Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)

Dark Side (Kim Taehyung & Kim So Hyun)
Episode 15 - La Bella Muerte?



Di part selanjutnya akan terungkap Yeay😃


Selamat membaca dengan seksama 😊😊


Review:


Laki-laki berseragam itu berjalan menuju tempat yang Dahee sebutkan. Seperti apa yang Dahee katakan, ia berjalan menuju halte dekat sekolah.


Ia menyamar menjadi anak sekolah yang tengah menunggu bus datang. Ketika ia menoleh, So Hyun tengah berjalan bersama dua temannya. Melihat pemandangan itu, laki-laki itu langsung tersenyum licik yang penuh kemenangan.


Tepat pada saat itu juga, sebuah bus berhenti dan membuka pintunya. Laki-laki langsung melangkahkan satu kakinya ke tangga bus itu, kemudian bergumam pelan.


“Kim So Hyun, sepertinya kau harus lebih berhati-hati lagi sekarang.” gumam laki-laki itu diikuti suara kekehan liciknya.


***


Namjoon berdiri menatap deretan rak buku di perpustakaan sekolahnya itu. Kedua bola matanya bergerak dengan gesitnya hanya untuk mencari sebuah buku di deretan sastra tua itu.


Kondisi perpustakaan memang cukup ramai sekarang. Karena ada ujian pengelompokkan siswa, banyak siswa yang meminjam buku di perpustakaan. Namun, sepertinya Namjoon memiliki tujuan yang berbeda.


Jari telunjuknya juga bergerak dengan cepat. Ia terlihat begitu serius mencari buku apa yang ia cari selama hampir setengah jam itu. Siswa-siswi yang melewatinya, menatap aneh Namjoon. Namun, laki-laki itu tetap fokus pada deretan buku sastra lama itu.


Kemudian ia berjongkok, lalu mencari di rak buku bagian dasar. Setengah jam yang ia habiskan selama ini, tidaklah sia-sia. Buku yang ia cari ada didasar rak, dan juga dibagian cukup dalam rak tersebut.


Ia menarik buku yang berdebu itu. Sebuah senyum senang dan puas mengembang. Buku yang diyakini tidak pernah disentuh oleh tangan manusia itu, dapat membuat Namjoon segera meninggalkan rak buku sastra lama itu. Ketika ia berjalan menyusuri lorong yang terbuat dari rak-rak buku, seorang siswi menyapanya.


“Oh! Sunbae!” sapa gadis itu. Ia terlihat membawa 4 buku yang tersimpan di dekapannya.


Karena terkejut, tangan Namjoon bergerak untuk menyembunyi buku itu. Tepat ia memasuki buku itu ke saku jasnya, gadis itu berdiri di hadapannya dengan tersenyum ramah.


Karena masih terkejut, Namjoon membalas senyuman itu dengan sedikit canggung. So Hyun –gadis itu– sedikit melengos untuk melihat apa yang di masukan ke dalam jas itu.


“Sunbae, kenapa terlihat terkejut? Apa aku telah mengejutkanmu?” tanya So Hyun, masih tetap mendekap buku-buku yang akan ia pinjam itu.


“Ah, tidak. Kau tidak mengejutkanku. Aku saja yang sepertinya mudah terkejut,” jawab Namjoon. Ia sedikit meraba-raba bagian dalam jas, memastikan buku itu telah ia simpan. “Omong-omong, kau benar-benar akan meminjam buku sebanyak itu?”


So Hyun melirik ke buku-buku yang sudah berada di dekapannya sejak tadi, “Apa? Oh, ini… Ya, aku akan meminjamnya. Karena sebentar lagi ada ujian kelas khusus, ya, aku harus belajar. Sunbae sendiri?”


“Aku sudah punya banyak buku di rumah. Ibuku yang membelikannya. Entahlah, aku tidak habis pikir jalan pikiran orangtua.” sahut Namjoon asal.


