DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Kasus Pembunuhan Di Kota (2)



Tiba-tiba Soohe cegukan. Ia selalu dibuat gugup oleh pria yang memiliki tatapan tenang ini. Lidahnya terasa kaku. Diabtak bisa berkata apa-apa.


"Soohe?" tegur Haeseung.


"Iya?"


"Apa kau kepanasan? Wajahmu terlihat sangat merah."


"Tidak. Apa terlihat begitu?" Soohe membuang muka. Dia malu.


Tak pudar senyuman dari wajah Haeseung karna melihat tingkah Soohe. Gadis dihadapannya itu sangat lucu. Dia sangat menyukainya.


Pandangan Soohe tertuju pada langit yang sudah mulai gelap. Ia teringat dengan Riel.


"Omong-omong jam berapa sekarang?" tanya Soohe.


Haeseung melihat jam arlojinya, "Jam enam."


"Jam enam? ... Harusnya dia sudah pulang'kan?" gumam Soohe. Ia mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Riel.


"Siapa?" tanya Haeseung.


"Riel. Dia pergi keluar bersama Jung-il. Karna kasus yang terjadi di ibu kota aku mencemaskan dia," ucap Soohe dengan wajah yang cemas karna orang yang ia hubungi tak menjawab panggilannya.


"Kemana dia? Kenapa dia tidak menjawab."


"Dia tidak menjawab?" tanya Haeseung yang ikutan cemas.


"Sial!" umpatnya.


Ting!


Sebuah notif masuk keponsel Soohe. Tanpa banyak bicara dia langsung membuka notif berita baru. Matanya terbelalak. Tangannya bergetar. Lidahnya kelu untuk berkata-kata.


"Tidak mungkin ..." gumamnya.


Terjadi pembunuhan lagi dikota. Korbannya seorang gadis yang diperkirakan berusia tujuh belas tahun. Jasadnya ditemukan tergeletak dekat tempat sampah daur ulang tak jauh dari plaza besar.


Pihak berwajib menyatakan bahwa ini adalah perbuatan vampir.


Ciri-ciri dari korban sangat mirip oleh Riel. Wajah Soohe terlihat sangat pucat. Fikirannya melayang kemana-mana.


"H-haeseung, aku akan kembali ke asrama. Kau bisa pergi!" titah Soohe. Wajahnya memperlihatkan tampang cemas.


"Tidak!" tolaknya, "Aku akan pergi bersama mu."


Soohe hanya mengangguk. Ia mengemasi barang-barang nya dan segera kembali ke asrama ditemani oleh Haeseung.


****


Soohe memutar handel pintu dengan tergesa-gesa. Tanpa banyak bicara dia langsung masuk dan memeriksa nya.


Kamar masih terlihat rapi. Jika Riel ada di kamar, kamar ini tidak serapi sekarang karna ia suka menyerakkan barang-barangnya.


Surat yang ia tulis untuk Riel pun masih ditempat semula dengan posisi yang tidak berubah. Kecemasan Soohe meningkat saat Riel tidak menjawab telfonnya untuk yang kedua kali.


"Berita itu tidak benar," suaranya bergetar. Ia mulai terisak.


Ia benar-benar takut jika sempat terjadi apa-apa pada sahabatnya seperti waktu itu.


"Soohe tenanglah. Aku yakin Riel tidak apa-apa. Mungkin ponselnya mati jadi dia tidak bisa menjawab telfonnya," Haeseung berusaha untuk menenangkan Soohe yang menangis.


"Kau yakin dia tidak apa-apa?" ulang Soohe.


"Kita berdoa saja ..."


Klek!


Pintu kamar terbuka, membuat atensi kedua remaja ini menoleh. Tangis Soohe seketika pecah melihat sosok yang menatapnya dengan tatapan bingung.


"Soohe kenapa kau menangis?."


"Riel kau sudah pulang ... Syukurlah." Kakinya seketika lemas dan tidak dapat menopang tubuh dengan benar.


Bruk!


Ia terjatuh kelantai. Ia menangis lega. Mulutnya tak berhenti mengucap "Syukurlah ..."


"Soohe kau kenapa?" tanya Riel panik melihat reaksi temannya yang menangis ketika melihatnya. Ia tak tau apa alasannya.


Ia melirik kearah Haeseung berharap mendapat jawaban kenapa dengan Soohe. Haeseung pun mengatakan penyebab Soohe menagis.


Riel menghela nafas. Ia terlihat seperti menahan tawa.


"Soohe, kau lihat sekarang aku disini kan? Aku baik-baik saja kan? Sudahlah jangan menangis. Kau juga akan membuat ku menagis," ucapnya sembari memeluk Soohe.


