
Malam yang dingin, seorang gadis kecil berlari menelusuri hutan yang gelap dengan telanjang kaki. Ia berusaha lari dari kejaran lampu-lampu yang mengincarnya.
Air matanya terus mengalir deras. Keringat bercucuran. Ia ketakutan sendirian dihutan yang dimana bahaya selalu siap menghampiri.
.
.
"Soohe, kau harus lari. Selamatkan hidup mu ... Kau harus hidup, putri kecil ku ..."
"Tidak ibu ... Kau harus ikut bersama ku ... Kita harus selamat bersama!"
"Tidak Soohe! Kaulah yang lebih penting dari nyawa kami, nak."
Soohe kecil tak henti-hentinya menangis karna tak ingin pergi meninggalkan kedua orang yang sangat penting bagi hidupnya.
"Tidak ... Aku tidak akan pergi!" tolak Soohe dan bersikeras untuk tetap bersama ayah dan ibunya.
Ibu memegang kedua bahu Soohe dengan lembut. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam tapi tetap ia paksakan tersenyum manis menandakan itu adalah perpisahan mereka.
"Soohe ... Turuti perkataan ibu dan ayah, oke? Kita sudah sejauh ini demi diri mu. Kau harus hidup. Jalani hidup mu dengan baik. Tumbuhlah jadi gadis yang pemberani," wanita berambut coklat ini meneteskan air matanya.
Ia mengeluarkan sebuah liontin dari dalam kerah bajunya. Membukanya dan diberikan kepada Soohe kecil.
"Pergilah ke kota kecil setelah keluar dari hutan ini. Kehidupan baru mu ada disana. Jagalah liontin ini. Dia akan menyelamatkan mu suatu saat nanti. Ayah dan ibu selalu mengawasi mu ..."
Ibu dan ayah memeluk tubuh kecil Soohe untuk yang terakhir kalinya. Mengucapkan salam perpisahan untuk selamanya.
Kau harus hidup ...
Kalimat terakhir dari sang ibu terngiang di telinganya sebelum ibu dan ayahnya ditangkap oleh sekelompok pria dan membakar mereka.
Ia terus berlari. Walau terjatuh dan terluka pun ia harus lari.
Langit malam sudah memudar dan mulai menampakkan cahaya fajar tanda hari telah berganti. Mata sembap Soohe menyipit begitu menerima cahaya yang menyilaukan matanya.
Ia terbangun dari tidur singkatnya. Setelah berlari cukup jauh dan merasa sudah aman dari kejaran orang-orang, ia memutuskan untuk berhenti.
Kejadian semalam terasa seperti mimpi. Ia menggenggam liontin dengan mainan batu permata berwarna biru laut itu.
Pemikiran untuk mengakhiri hidup terbesit di hati kecilnya. Untuk apa dia hidup tanpa ada tempat untuk berlindung.
Kau harus hidup ...
Kalimat itu kembali terngiang di telinganya. Ia harus hidup. Janti harus ditepati. Ia harus hidup demi ayah dan ibunya yang telah mengorbankan diri untuk menyelamatkan dirinya.
Ia bangkit dan melanjutkan perjalanan untuk melanjutkan hidupnya.
————
Suara bising dan hiruk-pikuk orang menyambut Soohe. Ia harus bertahan di dunia luar yang keras ini.
Hidup sebagai anak jalanan. Menahan dinginnya malam dan bertahan dari teriknya matahari. Menangkap hewan kecil dan sembunyi-sembunyi menghisap darah mereka untuk mengisi perutnya yang lapar.
Tapi ia tak bisa seperti ini terus. Ia bertekad untuk berhenti meminum darah.
Ia harus makan makanan yang dikonsumsi manusia. Walau berat bagi tubuhnya untuk menerima makan ini, ia harus membiasakan diri.
Setahun pun berlalu. Soohe sudah mulai terbiasa dengan hal ini. Ia mulai tak tertarik pada darah. Ia membiarkan setiap ada kucing, anjing atau tikus yang lewat didepannya.
Karena tidak mengonsumsi darah, tubuhnya mengalami perubahan. Tapi ia tak tahu akan hal itu.
Krrruk...
Naga didalam perut Soohe berteriak minta di isi. Ia keluar dari sebuah gang kecil dan melihat sekeliling. Berjalan melewati toko-toko dan ia berhenti di sebuah kedai kecil yang menjual roti.
Ia menatap sepotong roti diatas meja dengan penuh selera. Lalu saat sang penjual tak sengaja menjatuhkan roti dan hendak membuangnya karena kotor, Soohe menghentikannya.
