DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Wanita Misterius



Tok-tok-tok ...


Haru mengetuk pintu kamar Soohe. Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka dari dalam. Riel yang sedang membaca buku seketika menjatuhkan bukunya kelantai karena melihat Soohe yang terlihat pucat dan sedang digendong oleh Sungwoo.


"Soohe! Kau kenapa?" panik Riel. Dia langsung menyuruh Sungwoo masuk ke kamar.


Sungwoo dengan hati-hati merebahkan Soohe dikasur. Melihat keadaan Soohe yang belum berubah sedari tadi diperjalan menuju asrama perempuan.


"Bagaimana Soohe bisa bersama kalian?" tanya Riel yang bingung.


"Itu ..." Sungwoo tidak melanjutkan perkataannya karena dia bingung ingin menjawab apa.


Jiwoong masuk dan menepuk bahu Sungwoo menandakan agar dia saja yang bicara. Sungwoo mundur dan bergabung dengan kedua temannya yang berada di depan pintu kamar.


"Begini, kami tidak sengaja bertemu Soohe di koridor, dan dia sudah begini keadaannya,"


Riel membantu Soohe untuk minum dan ia berkata, "Lalu bagaimana dengan Kak Haeseung? Apa dia ada disana?."


"Mereka ada disana dan tidak melakukan apa-apa," balas Jeon yang jelas membuat citra Haeseung dan yang lain jelek dimata orang.


"Apa?" Riel terkejut.


"Hentikan teman-teman," Soohe berusaha duduk dan menahan rasa sakitnya. "Jiwoong, Sunghoon, serta kalian, terima kasih sudah mengantarku pulang. Kalian boleh kembali. Pelatih kalian pasti sedang mencari kalian."


"Kau tidak apa-apa, Soohe?" tanya jiwoong sekali lagi.


Soohe memaksa bibirnya untuk tersenyum, "Aku tidak apa-apa."


****


JungWon menutup pintu dengan perlahan. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi apapun. Ia berputar dan bergabung dengan saudaranya yang lain dan bersiap mendengar penjelasan Haeseung yang sempat tertunda.


"Apa yang ingin kakak katakan?" tanya JungWon. "Lalu ... apa yang ingin kakak selidiki?" lanjutnya. Yang lain juga berpikir demikian.


Haeseung memindahkan tumpuan kakinya. Tangannya menyilang kedada. "Apa kalian tadi melihat kalung Soohe?."


Dahi SunOo mengkerut, "Kalung? Bukankah itu kalung yang selalu ia pakai? Model yang sama dengan warna batu yang berbeda!"


Haeseung mengangguk pelan. Sunghoon yang merasa pembicaraan ini terlalu berbelit bertanya, "Lalu, apa itu ada hubungannya dengan Jay dan kakak yang mengatakan saat menyentuh Soohe energinya seperti terhisap?"


"Setelah diperhatikan, aku merasa tidak asing dengan kalung yang dikenakan Soohe."


"Apa kau pernah melihat kalung itu sebelumnya?" tanya Jay.


Haeseung kembali mengangguk, "Pernah."


"Kapan?" tanya Niki dan SunOo hampir serentak.


"Dulu. Saat kita masih tinggal di rumah itu ..."


"Apa! Bagaimana bisa?"


"Dulu, aku pernah memasuki perpustakaan rumah utama untuk mencari sebuah buku. Dan, tanpa sengaja saat aku menarik sebuah buku, ada buku lain yang ikut tertarik dan terjatuh."


Haeseung diam sejenak. Yang lain hanya bisa menunggu Haeseung untuk kembali bercerita.


"Buku yang terjatuh itu adalah buku sejarah keluarga Saedeon."


Mendengar kelanjutan cerita Haeseung, raut wajah mereka tiba-tiba berubah.


"Keluarga Saedeon! Bukankah itu keluarga yang ibu layani?"


Sorot mata Haeseung berubah tajam seolah menjawab semua pertanyaan adiknya. Semuanya terenyak. Tak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan kemungkinan masing-masing.


"Apa kakak yakin itu adalah kalung keluarga Saedeon?" SunOo melontarkan pertanyaan yang nyaris membuat keyakinan Haeseung goyah.


"Aku yakin!" tegas Haeseung. Tetapi sorot matanya menunjukkan rasa keraguan.


Haeseung menunduk. Ia menarik nafas dalam kemudian mengangkat kembali kepalanya. "Untuk memastikannya, kita harus kembali."


Disaat yang sama, Riel sedang mengurus Soohe yang sedang sakit. Wajahnya tampak cemas saat kondisi Soohe yang tak kunjung membaik.


