
Ting ...!
Soohe kembali menatap layar ponselnya. Ia membaca pesan balasan dari Haeseung.
"Sedang memantau ..."
Kedua alis Soohe terangkat. Detik kemudian ia mengangguk. Ia menatap jauh ke menara lonceng sambil tersenyum.
"Apakah aman?"
"Untuk sementara masih aman. Tapi kami harus menunggu sampai ada yang janggal."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku bisa merasakannya kekuatan mereka hehe* ..."
Soohe berdecak. Ia sedang berfikir bagaimana caranya agar dia bisa keluar ke kota. Jika nekat, Haeseung dan yang lain akan bertanya lagi kemana ia akan pergi. Tidak mungkin Soohe mengatakan tujuannya mengapa dia keluar.
Waktu itu bisa lolos sekali dengan alasan yang sepele. Untungnya Mereke percaya tapi tidak dengan Haeseung. Kemampuan membaca pikirannya tidak bisa dielakkan. Bisa-bisa dia tahu jika Soohe berbohong lagi.
Tapi, jika tidak dengan mereka Soohe akan dalam masalah besar karna liontin itu.
Soohe melangkah masuk. Dibiarkannya jendela terbuka lebar. Dia lebih memilih untuk tiduran dan menunggu sampai ada kesempatan untuk keluar.
****
Mata Soohe menyipit saat sebuah cahaya yang sangat menyilaukan menyorot kearahnya. Tangannya terangkat dan menghalangi cahaya agar tak langsung jatuh kematanya.
Perlahan cahaya yang menyilaukan itu meredup dan menampakkan sosok wanita cantik yang mengenakan gaun putih yang indah dan sedang menatapnya.
Soohe menatap takjub saat melihat wajahnya. Ini pertama kalinya ia melihat seorang wanita yang memiliki aura yang sangat menyilaukan.
Namun, ketakjuban itu tak berlangsung lama ketika sosok pria yang beraura gelap muncul dari belakang wanita itu dan menikam jantung wanita itu dengan sebuah pedang yang berlumuran darah.
Soohe terkejut melihat itu. Ia memegang dadanya yang tiba-tiba sesak dan terasa sakit. Terasa sangat sakit sampai ia tak bisa berdiri lebih lama lagi.
Matanya terpejam menahan rasa sakit yang sangat teramat seakan dia mau mati.
Dan saat membuka matanya kembali, ia disambut dengan langit-langit kamar yang bercat putih. Dan didapatinya Riel yang sedang duduk disampingnya dengan wajah yang khawatir.
Soohe menghela nafas lega saat mengetahui yang tadi itu hanya sebuah mimpi.
"Soohe, apa kau baik-baik saja?"
"Ng? I-iya aku baik-baik saja ..."
"Apa mimpi mu sangat menakutkan?" tanya Riel.
Soohe menjawab dengan deheman. "Kenapa?" tanyanya balik.
"Ya soalnya aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kau tak kunjung bangun. Aku jadi khawatir."
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Tapi aku baik-baik saja."
"Yaa ... sudahlah. Cepat bangun! Kita sudah terlambat," ucap Riel sambil berlalu.
Soohe hanya menatap punggung Riel dengan tatapan kosong. Fikirannya berkelana ntah kemana. Mimpi itu memenuhi kepalanya.
****
Soohe termenung di kantin sambil mengunyah roti coklat dengan perlahan. Ia merasa tidak berselera untuk makan. Roti yang ia kunyah saja terasa seperti batu. Tak habis-habis.Mimpi tadi pagi telah menghantui isi kepalanya.
Sudah dua hati berlalu semenjak Soohe bermimpi. Dia selalu kepikiran tanpa henti.
Ia mengelus dadanya. Rasa sakit yang ia rasakan dimimpi itu terasa nyata. Dan, wanita itu siapa? Lalu, pria yang menusuk dadanya itu siapa? Kenapa dia menusuk wanita itu? Apa mimpi itu sebuah pertanda?
"Haahh!"
Kepalanya menggeleng karena pusing memikirkan mimpi itu. Sudahlah ia juga banyak pikiran perihal liontinnya. Haduh pusing!
Banyak pikiran jadi ingin minum darah ...
"Soohe!"
Soohe menoleh ke asal suara, "Kenapa?."
Riel datang dengan membawa sebuah nampan, lalu duduk di kursi berhadapan dengan Soohe.
"Apa kau cuma makan roti saja untuk makan siang?" tanya Riel saat melihat roti ditangan Soohe.
"Iya."
"Astaga ... Ayolah! Kau akan rugi. Makanan hari ini sangat menggugah selera! Apa kau lihat ini? Uwaaw ... Jjamppong ..."
Riel mengangkat mangkuk yang berisi mi, dengan campuran aneka seafood seperti, kerang, cumi-cumi, udang, ditambah potongan kimchi dengan kuah merah pedas yang membuat orang lapar.
