DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
02. Ingin Jadi Teman Baik



Jam pelajaran berakhir pada pukul dua dini hari. Soohe berusaha menahan kantuknya. Matanya sudah terillihat memerah karna lelah.


"Hoooaaam ..." Gadis ini menguap. Ia harus terbiasa dengan ini.


Ia mengemas buku pelajarannya dan bersiap untuk keluar dari kelas.


"Soohe ..." Panggil seseorang.


Gadis inipun menoleh keasal suara, "Iya?."


"Apa kau ingat namaku?" tanya orang itu dengan senyum lebar.


"Hem ... Nama mu SunOo 'kan?"


"Apa kau langsung ke asrama?" tanya SunOo.


"Aku ingin langsung ke asrama. Ini pertama kali buatku, belajar pada waktu tengah malam itu sulit," jawab Soohe lesu.


Mereka berdua keluar kelas bersamaan. Tak lama kemudian langkah kaki Soohe terhenti. Ia menoleh kanan-kiri seperti mencari seseorang. Soohe mengeluarkan gawai miliknya dijaket dan menelfon Riel.


"Hey, kau dimana? Katanya ingin menungguku,"


Riel pun menjawab dari sebalik telfon, "Astaga aku lupa! Maaf. Begini Soohe ... aku sudah dikamar."


Soohe menghela nafas panjang, "Ya sudah."


"Apa kau berani pulang sendiri? Kau masih baru, mungkin akan terasa canggung nanti, mau aku jemput?" tawar Riel dengan nada khawatir. Ia tau teman yang baru dikenalnya beberapa jam lalu itu adalah gadis pemalu.


"Tidak perlu. Kau istirahat saja. Aku bisa pulang sendiri."


"Benarkah?"


"Iya ..." nada Soohe terdengar meyakinkan.


"Baiklah. Maaf ya ..."


Panggilan pun berakhir. Ia kembali memasukkan benda pipih itu kesaku jaket. Merasa bahwa SunOo masih disebelahnya dia memiringkan kepala. Bingung.


"Mau ku antar?" SunOo menawarkan bantuan.


Dahi Soohe berkerut. Seakan SunOo tau apa yang ia bicarakan ditelpon bersama Riel.


"Tidak. Terima kasih," tolak Soohe secara halus. Ia mengangkat kakinya dan pergi meninggalkan SunOo tak jauh dari kelas.


Tak menyerah, SunOo mengejar Soohe. Lalu, dalam waktu singkat dia sudah berada di sebelah Soohe dan membuat sang gadis polos ini terkejut.


"Abaikan aku ..." cetus SunOo mengetahui Soohe akan angkat bicara.


Bibirnya terkatup tak dapat berbicara. Soohe pun diam dan lanjut pada jalannya.


"SunOo?"


Suara yang terdengar dikepala yang sangat SunOo kenal. Dengan cepat dia berbalik badan.


"Kak Haeseung!" teriaknya sambil melambaikan tangan.


Tanpa berpikir panjang SunOo menarik tangan Soohe dan menarik gadis itu agar berdiri sebelahnya. Tanpa kesal, Soohe bertanya,


"Ada apa SunOo?"


SunOo tak menggubris pertanyaan Soohe. lelaki ini hanya fokus pada objek yang akan menghampirinya. Bingung melihat tingkah SunOo, ia pun melihat kedepan karna penasaran.


Blush ...


Seketika wajah Soohe merona saat melihat sosok yang sekarang sudah ada dihadapannya. Empat orang lelaki yang tak lain adalah Haeseung, Jay, Sunghoon dan Jake.


"SunOo, dia siapa?" tanya Jay.


"Kakak, dia anak baru yang bilang tadi,"


Seperti iklan obat tetes mata, mata Jay dan Jake berbinar.


"Ha-halo ..." sapa Soohe malu. "N-namaku Soohe, senang bertemu dengan kalian."


"Senang bertemu dengan mu Soohe" balas Haeseung. Tak lupa dengan senyum kalemnya.


"Oh iya Soohe, perkenalkan ini Kak Haeseung, ini Kak Jay, ini Kak Jake..." SunOo memperkenalkan kakak-kakaknya secara bergantian."... Dan ini ... tidak penting!."


Sungguh tercoreng harga diri Sunghoon. Kepalanya seketika panas dengan ucapan SunOo barusan.


"Kita bertemu lagi ... Soohe" ujar Haeseung.


"A-apa?" gadis bermata coklat kemerahan ini terbata.


Jantung Soohe tak hentinya berdebar saat Haeseung terus menatapnya. Ia lebih memilih tertunduk untuk menyembunyikan raut wajahnya agar tak ketara.


Haeseung mendengus. Ia sangat terkagum akan sosok Soohe.


"Kau mau kemana SunOo, berjalan kearah sana? Bukankah disana arah ke asrama perempuan?" tanya Jay.


"Aku ingin mengantar Soohe kekamar" bakas SunOo.


