DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Rumah Tua Didekat Taman



Dengan wajah yang sumringah Soohe sudah berdiri didepan pintu kereta yang sebentar lagi berenti. Dia terus memandang kearah kaca yang ada pintu. Dia sungguh tak sabar ingin bertemu dengan ibunya. Keluarga satu-satunya saat ini.


Laju kereta perlahan melambat. Kaki tak hentinya bergerak karna kegirangan.


Kereta berhenti. Tangannya meraih pegangan koper. Pintu kereta terbuka. Soohe pun segera turun. Tak disangka orang yang sangat ingin dia temui.


Senyuman hangat dari orang itu menyambut kedatangan Soohe.


"Ibu! ..." Soohe berlari dan langsung memeluk tubuh sang ibu.


"Ibu ... aku sangat merindukan ibu,"


"Ibu juga merindukanmu ... Putri ibu apa kabar?"


"Aku baik ibu ... Apa ibu juga baik?" tanya Soohe dengan senyuman lebar.


"Ibu baik, sayang" Ibu Seon Hwa menggandeng lengan putrinya dengan lembut, "Sudah mau malam, ayo kita pulang ..."


****


Haeseung duduk dikamar asramanya bersama dengan Jay yang sedang sibuk dengan buku sosiologinya.


Setelah mengantar Soohe ke stasiun dan menghabisi beberapa vampir yang mereka temui saat perjalanan pulang, mereka tidak lagi keluar dari kamar.


Haeseung memindahkan tumpuan kakinya dan membela nafas panjang. Wajah kelelahan sangat jelas diwajahnya.


"Kita harus memberi tahu ibu jika kita akan datang," Ia bertelepati kepada semua adiknya.


"Kenapa?" tanya Sunghoon.


"Jika kita datang tiba-tiba, ibu mungkin akan terkejut dan kesusahan," balas Haeseung sambil memijit pelipisnya. Mungkin dia lagi pusing kerena memikirkan sesuatu.


SunOo yang sedang bermain bersama Niki, menyernyitkan dahi. "Kesusahan? Bukankah lebih menyusahkan jika kita memberitahu ibu? Dia akan kerepotan membersihkan panti dan memasak makanan untuk kita."


Alis Haeseung merapat. Haeseung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Apakah idenya salah dimata adik-adiknya? Fikirannya saat ini benar-benar kacau sampai dia tidak bisa berfikir dengan benar. Tapi terlanjur sudah!


"Benarkah? Bagaimana ini? Aku sudah mengirim surat kepada ibu semalam. Dan mungkin suratnya juga sudah sampai pada ibu ..."


Jay menepuk dahinya. Tawanya seketika lepas mendengar penuturan Haeseung. Tak hanya dia yang merasa ini lucu. Dikepalanya terdengar suara tawa dari adik-adiknya yang lain.


"Haeseung apa yang sudah kau lakukan? Whahahaha ..."


"Jay, bagaimana ini? Apa aku harus meminta maaf pada ibu setelah kita disana?" tanya Haeseung dengan wajah putus asa.


Hati Jay jungkir balik melihat ekspresi kakak tertuanya yang menurut dia sangatlah imut. Sangat jarang Haeseung mengeluarkan ekspresi seperti itu. Momen ini sangat langka, batinnya.


Diapun mengeluarkan ponsel. Dengan cepat dia mengabadikan ekspresi Haeseung yang langka itu. Haeseung tidak bisa melawan karna dia sedang tidak bersemangat untuk melawan perbuatan laknat adiknya itu.


"Aib ini hanya aku yang tau. Kakak tenang saja!" ujar Jay sambil terbahak.


Haeseung menghela nafas kesal dan segera pindah tepat berehat. "Terserah kau saja!."


"Jika diingat kembali, bukankah rute kereta yang dinaiki Soohe menuju kota yang sama dengan kota tujuan kita?"


"Hm?" Haeseung terdiam sejenak, "Iya juga ya ... Kenapa aku baru sadar?."


****


Soohe merebahkan tubuhnya dikasur. Sebenarnya ada pelayan yang akan membereskan barang-barang yang Soohe bawa, tapi dia menolak dan ingin membereskannya sendiri.


Dia menatap langit-langit kamar yang sudah lama tak iya lihat. Kamar ini adalah saksi dari airmatanya yang menetes setiap kali dia merindukan keluarganya.


Tok-tok-tok...


Suara ketukan itu disusul oleh suara lembut dari wanita yang sangat ia kenal.


