DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Kasus Pembunuhan Di Kota



Soohe sedang asik duduk bersila diatas tempat tidur. Ditangannya sudah ada gawai biru yang menyala. Sedangkan jarinya sibuk mengusap-usap layar gawai.


Walaupun tidak disediakan TV, ia tetap tidak boleh ketinggalan update terbaru.


Saat tengah asik menggesek-gesek layar, ada sebuah artikel yang sangat menarik perhatiannya. Ia dengan cermat membaca artikel agar tidak terlewatkan satu katapun.


'Kasus pembunuhan terjadi di ibu kota. Mayat ditemukan pukul tiga sore tadi disebuah gang kecil dengan keadaan tubuh korban tidak ditemukan darah dan terdapat bekas gigitan di leher.'


'Kasus ini diduga adalah perbuatan vampir yang berkeliaran di ibu kota. Diberitahukan kepada masyarakat agar berhati-hati saat diluar rumah.'


Soohe mengeratkan giginya. Tangan kanannya mengepal keras.


"Vampir gila! Berani-beraninya mereka keluar dan menyerang manusia," suaranya bergetar karna menahan marah.


"Apa?" sela Riel yang tidak sengaja dengar ucapan Soohe.


Seketika mata alis Soohe menyatu. Diamatinya penampilan Riel dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia berdandan rapi. Tidak ada satupun yang kurang darinya. Hanya belum memakai parfum saja.


"Apa kau mau pergi kesuatu tempat?"


"Hmm ... Aku mau kencan dengan Jung-il."


"Keadaan diluar sana sedang bahaya sekarang dan kau mau pergi?" omel Soohe. Ia khawatir jika sesuatu terjadi pada sahabatnya. Apalagi karna ulah vampir.


"Soohe sayang, aku bisa jaga diri,kok. Lagi pula aku tidak sendiri. Jung-il ada bersama ku," ucap Riel berusaha meyakinkan Soohe. "Aku akan pulang sebelum gelap. Sudah, ya ... Aku pergi."


Soohe tidak bisa mencegah sahabatnya yang begitu keras kepala. Dia hanya berharap agar Riel baik-baik saja. Ia berdo'a dalam hati.


Lalu, detik berikutnya ntah kenapa dia tiba-tiba memikirkan Haeseung. Mengingat bagaimana Haeseung tersenyum manis padanya membuat dia malu.


"Haeseung... dia sedang apa ya?."


————


Disaat yang sama, seperti biasa tujuh saudara ini sedang berkumpul di kamar Sunghoon. Ada yang sedang bermain game online bersama alias Mabar, dan ada yang membaca buku sejarah kuno.


"Hei, kenapa kalian malah berkumpul disini?" tanya sang pemilik kamar yang tidak suka kedamaian kamarnya diusik.


"Tidak ada. Diantara kamar kita semua, kamar yang paling bersih cuma kamar mu," balas SunOo yang sibuk dengan gamenya.


"Kamar Kak Jay'kan juga bersih," ucap Sunghoon.


"Kamar berantakan karna aku mencari dompet tadi," balas Jay.


"Kau tidak masalahkan jika kamar mu kita jadikan tempat berkumpul untuk sementara waktu?" tanya Haeseung.


Sunghoon hanya mendengus kesal. Ia tidak bilang 'Tidak' dan juga tidak bilang 'Iya.'


Suasana menjadi hening. Hanya suara-suara karakter dalam game yang terdengar serta suara pena yang dimainkan oleh JungWon.


Seperti sudah ditakdirkan. Karna sebuah ingatan kecil ia jadi teringat dengan Soohe. Ia pun mengirim telepati pada gadis yang tengah memeluk boneka beruang besar dikamarnya.


"Soohe ..."


————


Soohe teryenyak sejenak. Barusan ia mendengar suara Haeseung memanggil namanya. Pria yang ia pikirkan mengirim telepati. Seketika wajah Soohe memerah.


"Haeseung?" balasnya.


"Kau sedang apa?" tanya Haeseung.


"Hanya membaca buku," jawab Soohe.


"Apa aku mengganggu mu?"


Soohe senyum-senyum sendiri bak orang yang sedang berbunga hatinya. Ia semakin erat memeluk boneka beruang bewarna coklat susu itu.


"Tidak. Tidak sama sekali" balas Soohe dengan nada riang.


"Syukurlah..." Hela Haeseung. lega.


"Ada apa?" tanya Soohe.


