
Preview:
“Tadi malam, saya dapat berita…” ujar Dokter Jung sambil mengambil sebuah map cokelat yang terlihat tebal itu. Ia berdeham sebentar.
Taehyung melipat kedua tangannya dengan santai. So Hyun menatap Dokter Jung dengan keseriusan. Jimin hanya bisa menegakkan tubuhnya. Tatapan mereka bertiga ada kesamaan, datar namun serius. Apalagi, So Hyun. Tatapan gadis itu terlihat begitu serius.
“Kalau… Nona Ryu Eun Soo meninggal dunia…” sambung Dokter Jung.
///
Mereka bertiga terkejut dengan mata yang terbelalak. Taehyung yang sedari tadi hanya santai, langsung menegakkan tubuhnya. Jimin juga langsung merubah posisi dan sikapnya.
Sedangkan So Hyun, ia benar-benar terkejut dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. Taehyung menoleh ke arah Jimin sedikit, dan menatapnya sambil mengajak bicara. Namun, Jimin sepertinya terlalu terkejut mendengar berita itu, sehingga mengabaikan tatapan Taehyung.
“Ia meninggal di rumah sakit X dengan tenang. Mungkin, karena kecelakaan itu ia…” Dokter Jung menghentikan ucapannya ketika So Hyun langsung menyelanya dengan cepat. Gadis itu terlihat benar-benar kebingungan.
“Rumah sakit? Kecelakaan?” ujar So Hyun dengan nada yang tidak bisa di pelankan. “Aku tidak tahu kalau Eun Soo kecelakaan…”
“Kau tidak tahu? Apa kau tidak ingat, kalau kau pernah bertemu dengan ku di rumah sakit? Akulah yang menanggani Eun Soo. Aku pikir kau sudah tahu bahwa sahabatmu di rawat di rumah sakit.” sahut Dokter Jung dengan dahi mengerut.
“Ah…” ujar So Hyun dengan sedikit dengusan.
Taehyung dan Jimin hanya saling bertukar pandang panik. Karena hanya So Hyun yang tidak tahu bahwa Eun Soo dilarikan ke rumah sakit.
Apalagi, mereka berdua baru saja membohongi So Hyun kemarin. Dengan mengatakan ‘tidak-ada-apa-apa’, Taehyung merasa aman untuk menutupi semuanya untuk sementara. Tapi, sepertinya itu semua gagal. Sekarang, Dokter Jung sudah mengatakan semuanya. Mereka berdua hanya bisa mengendus napas saja.
“Kau sungguh tidak tau? Apa… Taehyung dan Jimin tidak memberitahu?” ujar Dokter Jung dengan tatapan yang tidak biasa.
So Hyun langsung melempar tatapan kebingungan ke kedua temannya itu. Namun, Taehyung hanya menundukkan kepalanya. Sedangkan Jimin menatap ke lain arah.
Mereka berdua sudah salah membohongi temannya terhadap Eun Soo. So Hyun mengerutkan dahinya dan tatapan jengkelnya kembali terlihat.
“Kalian tidak pernah berkata apa-apa padaku.” So Hyun berkata dengan nada yang benar-benar tidak mencerminkan suara perempuan. Ia sepertinya terlihat kesal karena di bohongi.
“Benarkah? Taehyung-ssi, bukankah kau bertemu dengan Eun Soo dirumah sakit, ketika So Hyun sudah diperbolehkan pulang?” serdik Dokter Jung dengan suara di buat-buat. Ia seperti tidak tahan untuk tersenyum licik dan tertawa.
Taehyung hanya menundukkan kepalanya, sembari mengenduskan napas. Ia mengacak halus rambutnya sendiri dengan posisi kepala yang sama. Ia hanya bisa mendecak lidah. Apa yang ia dan Jimin berusaha sembunyikan, terbongkar begitu saja.
“Taehyung-ssi?” panggil Dokter Jung lagi.
“Ya.” sahut Taehyung pelan.
So Hyun langsung menoleh, dan Jimin mengembuskan napas berat.
“Ya, aku menemuinya di rumah sakit yang sama tempat kau di rawat, sehari sebelum dia meninggal.” jelas Taehyung pelan.
“Kau bilang tidak ada apa-apa!” ujar So Hyun dengan dahi yang mengerut. “Kau membohongiku, ya?”
“Tahan sebentar. Aku belum menceritakan apa-apa. Bukan berarti aku membohongi kau, kan?” sahut Taehyung.
“Tapi, kau sendiri yang bilang kemarin. Bahwa, tidak ada ‘apa-apa’. Bukankah itu berbohong?” sahut So Hyun dengan suara keras.