Jiwoong dan yang lain sudah pergi beberapa saat lalu. Itu pun karena paksaan dari Soohe dengan alasan yang bermacam-macam.


Soohe melirik kearah Riel. Tangannya terangkat dan menggenggam pergelangan Riel. "Riel, kau istirahat lah ... Aku tidak apa-apa."


"Apa! Apa kau sudah gila? Mana mungkin aku meninggalkanmu dengan kondisi seperti ini ..." tolaknya.


Soohe hanya bisa medengus. Riel orang yang keras kepala dan tidak bisa dilarang. Ia sangat tahu itu.


"Terserah mu saja ..."


"Sudahlah! Kau tidur saja dan jangan hiraukan aku," perintah Riel.


Soohe memaksakan sebuah senyuman. Dia pun menuruti perkataan Riel. Perlahan ia menutup mata dan perlahan mulai terlelap bersama rasa sakit yang tidak tahu kapan dia akan pergi.


****


Soohe mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru yang terlihat tak ada cahaya sama sekali. Tak ada rasa takut sama sekali didalam dirinya.


Telinga Soohe mendengar suara bisikan. Bisikan yang ramai, dan terdengar samar-samar. Soohe memfokuskan suara bisikan itu ditelinganya.


Perlahan, suara itu terdengar jelas. Bukan suara bisikan melainkan suara riuh seperti ada pertarungan senjata. Suara teriakan, suara senjata tajam yang saling beradu, dan lain-lain.


Soohe menutup telinganya dengan rapat karena suara itu memekak di telinganya. Perlahan dia menunduk dan meringkuk karna tak sanggup mendengar suara-suara itu


yang tetap terdengar walau ia menutup telinganya dengan rapat.


Sekarang rasa takut menyerang Soohe. Suara bising itu mengingatkan nya pada saat dia dikejar oleh warga desa. Trauma itu begitu membekas dalam dirinya sampai sekarang.


"Tidak ... Jangan ... Ibu, Ayah, aku takut ..." lirihnya. Soohe menutup matanya sambil menangis.


Tak lama kemudian dia merasakan sebuah sentuhan lembut yang memegang kedua tangannya dan menariknya agar membuka kedua telinganya.


Mata Soohe perlahan terbuka. Seketika suasana menjadi hening. Ia mengangkat kepalanya dan melihat sosok yang berada dihadapannya. Betapa terkejutnya dia begitu melihat sosok yang tengah tersenyum padanya.


Wanita yang pernah ia lihat di mimpi sebelumnya. Masih dengan pakaian yang sama yaitu gaun putih yang indah dan tidak ternodai oleh apapun.


Soohe menatap wajah cantik itu tanpa berkedip. Begitupun dengan wanita yang jelas Soohe ingin tahu siapa dia sebenarnya.


"Jangan takut ... Harus berani dan selamatkan lah ..."


Suara wanita yang begitu lembut itu menggema ditelinga Soohe.


"Ya?"


Soohe tak mengerti maksud dari perkataan wanita itu. Apa yang harus dia selamatkan? Tapi ia ketepikan masalah itu dulu. Dia memberanikan diri untuk bertanya kepada wanita itu tentang siapa dirinya.


"Itu ... Siapa kau?" tanyanya dengan tergagap.


Wanita itu tak langsung menjawab. Dia melirik liontin Soohe. Kemudian dia meletakkan tangannya di dada Soohe dan berkata,


"Aku? Aku hanya seorang wanita yang sama seperti diri mu ..."


Soohe tak menghiraukan apa yang dilakukan oleh wanita itu pada dirinya. Dia kembali melontarkan pertanyaan.


"Kenapa kau muncul di mimpiku sebelumnya? Apa kau baik-baik saja? Siapa pria itu dan mengapa dia menikam mu?"


Wanita itu menarik kembali tangannya, "Bagaimana perasaanmu sekarang?."


"Perasaan ku?"


"Bangunlah!"


Soohe membuka kembali matanya dan mendapati bahwa dia sedang berada di kamar asramanya. Soohe menarik nafas dalam.


Perasaanku?


Ia mengelus dadanya yang sudah jauh lebih baik. Tidak ada rasa sakit maupun sesak. Ia menarik liontinnya.


Warnanya kembali seperti semula ... Jadi begitu ya?


Wanita yang masih misterius itu telah menumbuhkannya. Bersyukur? Tentu dia sangat bersyukur. Dia juga sangat berterimakasih pada wanita itu.


Apakah kita akan bertemu lagi?