"Tidak ada. Hanya saja, tiba-tiba aku memikirkan mu."


Soohe diam. Tubuhnya serasa melayang-layang. *Apa ini takdir?


"Jangan bercanda* ..." balas Soohe.


"Aku serius."


Dengan keadaan yang sama, Haeseung juga senyum-senyum sendiri. Mending soohe tidak ada Riel yang akan menyaksikan kehebohan dirinya.


Tapi Haeseung? Ada Niki yang memperhatikannya.


"Apa? Kapan aku tersenyum?"


"Barusan."


Keadaan kembali hening. Tak ada yang mereka lakukan lagi. Cuma berbaring, duduk, dan mengganggu satu sama lain saja.


Jungwon yang awalnya diam saja sambil bermain ponsel tiba-tiba terkejut dan membuat yang lain ketularan kagetnya.


"Ada apa JungWon?" tanya Jake.


"Para vampir membuat masalah lagi."


"APA!" seru Sunghoon.


"Mayat ditemukan di sebuah gang kecil. Tidak ada sisa darah pada tubuh korbannya."


"Haruskah kita diam saja?" tanya Haeseung dengan wajah serius.


****


Soohe sedang mencuci wajahnya dengan air dingin. Tiba-tiba saja moodnya berubah karna memikirkan kekacauan di kota.


Ia memang vampir. Tapi ia membenci vampir yang menyakiti manusia yang tak berdosa. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri karna terlahir sebagai vampir.


Kedua tangannya mengepal kuat. Matanya memerah menahan air mata. Fikirannya campur aduk.


Cuci muka saja tidak cukup. Ia harus mendi agar fikirannya tenang. Ia berencana datang ke sekolah lebih awal. Hanya sekedar jalan jalan agar fikirannya tenang.


————


Ia meletakkan surat yang bertuliskan pesan untuk Riel diatas meja belajar milik Riel. Ia pun pergi meninggalkan kamar.


Sekolah tidak terlihat sepi karna murid-murid yang lain sedang melakukan kegiatan ekstrakurikuler.


Ia duduk di kursi dekat halaman sekolah. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel serta headset bluetooth.


Duduk dibawah pohon menikmati udara segar sambil mendengar musik adalah pemulihan jiwa yang efektif. Perlahan ia mulai terbuai dengan suasana. Kantuk telah menyerang.


Berkali-kali ia menggelengkan kepala berharap kantuk itu hilang. Tapi tidak. Ia kalah. Matanya mulai terpejam dan ia terlelap dalam suasana nyaman dihalaman sekolah yang damai.


****


Soohe perlahan membuka matanya. Detik kemudian ia mengucek matanya. Ia diam. Jiwanya belum sepenuhnya terkumpul.


Beberapa menit kemudian ia tersadar. Ia seperti menyandar pada sesuatu.


"Kau sudah bangun?"


Soohe langsung membenatkan posisi duduknya. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Haeseung? Sedang apa kau disini?" tanya Soohe.


"Seperti yang kau lihat. Aku sedang membaca buku."


"Maksudku bagaimana kau bisa disini?,"


Haeseung menutup buku yang ia baca dan meletakannya disamping ia duduk.


"Awalnya aku sedang jalan-jalan. Lalu aku melihat seorang gadis yang tengah duduk menikmati udara, dan perlahan ia mulai mengantuk. Aku kesini untuk menyelamatkan kepala indah gadis itu agar tak terbentur dengan meminjamkan bahuku," jelas Haeseung yang sukses membuat Soohe sangat malu.


"Apa kau keberatan?" tanya Haeseung.


"Tidak! Aku sangat berterima kasih. Terima kasih banyak," ucap Soohe.


Haeseung hanya tersenyum dan membelai kepala Soohe dengan lembut. Wajah Soohe kembali memerah. Astaga kenapa dengan dia ini?


"Haeseung, bagaimana aku tidur? Apa aku mendengkur?"


"Iya. Kau mendengkur dengan sangat keras"


"Aish ..." Soohe menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ia mendengkur di depan Haeseung.


Melihat reaksi Soohe Haeseung tertawa. Dengan usahanya gadis ini percaya dengan ucapannya.


"Aku bercanda. Kau tidur dengan sangat nyenyak."


"Benarkah? Syukurlah kalau aku tidak mendengkur."


"Jika iya pun kau mendengkur pasti akan terlihat sangat menggemaskan."