sepintas saja. Lukisan kamar inapnya juga sudah berjatuhan. Pecahan kaca dimana-mana. Ia juga merasa seperti ada yang mendekatinya.
"SIAPA PUN TOLONG!!" Eun Soo menjerit sambil menangis. Jeritannya juga sudah sangat melengking, juga serak.
Laju kursi roda itu tiba-tiba berhenti. Namun, kursi roda itu berbelok, kemudian melaju ke arah ranjang Eun Soo.
Ketika kursi roda itu melaju ke arahnya, Eun Soo dapat melihat seorang gadis duduk dengan kepala yang menunduk miring. Tangan terulung lemas dan rambut yang berantakkan. Kursi roda itu melaju cepat dengan gadis menyeramkan itu di kursi tersebut.
Karena saking takutnya, Eun Soo langsung terjatuh dari ranjang rumah sakit itu. Eun Soo memang tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Kaki yang lumpuh, tangan yang kurang berfungsi dengan baik. Itu semua menjadi penghalangnya untuk melarikan diri.
Dari jendela terbuka, sebuah halilintar menyambar. Cahaya halilintar itu dapat membantunya melihat keadaan secara kilat. Tanpa di sangka, gadis menyeramkan itu sudah berada di depannya. Wajahnya tertutupi poni secara ke seluruhan.
"KYAAAAA!!"
Eun Soo langsung menyeret ke dua kakinya dengan cara mengesot. Hanya menggunakan alat gerak seadannya, gadis itu sebisa mungkin menjauhi sosok menyeramkan itu. Ia terus menyeret kedua kakinya.
Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah dinding dekat pintu keluar. Tangannya merambat-rambat mencari kenop pintu. Namun tak kunjung ketemu.
Sampai akhirnya, sebuah tangan bersuhu dingin memegang tangannya.
"YAAAAA!!!" jetir Eun Soo lagi. Tangannya sudah di genggam erat oleh sosok itu. Tiba-tiba saja, suhunya berubah mendingin.
Sosok yang menyeramkan itu juga meneteskan liur dari mulutnya, meskipun tidak dapat di lihat secara langsung.
"SO HYUN!!! JIMIN!!" Eun Soo berusaha keras melepaskan genggaman sosok itu. Ia juga terus menjerit dan memanggil nama sahabatnya.
Tangan yang dingin itu mulai melonggarkan genggamannya. Lambat laun menghilang bagaikan debu.
Saat itu juga, Eun Soo langsung menggenggam tangannya itu erat. Suhu tubuhnya sudah terlanjut mendingin. Dari kamar mandi, suara flush toilet yang di tekan juga masih terdengar. Tetesan air dari keran ke wastafel yang tersumbat, terus terdengar. Lemari besi itu juga belum berhenting bergeser.
Sosok yang menyeramkan itu kembali duduk di kursi roda yang biasa Eun Soo gunakan. Kepalanya tetap menunduk. Namun, tidak mendekati Eun Soo lagi.
Mata Eun Soo sudah membengkak, pipinya sudah benar-benar lengket. Saraf matanya dapat terlihat dengan jelas di matanya. Suara Eun Soo juga mulai mengecil.
Terdengar suara selotan pintu kamar mandi yang terbuka. Kenop pintu juga seperti di buka oleh seseorang. Entah dari mana, mungkin dari dalam kamar mandi. Padahal, Eun Soo sendirian. Benar-benar sendirian.
Pintu kamar mandi itu akhirnya terbuka, Eun Soo mulai menyeret tubuhnya lagi menjauhi kamar mandi itu. Ia bersandar di dinding berjarak 1 meter dari posisinya. Diambang pintu kamar mandi, terlihat orang laki-laki yang tersenyum licik.
Sosok menyeramkan itu menghampiri laki-laki misterius itu. Kemudian sosok itu seperti melakukan sesuatu dengan laki-laki itu hingga akhirnya menghilang lagi.
Laki-laki misterius itu terlihat seperti melemaskan otot lehernya, kemudian berjalan mendekati Eun Soo yang tengah bersandar takut.
Eun Soo menggelengkan kepalanya sambil terus terisak. Ia meneguk ludahnya sendiri karena tenggorokkannya benar-benar kering. Laki-laki itu tetap berjalan menuju Eun Soo.
Jarak diantara mereka hanya 1 meter saja. Laki-laki itu terus tersenyum licik dan aneh. Ia berdiri dengan bersandar dengan santai. Eun Soo kembali menyeret tubuhnya menjauhi laki-laki misterius itu.
"Tak ada gunanya kau mundur dengan menyeret tubuhmu itu. Aku datang sesuai dengan keinginanmu itu kemarin." ujar laki-laki datar dan benar-benar santai.
Tiba-tiba saja, bibir Eun Soo kelu. Ia hanya bisa menggeleng sambil terus menyeret mundur. Hingga gadis itu sudah terpojok di pojok ruangan sekarang.
Laki-laki itu berdeham malas. Ia mendelik ke arah Eun Soo. Kemudian telunjuknya menunjuk ke arah plafon kamar inapnya itu. Kemudian senyum setan langsung terlihat di wajah laki-laki itu.
