DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Pilihan, Kecemasan, dan Keraguan



Seperti biasa tujuh saudara ini sedang berkumpul halaman sekolah. Tapi, perkumpulan ini tidak heboh seperti sebelumnya.


Wajah mereka terlihat suram. Sesuram masa depan depan mereka jika rahasia besar yang selama ini disimpan terkuak. Yaa ... kecuali si tukang cari masalah, Sunghoon.


"Kita harus bagaimana sekarang?" gumam SunOo setelah menghela nafas.


"Jika dia tau kitalah pelakunya, kemungkinan besar dia akan membenci kita. Apalagi kalau dia tau kita adalah vampir," sambungnya. "Seperti katanya ..."


"Aku tidak bisa menjamin rahasia ini tidak terbongkar padanya. Tapi ... yang jelas suatu saat rahasia ini akan terungkap," ucap Haeseung.


Semua terdiam dan menghela nafas berat. Memikirkan ini membuat mereka seribu kali merasa bersalah pada Soohe. Apalagi saat mereka mengingat perkataan gadis ini.


.


.


.


JungWon menarik sapu tangan dari saku jasnya dan diberikan kepada Soohe yang tengah menangis.


"Dialah satu-satunya anak yang mau berteman dengan ku. Dan dia juga tidak memperdulikan apa perkataan dari anak-anak lain tentang diriku."


"Lalu, saat aku lihat tubuhnya terbaring tak bernyawa, rasanya duniaku hancur seketika. Kesunyian dalam hidupku kembali," terang Soohe.


"Jika saja aku tak pergi waktu itu, mungkin sekarang Cheol masih ada. Semua ini karena vampir sialan itu!" Soohe meremat ujung roknya.


Deg!


Mereka semua yang mendengar cerita Soohe teryenyak. Ucapan itu bagai sebuah pukulan kuat dikepala mereka. Masa lalu kelam yang coba mereka lupakan teringkat kembali karena Soohe.


"Andai vampir yang membunuh sahabatmu dan kau menemukannya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Haeseung.


"Aku akan membunuhnya. Tidak peduli apapun yang terjadi pada ku, aku akan menghabisi para vampir itu."


Mendengar pernyataan Soohe, mereka semua terenyak. Mereka tak bisa berkata apa-apa. Sudah jelas jika Soohe tau kebenarannya, kebencian dan rasa bersalah-lah yang akan mereka terima.


.


.


.


Haaahh ...


Mereka menghela nafas berat menunggu kesuraman yang sedang dalam perjalanan. Rasanya tak sanggup mereka jika dibenci oleh Soohe yang mengunci hati mereka baru-baru ini.


"Kan sudah kukatakan dari awal jangan dekat Soohe! Sekarang begini jadinya," ketus Sunghoon yang kesal karena selama ini ucapannya diabaikan.


"Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa kalau hanya sekedar menyapa lalu pergi begitu saja darinya," ungkap SunOo dan diangguki yang lain.


"SunOo ..." tegur Sunghoon yang menahan emosi.


Ntah kenapa jika sudah mereka berdua yang bicara apa lagi yang bersangkutan dengan Soohe pasti bertengkar ujungnya.


"Iya aku?" jawab SunOo dengan nada remeh.


"Dasar SunOo brengsek!" umpat Sunghoon.


"Kau lebih brengsek Sunghoon bodoh ..." balasnya santai seakan tak terpengaruh emosi sedikitpun.


"Aduh ... kalian berdua berhentilah bertengkar ..." ucap Jay.


Yang lain hanya menggeleng sambil menahan tawa. Bagi mereka saat SunOo dan Sunghoon bertengkar, saat itulah adalah hiburan.


Melihat dua saudaranya bertengkar, dan mengingat Soohe yang menangis pada malam itu membuat JungWon teringat ucapan Haeseung saat di perpustakaan.


"Oh iya! Ternyata ucapan Kak Haeseung benar."


Alis Haeseung terangkat sebelah, "Apanya?."


"Hatiku ... sakit ketika melihat Soohe menangis. Apa kalian juga merasakannya?"


"Ntahlah ... tapi setelah diingat, benar," balas Niki.


"Tapi kenapa? Ada apa dalam diri gadis itu?" gumam Jay yang heran.


"Gadis?" suara lembut dari seorang gadis menyela perbincangan mereka.


"Soohe!" seru SunOo.


"Gadis siapa yang kalian maksud?" tanya Soohe yang penasaran.


"Bukan urusanmu!" cetus Sunghoon.


Soohe ternganga. Ia sudah mulai terbiasa dengan perakuan dan ucapan Sunghoon padanya.


Benar juga ... apa urusannya dengan ku.


"Soohe, sejak kapan kau disini?" tanya Haeseung.


"Hm ... barusan," jawab Soohe sambil menampakkan senyuman lebar.


