
Tiga hari semenjak pemeriksaan, tubuh Soohe mengalami banyak perubahan. Taringnya suka keluar dan mengakibatkan ia tidak bisa bisa berbicara banyak agar tidak terlihat oleh orang. Ia juga suka gelisah. Lebih sensitif terhadap orang dan pada keramaian.
Ia bahkan tak banyak bicara kepada Riel seperti biasanya. Dan bahkan ia tidak ingin menemui Haeseung dan yang lain. Saat akan berpapasan, ia lebih memilih untuk menghindar.
Riel yang merasakan perubahan Soohe hanya menggelengkan kepala. Sempat berkerut keningnya ketika pemikiran buruk mampir dikepalanya, tapi ia tepis itu jauh-jauh.
Mungkin dia sedang pubertas? batinnya ketika melihat Soohe yang tengah membungkus dirinya dengan selimut di tempat tidur.
"Soohe," tegur Riel.
"Hem?" Soohe hanya membalasnya dengan deheman.
"Apa kau butuh obat penghilang rasa sakit?" tanyanya yang mulai merasa khawatir.
"Tidak."
"Kau baik-baik saja?"
"Hem ..."
"Ya sudah. Kau istirahatlah."
Riel pun berdiri dari kursi belajarnya dan pergi ke kamar mandi. Soohe yang masih diam ditempatnya berusaha untuk menahan diri karena insting vampirnya yang sedang haus darah.
Hal ini membuatnya gila. Keringat dingin diwajahnya bercucuran. Dengan tangan yang bergetar, ia meraih ponsel. Pukul setengah tiga dini hari.
"Aku harus pergi," niatnya dalam hati. Ia harus pergi ke suatu tempat untuk meredakan instingnya yang menggila. Kemana lagi? Ya untuk mencari darah segar lah.
Praang! ...
Suara benda jatuh berasal kamar mandi disusul dengan suara rintihan Riel yang kesakitan. Soohe terbangun. Penciumannya menangkap aroma yang yang sangat menggoda. Darah?
Soohe pun langsung berdiri dan mendekati pintu kamar mandi. Berkali-kali ia memanggil nama Riel dan mengetuk pintu. Ia tidak bisa masuk karena pintunya terkunci.
Bukan darah yang ia utamakan. Ia lebih mengutamakan keadaan orang yang didalam kamar mandi ini.
"Riel, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?"
"Soohe ... tolong aku ... Aku terpeleset," balas Riel.
"Apa! Terpeleset? ... Bertahanlah, aku akan menolongmu."
Ia memegang handel pintu. Ia memutar dan mendorong handel pintu itu agar terbuka dengan kekuatannya.
Dengan cepat ia menghampiri Riel yang terduduk dilantai dekat wastafel.
"Apa kau bisa berdiri?" tanya Soohe saat melihat ada pecahan kaca dilantai dekat sebelah Riel.
"Tidak bisa. Sepertinya kakiku terkilir. Tanganku juga terluka karena pecahan gelas," jelas Riel yang memperlihatkan luka di telapak tangannya.
Dengan hati-hati ia membantu Riel dan memapahnya keluar dari kamar mandi.
Ia mengambil kotak P3K di nakas sebelah tempat tidurnya. Dengan tangan yang gemetar dan keringat yang terus mengalir dari sela rambutnya, ia mengulurkan kotak P3K itu pada Riel.
"Soohe, apa kau bi–" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Soohe langsung keluar tanpa sepatah katapun.
Blaam!
"Soohe!" teriak Riel yang kebingungan. "Dia kenapa? ... Dia pergi, lalu bagaimana aku mengobati ini?."
Soohe berlari secepat menelusuri lorong kamar asrama. Perubahan dirinya makin jelas terlihat. Taringnya muncul, dan warna matanya berubah. Penglihatannya jauh berbeda dari sebelumnya. Ia berlari menjauh dari asrama.
Dia sudah tak bisa menahan dirinya lagi. Tenggorokannya sudah sangat kering. Ia sudah kalah melawan hasrat vampirnya.
Ia mengendap-endap saat menuju tembok pembatas sekolah agar tak ketahuan oleh penjaga.
Saat akan melompati tembok, ia ditegur oleh seseorang. Soohe tak berani melihat kebelakang karna ia kenal dengan suara ini.