"Masuklah ibu ..." teriak Soohe dan langsung mengambil posisi duduk bersila di atas kasur.


Ibu Seon Hwa masuk. Tangannya sedang memegang sebuah nampan yang diatasnya terdapat sebuah gelas. "Apa ibu mengganggu waktu istirahat mu?"


Ibu menaruh nampan diatas meja dan mengambil gelasnya kemudian diberikan kepada Soohe. Mata Soohe terbelalak begitu melihat isi gelas itu yang ternyata sebuah darah segar.


"Darah?"


Ibu Seon Hwa mengangguk pelan, "Pasti sulit bagi mu berbaur dengan manusia dan tidak meminum darah, apalagi kau sendirian ..." ujar ibu dengan nada khawatir.


Soohe meneguk habis darah yang diberikan ibu.


"Tidak ibu, temanku banyak. Apakah ibu tau? Aku tidak sendiri, ada beberapa orang yang sama seperti ku ..." papar Soohe.


"Bagaimana bisa?" tanya ibu.


Soohe pun menceritakan masalah yang terjadi pada dirinya pada saat malam yang dia diserang oleh vampir kelas bawah. Dia menceritakan sosok Haeseung dan yang lain tanpa menyebut nama mereka.


"Apakah mereka tau siapa dirimu?" tanya ibu setelah mendengar cerita Soohe yang panjang.


"Tidak. Belum ... Mereka belum mengetahui siapa aku sebenarnya."


.


.


.


Seon Hwa menutup pintu kamar Soohe dengan pelan. Berjalan gontai meninggalkan ruangan itu. Matanya menangkap seorang pelayan muda yang berjalan tergesa-gesa menghampirinya. Ditangannya memegang sebuah amplop putih.


"Ada surat untuk nyonya ..." hanya itu yang ia katakan seraya memberikan amplop putih itu kepada Seon Hwa.


Matanya berbinar setelah membaca nama pengirim surat. Dia sudah lama menantikan kabar dari orang yang sudah lama tak ia lihat dan tahu bagaimana keadaannya sekarang.


Seon Hwa mengambil langkah cepat dan pergi menuju ruang kerjanya.


****


Soohe sedang menatap langit malam dari jendela kamarnya, sambil merasakan angin sejuk membelai kulit putihnya.


Ia melirik kesebuah arah gedung yang tak jauh rumahnya. Gedung itu tak terlihat jelas karena tertutup oleh beberapa pohon besar yang ada disana. Kini ingatannya kembali kemasa lalu saat dia masih kecil.


Dulu, saat Soohe bermain ditaman, dia selalu bertanya kepada ibu tentang gedung itu. Yah ... gedung itu terlihat jelas saat dia berada di taman. Dia penasaran gedung yang terlihat seperti rumah itu. Memang rumah itu tak sebesar rumahnya.


Ibu Seon Hwa tidak menjelaskan apa-apa dan melarang Soohe mendekati rumah itu. Karena Soohe gadis yang penurut, dia tak pernah melanggar perkataan ibunya hingga dia tumbuh dewasa.


Tapi rasa penasaran itu kembali dan semakin besar. Sebuah inisiatif muncul dikepala kecilnya. Apa lagi? Dia ingin melihat rumah yang masih terawat itu.


.


.


.


Dengan langkah gontai Soohe berjalan ditaman. Matanya terus melirik kearah rumah itu. Dia melewati pagar yang tertutup oleh tanaman. Kakinya sudah tak menginjak rumput karena dia sudah berada didekat dengan rumah itu.


Rumah bercat putih, dengan pagar besi hitam yang terlihat kokoh berdiri dihadapan Soohe. Halaman rumahnya terlihat bersih karena setiba dia disini, Soohe melihat beberapa pelayan keluar dari rumah kawasan rumah itu.


Soohe dengan perlahan mengangkat kakinya mendekati pagar besi yang tinggi itu. Tangannya terulur hendak mendorong pagar yang dia rasa tak terkunci itu.


Tiba-tiba dia dikejutkan oleh ibu yang sudah berada dibelakangnya dan sedang menatapnya. Raut wajahnya sama sekali tak menunjukkan ekspresi marah karena Soohe melanggar perkataannya.


"Kau sedang apa disini, Soohe?"


Soohe tak menjawab. Dia menatap wajah ibunya dengan rasa cemas.


Seon Hwa mengalihkan pandangannya kearah rumah itu. Lalu ia kembali menatap Soohe sambil tersenyum sayu.


"Ibu sudah tak bisa menyimpan rahasia ini lagi..."