
Setelah selesai makan malam, ibu mengajak Soohe untuk di gazebo dekat taman. Soohe terus menatap ibu, menunggunya untuk berbicara.
Wanita itu menurunkan tumpuan kakinya, dia menarik nafas panjang dan tersenyum.
"Kau pasti bertanya-tanya rumah itu apa 'kan? Kenapa saat masih kecil ibu melarang keras kau main disana? Lalu ... Kenapa ibu sering pergi dan jarang menemani mu?."
Soohe termangu. Selama ini ibu tau isi hatinya.
Soohe perlahan membuka mulutnya, "Kenapa?."
"Dulu, saat ibu sedang pergi ke kota sebelah untuk menyelesaikan urusan pekerjaan, Ibu bertemu dengan sekelompok anak kecil yang bersembunyi di sebuah gang yang gelap. Dan ibu mendekati mereka. Ibu sangat terkejut melihat kondisi mereka. Ibu merasa kasihan ... Ada beberapa anak yang seusia dengan mu, bahkan ada yang dibawahmu,"
Seon Hwa berhenti sejenak. Pandangannya melayang jauh diatas langit malam yang penuh bintang. Dia mengingat wajah-wajah kecil itu. Soohe masih diam menunggunya untuk melanjutkan ceritanya.
"Ibu merasakan sesuatu yang tak biasa pada diri mereka. Lalu, perlahan ibu mendekati mereka dan mengajak mereka untuk berbicara. Awalnya mereka tidak mau berbicara ..."
****
Seon Hwa tidak menyerah sampai salah satu dari mereka berbicara.
"Tidak apa-apa... Bibi sudah tau siapa kalian. Jadi bicaralah ..." bujuk Seon Hwa dengan lemah lembut. "Apa yang sudah terjadi pada kalian?."
Usaha Seon Hwa tidak sia-sia. Salah satu dari anak laki-laki itu angkat suara.
"Kami ... s-sedang bersembunyi, Bibi ... Karena kelaparan, kami telah membuat seorang anak tiada. Ini adalah salah ku! Andai saja aku tidak menjebak anak itu, mungkin dia masih hidup ... Ini semua salahku! Salahku!"
Anak laki-laki yang sepertinya lebih tua dari yang itu terus menerus menyalahkan diri sendiri sambil sesekali memukul kepalanya.
"Kakak ... itu bukan salah kakak, hiks! Itu adalah kesalahan kami ... Harusnya kami tidak mengeluh lapar kepada kakak ... Maafkan kami ... Hiks hiks ..." salah satu dari mereka menangis sambil memegang tangan anak yang mereka panggil kakak tersebut. Yang lain juga ikut menangis bersalah.
Seon Hwa yang menyaksikan itu menitihkan air mata. Ia mengerti perasaan anak-anak yang masih dibawah umur ini yang kesulitan hidup didunia luar dan tanpa adanya orang tua.
Seon Hwa mengusap air matanya. Lalu mengusap wajah-wajah kecil yang terlihat lusuh itu.
****
"Jadi seperti itulah, tanpa sepengetahuan mu ibu mengajak mereka pulang dan tinggal di rumah itu."
"Jadi ... Ibu mengasuh mereka juga?" tanya Soohe dengan suara pelan.
Sontak Seon Hwa menjadi panik. Ia mengasuh beberapa anak tanpa mendapat persetujuan Soohe. Apakah dia marah karena tidak diberitahu? batinnya.
Seon Hwa tidak ada jawaban lain salain mengatakan "Iya" pada Soohe.
"Soohe, apa kau marah?" tanya Seon Hwa ragu-ragu. Soohe tak menjawab. Dia diam saja.
"Nak?," panggil Seon Hwa.
"Ibu tahu? Aku sangat menyukai ibu. Karena apa? Hati ibu sangat baik seperti malaikat. Ibu suka membantu orang yang sedang kesusahan. Tapi, bohong namanya jika aku katakan aku tidak marah."
"Soohe, Ibu minta maaf karena tidak memberi tahu mu ..."
"Aku marah karena ibu tidak memberi tahu aku. Apakah ibu tahu? Aku dulu sangat kesepian, dan aku butuh teman! Coba saja ibu katakan padaku, mungkin aku akan senang karena mendapatkan teman ..."
"Maafkan ibu Soohe ... Ibu sungguh minta maaf ..." rengek ibu.
"Sudah ibu, tidak apa-apa ..."
Soohe merenggangkan kaki, lalu menarik nafas panjang.
"Lalu ... bagaimana dengan mereka sekarang? Apa mereka dan ibu masih berkomunikasi?"
Ibu Seon Hwa menyempatkan dulu menyeruput teh hijau, baru menjawab pertanyaan Soohe.
"Tadi ibu baru mendapat kiriman surat dari mereka ..."
"Oh ya? Apa kata mereka?"
