DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Kebenaran



Haeseung menatap lekat netra hitam milik Soohe. Suasana diantara mereka berlapan begitu mencekam sebelum kebenaran diungkapkan.


"Benar, kami bukan manusia."


Haeseung mengepalkan tangannya. Ia menoleh kearah lain karena tak mampu melihat wajah Soohe lantaran ia tahu Soohe sangat membenci vampir. Begitu juga yang lain.


Soohe mendengus. Rasa terkejut, syok dan sedih bercampur dalam hatinya. Ternyata benar yang selama ini dia fikirkan. Fikiran buruk yang selalu ia tepis sejauh mungkin.


Tangannya berpegangan pada tiang disebelahnya, dan kembali duduk karena kakinya benar-benar tak kuat untuk berdiri. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi berlebih.


"Bukan manusia lalu apa?" tanya Soohe dengan suara pelan.


"Kami termasuk dari mereka ... Tapi percayalah, kami berbeda dari mereka."


Ia tak bersuara. Kedua tangannya mengepal diatas paha. Rahangnya mengeras. Ia bingung. Ia tak tau harus bertindak seperti apa selanjutnya. Marah? Benci? Ayolah! Dia juga seorang vampir. Ia tak mungkin membenci mereka lantaran ia juga memiliki rahasia yang sama.


Dan keahlian mereka? Identitas mereka sudah menjelaskan semuanya. "Berbeda dari mereka." Soohe paham maksud dari kalimat itu. Mereka bertujuh sama sepertinya.


Diantara mereka tak ada yang berani bersuara. Haeseung hanya menatap Soohe yang duduk tertunduk dihadapannya. Sorot mata Haeseung menunjukkan rasa khawatir.


"Haaahh ..."


Setelah sekian lama diam, ia berdiri. Sorot mata tujuh bersaudara ini terfokus padanya yang melenggang pergi tanpa sepatah katapun.


"*Bagus! Sekarang Soohe tahu semuanya ..."


"Diamnya sudah menunjukkan jika ia membenci kita semua,"


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Apa itu penting*?"


Seketika lirikan kesal mereka terlempar pada Sunghoon. Pria ini malah mengangkat bahu dengan santai.


"*Sudah ku peringat'kan, jangan terlalu dekat dengan gadis ..."


"Soohe*," Haeseung membenarkan kalimat Sunghoon.


"Jangan terlalu dekat dengan Soohe! Kalian terlalu keras kepala." Sunghoon melipat tangan kedada.


Mereka semua kembali melirik punggung Soohe yang sudah agak jauh dari mereka. Gadis yang itu masih berjalan santai walau sedikit terhuyung.


Mata Haeseung langsung menyipit begitu melihat Soohe berhenti berjalan. Kemudian sebelah alisnya terangkat saat melihat Soohe berbalik dan melangkahkan kakinya beberapa langkah lalu berhenti.


"Apa kalian akan tetap diam berdiri disana seperti patung? Apa kalian tidak ingin pulang?" teriak Soohe dengan nada santai, seperti biasanya. Tidak ada nada ataupun tatapan kebencian darinya.


Mereka semua terdiam. Masih menatap Soohe yang berdiri tak jauh dari mereka, dan mencerna apa yang barusan dikatakan Soohe.


"Hei! Sedang apa kalian? Ayo cepat!" teriak Soohe lagi. Kali ini ia tersenyum ramah.


Haeseung tersenyum lega. Begitu juga yang lain. Mereka tak tau apa yang ada dipikiran Soohe saat ini. Mereka semua berlari kearah Soohe yang sudah menunggu lama.


"Soohe ...!" jerit SunOo yang hampir menangis.


"Kenapa?"


"Kau membuat ku takut saja!"


"Apa?"


"Kami pikir kau akan membenci kami semua!"


"Tidak. Bukan begitu ... SunOo,"


"Kau sangat menyebalkan Soohe!"


Soohe hanya tertawa ringan mendengar omelan SunOo. Ia kembali menatap jalan yang di cahayakan oleh lampu jalan. Senyuman masih tergantung di bibirnya. Fikirannya kembali berkelana.


Aku tak mungkin membenci kalian semua. Aku sama sepeti kalian. Hanya saja kalian tidak tahu hal itu. Aku juga tak tahu perasaan kalian jika suatu saat kalian akan tahu juga kebohongan yang aku sembunyikan ...


"Bukankah watu itu kau mengatakan kau benci vampir?" tanya Jay dengan hati-hati.


"Aku memang membenci vampir ... Vampir yang telah membunuh sahabat ku."


Kalimat yang keluar dari mulut Soohe telah mengusir senyuman di wajah tampan mereka. Soohe tak tak tahu jika pelakunya adalah mereka.


"Tapi ... Kalian tidak akan memakan ku kan?" tanya Soohe.