Eun Soo mengadahkan kepalanya. Sosok gadis menyeramkan itu sudah menempel di atas plafon itu seperti hewan. Merangkak dan menempel erat di plafon.
Napas Eun Soo langsung menderu. Hingga akhirnya, sosok menyeramkan itu melepas kedua tangannya dari plafon itu, entah bagai mana caranya. Namun, kakinya masih menempel di plafon itu.
Poni yang tadi menutupi wajahnya secara ke seluruhan, langsung terbuka. Kepalanya berada di bawah dan langsung menatap Eun Soo. Matanya lepas di hadapan Eun Soo. Belum sempat Eun Soo berteriak, sosok itu menimpanya dari atas. Benar-benar menimpanya dari atas plafon.
Plek.... Bruk
"KYAAAAAaaaaa...." Suara jeritan Eun Soo menghilang seperti ditelan.
***
Pagi yang sangat cerah. So Hyun dan Jimin baru memasuki lobby sekolahnya. Namun sekolah sudah ramai dengan siswa-siswi lainnya.
Mereka semua terlihat sibuk membicarakan sesuatu. So Hyun dan Jimin hanya berjalan santai menuju kelas mereka. Mereka berdua tidak peduli dengan apa yang siswa-siswi lain bicarakan.
Seorang Senior mereka, siswi kelas 2, datang menghampiri mereka dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa.
"So Hyun-ah! Jimin-ah!" teriak senior itu, Dahee.
Merasa namanya tepanggil, So Hyun dan Jimin menghentikan langkahnya. Mereka sama-sama menoleh untuk mencari pemilik suara itu. Dahee tengah berlari menuju mereka, dari arah belakang.
"Sunbae?" ujar So Hyun.
"Ada apa sunbae memanggil kita?" tanya Jimin yang menatap Dahee santai.
Dahee mengatur napasnya sesaat, kemudian menegakkan tubuhnya, "Kalian di tunggu oleh Dokter Jung di UKS. Taehyung juga. Ia sudah menunggu kalian."
"Untuk apa?" tanya So Hyun dengan dahi yang mengerut.
"Mollayo. Aku rasa ada yang ingin di beri tahu oleh Dokter Jung sampai menunggu kalian berdua."
"Hmm.... Arraso," sahut Jimin. "Kalau begitu, aku dan So Hyun ke sana ya."
Dahee hanya mengangguk saja. Sedikit senyum ketika So Hyun dan Jimin berlalu melewatinya.
Jimin dan So Hyun berjalan menuju UKS dengan pikiran yang bertanya-tanya. Jujur saja, ia sudah muak bolak-balik ke tempat kesehatan milik sekolah itu.
Semenjak insiden yang aneh-aneh itu terjadi, So Hyun rasa sudah berkali-kali ke tempat itu. Jimin pun begitu. Ia terlalu malas untuk menginjakkan kaki di ruang itu lagi. Bau obat sederhana dimana-mana. Ia benar-benar tidak suka bebauan seperti itu.
Kini, mereka berdua sudah sampai di depan pintu UKS. Tangan Jimin terulur membuka pintu UKS itu perlahan. Kemudian ia masuk terlebih dahulu, diikuti oleh So Hyun. Karena masuk terakhir, So Hyun-lah yang menutup pintu UKS itu. Mereka berdua disambut dengan tatapan murung Dokter Jung, dan tatapan datar Taehyung. Sepertinya, Taehyung sudah di sana lebih lama.
So Hyun dan Jimin membungkukkan badannya bersamaan. Dokter Jung hanya memberikan senyum tipis dan sedikit mengangguk. Namun, wajah murungnya terlihat lebih dominan.
"Kalian berdua duduklah." pinta Dokter Jung lembut. Telapak tangannya terulur menunjuk ke arah kursi yang sudah berderet. Taehyung sudah duduk di kursi tengah dengan santai.
Mereka berdua pun menurut. Tanpa banyak bicara lagi, Jimin dan So Hyun langsung duduk di kursi itu. Taehyung masih tetap dengan ekspresinya. Entahlah, ia memang laki-laki yang agak 'aneh'.
"Tadi malam, saya dapat berita..." ujar Dokter Jung sambil mengambil sebuah map cokelat yang terlihat sangat tipis itu. Ia berdeham sebentar.
Taehyung melipat kedua tangannya dengan santai. So Hyun menatap Dokter Jung dengan keseriusan. Jimin hanya bisa menegakkan tubuhnya. Tatapan mereka bertiga ada kesamaan, datar namun serius. Apalagi, So Hyun. Tatapan gadis itu terlihat begitu serius.
"Kemarin, Nona Ryu Eun Soo meninggal dunia..." sambung Dokter Jung.
***
To Be Continue
***
Haduh sungguh melelahkan part ini! Serem gak sih menurut kalian? Aku aja yang buat takut😂
Aku kasih part panjang untuk kalian nih! Jadi komen ya gimana reaksi kalian tentang part ini!!
Vote!! Commentnya!!