
Soohe sedang melipat pakaiannya yang telah kering. Sedangkan Riel duduk ditempat tidur, menatap ponselnya sambil senyum-senyum. Soohe hanya geleng-geleng kepala melihat Riel yang seperti orang gila.
Kamar ini terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara dedaunan yang tertiup angin diluar karna jendela dibuka.
"Soohe," panggil Riel.
"Hm?"
"Apa kau sudah tau?" tanya Riel.
"Bagaimana aku bisa tau kalau kau belum bilang," Soohe mendengus.
"Iya juga," ia cengengesan. "Sudah terjadi pembunuhan di sekitar sini. Dan kau tau? Korbannya adalah murid dari Sunset Beach Academy."
"Lalu?" Soohe masih fokus pada objeknya. Detik kemudian ia menoleh Riel. "Apa karna vampir lagi?."
Riel menaik turunkan kepalanya. Ia berdecak, "Kota kita sudah tidak aman, benar?."
Soohe hanya menghela. Ia menumpuk pakaian terakhir yang ia lipat. Ia memutar kepalanya melirik jendela berdaun ganda terbuka lebar.
Tirai putih bersih melambai-lambai tertiup angin malam. Ia berdiri. Berjalan mendekati jendela dan berdiri disana. Bukan purnama sedang mengibarkan cahayanya ditengah langit gelap tanpa bintang.
Sekali lagi ia menghela nafas. Ia termenung. Fikirannya berkelana.
Tiba-tiba dahinya mengernyit. Ia memikirkan Haeseung yang terus mengirimnya telepati.
Kenapa bisa? Apa dia punya kekuatan atau semacamnya? ...
Ia menokok kepalanya pelan, Kenapa aku selalu lupa menanyakan ini padanya? Ini karna ekspresi nya yang selalu membuyarka fikiran ku ... Omelnya.
Mungkin aku harus menanyakan ini pada Haeseung nanti. Kepalanya angguk-angguk. Nanti? Jam sekolahkan sudah selesai, bodoh! ... Bagaimana jika besok? ... Hmm, besok aku tanya padanya.
Setelah asik bermonolog ria, Soohe pergi kekamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu, akan membuang sampah.
Riel tidak pernah ingin membuang sampah jika sudah malam. Dan ditanyai oleh Soohe kenapa ia tidak buang sampah saat hari terang, jawabannya "Aku lupa."
Untuk sekian kalinya ia menghela nafas. Ia meraih kantung hitam dilantai.
"Riel, aku akan membuang sampah,"
"Oke ... hati-hati," ucap Riel sambil mengangkat tangannya keudara. Tapi perhatiannya masih pada ponsel hitamnya.
Soohe mendengus, "Awas matamu keluar karna keseringan lihat layar Lcd."
.
.
.
Soohe berjalan gontai menuju tempat pembuangan sampah. Santai. Lancar tanpa ada gangguan selama perjalanan.
Sruk!
Soohe melempar kantung hitam kedalam tong sampah. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Membuat bulu kuduk Soohe merinding. bukan karna takut, tapi dingin.
Instingnya menangkap sesuatu yang mendekat. Sontak ia langsung menarik sesuatu yang terasa seperti tangan dan membantingnya.
Bruk!
Seorang pria yang mengenakan seragam sekolah tergeletak dihadapannya.
"Hey!" suara lelaki lain sedang meneriaki Soohe, dan berniat untuk menyerangnya balik. Tapi, seketika gerakannya melambat ketika melihat seorang gadis yang ada disana.
Telat. Soohe yang merasa terancam menyikut perut pria itu dengan kuat.
"Aarrggh!" Pria itu meringkuk kesakitan. Ia tak kuat untuk bangun.
Soohe hanya terdiam. Auranya berubah.
"Ada apa ini?" sela seseorang.
Soohe menoleh kebelakang. Lirikan seramnya belum berubah. Ada lagi? Siapa mereka?
Ia melihat dua orang pria datang menghampirinya. Ia melihat lambang pada jas yang mereka kenakan. Tidak jelas. Karena pencahayaan disana minim.
Pria yang mengenakan kaca mata melirik Soohe, kemudian beralih melirik kedua temannya yang tergeletak di tanah.
"Kalian kenapa tiduran di tanah?" tanyanya.
"Apa mereka teman mu! ... Maaf. Maafkan aku. Aku kira orang jahat tadi," ucap soohe. Wajahnya berubah menjadi panik tak karuan.
"Oh tidak-tidak. Harusnya Kamilah yang minta maaf. Kau pasti terkejut," ujar salah satu pria yang Soohe hajar tadi.
"Sebenarnya iya ... Apa ada yang luka?" tanya Soohe. Ia benar-benar panik. Ia takut karna telah melukai manusia.
"Tidak. Kami baik-baik saja ..."
"Haaahh... syukurlah," Soohe menghela nafas lega. "Oh iya ... kalian bukan dari sekolah ini'kan?."
"Ah iyaa... biar kami memperkenalkan diri. Aku Jiwoong," ucao pria berkacamata. Lalu ia memperkenalkan teman-temannya yang lain.