"Terima kasih karna sudah mencemaskan ku ..." gumamnya. Ia menitihkan air mata karna terharu.


****


Ia memikirkan Soohe. Baru pertama kali ia melihat gadis itu menagis. Hatinya terasa sakit saat mendengar isakan gadis itu.


"Kak!" tegur seseorang.


Tak ada tanggapan dari Haeseung membuatnya mendengus kesal. "Kak Haeseung!"


Bahu pria ini terlompat begitu mendengar suara keras yang menusuk telinganya.


"JungWon? Ada apa?"


"Kenapa Kakak diam saja? Apa yang Kakak fikirkan?"


"Apa yang aku fikirkan?" Haeseung balik bertanya.


"Haaahh ... benar-benar" JungWon mendengus.


Ia duduk di bangku sebelah Haeseung. Ia menatap keluar jendela. Tempat ini adalah tempat favorit mereka berdua untuk menghabiskan sisa waktu disekolah.


Saat ada masalah dan butuh penenang, perpustakaan adalah obatnya.


"Ada korban lagi" ujar Haeseung yang langsung ke intinya.


"Lagi?" seru JungWon.


"Kita tidak bisa diam saja dan membiarkan vampir jahat menyerang manusia lagi,"


"Apa terjadi sesuatu hari ini sampai membuat Kakak ingin menghabisi para vampir jahat itu?" tanya JungWon.


"Ya. Rasanya sakit ketika melihat dia seperti itu tadi" balas Haeseung. Tangannya mengusap dada saat mengingat Soohe.


Dahi JungWon berkerut, "Dia? Siapa? ... Mungkinkah ... Soohe?" tebaknya yang ternyata benar.


"Apa kau menyukainya?" JungWon menaikkan sebelah alisnya. Baru pertama kali ia melihat saudaranya seperti ini. Detik kemudian ia menyeringai.


"*Kau akan tau rasanya jika melihat dia menangis."


"Menangis? Maksud kakak Soohe menangis? Kenapa*?"


————


Riel menyodorkan kotak tisu pada Soohe. Ia tak habis pikir dengan Soohe. Soohe yang biasanya cerewet dengannya ternyata bisa secengeng ini.


"Berhentilah menangis. Kau membuatku seperti orang mati, tahu!" cibir Riel.


"Maaf ..." ucap Soohe sambil mengusap air matanya dengan tisu.


"Apa kau sungguh menganggap mayat itu adalah aku?"


Soohe hanya mengangguk pelan.


"Tapi vampir itu sangat menyeramkan dan sangat kejam, benar?" Riel tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa?"


"Ya ... dia memiliki taring yang runcing dengan mata merah menyeramkan. Dia juga menghisap darah mangsanya sampai tak ada darah yang tersisa. Bukankankaj itu kejam?."


"Itu tidak benar! Tidak semua vampir itu menyeramkan dan kejam yang meminum darah manusia. Mereka juga ada yang baik dan tidak menjadikan darah manusia sebagai mekanannya," bantah Soohe yang merasa tersinggung.


"Kau seperti tau banyak tentang vampir. Apa kau bagian dari mereka?"


"Apa maksudmu?" dahi Soohe berkerut berusaha mencerna perkataan Riel barusan.


Tuk!


Riel menyentil dahi Soohe pelan. Ia nyengir lebar.


"Reaksimu itu sangat konyol, bodoh! Apa perkataan ku tadi seperti menyinggung mu?. Kau berkata seakan kau sangat mengenal kehidupan vampir itu seperti apa" gadis berambut pendek ini tertawa.


"Tidak. Maksudku adalah ... Pasti ada vampir yang baik diantara mereka yang jahat kan? sama seperti manusia. Ada yang baik dan yang jahat."


Riel hanya mengangguk paham. Mungkin perkataan Soohe tadi ada benarnya.


Andai saja ucapan mu itu benar, Soohe. Tapi alangkah bagusnya jika vampir itu memang tidak ada ...


"Astaga mataku seperti habis kena tinju," teriak Soohe ketika melihat wajahnya dicermin.


"Tuh kan, matanya bengkak. Nangis aja lagi."


"Apa? Aku jadi seperti ini karna dirimu tahu!"


"Apa katamu? Gara-gara aku!" seru Riel dengan tampang marah yang dibuat-buat.


Soohe yang cerewet kembali lagi. Barusan tadi ia terlihat seperti anak kucing yang terlantar kini berubah menjadi kucing lucu yang terlalu banyak ngeong karna bahagia. Begitulah teman.



Haeseung—Jungwon