
"Kak,"
"Hem?"
"Sebentar lagi liburan musim panas. Aku juga merindukan Ibu pemilik panti asuhan itu."
Haeseung tersenyum mendengar ucapan Niki. "Benar juga. Aku sudah lama tidak memikirkan Ibu."
Bertahun-tahun yang lalu mereka besar disebuah panti sederhana di sebuah kota kecil. Sebuah panti? Apakah itu pantas dikatakan panti asuhan? Hanya mereka bertujuh saja yang tinggal disana. Tidak ada yang lain.
Terlebih lagi wanita yang mereka panggil dengan sebutan Ibu itu tahu jati diri mereka. Wanita itu membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang. Ia juga memberikan rumah yang mereka tinggali saat itu.
Disana mereka tumbuh, dan mereka juga berlatih mengendalikan kekuatan mereka disana.
Saat diusia empat belas tahun, karna suatu alasan Haeseung mengajak adik-adik untuk pindah.
Ibu panti asuhan itu sangat sedih saat mereka memutuskan untuk pergi. Dan berjanji akan saling memberi kabar.
Wanita yang juga sebangsa dengan mereka itu tidak bisa melarang niat mereka untuk hidup mandiri. Meski hati berat melepaskan mereka bertujuh yang masih diusia yang belia, wanita ini tak bisa berbuat banyak.
Wanita itu memerintahkan mereka untuk datang ke Academy Delish.
Sudah lama ia tidak memikirkan wanita yang ia panggil ibu itu. Dan ia hampir melupakan wanita itu.
Apa yang aku pikirkan sampai aku melupakan wanita yang sudah membesarkan kami? Betapa jahatnya diriku ini ...
"Aku juga merindukan Ibu ..."
"Apa kita akan pulang kesana?" tanya SunOo.
Haeseung tersenyum sambil melirik adik-adiknya bergantian, "Kita akan pulang kesana saat liburan."
****
Soohe tengah duduk di meja belajarnya. Tangannya sibuk membalikkan tiap halaman buku cetak tebal dihadapannya dan tangan satunya sibuk menulis. Ia sedang mengerjakan tugas terakhir sebelum liburan.
Apakah mereka selalu memberikan tugas ekstra sebelum liburan? Sekolah ku yang dulu sepertinya tidak seperti ini ...
Mendadak ia merindukan sistem sekolah lamanya yang meringankan muridnya menjelang liburan.
"Hey Soohe,"
"Whaa ... kaget aku! Riel ada apa dengan wajah mu itu?"
Soohe terkejut melihat penampakan Riel yang begitu berantakan. Rambut pendeknya terlihat begitu kacau. Pakaiannya juga dan suaranya ... Aahh ... ntahlah. Soohe pun tak bisa mendeskripsikannya.
Zombi!
"Apa kau punya pena lebih? Tinta pena ku bocor. Pinjamkan aku satu," Riel mengulurkan tangannya yang hitam karena tinta pena.
Dengan mata yang terbuka lebar, dan lirikan yang beralih dari sahabatnya ia meraba bukunya dan mengambil pena yang tergeletak di atasnya dan meletakkannya di tangan Riel.
"Terimakasih."
"I-iya ..."
"Guru yang mengajar di kelasku sudah gila. Dia memberikan tugas yang sangat gdjebsknaosbdoensejwow bla-bla-bla ..." mulutnya mengomel ntah sama siapa.
Soohe mengangkat bahunya tak menghiraukan kondisi sahabatnya itu dan kembali ke tugasnya.
Tak!
"Soohe ..."
Soohe mengerutkan dahi. Suara Riel sudah seperti biasa kali ini.
"Ya?"
"Ini liburan pertamu saat disini kan?"
"Iya. Kau benar."
"Kemana kau akan pergi? Kepantai? Mendaki gunung? Menacing? Atau rebahan sampai liburan usai?"
"Aku? Aku akan pulang kerumah."
"Oh, rebahan sampai liburan usai ya? Sama seperti ku rupanya haha..."
"Rebahan sampai liburan usai hanya kau saja, mungkin ... Tapi tidak dengan ku, pffft ..." balas Soohe sambil tertawa kecil.
"Aku pulang kerumah karna banyak yang ingin aku lakukan dengan ibuku. Aku juga sangat merindukan dia ..."
****
Soohe duduk termenung didepan jendela menikmati langit malam yang kosong. Angin malam yang sejuk membelai wajahnya yang putih halus.
Sesekali ia berdecak sambil memegangi liontinnya.
Haruskah aku keluar sekali lagi? Tidak! Berbahaya. Kemungkinannya aku bisa saja mati atau terluka ...
