
Saat manusia dan vampir hidup berdampingan, apapun bisa akan terjadi.
"Sungguh anak yang malang. Dia harus mati mengenaskan seperti ini,"
Kekacauan yang sebabkan oleh vampir, seorang gadis kecil yang selalu diasingkan oleh semua orang, dituduh membunuh seorang anak.
Itu bukan aku ... Aku tidak membunuh Cheol! Aku bukan vampir!
Gadis itu menjerit dan menangis dalam hati mendengar semua omongan itu.
"Lihat ada gadis vampir disini!"
"Aku bukan vampir!"
Tidak ada yang ingin bermain dengan gadis ini. Ia selalu sendiri. Berdiri dibelakang kerumunan anak yang tengah asik bermain.
Ayah dan ibunya pun tak mengindahkan perkataan gadis ini saat ia berkata ia bukanlah vampir yang orang-orang bilang.
"Lebih baik kau sembunyikan kekuatanmu pada semua orang. Itu lebih baik Soohe."
Tertekan? Itulah yang ia rasakan selama sepuluh tahun terakhir ini. Sedikit kesalahan yang diperbuat oleh nya akan membuat semuanya menjadi kacau balau. Semua orang akan salah paham dan menganggapnya sebagai seorang vampir.
"Aku bahkan tak mengerti tentang diriku sendiri."
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Ini sudah sekian kalinya ia pindah sekolah. Dan ia berharap sekolah inilah yang terakhir.
"Soohe, kau sedang apa? Ini sudah jam sembilan. Apa kau ingin terlambat dihari pertama mu bersekolah?"
"Iya aku datang!"
Soohe menyandang tasnya dan segera keluar dari kamar asramanya.
Ya, Soohe adalah siswi baru di Academy Delish. Academy ternama yang ada Ibu Kota. Kenapa dibilang ternama? Karna, penerimaan siswa nya sangat sulit. Bukan hanya tes kecerdasan, tetapi juga kekuatan fisik.
Ini bertujuan agar tidak ada vampir yang masuk ke kawasan sekolah. Dan sekolah ini juga memiliki keunikan. Mereka melakukan kegiatan belajarnya pada malam hari. Pagi harinya, mereka melakukan kegiatan lain seperti olahraga, bermusik, dan ekstrakulikuler lain.
Soohe berusaha untuk menyeimbangkan langkah kakinya dengan Riel teman sekamarnya.
"Riel, tunggu ak–"
Bruk!
"Maaf. Apa kau tidak apa-apa?"
Seorang laki-laki tampan mengulurkan tangannya kepada Soohe yang tengah terduduk dilantai koridor. Sejenak ia menatap uluran tangan itu. Detik kemudian ia menatap wajah laki-laki yang berseragam serupa dengannya. Soohe meraih uluran itu dan berdiri.
Deg!
Laki-laki itu merasakan sesuatu yang aneh dihatinya. Ia merasakan sesuatu pada gadis yang baru ia lihat.
Soohe menyempatkan untuk merapikan seragamnya yang agak berantakan. Laki-laki bertubuh tinggi itu kembali bertanya pada Soohe.
"Kau tidak apa-apa?" Suaranya terdengar sangat lembut.
"I-iya, aku tidak apa-apa," jawab Soohe sambil tertunduk malu. Laki-laki itu menangkap wajah Soohe yang memerah. Dan ia tersenyum.
"Soohe! ... Kau sedang apa? Kita sudah terlambat."
Terlihat Riel yang berdiri di ujung koridor meneriaki Soohe.
"Aku datang, Riel!"
Soohe pun berlari menghampiri Riel tanpa menghiraukan lelaki yang ada didepannya.
Lelaki itu hanya menatap punggung Soohe yang tertutup oleh Surai hitam panjangnya.
"Kita ... akan bertemu lagi"
Disisi lain, Soohe sedang memperkenalkan dirinya dikelas sepuluh ruang dua. Ia tidak gugup sama sekali. Tapi ia malu karna mereka tidak mengalihkan pandangannya dari Soohe. Terdengar sangat ramah, karna ia sudah terbiasa. Mereka terlihat sangat menyukai kedatangan Soohe.
***
Suara hentakan kaki dan decikan yang dikeluarkan tapaknsepatu yang bergesek oleh lantai menggema di lapangan basket.
Tak sedikit murid laki-laki yang berolahraga disini. Semua melakukan kegiatan masing-masing.
Dan tibalah waktu istirahat.