“Itu berarti, orangtua sunbae sangat sayang dengan sunbae,” sahut So Hyun cepat, ia tersenyum kecil. “Maaf, kalau aku lancang. Hmm… Tadi aku tidak sengaja lihat, kalau sunbae memasuki buku ke dalam jas, ya? Kalau aku boleh tahu, buku apa itu?”


Namjoon mengembuskan napasnya perlahan. Sia-sia juga ia memasukan buku itu ke dalam jasnya, toh So Hyun sudah melihatnya. Ia terdiam sebentar, memikirkan jawaban yang tepat untuk So Hyun.


“Sunbae?” panggil So Hyun lagi.


“Ah! Oh, buku ini…” Namjoon menggantungkan ucapannya. ‘Aku harus bilang apa?’


Tiba-tiba wajah So Hyun memerah dengan sendirinya. Ia menunduk menatap pinggiran buku yang berada di dekapannya itu. “Aku tidak percaya kalau sekolah ini menyimpan bacaan dewasa…” ujarnya pelan. Wajahnya memerah malu ketika menanyakan hal itu.


Namjoon menerjapkan matanya berkali-kali. Ia tidak percaya bahwa So Hyun akan berpikir seperti itu. Dengan cepat, Namjoon menyangkal apa yang dikatakan So Hyun barusan, “Bu-bukan! Sungguh! Ehm… Bisa ikut aku duduk di sana?” Namjoon menunjuk ke arah meja baca di dekat jendela perpustakaan itu.


So Hyun mengadahkan kepalanya, kemudian menoleh ke arah yang Namjoon tunjuk. Melihat reaksi Namjoon, So Hyun langsung menghilangkan buruk sangkanya itu. Karena ucapan itu, ia jadi tidak berani menoleh ke arah Namjoon sekarang.


“I-iya. Boleh saja.” sahut So Hyun dengan sangat canggung.


“Ayo.” ujar Namjoon yang berjalan mendahului So Hyun menuju meja baca itu. Tak hanya So Hyun yang canggung, dirinya pun juga merasakan yang sama. ‘Kenapa dia bisa berpikir seperti itu?’ batinnya bergumam.


Kini, mereka berdua duduk di kursi meja baca tersebut. So Hyun meletakan buku-buku yang sudah berada di dekapannya sejak tadi. Tas selempang yang belum sempat ia letakan di kelas pun, ia letakan di atas meja baca itu.


Setelah So Hyun duduk, Namjoon juga ikut terduduk di sebelah gadis itu. Ransel yang sudah ia letakkan di sana sejak pagi, langsung ia tarik begitu saja ke hadapannya.


Untuk beberapa saat, mereka terdiam seribu bahasa. Rona merah di pipi So Hyun mulai menghilang, namun ia masih diam saja. Namjoon melirik ke arah So Hyun sekilas, kemudian mengambil napasnya.


Ia menoleh ke arah So Hyun dan menatap gadis itu sedikit lembut. Ia berdeham cukup keras hingga So Hyun menoleh ke arahnya.


“Soal buku yang tadi aku masukan ke dalam jas… Aku harap kau tidak berpikir macam-macam.” ujar Namjoon dengan rasa canggung yang masih terasa.


“Iya. Aku tahu. Lagipula, aku hanya bertanya asal saja.” ujar So Hyun.


“Omong-omong soal buku, apa kau mempunyai buku tua yang berisikan cerita misteri?” tanya Namjoon tanpa basa-basi lagi.


“Buku tua?” So Hyun mengerutkan dahinya, lalu di jawab anggukan kepala dari Namjoon.


“Aku punya. Tapi, aku sudah tidak membacanya. Tiap kali aku membacanya, banyak kejadian menyeramkan terjadi. Untuk meminimalisir, aku putuskan untuk berhenti membaca buku itu. Memangnya kenapa?” tanya So Hyun yang berawalan yang panjang lebar.


“Apa kau membawa buku itu sekarang?” tanya Namjoon lagi.


Kali ini So Hyun yang menganggukkan kepalanya, “Buku itu selalu di tasku. Tapi, aku tidak pernah membacanya lagi. Aku biarkan saja buku itu di tasku.”


