DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Rencana Menghabisi Vampir Kelas Rendah



Ssluuurrp ...


Riel masih menatap Soohe yang tengah menikmati secangkir teh mawar dengan tatapan ngeri. Ucapan yang Soohe katakan beberapa waktu lalu masih terngiang di telinganya.


"Berhenti menatap ku seperti itu."


"Kapan aku menatap mu?"


"Pfft ... Kau salah paham dengan ucapan ku tadi, bodoh"


"Benarkah? Bagaimana aku bisa percaya? Ucapan mu itu tadi masih membuatku ngeri,"


"Kau tau, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dan kau, sudah kuanggap sebagai keluarga ku sendiri. Tentu saja kau istimewa. Dan aku harus melindungi keluargaku ..." jelas Soohe.


Tak disangka pernyataan Soohe membuat Riel menangis. Soohe sama seperti dirinya. Sudah tak punya siapa-siapa. Dan sekarang, ada Soohe dan Jung-il disampingnya.


"Hiks ..." Riel mengusap matanya dengan lengan sweater pink yang ia kenakan.


"Riel? Apa kau menangis? Apa ucapan ku tadi menyakiti perasaan mu?" panik Soohe begitu melihat Riel sahabatnya menangis.


"Tidak ... Aku berterima kasih padamu. Terima kasih sudah menganggap aku penting bagimu ... Aku juga sama seperti mu. Tak punya siapa-siapa. Sendirian ... hiks"


Soohe tersenyum. Ia menghela nafas lega. "Begitu rupanya ... Aku kira apa. Kau membuatku kaget saja ..."


Soohe memeluk Riel mengikuti instingnya. Ia paham benar perasaan yang dialami Riel. Tidak berbeda dengannya.


"Soohe," panggil Riel yang masih dipelukan Soohe. Gadis ini mendehem.


"Sekarang'kan akhir pekan, apa kau ingin jalan-jalan?"


****


Riel tak henti-hentinya menarik tangan Soohe mengajaknya ketempat yang ia mau. Mulai dari pergi ketempat dimana kita bisa bermain game sepuasnya, mengajaknya makan kue beras pedas, naik komidi putar, memasuki rumah hantu dan lain sebagainya di sebuah wahana, dan masih banyak lagi.


Mereka berdua terlihat sangat senang. Pengalaman baru untuk Soohe. Bermain di sebuah wahana bermain yang begitu menyenangkan. Saat dia diasuh oleh Seon Hwa, ia belum diperbolehkan untuk berbaur di dunia luar untuk waktu yang lama.


Tak terasa waktu pun berlalu dengan cepat. Mereka duduk disebuah cafe kecil yang menjual aneka es krim dan kudapan manis.


Soohe menempelkan pipinya diatas meja. Ia benar-benar lelah. Telapak kakinya sudah tak terasa jika dipijakkan lagi.


"Hei, kakimu itu terbuat dari besi dan kawat, huh? ... Apa kau tidak lelah berjalan tanpa istirahat?" omel Soohe.


"Apa maksudmu kakiku terbuat dari besi dan kawat?" tanya Riel yang terlihat tidak kelelahan sedikitpun.


"Kakiku hampir patah karena mu. Dan lengan ku yang berharga ini hampir putus kau tarik-tarik."


"Maaf-maaf ... Akan ku tebus dengan es krim mau?"


Dengan cepat kepala Soohe terangkat, "Aku mau Chocolat mint! Dengan size yang besar."


"Baik, tuan putri ..." balas Riel dengan sikap ala-ala dayang kerajaan Joseon.


Tuan Putri ...?


Soohe hanya terdiam. Mendengar kata "Tuan Putri" mengingatkannya pada mimpi gila itu. Saat Haeseung mengatakan tuan putri padanya.


Seketika ia mulai merasa panas. Pipinya memerah. Ia mengibas-ngibaskan tangannya.


Kenapa tiba-tiba udara nya terasa panas? Mengingatnya selalu membuatku gila.


Riel datang dengan kedua tangan yang membawa dua cup es krim chocolat mint dan stroberi berukuran besar.


"Gongju-nim (*tuan putri dalam bahasa Korea)... es krim anda sudah datang ..."


"Haaah ... akhirnya yang ditunggu datang" ucap Soohe begitu es krimnya datang.


"Apa ini? Kenapa wajah mu memerah?" tanya Riel yang bingung melihat Soohe yang memakan es krim nya dengan cepat.


"Panas."


"Panas? ... Iya sih, aku juga kepanasan." Riel pun bergegas duduk dan menyantap es krim kesukaannya.


Diasaat tengah asik menikmati es krim, Riel malah bertanya sesuatu yang seharusnya tak ia tanya pada Soohe.


"Bagaimana hubungan mu dengan Kak Haeseung? Apa berjalan baik?"


Uhuk ...! Ia tersedak. Kepalanya tertunduk. Matanya terpejam berusaha tenang. Hah ... ingin sekali ia menyetik bibir Riel dengan jarinya. Sungguh menganggu.


"Hubungan apa maksudmu?"