Karna panik Soohe lari kearah lain. Ia berharap orang itu tak mengejarnya. Nihil. Orang itu malah lari mengejarnya. Tak habis pikir Soohe berlari kebelakang sekolah dan membuat dirinya transparan dan dengan cepat melompati tembok.
****
Ia sempat menanyai SunOo tentang keadaan Soohe. Dan jawabannya,
"Soohe? Dia baik-baik saja. Hanya saja, lebih sering diam dan menyendiri. Aku saja tidak bisa berbicara banyak padanya."
Haeseung menghela nafas. Gadis yang sudah beberapa hari ini menghiasi mimpinya mendadak menjauhkan diri. Sempat ia berfikir apakah ini karna perkataan Sunghoon.
Drap! drap! drap! ...
Mendengar suara langkah kaki dengan tempo yang sangat cepat, Haeseung menoleh. Ia melihat seseorang sedang berlari menuju tembok samping asrama.
Haeseung mengikuti orang itu. Ia melihat seorang gadis berambut panjang tengah berdiri menatap tembok pembatas.
"Hey! Sedang apa kau disana?" tegurnya yang membuat gadis itu terkejut dan kemudian kabur. Merasa ada keanehan, ia mengejar gadis itu sampai kebelakang sekolah. Sialnya setiba disana ia kehilangan jejak gadis itu.
Keningnya berkerut saat melihat tidak ada tempat untuk bersembunyi dan tempat ini adalah jalan buntu.
"Bukan manusia" gumamnya.
****
Soohe menyusuri gang kecil di kota yang sepi. Ia mencari, mencium setiap aroma yang terbawa oleh angin.
Dari ujung gang kecil itu ia melihat seorang pria tua yang mabuk berat. Ditangan kirinya sedang menggenggam botol alkohol bewarna hijau.
Ia berjalan menghampiri pria itu. Pria itu menghentikan langkahnya karna Soohe menghalangi jalannya.
"Oi, minggir. Kau menghalangi jalan ku," ucap pria itu.
Soohe tak bergeming. Ia menatap tajam pria itu.
"Oh? ... Hey! apa kau punya telinga? Minggir kubila–"
Brak!
Soohe yang sudah hilang kendali mendorong pria itu ke dinding. Ia mendekatkan kepalanya ke leher pria itu. Membuka mulutnya dan memperlihatkan dua taring tajam yang siap menembus kulit pria itu.
Dengan cepat ia tersadar dengan tindakannya. Ia tak ingin membunuh manusia. Ia pun lari meninggalkan pria itu dan membuat dirinya menghilang agar tak ada orang yang melihatnya.
pria itu terlihat kebingungan. Ia antara sadar dan tidak sadar. Ia beranggapan kejadian yang hampir menimpanya adalah halusinasi karna ia sedang mabuk.
———
Soohe sedang berlutut disebuah jalan buntu. Pupil matanya bergetar begitu melihat seekor kucing yang tergeletak tak bernyawa dihadapannya.
Ia mengusap mulutnya dan melihat noda darah pada tangannya. Pakaiannya pun tak luput dari noda darah segar itu.
Air matanya tak berhenti mengalir begitu ingat apa yang ia lakukan pada seekor kucing yang malang ini.
"Maafkan aku ... maafkan aku kucing ... aku tidak berniat membuat mu seperti ini ..." isaknya sambil mengusap bulu kucing itu yang basah terkena darah.
Ia memukul kepalanya berkali-kali. Ia menghukum dirinya sendiri agar tak melakukan hal seperti ini lagi.
Ia meletakkan tubuh kucing itu di sebelah tempat sampah dan segera lari dari sana.
****
Ia membuka pintu kamar dengan perlahan. Pelan, agar tak menimbulkan suara yang dapat membuat Riel terbangun. Berjalan pun diusahakan agar tak menimbulkan suara juga.
Sssrraaaa ...
Suara air kran menyucur deras membasahi tubuh Soohe yang berdiri bawahnya. Air mata mengalir bercampurkan dengan air dingin yang keluar dari kran.
Ia sudah kembali normal. Kulitnya yang kering sudah membaik. Jiwanya jauh lebih tenang, tapi hatinya tidak. Ia merasa sangat bersalah pada kucing itu.
"Kenapa aku harus terlahir seperti ini ..."