"Apa kau sudah baik-baik saja sekarang?" tanya Haeseung lewat telepati yang ia kirim untuk Soohe.


Teman yang lain tak menyadari sesuatu diantara mereka berdua. Tapi Sunghoon melihatnya. Melihat kakak tertuanya menatap Soohe.


Ia terkejut saat mendengar ucapan Soohe padahal tidak ada yang bertanya. Saat itulah tatapan tajam tertuju pada Haeseung.


"Soohe! Apa ucapanmu waktu itu sungguh-sungguh?" sebuah pertanyaan spontan keluar dari mulut SunOo yang sukses membuat saudaranya yang lain melototinya.


"Ucapan ku yang mana?"


SunOo mengedarkan pandangannya dengan maksud agar tak manatap wajah Soohe secara langsung. Jay menginjak ujung sepatu SunOo memberi kode untuk tak melanjutkan ucapannya lebih jauh lagi.


SunOo mengabaikannya. Dia tidak peduli apa tanggapan Soohe tentang pertanyaannya. Intinya dia cuma ingin tau ucapan Soohe itu sungguh-sungguh atau cuma bicara saja.


"Itu ..." SunOo ragu-ragu, "jika kau menemukan vampir yang membunuh sahabatmu, kau akan membunuhnya."


Soohe tercengang. Seketika wajahnya berubah serius.


"Tentu saja. Vampir itu tak bisa dimaafkan. Dia sudah membuatku menderita."


"Apa kau serius Soohe? Dia vampir, dan kau manusia? Apa itu mungkin?" ujar Sunghoon.


"Jika sudah tekad, mau bagaimana lagi?" balas Soohe enteng.


"Soohe, jika seandainya vampir itu ternyata berada didekat mu selama ini, dan kau juga mengenalnya apan kau juga akan tetap menghabisinya?" Jake juga ikut bertanya.


Dahi Soohe berkerut. Ia paham dari pertanyaan Jake yang terbelit itu.


"Kenapa? Apa kalian pelakunya?" suara Soohe terdengar berat. Wajahnya tak menampak ekspresi apapun.


Mereka semua dibuat tak bisa berkata ataupun bergerak. Wajah mereka terlihat tegang.


"Tidak! Kami bukan vampir," bantah Niki yang terbata.


"Iya'kan? Kalian itu manusia," ujar Soohe yang terkikik. " Tidak mungkin kalian orang nya. Aku percaya itu."


Mereka bernafas lega dan tertawa garing agar Soohe tak curiga.


"Kau bisa bercanda juga, Soohe. Hahahaha ..." ujar Jake.


"Apa itu pujian?"


"Jika kau ingin menganggapnya seperti itu ..." sahut Jake.


Mereka tertawa bersama. Kecemasan di hati mereka seketika pudar. Dan dalam hati, mereka berdoa agar hal yang dicemaskan itu tak terjadi.


Tak berselang lama kebahagiaan diantara mereka semua saat Soohe mengatakan sesuatu.


"Jika hal itu benar, aku juga tak tau harus berbuat apa. Membenci kalian atau membunuh kalian."


"Soohe, ..." tegur Haeseung.


Soohe menarik nafas panjang lalu menghembusnya, "Tapi itu tidak mungkin, kan?."


****


Soohe menghempas tubuhnya keatas kasur. Menenggelamkan wajahnya kebantal. Aroma bunga lavender tercium dihidung mancungnya.


Riel yang sedang asik dengan ponselnya mendengus melihat Soohe yang tidak seperti biasanya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Aku ragu."


"Ragu? Ragu pada apa?" tanya Riel bingung.


"Hatiku,"


"Hah? Hati? Kenapa?" tanyanya bingung. Detik berikutnya ...


"Mungkinkah ... Kak Haeseung mengajak mu pacaran!"


"APA!" pekik Soohe.


"Kenapa berteriak seperti itu? Apa itu benar? Kak Haeseung yang keren mengajak mu pacaran?."


Soohe mengangkat kepalanya. Ia menatap Riel dengan wajah konyol.


Yaa wajar saja Riel berkata seperti itu karena dia tidak tau masalah Soohe.


"Terserah" ucap Soohe dan kembali menenggelamkan wajahnya kebantal beraroma lavender. Ia sudah tak ada tenaga untuk berbincang dengan Riel. Tidak akan selesai begitu saja.


Dibiarkannya Riel yang sibuk ngoceh gak jelas tentang dia dan Haeseung. Ia hanya menghela nafas panjang saja sambil mengucap "Sabar" dalam hati.


Ia bimbang jika hal itu benar bahwa mereka adalah vampir. Haruskah ia benci? Tapi ia juga vampir yang menyembunyikan identitas vampirnya pada semua orang. Membunuh mereka? Itu hal yang paling membuatnya bimbang karena ia dekat dengan mereka, apalagi Haeseung.


.


.