"Ya yaa ... sangat mudah membaca wajah mu itu."


"Kenapa dengan wajah ku?" tanyanya sambil mengusap pipi.


"Sudahlah. Habiskan saja es krim nya ..."


****


Riel memasukan sesendok es krim terakhir kedalam mulutnya. Soohe? Sudah habis dari tadi.


Soohe beranjak dari tempat duduknya dan mengajak Riel untuk pulang. Dikarenakan cafe yang ia singgahi ingin tutup. Dan juga perasaan Soohe merasakan sesuatu yang tak beres.


"Riel, ayo kita pulang"


"Ayo ..."


Mereka berdua jalan beriringan. Pandangan Soohe menjelajah kesetiap sudut gang yang sempit dan gelap. Riel yang sadar dengan sikap Soohe bertanya,


"Apa yang kau perhatikan?"


"Ha? Tidak. Tidak ada apa-apa."


"Apa kau takut? Karena vampir sekarang sedang berkeliaran."


Soohe mengangguk saja biar cepat. Insting vampirnya sudah merasakan kehadiran sosok lain yang sedang mengawasi mereka dari jauh.


"Riel, ayo berjalan lebih cepat. Perasaan ku tidak enak," ucap Soohe sengaja menakut-nakuti agar langkah kaki Riel semakin cepat dan mereka sampai di asrama tepat waktu.


————


Blam!


Soohe menutup pintu kamarnya perlahan. Ia bisa bernafas lega sekarang. Sengaja ia lakukan ini agar tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


Bisa saja Soohe menghampiri vampir yang dari tadi mengawasi mereka dan menghabisinya. Tapi karena ada Riel tindakan itu tak bisa ia lakukan.


Jika ia langsung menghilang begitu saja, Riel yang heboh akan panik. Dan kepanikan ia yang menghebohkan akan memancing para vampir.


Soohe menggeleng memikirkan itu. Tapi malam ini ia harus keluar. Tapi saat Riel sudah tidur.


Ia harus menghabisi vampir yang berkeliaran di kota. Niatnya kali ini harus terlaksana karna sudah beberapa kali ia gagal keluar karna Riel.


****


Soohe membuka matanya. Menyibak selimutnya dan bangkit dari kenyamana kasur yang empuk. Ini karna Riel yang tak kunjung tidur cepat. Ia harus berpura-pura tidur agar temannya ini cepat tidur. Soohe mengambil jaketnya dan bergegas keluar asrama.


Ia menggunakan kemampuan menghilangnya agar dapat keluar dari asrama tanpa ketahuan penjaga malam.


Tap!


Setelah berhasil melompati tembok asrama yang tinggi, ia berlari menuju kota. Suasana benar-benar begitu sepi. Tak ada seorang pun yang lalu lalang.


Soohe menelusuri setiap gang kecil untuk mencari targetnya.


"Aku menemukannya ..."


Ia melihat seorang pria yang berbadan besar tengah berdiri disudut gang. Bau yang ditimbulkan pria itu sangat dikenal oleh Soohe.


Soohe mengambil sebuah batu berukuran kepalan tangannya dan ia lempar ke vampir itu.


"Oi! Vampir sialan"


Pria itu menoleh dengan mata merah yang menyala. Ia menjatuhkan tubuh anjing yang sudah tak bernyawa itu dan langsung menyerang Soohe.


Duaaak!


Dalam sekejap Soohe berhasil menumbangkan tubuh besar itu ketanah. Vampir itu terlihat tak bergerak. Soohe mendekati tubuh itu untuk melihat dengan jelas.


Saat kepalanya menunduk, tiba-tiba lehernya dicengkeram oleh vampir sialan itu. Soohe merasakan cengkraman itu begitu kuat.


Ia tak menyangka bahwa vampir ini menyerangnya balik. Soohe tak tinggal diam. Ia balik mencengkeram leher vampir itu dengan kuat.


"Aaarrgghh!" pria itu mengerang. Cengkraman tangannya melemah. Soohe langsung meloloskan diri dan menjauh dari pria tersebut.


Tak berapa lama, datang pula kawanan vampir dan mengepung Soohe. Tapi Soohe tak panik sedikit pun. Ia malah menyeringai.


"Kau salah target dasar vampir bodoh!"


Tapi, sesuatu yang tak disangka terjadi padanya. Tiba-tiba saja badannya melemah. Ia tersungkur ketanah karna kakinya tak kuat untuk menopang tubuh.


"Kenapa tiba-tiba ... tubuhku ... terasa lemah? Kekuatan ku?"


Ia memegang batu liontinnya yang terasa begitu dingin. Batu itu berubah warnanya menjadi merah darah.


"Liontin ini menyerap energi ku."


Keberanian Soohe kini berubah menjadi kepanikan. Disaat seperti ini, ditengah kepungan para vampir. Ia tak menyangka hal ini akan terjadi. Ia tak bisa bergerak. Habislah ia sekarang.


.


.


.


Bersambung ...


Jangan lupa Jempolnya dipencet, Vote, dan klik favoritnya...