Namjoon mulai membuka resleting ranselnya, “Boleh aku pinjam?”


So Hyun mengangguk lagi. Ketika tangannya terulur untuk merogoh tasnya, ia mengingat sesuatu yang membuat gerakan tangannya berhenti.


Ia menatap Namjoon dengan sedikit kerutan di dahinya, “Tunggu dulu. Bukankah, sunbae juga punya buku itu? Untuk apa meminjam bukuku?”


So Hyun hanya menuruti ucapan Namjoon dengan dahi yang mengerut. Ia agak curiga dengan tingkah Namjoon itu. Tangannya menarik keluar sebuah buku tua yang waktu itu ia baca. Namun, tiap kali ia baca. Pasti akan terjadi di ke esokkan harinya.


“Ini.” So Hyun meletakkan buku itu di hadapan Namjoon.


“Ketemu!” ujar Namjoon. Ia mengeluarkan buku yang ia cari-cari di dalam ranselnya itu. “Oh ya, terima kasih.” ujarnya kepada So Hyun.


Laki-laki itu menjajarkan dua buku itu. Sesaat setelahnya, dahinya langsung mengerut. So Hyun menatap gerak-gerik Namjoon dengan penuh curiga. Ia juga ikut menatap buku yang di jajarkan Namjoon itu. Berbeda dengan So Hyun, Namjoon merasakan keringat dingin mengalir dipelipisnya.


“Untuk apa sunbae men…”


“Ssstt!” Namjoon mendesis meminta So Hyun untuk diam. Kepanikan mulai menjalar di batinnya lagi.


Kemudian, ia mengeluarkan buku yang ia masukan ke dalam jasnya. Dan, dijajarkanlah buku-buku itu. Warna sampul buku yang sama serta ketebalan yang hampir sama. Kalau dilihat-lihat, buku-buku itu seperti manhwa berseri.


‘Astaga.’ batin Namjoon kembali bergumam. Ia melirik So Hyun sekilas dengan tatapan panik, sangat panik.


“Sunbae? Ada apa?” So Hyun yang memerhatikan Namjoon sedari tadi, langsung bertanya.


Ia menatap buku-buku yang di jajarkan Namjoon. Tanpa ba-bi-bu lagi, So Hyun langsung mengeja apa yang ia lihat, “La… Bella… Muerte?”


Namjoon langsung menoleh ke arah So Hyun, “K-kau?”


“Apa? Aku hanya mengejanya saja. Itu bahasa asing, aku tahu itu. Hanya saja aku tidak tahu apa arti dari itu,” ujar So Hyun dengan kepala yang sedikit dimiringkan. “Sunbae, kenapa kau terlihat begitu takut? Memangnya La Bella Muerte itu apa?”


Namjoon mendesis pelan, “Sepertinya, kau memang tidak tahu apa-apa.” Ia menumpukkan ketiga buku itu dan mendorongnya ke hadapan So Hyun, “Ini. Kau baca saja ketiga buku itu.” jelas Namjoon yang memilih untuk cepat-cepat membungkam mulut.


“Untuk apa? Aku sudah bilang aku…” Lagi-lagi ucapan So Hyun di sela oleh sunbaenya itu.


“Ssstt! Sudahlah. Turuti apa yang aku katakan. Dan usahakan, buku ini tidak dibaca oleh orang lain. Kecuali…” Namjoon terdiam ebentar.


“Kecuali, apa?” tanya So Hyun datar.


“Tidak. Pokoknya, turuti apa yang aku katakan itu. Dan kau akan tahus…”


“So Hyun-ah! Aku sudah mencari-carimu. Aku kira kau tidak masuk lagi.” sapa Jimin dengan senyumannya. Matanya kembali terlihat seperti garis melengkung terbalik. Ia juga tidak sendirian, Taehyung berjalan di belakangnya.


Karena Jimin tiba-tiba datang, So Hyun dan Namjoon sama-sama terkejut. Reflek dengan pesan Namjoon barusan, So Hyun langsung menarik 3 buku yang sudah di tumpuk itu ke kolong meja baca.