Saat hendak akan melahap roti ia dihentikan oleh seorang wanita paruh baya yang berpakaian rapi.
"Nak, jangan memakan roti yang sudah kotor itu. Aku akan membelikanmu yang baru," ujar wanita itu lalu membelikan roti yang sama.
Wanita itu mengajak Soohe duduk di kursi sebelah kedai roti tersebut. Soohe hanya mengikuti wanita itu tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.
"S-soohe" jawabnya dengan suara pelan.
"Soohe? Nama yang indah ..."
"Berapa umur mu?" tanya wanita itu lagi.
"Delapan tahun."
Wanita itu mengangguk pelan. Ia memperhatikan keadaan Soohe yang lusuh. Sampai lirikannya terhenti saat ia menangkap liontin yang tergantung dileher Soohe.
Ia merasa tak asing dengan liontin yang dikenakan Soohe.
Liontin itu? Mungkinkah ...
"Apa kau sendiri? Dimana orang tua mu?" tanya wanita itu penasaran.
"Mereka ... sudah tiada."
Mendengar jawaban Soohe wanita terkejut. Seketika ia prihatin melihat Soohe. Tanpa merasa jijik ia membelai rambut Soohe yang terlihat kusam.
Soohe menatap wanita dihadapannya. Siapa wanita ini? Apa dia kasihan pada Soohe?
"Soohe, apa kau mau ikut dengan ku?"
"Apa?" Soohe bingung. "Maksud bibi apa?."
"Jadilah putri ku. Aku akan membesarkan mu seperti anakku sendiri," ucap wanita itu.
Ia diasuh oleh pengusaha di kota kecil itu. Meski dikota kecil tapi penghasilan wanita itu sangatlah besar. Kehidupan Soohe berubah setelah diangkat menjadi anak oleh wanita itu.
Seiring berjalannya waktu, gejala pada tubuh Soohe semakin bertambah. Ia sering cemas dan sensitif. Hal itu disadari oleh Seon Hwa, ibu angkat Soohe.
Seon Hwa datang kekamar Soohe sambil membawa sebuah botol. Awalnya Soohe tak merespon kedatangan wanita ini.
"Aku tahu kau membutuhkan ini," ujar Seon Hwa. Ia membuka botol itu dan menuangkan isinya kedalam gelas yang ada di samping tempat tidur Soohe.
Soohe terkejut ketika melihat cairan kental bewarna merah didalam gelas. Kenapa wanita ini memberikannya darah?
"Ibu ..."
"Aku sama seperti mu, Soohe," potong wanita itu sambil tersenyum.
"Bagaimana ibu bisa tahu?" tanya Soohe yang terkejut.
"Minum ini dulu sebelum tubuhmu semakin memburuk, baru ibu cerita."
Soohe langsung menyambar gelas di tangan Seon Hwa dan meminumnya sampai habis. Seketika tubuhnya kembali normal. Ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya.
Seon Hwa tersenyum, "Liontin itu yang memberitahu ku."
"Ini?" Soohe menunjukkan liontin berbatu biru itu.
"Itu milik ibumu."
"Ibu mengenal ibuku sebelumnya? Tapi bagaimana?"
"Liontin itu adalah simbol dari keluarga Saedeon. Keluarga vampir yang memiliki kekuatan khusus. Kekuatan yang dapat mengendalikan dan memusnahkan kalangan vampir atau manusia serigala."
"Liontin itu memiliki kekuatan yang dapat melindungi vampir yang menggunakan nya. Dia menghilangkan bau vampir, dan mengendalikan kekuatan kita. Tapi jika kita terasa dalam bahaya liontin itu akan membuka pusat energi dan mengeluarkannya sehingga kita bisa menggunakan kekuatan dengan jumlah besar," jelas Seon Hwa panjang lebar.
Soohe hanya diam mendengarkan cerita ibu angkatnya itu.
"Dan kau, adalah keturunan dari mereka. Ibu mu memberikan itu sebagai perlindungan untuk mu."
"Tapi ... Bagaimana ibu bisa tahu cerita keluarga Saedeon serta liontin ini?"
"Vampir dari kalangan menengah yang melayani keluarga Saedeon dan meenyimpan cerita ini selama tiga puluh tahun. Dan ibu adalah generasi ke tiga puluh. Dan lebih tepatnya kau adalah tuan kami."
"Ibu sangat terkejut saat mendengar ibumu tiada" tambahnya.
Akhirnya Soohe tahu cerita dari keluarganya dan mendapatkan jawaban dari hidupnya. Kenapa ia diperintah untuk menyembunyikan kekuatannya sejak kecil.