Dokter Jung menatap pertengkaran kecil dua orang itu dengan sebuah seringaian senang. Entah apa yang ia senangi, tapi raut wajahnya terlihat begitu puas, “Kalian selesaikan masalah kalian dulu. Saya permisi keluar. Hanya itu saja yang saya katakan. Sampai jumpa.” ujar Dokter Jung cepat dengan sebuah seringaian.
Jimin hanya mengangguk saja melihat Dokter Jung yang berjalan keluar. Ia tidak tahu harus berkata apalagi.
Sejak kemarin, So Hyun juga memiliki sikap yang aneh. Mudah marah dan keras kepala. Melihat perubahan sikap yang cepat itu, Jimin hanya bisa berdiam saja.
Kini, Taehyung dan So Hyun masih saja bertengkar. Mau dikata apa, karena Taehyung dan dirinya memang sudah membohongi So Hyun.
“Sudah aku bilang, aku tidak membohongimu. Aku hanya belum mengatakan atau menceritakannya saja padamu.” sergah Taehyung keras. Ia menatap So Hyun yang duduk di sebelahnya tajam.
“Bukankah itu sama saja? Kenapa kau berbohong?” ujar So Hyun lagi.
“Sudah hentikan.” Jimin berkata sambil setengah bergumam.
“Bukankah sudah aku katakan, aku tidak berbohong.” ujar Taehyung lagi. Kali ini suaranya penuh dengan penekanan.
So Hyun membelalakkan matanya ketika Taehyung membentaknya seperti itu. “Kenapa kau tidak memberitahuku?” ujar So Hyun memelankan suara.
“Kapan? Saat kau masuk sekolah? Saat kau sendirian? Atau saat kau bersama Namjoon sunbae? Tinggal kau pilih salah satu di antara waktu yang sudah aku tentukan itu!” jawab Taehyung tak tanggung-tanggung.
“Kenapa kau melibatkan Namjoon sunbae?” tanya So Hyun dengan suara seperti awal.
“Kenapa? Kenapa kau membelanya?” Taehyung menatap So Hyun dengan tatapan menusuk. “Kau menyukainya?”
“Tidak! Aku hanya heran kenapa kau membawa namanya.” jawab So Hyun dengan suara meninggi. “Padahal, hal ini tidak ada hubungannya dengan sunbae.”
“Cih. Kau saja yang tidak tahu. Seorang gadis itu memang mudah terpesona dengan laki-laki, ya.” gumam Taehyung dengan setengah mendesis.
So Hyun langsung bangkit dari posisinya dengan tatapan kesal. Tangannya sudah terkepal erat. Entah mengapa baginya, Taehyung seperti orang yang ‘kurang ajar’. Kelenjar adrenalinnya sudah meningkat sejak Taehyung berkata ‘tidak-memberitahunya’.
“Jaga bicaramu! Siapa bilang aku terpesona dengan Namjoon sunbae?!” cecar So Hyun keras.
Jimin mengembuskan napas beratnya sekali lagi. Laki-laki itu juga hanya bisa diam sambil menatap pertengkaran kedua orang itu. Ia tidak tahu harus melakukan apalagi, dua orang itu sama-sama keras kepala.
Tapi, ia mengaku salah membohongi So Hyun. Tidak, ini kebohongan yang terbaik untuk So Hyun. Ia ingat betul betapa sedihnya So Hyun ketika In Hyong dinyatakan hilang tanpa jejak. Bagaimana dengan Eun Soo? Gadis yang sudah menjadi sahabat dirinya dan So Hyun sejak berada di sekolah dasar.
Jika So Hyun tahu dari awal, pasti ia akan merasa terpukul. Jimin menatap Taehyung yang masih mencoba mengelak dengan kerutan di dahinya.
Ia juga menatap So Hyun yang menahan amarahnya keras. Kuku-kuku jari gadis itu sudah memutih, karena kepalan tangan yang sangat keras. Jimin benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa dirinya seperti perempuan yang lemah sekarang.
“Dari matamu dan tingkah lakumu,” sahut Taehyung sinis. “Perempuan itu hebat, ya?” ujarnya sambil di selingi tertawa.
So Hyun mengenduskan napas panasnya. Rasanya emosinya sudah tersulut hingga mendidih. Kepalan tangannya juga sudah tergulung sempurna dan keras. Ia menggigit bibir bagian dalamnya.
Jimin yang melihat ekspresi So Hyun, langsung menegakkan tubuhnya. Ia tahu betul apa yang akan dilakukan sahabatnya itu, jika sudah menunjukkan ekspresi seperti itu.
“Coba kau katakan sekali lagi? Lebih jelas, bisa?” ujar So Hyun dengan bibir yang setengah di gigit.