"Tidak. Kau tenang saja ..." jawab Haeseung dengan suara lembut. Tatapannya hangat menatap Soohe yang pipinya memerah.


Haruskah ia melakukan ini? Berpura-pura menjadi manusia didepan orang yang sebangsa dengannya.


Berpura-pura menjadi manusia bodoh didepan kalian. Tetap berbohong walau semuanya sudah jelas didepan mata! Dan kau masih berbohong Soohe? ... Kau pentas dibenci jika mereka tahu rahasiamu. Bukan kau yang membenci mereka!


Soohe mekaki dirinya sendiri. Mengutuk diri sendiri dalam hati. Merasa bersalah dengan tujuh pria yang ada disekelilingnya.


"Soohe," panggil Jake.


"Ng? Iya?"


"Jika kau kedinginan, aku bisa membantu mu ..." ucap Jake. Ia memainkan jari tangannya yang mengeluarkan api.


"Oh iya ... Apa tidak apa-apa jika mayat vampir itu dibiarkan saja disana?" tanya Soohe.


"Mayatnya sudah tidak ada," jawab Haeseung.


"Tidak ada? Bagaimana bisa?"


"Aku sudah membakarnya ..." jawab Jake enteng.


Soohe memasukkan tangannya ke saku jaket, "Bukankah itu akan meninggalkan jejak?"


Haeseung mengusap rambutnya kesamping, "Ketika vampir terbakar ia akan langsung menjadi abu. Dan api milik Jake akan langsung hilang tanpa asap jika yang dibakarnya sudah hangus."


"Begitu rupanya ..." Soohe mengangguk paham.


"Dan satu lagi Soohe, yang aku lakukan tadi bukan teleportasi ..." JungWon ikut bicara.


"Lalu apa? Kau membawaku pergi dari gang itu ke alun-alun dengan cepat bukankah itu teleportasi?"


"Bukan. Aku hanya berlari cepat. Berlari dengan sangat cepat,"


"Benarkah? Aku pikir itu teleportasi."


****


Pagi-pagi sekali Soohe dan Riel sudah mengenakan seragam sekolah. Kenapa? Karena jam sekolah sudah diperbarui.


"Pembaruan yang mendadak. Aku belum siap tahu ..." keluh Riel dihadapan cermin. Lingkaran hitam terlihat dibawah matanya.


"Mendadak apa maksudmu? Pengumuman itu'kan sudah diumumkan tiga hari yang lalu. Dan aku sudah katakan padamu untuk tidak tidur terlalu larut kan? Kau tidak mau dengar," balas Soohe. Tangannya sibuk menyusun buku yang akan dibawanya sekolah.


Soohe berdiri dan menghadap cermin bersama dengan Riel. Raut wajah mereka terlihat beda jauh. Wajah Soohe yang putih dan segar terlihat bersinar. Sedangkan Riel? Seperti wajah orang yang disuruh kerja lembur sampai pagi. Waktu tidurnya hanya tiga jam saja.


Riel memilih untuk minggir dari sebelah Soohe. Disempatkannya ia tertidur dulu. Soohe hanya mengerakkan kepalanya pelan melihat sahabatnya itu.


Ia kembali menatap dirinya dicermin. Memperhatikan setiap inci tubuhnya lalu lirikannya berhenti di mainan kalungnya yang masih bewarna merah darah itu.


Sejak kejadian malam itu, warna dari batu liontin itu tak kunjung berubah. Ia masih tak mengerti kenapa batu itu menyerap energinya dan berubah menjadi merah. Ia hanya bisa menghela nafas panjang.


"Riel, ayo bangun ... kita bisa terlambat nanti."


"Iyaa ..."


Suasana begitu berbeda ketika mereka mulai bersekolah pagi. Ada murid yang terlihat segar sepertinya dan ada yang lesu seperti yang dialami Riel.


"Hoaaaaamm..." untuk sekian kalinya Riel menguap lebar.


"Kalau menguap tolong mulutnya ditutup, astaga ..." tanpa segan telapak tangannya menutup mulut Riel.


"Maaf ... Aku sangat mengantuk."


Mata Riel yang menyipit mendadak terbuka lebar begitu melihat keramaian di depan kelas Soohe. Kejadian langka, pikirnya.


"Sangat jarang kita melihat tujuh pangeran ini dari dekat selain dilapangan basket."


"Kau benar. Ada urusan apa mereka berkumpul pagi-pagi dikelas sepuluh-dua ini?"


Topik pembicaraan itu terdengar ditelinga Riel dengan sangat jelas. Padahal jarak mereka masih sangat jauh. Sangat menakjubkan! Itulah Riel! Sesuatu yang berkaitan dengan anggota basket itu ia sangat cepat.


"Soohe! Mereka pasti sedang mencari mu."


"Siapa?"


"Kak Haeseung! Kyaaaa ... aku iri sekali. Daebak ...!"


"Apa?!"