"Aku tidak berselera ..."
"Humph! Ya sudah kalo tidak selera ..." balas Riel dengan nada pura-pura kesal.
Riel meletak mangkuknya dan mulai mengangkat sumpit. Sebelum memulai mengaduk isi mangkuk, ia menghirup aroma jjamppong ala-ala acara kulineran. lalu ia melirik kearah Soohe yang sedang melihat kearah lain.
Apa kau bisa melawan godaan dari jjamppong ini, Nona Soohe? Hihihi ...
Pertama-tama Riel menyelipkan rambutnya ke telinga. Setelah itu, ia mulai menjalankan rencananya.
Sslluurrp ...
"Soohe ... Ini enak sekali!" kalimat Riel terdengar tidak jelas karena mulutnya penuh.
Riel memasukkan mi kedalam mulut. Kemudian udang menyusul masuk. Suara yang ditimbulkan seperti suara saat kita sedang menonton mukbang. (Author jadi lapar๐ญ๐๐ Aku kudu otoke?)
Soohe mulai terpancing. Sejenak ia menatap mangkuk itu serata si pemilik makanan. Ia mulai goyah. Ia tertarik.
Riel diam-diam menangkap ekspresi Soohe. Berhasil! batinnya. Pandangan Soohe tidak lepas dari jjamppong Riel yang sudah tinggal setengah itu. Ia menelan ludah karena ngiler.
Krruuk ...
Riel seketika berhenti mengunyah. Matanya membulat melirik Soohe yang terlihat lebih terkejut dari dirinya.
"Aku akan segera kembali ..." ucap Soohe yang langsung pergi menghampiri bibi yang membagi makanan.
Riel tertawa penuh kemenangan. Rencananya berhasil membuat sahabatnya makan. Ia kembali menyantap jjamppong pedas dengan dengan santai sambil tersenyum puas.
Tak!
Soohe kembali dengan membawa jjamppong yang masih mengepul. Tanpa banyak kata lagi ia langsung melahap udang berukuran besar.
.
.
.
"Waahh ... aku kenyang. Rasanya benar-benar luar biasa!" ujar Soohe dengan wajah sumringah.
"Aku juga, jjamppong memang the best!"
Keduanya saling menatap dan tertawa melihat reaksi masing-masing yang terlihat berlebihan.
"Hey! Apa nanti kau mau ikut?"
"Kemana?"
"Melihat cogan latihan."
"Semalam'kan sudah? Nanti Jung-il bisa marah jika dia tahu pacarnya setiap hari lihat cogan latihan," ucap Soohe mengingkat dia dan Riel selalu melihat Haeseung dan yang lain latihan sehabis pulang sekolah.
"Kau juga selalu beralasan saat dia menjemputmu untuk pulang bersama" lanjutnya.
"Aaa ... Soohe ayolah, Kak Haeseung pasti sangat senang jika kau ada disana!"
Riel selalu menggunakan nama Haeseung untuk membujuk Soohe agar ikut bersamanya. Anehnya, saat Soohe menolak tapi ia tetap ikut.
Dan benar yang dikatakan oleh Riel. Haeseung sangat senang dan jauh lebih bersemangat saat Soohe ada disana.
"Soohe ... ikut ya!"
Soohe memutarkan bola matanya, "Iya-iya."
Double winner! Riel berhasil membujuk Soohe. Ia sangat senang karena Soohe mau mengikutinya. Ya ... walaupun selalu ada penolakan diawalnya, tapi diakhir Soohe selalu nurut seperti anak yang baik.
"YES!"
Soohe hanya tersenyum melihat reaksi sahabatnya yang periang itu.
.
.
.
Hoaaam ...
SunOo menguap. Udara yang berhembus hangat membuat dia sedikit mengantuk. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh lapangan bola yang luas.
"Apa Soohe akan datang menonton kita lagi?" tanya Jake memecah kesunyian mereka yang terlihat lelah.
"Kenapa kau bertanya soal itu? Apa itu penting?" ujar Sunghoon dengan nada seperti ngajak ribut.
"Ya soalnya aku suka jika ada dia. Rasanya seperti tenaga ku terpulihkan," Jake terus terang dan mendapat respon baik dari yang lain.
"Kau benar," sahut Jay. Niki dan JungWon mengangguk setuju. Haeseung? Sudahlah. Dia jangan ditanya kalian juga tahu sendiri karena dia suka dengan Soohe.
"Aku yakin Soohe pasti datang!" ucap SunOo dengan begitu yakin.
"Apa yang membuat mu begitu yakin?" tanya adik termuda, Niki.
"Riel teman sekamarnya itu selalu menyeretnya kemanapun."
Mendengar penuturan SunOo yang lain mengangguk paham. Dan tanpa sadar Sunghoon juga ikut mengangguk.