Taehyung bangkit dari posisinya dan menatap So Hyun lurus-lurus. Ia mendecak lidah sebentar, lalu kembali menatap So Hyun tajam.
Ia sedikit menyamakan tingginya dengan So Hyun, lalu melemparkan sebuah senyum sinis. Namun, So Hyun masih tetap dengan ekspresi yang sama. Saat itu juga, Jimin sudah bersiap untuk menahan gejolak emosi So Hyun.
“Mau aku ulang?” ujar Taehyung dengan nada menjengkelkan. “Perempuan itu… mudah terpesona dengan laki-laki, terkadang tidak tahu diri, mengatakan hal bohong untuk kepentingan sendiri, oh ya, satu lagi… Perempuan itu egois… Dan, kau adalah perempuan yang masuk ke dalam tipe itu…”
So Hyun langsung meninju Taehyung keras dengan kepalan tangannya yang sudah mengeras itu. Karena tidak siap atau pun menyangka, Taehyung hanya memegangi wajahnya. Tinjuan itu sangat keras hingga sedikit bergema di ruangan itu. Sayangnya, gerakan Jimin kurang cepat. Ia tidak bisa menghalau tinjuan So Hyun itu.
“JAGA BICARAMU! DASAR SIAL!” teriak So Hyun keras.
Jimin langsung bergerak cepat. Ia menahan tangan kiri So Hyun untuk tidak meninju Taehyung lagi, atau melakukan perbuatan yang berhubungan dengan kekerasaan lainnya. Merasa tangannya ditahan keras, So Hyun terus berusaha melepaskan genggaman Jimin keras-keras.
“Tenangkan dirimu.” ujar Jimin pelan, namun emosi So Hyun masih berada di puncak. “Tenangkan dirimu!” ujar Jimin sekali lagi.
Taehyung masih memegangi pipi kanannya yang terlihat lebam, kebiruan. Tinjuan So Hyun memang memiliki kesetaraan dengan tinjuan seorang laki-laki. Tanpa di sadari, Taehyung mengeluarkan air mata di mata kanannya. Ia terus meringis kesakitan.
“Lepaskan aku.” ujar So Hyun yang menatap genggaman tangan Jimin.
“Tidak.” sahut Jimin.
“Lepas…” So Hyun meronta keras hingga akhirnya, genggaman tangan Jimin terlepas juga. Gadis itu mengambil tasnya, lalu menatap Jimin dan Taehyung bergantian dengan tatapan kebencian.
“Aku benci kalian!” ujarnya singkat, kemudian berjalan keluar dari UKS itu. Gadis itu juga menutup pintu ruangan tersebut dengan dibanting keras-keras. Hingga menimbulkan getaran ringan di sekitar ruangan.
Jimin hanya mengembuskan napasnya. Ia menatap Taehyung yang meringis dan mengeluarkan air mata itu. Pipinya berwarna kebiruan dan sedikit benjol di bagian tulang pipinya. Laki-laki itu mendekati sahabatnya sendiri dengan tatapan sedih dan rasa bersalah.
“Cara kau menyangkal, seharusnya tidak membawa nama orang lain. Bukan hanya itu, kau juga memancing amarahnya, serta merendahkannya. Apa kau yakin itu tidak kelewatan?” tanya Jimin dengan pandangan ragu.
Taehyung masih meringis sambil memegangi pipinya. Perlahan-lahan, ia mulai angkat bicara dengan suara yang sedikit aneh tercampur ringisan, “Mau… bagaimana lagi? Aku tidak punya pilihan. Kalau kita ceritakan semuanya… akh!” ucapan Taehyung terhenti, karena sebuah denyutan yang membuat pipinya ngilu.
“Hmm… Rumit memang.” ujar Jimin dengan setengah mengendus, sembari berjalan menuju rak obat UKS itu.
***
So Hyun membanting pintu UKS keras-keras. Banyak siswa-siswi lainnya langsung menoleh ke sumber suara, kemudian menatap So Hyun aneh.
Bel masuk sudah di bunyikan, namun So Hyun berjalan keluar sekolah dengan langkah cepat. Ia berjalan sambil mengelap kedua matanya yang mengeluarkan air matanya.
‘Aku kecewa dengan kalian. Kenapa kalian menyimpan rahasia sendirian?’
Batinnya terus mengeluarkan untaian rasa kecewanya terhadap kedua temannya itu. Ia lebih kecewa kepada Jimin dibandingkan Taehyung. Kenapa? Karena Jimin-lah orang yang paling terpercaya baginya. Namun, hal barusan telah mengecewakannya.
Ia menangis sambil berjalan cepat. Ia terus berharap jika ia berjalan cepat seperti ini, air matanya akan mengering.