"Besok mereka akan datang," jawab Seon Hwa yang terlihat senang.
"Benarkah? Bagus kalo begitu ..."
Akhirnya mereka duduk sambil menikmati malam yang cerah. Soohe memang agak sedikit kesal tapi rasa kesalnya tak sebesar rasa sayangnya terhadap wanita cantik yang ada disebelahnya.
****
Pagi harinya, saat Soohe membuka pintu kamarnya, ia dikejutkan oleh banyak pelayan yang lalu-lalang melewati kamarnya.
Saat hendak kembali ke kamarnya ada seorang pelayan yang kiranya seusia Soohe. Gadis berambut pendek sebahu ini tersenyum pada Soohe dan memberi salam padanya.
"Selamat pagi Nona ... Nyonya Besar meminta saya untuk melayani Nona,"
"Hm? Apa? Itu tidak perlu ..." tolak Soohe.
"Mulai sekarang saya adalah pelayan pribadi Nona. Nama saya Eunji,"
Pelayan yang bernama Eunji itu langsung menarik lengan Soohe dengan lembut kembali kekamar.
"Nona duduk lah disini, saya akan menyiapkan air hangat untuk mandi,"
"Tidak perlu! Aku bisa sendiri ..." tolak Soohe. Dia belum terbiasa dengan pelayan pribadi.
"Ini adalah tugas saya untuk melayani Nona Soohe," ujarnya setelah itu masuk kekamar mandi untuk menyiapkan segala sesuatu untuk Soohe mandi.
.
.
.
Soohe menatap pantulan dirinya dicermin. Sesekali melirik Eunji yang berada dibelakangnya dan sedang menata rambutnya lalu kembali menatap dirinya dengan tatapan takjub.
Eunji mendandaninya dengan hati-hati. Tidak terlihat berlebihan. Dengan dress putih dan rambut yang diikat rapi kebelakang, Soohe terlihat elegan.
"Waaah ... Eunji benar-benar hebat dalam hal seperti ini ya ..." puji Soohe begitu si pelayan selesai menata rambutnya.
"Terima kasih Nona..." ucap Eunji yang terlihat malu.
"Omong-omong ... apa akan ada yang datang kemari? Semua pelayan sepertinya sangat sibuk,"
"Itu karena ketujuh putra Nyonya Besar akan pulang ..." jawabnya.
"Aah benar! Aku lupa. Mereka bertujuh ya?"
Setelah diingat kembali, Soohe memang tidak berapa anak laki-laki yang Seon Hwa asuh. Yang ia tau hanya lebih dari satu.
"Oh iya! Kau juga tahu ibu dulu mengasuh beberapa anak?" tanya Soohe.
"Iya ... Karena saya adalah pelayan yang ikut membersihkan gedung paviliun didekat taman," terang Eunji.
Mata Soohe melebar. Eunji adalah salah satu pengurus rumah itu. Soohe meliriknya dari atas sampai bawah. Eunji terlihat sebaya dirinya. Tapi kenyataannya dia lebih jauh lebih tua dari dirinya. Eunji tak terlihat menua. Wajahnya masih terlihat kencang seperti gadis muda.
Apa karna ia juga seorang vampir? Jika dilihat-lihat, ibu juga seperti itu.
Soohe mengangguk paham akan hal ini. Vampir kelas atas seperti mereka, proses menua itu lama.
Setelah semuanya sudah selesai, Eunji mengajak Soohe turun untuk sarapan bersama Seon Hwa.
****
"Selamat pagi, Ibu ..." ucap Soohe begitu memasuki ruang makan.
"Ya tuhan! Putri ibu cantik sekali ..." seru Seon Hwa begitu melihat penampilan Soohe yang begitu menawan. Tak hanya Seon Hwa, semua pelayan yang berada disana juga memuji kecantikan Soohe.
"Ibu juga cantik ..."
Soohe pun ikut duduk disebelah Seon Hwa. Ia sedikit kaget karena Eunji yang tiba-tiba menyiapkan makanan dipiringnya.
Seon Hwa yang melihat reaksi Soohe hanya tertawa, "Lama-lama kau akan terbiasa dengan seorang pelayan pribadi."
"Apa ibu harus melakukan ini?"
"Itu agar kau tak kesusahan ..." jawab ibu dengan enteng.
Mereka berdua pun sarapan bersama dengan tenang.
Tak!
Soohe meletakkan sendok makan dan menjauhkan piring makannya yang sudah kosong. Lalu ia meneguk air putih yang ada disebelahnya.
"Ibu, setelah ini mungkin aku akan jalan-jalan ke kota."
"Baiklah... Kau memang harus jalan-jalan karena ini adalah liburan mu. Eunji juga akan ikut bersama mu," Seon Hwa melirik Eunji dan memerintahkannya untuk terus bersama Soohe.