Soohe menoleh kebelakang. Ia melihat Riel sudah tertidur pulas. Yah, wajar saja. Sekarang sudah pukul dua belas lewat. Detik kemudian ia menghela.
Ini sudah seperti kebiasaan. Kebiasaan suka keluar larut malam. Biasanya hanya keluar dari asrama dan berjalan-jalan di taman untuk mencari udara segar atau menenangkan fikirannya. Tapi sekarang? Berjalan-jalan di kota yang dimana para vampir yang haus darah dan ganas berkeliaran.
"Huuhh ... Apa yang harus aku lakukan? Kemaren aku selamat karna mereka yang datang ntah dari mana. Kalau sekarang? Tidak tahu!" Soohe mengecilkan suaranya agar tidak membangunkan Riel.
Soohe menatap jauh ke menara lonceng yang terletak tak jauh dari asramanya. Lebih tepatnya menara lonceng Academy Delish. Ia menangkap sosok yang sedang berkumpul di samping lonceng raksasa yang bewarna silver kecoklatan itu.
"Oh? Bukankah itu mereka?" gumamnya setelah matanya menyipit, memfokuskan objek yang ada di menara lonceng.
Yup! Yang dilihat Soohe adalah si tujuh saudara itu. Meskipun samar, ia yakin bahwa itu adalah mereka. Soohe bertanya-tanya sedang apa mereka disana dijam segini.
Sebuah inisiatif muncul dikepala kecilnya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di tempat tidur. Jarinya dengan lincah memainkan keyboard ponsel.
****
Haeseung dan adik-adiknya menyelinap diam-diam keluar dari asrama yang ketat dengan penjaga. Jay geleng-geleng selama menyelinap. Sejak kapan asrama laki-laki jadi ketat penjaganya bukan asrama perempuan yang dibuat seperti ini, batinnya.
Setelah berhasil keluar tanpa ketahuan, merekapun berjalan melewati lorong yang tidak terlalu sempit dan memanjat tembok sekolah.
Ssrrrk ... Tap!
Dengan hati-hati mereka turun agar suara dari hentakan kaki mereka tak memancing kedatangan penjaga.
"Kenapa kita kesekolah?" bisik SunOo.
"Sssstt ... diam dan ikut saja!" sahut Jay.
Mereka terus mengikuti langkah Haeseung yang berada paling depan. Mereka berjalan melewati auditorium, lalu berjalan kegedung utama, dan mengitarinya. Dan mereka melewati lagi beberapa gedung satu lantai setelah itu memasuki sebuah gedung tunggal yang menyerupai mercusuar. Sungguh perjalanan yang jauh. Tapi ini bukan apa-apa bagi mereka.
Gedung ini adalah menara lonceng Academy Delish. Menara ini berada dibelakang gedung utama sekolah. Lonceng ini selalu dibunyikan setiap ada peristiwa- peristiwa tertentu.
Mereka terus menaiki anak tangga tanpa henti sampai atas dimana tujuan mereka.
"Kak, kenapa kita kesini?" tanya SunOo lagi. Ia benar-benar penasaran dengan tujuan mereka datang kesini.
"Untuk mengawasi." Singkat, padat, dan jelas. Itulah jawaban Haeseung dengan santai.
"Dimenara lonceng ini kita bisa melihat kota dengan jelas secara keseluruhan," lanjutnya. Yang lain mengangguk faham.
"Lalu ... jika kita melihat sesuatu, bagaimana kita akan mengatasinya?" pertanyaan spontan keluar dari mulut JungWon.
Haeseung menyeringai. Ia sangat faham maksud dari pertanyaan JungWon. "Kaulah orang pertama yang akan mencegahnya."
JungWon mengangguk ringan. Detik kemudian,
"Apa? Aku? Kenapa aku?"
"Karena kau dapat bergerak dengan sangat cepat. Lebih cepat dari yang lain. Kau akan mengulur waktu sampai kami tiba disana."
Ting! ...
Suara yang berasal dari saku celana Haeseung menyela. Dengan cepat Haeseung langsung merogoh saku celananya.
Ia tersenyum setelah melihat nama sang pengirim pesan yang tertera dilayar ponselnya.
"Sedang apa kalian dimenara lonceng jam segini?"
"Pffft ... dia lihat ternyata," gumam Haeseung saat membaca pesan dari Soohe.
"Hah? Siapa?" tanya JungWon.
Haeseung merubah posisinya kesebelah kanan yaitu arah asrama perempuan. Yang lain mengikuti geraknya. Ia melihat sebuah gadis berbuat panjang dengan piama kuning tengah berdiri didepan jendela.
"Soohe sedang melihat kita disini," balasnya.