Tepat di lobby, ia menabrak seorang laki-laki yang menggunakan parfum yang familiar di hidungnya. Ia tetap menutupi kedua matanya, tanpa mau melihat sosok laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Laki-laki itu tampak kaget ketika ia menabrak So Hyun keras, “So Hyun-ah?”
Dari suaranya, So Hyun memang sudah dapat mengenalinya. Namun, gadis itu tidak menyahut. Gadis itu mulai merasakan tangisnya semakin menjadi.
Rasa kekecewaannya tumpah begitu saja di hadapan laki-laki dan juga lobby yang masih dilewati siswa-siswi sekolah tersebut. Merasa mendapat tatapan aneh dari orang-orang, laki-laki itu menarik So Hyun menuju taman belakang sekolah dengan cepat.
“Ikut aku.” ujar Namjoon sambil menarik tangan So Hyun pelan.
Ketika sampai di taman belakang sekolah, Namjoon mempersilakan So Hyun duduk terlebih dahulu. Gadis itu hanya menurut saja tanpa mengatakan apa-apa.
Ia hanya diam dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bila bola matanya ditelusuri, rasa kecewa itu masih ada. Namjoon hanya mengembuskan napasnya saja.
“Kau ada masalah apa dengan teman-temanmu sampai menangis seperti itu?” tanya Namjoon pelan. Ia mulai mengambil posisi duduk di sebelah So Hyun dengan tatapan halus.
So Hyun hanya menggeleng, “Sunbae tidak perlu mengetahuinya. Karena sunbae, tidak ada urusannya dengan hal ini.” jawab So Hyun dingin. Ia tidak sama sekali menatap Namjoon sedikitpun.
“Hmm… baiklah. Omong-omong, kemarin kau melihat seekor kuda putih, ya?” tanya Namjoon santai.
So Hyun langsung menoleh ke arah Namjoon dengan dahi yang sedikit mengerut. “Darimana sunbae tahu?”
“Aku juga melihatnya…”
“Lho, tunggu dulu. Bukannya, sunbae bilang tidak ada siapa-siapa, ya? Kapan sunbae melihatnya?” tanya So Hyun bertubi-tubi.
Namjoon langsung memasang ekspresi panik. Ia lupa kalau ia pernah mengatakan hal itu pada So Hyun. Ia sedikit mengendus napas, guna menghilangkan rasa paniknya. So Hyun masih menatapnya dengan tatapan bertanya.
“Apa sunbae melihatnya sekilas?” tanya So Hyun lagi.
“Y-ya. Aku hanya melihatnya sekilas.” jawab Namjoon dengan sedikit tergagap. Pertanyaan So Hyun yang barusan memang membantunya untuk menutupi rasa kepanikan yang ada di dirinya sekarang ini.
“Oh, begitu.” sahut So Hyun ringan. “Soal tadi, aku hanya kecewa dengan Taehyung dan Jimin.”
“Katanya, aku tidak perlu tahu.” sahut Namjoon dengan santainya. So Hyun kembali menatapnya dengan tatapan jengkel, “Baiklah. Kalau kau mau cerita, ceritakan saja.”
“Hmm… sepertinya tidak sekarang. Bel masuk sudah berbunyi. Aku harus ke kelas. Saat jam istirahat, bagaimana?” ajak So Hyun yang langsung bangkit dari tempat duduknya.
“Istirahat? Baiklah. Dimana?” tanya Namjoon dengan senang hati. Rasa kepanikan itu mulai berangsur menghilang.
“Di sini.”
“Baiklah. Tapi, aku tidak dapat berjanji untuk bisa datang tepat waktu. Tunggu saja, ya.” sahut Namjoon yang masih duduk saja.
“Ya, kalau begitu aku ke kelas sekarang. Terima kasih sudah mengajakku ke sini, hanya sekedar memerbaiki kondisi batinku. Hehehe. Sampai jumpa saat jam istirahat nanti, sunbae.” ujar So Hyun. Sikapnya sangat berbeda kepada Namjoon, berbeda dengan sikapnya terhadap kedua temannya itu.
“Ya.” sahut Namjoon pendek. Ia menunggu So Hyun untuk masuk terlebih dahulu, sedangkan ia tetap pada posisinya untuk sementara.
“Ah, sial. Kenapa aku selalu lupa?” rutuk Namjoon sambil mendesis.
***
To Be Continued
***
Haduh, Taehyung dan Jimin lagi berantem lagi sama So Hyun. Gimana ya selanjutnya hubungan mereka bertiga?
Sementara gak ada love line dulu😁, pengen buat yang beda gitu.. hihihi
Oh iya Like Comment!! Jangan lupa!!
Komen bawel ya kalau perlu😉😉