"Ini, Sungwoo, Jeon, dan Haru. Kami siswa dari Sunset Beach Academy."
Soohe mengangguk. "Kenapa kalian bisa berada dikawasan ini? Bukankah ada penjaga digerbang depan?."
Disaat sedang asik mengobrol dengan mereka, tiba-tiba ada yang menegur mereka.
"Ada apa ini?" sela seseorang.
Soohe memiringkan kepalanya agar dapat melihat siapa yang datang. Ia tak dapat melihat karna tertutupan tubuh pria-pria tinggi ini.
"Wah-wah ... bau yang memuakkan ini," ucap Sungwoo. Wajahnya terlihat sangat tidak senang ketika melihat dua pria yang baru datang ini.
"Berani sekali kalian datang kesekolah kami dan mengganggu murid disini," sinisnya.
"JungWon, bukan seperti itu ... ini hanya salah paham" Soohe mencoba menjelaskan.
"Tidak ada waktu kami untuk mengganggu murid disini. Tidak seperti kalian," balas Haru.
"Kalian tau korban vampir yang baru-baru ini adalah murid sekolah kami," ucap Jiwoong, dengan nada menuduh.
JungWon dan Niki menyeringai, "Lantas kenapa? Apa itu ada hubungannya dengan kami?" tanya JungWon.
"Apa kalian yakin tidak ada hubungannya dengan kalian, huh!"
"Justru kami berfikir itu ada hubungannya dengan kalian. Bukan apa kami," balas JungWon.
"Kau yakin tidak akan menyesal telah mengatakan ini?"
"Kenapa? Cih! Apa kalian datang kesini saat bulan bersinar terang karena tidak bisa menyerang kami pada saat hari biasa?" tantang JungWon.
"Dasar brengsek!"
Mereka hendak melakukan perkelahian. Soohe yang sejujurnya tak suka kekerasan yang terjadi didepan matanya tak tinggal diam.
Dia sempat menghentikan JungWon dan Niki berkelahi dengan murid luar itu.
"Kumohon kalian jangan bertengkar!" teriak Soohe.
"Soohe, kami melakukan ini, karena sepertinya mereka mengusikmu" jelas Niki.
"Tidak seperti itu! Tadi hanya salah paham. Jadi kumohon jangan bertengkar! ..." Soohe berteriak. Untungnya tak ada orang saat itu selain mereka disitu.
JungWon dan Niki terpaku. Mereka tak bisa bergerak.
Dia bisa menghentikan ku. Dia juga sangat kuat. Batin JungWon.
"Sedang apa kalian dini hari begini?"
"KAK HAESEUNG!" seru JungWon dan Niki bersamaan.
"H-haeseung ..." lirih Soohe.
"Kalian ... menjauhkan dari Soohe sekarang juga!" titah Haeseung dengan suara rendah.
Soohe baru pertama kali melihat raut wajah Haeseung yang terlihat begitu jauh berbeda seperti yang sering ia lihat.
"Haeseung, ada kesalahpahaman tadi saat aku sedang membuang sampah,"
Haeseung menghampiri Soohe. "Kau tidak terluka'kan?" tanyanya. Raut wajahnya seketika berubah didepan Soohe.
"I-iya ..."
"Syukurlah kalo begitu ..." ucap Haeseung. Ia menarik Soohe agar menjauh dari murid Sunset Beach itu.
"Bahaya jika keluar larut seperti ini. Ayo kita kembali," ajak Haeseung. Ekspresi nya belum berubah.
"Aku akan mengantarmu ke kamar."
"E-eh ... tunggu dulu," tahan Soohe.
"HEI!"
"Kau pikir bisa pulang begitu saja? Kita masih harus bicara," ujar Jeon.
Haeseung menoleh tanpa merubah posisinya, wajahnya kambali berubah sinis. "Tidak ada yang harus kubicarakan pada kalian. Cepat keluar dari sekolah kami."
"Kalian yang membunuh murid sekolah kami kan?" tanya Jeon.
"Kami tidak pernah melakukan hal seperti itu," balas Haeseung.
"Kau pikir bisa mengelak begitu saja!" teriak Haru.
"Bukan kami yang melakukannya," balas Niki.
"Apa kalian punya bukti bahwa kalian bukan pelakunya?" tanya Sungwoo.
"Kalau begitu, apa buktinya jika kami pelakunya?" tantang JungWon.
"Kalian kira kami kesini tanpa alasan? Tidak mungkin kami datang tanpa adanya bukti," jawab Jeon.
"lalu kenapa? Seandainya memang kami pelakunya? ..."
"H-haeseung ..." lirih Soohe yang terkejut dengan ekspresi Haeseung.
"LANTAS KALIAN MAU APA?" tanya Haeseung dengan pandangan menakutkan.
Soohe merasakan hal aneh saat Haeseung masih memegang bahunya. Aura yang ia rasakan pada Haeseung sebelumnya berbeda. Sangat beda. Aura gelap seakan mengelilinginya.