Gerakan So Hyun yang kelabakan itu, membuat Jimin langsung memasang wajah curiga. Sedangkan Taehyung, ah…, sejak melihat Namjoon, wajahnya terus di penuh ‘kecurigaan’.


“Oh, annyeong Jimin-ah. Hmm… Taehyung-ah.” sapa So Hyun tiba-tiba. Tubuhnya sedikit meliuk karena saking terkejutnya. Bukan hanya dirinya saja, Namjoon pun begitu.


“Apa yang ada di pangkuanmu?” tanya Jimin yang sepertinya curiga. Sebelumnya, ia melihat So Hyun tengah asik berbicara dengan Namjoon dengan 3 buah benda yang di tumpuk.


So Hyun terlihat sedikit canggung sekarang. Ia tersenyum tipis yang dipaksakan, “Itu bukan apa-apa. Hanya buku pelajaran biasa. Kau tidak perlu terlihat curiga seperti itu.”


Taehyung sedikit mendelik menatap Namjoon. Ujaran Dokter Jung kemarin semakin membuatnya percaya bahwa Namjoon bukan ‘manusia biasa’. Tiba-tiba saja, ia berpikir bahwa Namjoon sedang menghasut So Hyun sekarang.


“Oh, baiklah. Bagaimana kalau kita kembali ke kelas saja sekarang? 10 menit lagi bel berbunyi.” ajak Jimin tiba-tiba. Kedua matanya menatap sebuah jam dinding yang tertempel di dinding belakang perpustakaan itu.


“Ah, ya. Oke. Arra.” sahut So Hyun tidak beraturan. Degup jantungnya tidak bisa kembali normal.  Kemunculan Jimin dan Taehyung secara tiba-tiba, seolah-olah membuat jantungnya lepas dari pembuluh venanya.


Jimin memngerutkan dahinya bingung, “Kau bicara apa?”


“Tidak,” sahut So Hyun lagi. Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu diam-diam memasukan 3 buku yang di berikan Namjoon sekaligus ke dalam tasnya.


“Ayo, kita kembali ke kelas.” ujarnya lagi. Kini, ia bersiap untuk mendekap 4 buku pelajaran yang akan ia pinjam itu.


“Aneh,” ujar Jimin pelan. “Ya sudah, ayo ke kelas. Sunbae, aku, So Hyun dan Taehyung kembali ke kelas, ya. Permisi.” Jimin menatap Namjoon tanpa ekspresi, disambung dengan bungkukkan badan yang asal.


“Ya.” sahut Namjoon singkat.


So Hyun beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan di belakang kursi Namjoon. Ia mendelik ke arah Namjoon sekilas. Kemudian, berjalan di belakang Jimin.


Taehyung yang melihat delikkan mata So Hyun itu, langsung melempar tatapan tajam ke arah Namjoon. Jimin dan So Hyun sudah berjalan menuju pintu perpustakaan, tapi Taehyung masih menatap Namjoon.


“Jangan pernah kau hasut So Hyun. Dan… Jangan pernah kau memainkan ‘soul’nya. Karena kau tahu kau bukan manusia, Kim Namjoon.” ujar Taehyung. Kali ini, ia tidak berbicara dengan kata-kata yang sopan. Ia sudah berani menyebut nama seniornya itu, tanpa menggunakan kata ‘sunbae’.


Setelah mengatakan itu, Taehyung langsung berjalan keluar perpustakaan. Namjoon hanya diam tidak menanggapi ucapan itu. Ia tidak habis pikir. Laki-laki itu sangat mencurigainya. Namjoon mengembuskan napasnya dan menyandarkan dirinya pada sandaran kursi.


“Setidaknya… So Hyun akan mengetahui semuanya sendiri, kan?” gumamnya sendirian.


***


TBC


***


Wah buku tentang apa tuh ya? kemaren udah ada yang nyari-nyari tentang kata di judul buku ini, gimana responnya? 😁


Jangan lupa LIKE dan Comment ya!! Makin tambah penasaran kan?