"Ku dengar ada siswi pindah ke sekolah kita," ujar seorang murid laki-laki yang mengenakan kaos putih polos.
"Benarkah? Kuharap dia cantik," ucap temannya yang menggunakan baju basket bewarna biru gelap.
"Percuma! Dia manusia," potong temannya yang lain.
"SungWoon pasti berkata seperti itu," cetus yang lain.
Sekumpulan lelaki ini sedang asik bercerita tentang anak baru yang datang ke sekolah mereka. Tiba-tiba...
"Kak Haeseung, Kak Jay, Kak Jake, SungWoon, JungWon, Niki!"
Suara teriakan itu terdengar dikepala enam lelaki yang tengah bergosip ria di lapangan basket.
"SunOo?"
Seperti telepati. Yap! Mereka saat ini sedang melakukan telepati. Mereka bisa berkomunikasi dengan cara lain selain mengunakan ponsel. Hanya dalam keadaan tertentu ... atau tidak juga.
"Ada apa SunOo? Apa ada masalah?" tanya lelaki yang mengenakan seragam lengkap. Ia bernama Haeseung.
"Dikelas ku ... anak baru itu, dia sekelas ku!"
"Daebak!"
"SunOo, apa dia cantik" tanya Jake yang dari hanya membicarakan paras dari si anak baru saja.
"Dia cantik, dan imut. Aku suka" bakas SunOo yang sedikit cengengesan.
"Namanya?" tanya Haeseung penasaran.
"Namanya Soohe. Dia duduk bersebelahan dengan ku. Kyaaa! dia imut sekali"
Haeseung hanya menyeringai. "Begitu yaa ... Ternyata dia orangnya."
Ia mengingat kejadian saat dia tak sengaja menabrak gadis di koridor. Dan gadis itu Soohe dan ia sekelas dengan SunOo.
"SunOo, kau harus ingat! Kita tidak boleh berteman manusia." SungWoon menyela.
"SungWoon, ketakutan mu itu berlebihan. Berteman dengan manusia tidak akan membuat rahasia terbongkar " balas SunOo tak mau kalah.
"Apa?!" SungWoon mulai emosi.
"SungWoon, yang dikatakan SunOo benar. Tidak ada salahnya kita berteman dengan dengan anak baru itu" ujar Jay.
"Manusia sulit untuk dipercaya, Kak!" ketus SungWoon.
"Kurasa tidak demikian. Gadis itu berbeda" gumam Haeseung sambil memainkan bola basket dan melemparkannya ke ring.
"Maksud Kak Haeseung apa?" tanya Jungwon.
Haeseung hanya menyeringai menatap teman-temannya yang memasang wajah bingung.
Sedangkan dikelas sepuluh ruang dua, Soohe dengan antusias mengikuti pelajaran. Dan SunOo, sedang asik menatap Soohe.
Soohe tahu jika ia sedang ditatap oleh SunOo, tapi ia mencoba untuk tetap tenang walau jantungnya tak terkendali. Ia gugup karna Riel ternyata tak sekelas dengannya.
Seperti yang dirasakan oleh Haeseung, SunOo juga merasakan hal yang sama pada hatinya. Tapi ia tak tau perasaan apa itu. Perasaan seakan ia tertarik pada Soohe.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Soohe yang penasaran dengan lelaki yang ia tak tau namanya itu.
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Kenapa?"
"Kau terus memandangiku, kupikir ada sesuatu di wajahku."
"Tidak. Bukan seperti itu."
"Benarkah? ... Baiklah" Soohe kembali menatap papan tulis dan fokus kepelajaran.
"Kau imut"
Seketika pandangan Soohe kembali ke SunOo. Wajahnya sedikit memerah karna malu. SunOo tersenyum lebar sambil menaik turunkan alisnya.
"Cantik." tambahnya.
"Terima kasih atas pujiannya" balas Soohe yang malu.
"Senang bertemu dengan mu Soohe, namaku SunOo," lelaki humoris ini memperkenalkan dirinya.
"Ya, senang bertemu dengan mu SunOo"
"Mari kita jadi teman baik mulai sekarang, ya!"
"Eum" Soohe hanya mengangguk.
Semuanya pun kembali seperti semula. Fokus mengikuti pelajaran sampai selesai.
Butuh waktu agar Soohe bisa beradaptasi dengan Academy Delish yang memiliki jadwal pelajaran yang unik. Dan mendapatkan teman disini.
Ia berharap kali ini kehidupan sekolahnya berjalan sesuai dengan harapannya.