"Benarkah? Kalau begitu ... ayo! Kami akan mengantarmu Soohe" ucap Jake tanpa menunggu jawaban dari yang lain terutama Soohe dan langsung jalan saja.


"Tu-tunggu! Itu–"


Belum sempat menyelesaikan perkataannya Haeseung menepuk bahu Soohe.


"Biarkan saja. Jake dan SunOo sedikit keras kepala. sifat mereka berdua tak beda jauh. Jadi, harap maklum." Ujarnya sambil berlalu menyusul kedua adiknya.


"H-hai ..." sapa Soohe.


Bukannya membalas sapaan Soohe, Sunghoon membuang muka.


Sedih? Ya dia sedih. Tapi ia menyingkirkan perasaan itu dan memikirkan yang lain.


Sesampainya di asrama perempuan, mereka berempat mengantar Soohe sampai didepan kamar. Tak banyak yang dilalui. Mereka hanya saling diam kecuali SunOo dan Jake yang tak bisa diam.


"Terima kasih sudah mengantar ku. Kalian baik sekali," ucap Soohe dengan meyisipkan pujian.


"Sama-sama ..." ucap mereka hampir bersamaan.


"Masuk dan isrirahatlah" titah Haeseung.


"Iya ... Sekali lagi terima kasih."


Soohe pun membuka pintu kamar dan masuk. Tak lama pintu tertutup, mereka saling bertukar pandang.


"Kak Jay apa kau merasakannya?" tanya SunOo.


Paham akan maksud dari pertanyaan SunOo barusan, ia langsung membalas telepati SunOo.


"Ya. Aku merasakannya ... Bagaimana dengan Kak Haeseung?"


"Kalian juga merasakan nya?"


"Tunggu! Apa kakak sudah merasakannya dari awal?" tanya Sunghoon.


"Hem ... Dari awal aku bertemu dengannya."


"Kapan? Apa kakak sudah bertemu dengan Soohe sebelumnya?" tanya Jake dengan nada penasaran.


****


Soohe selesai membersihkan tubuhnya dengan air dingin. Ntah kenapa ia terasa kepanasan. Padahal malam ini udara terasa sejuk. ia menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel. Wajahnya tak henti-hentinya memerah.


Mendadak Soohe mendapat serangan kenaikan suhu badan.


Ia mengerutkan kening. Pertama kali ia seperti ini.


"Apa ini karna mereka?"


Dan benar saja, wajahnya makin memerah. Ada apa dengan dirinya sekarang. Ia memegang dadanya. Dan bodohnya ia baru tersadar bahwa jantungnya tak berdetak. Ia tersenyum getir.


Ia menghentika dramanya di depan cermin dan kembali ke kenyamanan kasur yang empuk dan sejuk AC yang menyala.


Saat kembali menatap setiap sudut kamarnya, ia kembali menghela nafas. Rambutnya bergoyang kekiri kekanan. Berantakan. Sebelum ia berangkat sekolah tadi, kamar ini masih terlihat rapi


"Riel apa yang sudah terjadi disini? Apa ada angin topan tadi?" pertanyaan itu spontan terlontar dari mulutnya.


Riel yang tergulung oleh selimut tebalnya bergeming.


"Hahaha ... loluconnya tidak tepat saatnya Soohe ..." sambil merubah posisinya, ia melanjutkan ucapannya.


"Ah, maafkan aku. Tadi aku tidak bisa menemukan liontin ku."


"Jadi ... apa kau sudah menemukannya?"


"Sudah. Apa kau tau dimana?"


"Dimana?"


"Di saku piama ku ..."


Soohe memejamkan matanya menahan emosi. Ia kesal. Tapi ya sudahlah.


Gadis ini mengibaskan rok piamanya yang hanya selutut dan membereskan kekacauan yang diperbuat temannya ini. Bagaimana dengan kantuknya? Seketika hilang.


Sepuluh menit berlalu dan ia telah selesai bekerja. Ia memegang lengannya yang tak tertutup apapun. Untuk sejenak ia butuh udara segar.


Ia menoleh kearah tempat tidur Riel. Ia bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar.


Balm!


Ia menutup pintu perlahan agar tak mengganggu tidur temannya itu. Ia berniat untuk berkeliling saja.


****


Ia menatap langit malam yang diterangi bulan purnama dan dibanjiri bintang. Angin sejuk membelai kulit putihnya. Aroma bunga yang mekar memanjakan penciumannya. Saat ini dia berada di taman dekat asrama. Ia benar-benar dimanjakan oleh suasana ini.


"Apa aku sudah melakukan yang terbaik ... Ayah, Ibu?" gumamnya sambil menatap langit.


"Aku ... merindukan kalian ..."


Ia hanya mematung di tengah taman. Matanya tertutup menikmati suara halus yang ditimbulkan oleh daun yang teterpa angin.


Wuuussh ...


Angin tiba-tiba bertiup kencang dalam waktu sekejap. Ia merasakan ada kehidupan lain ditaman selain dia. Indra nya menangkap sesuatu yang mendekatinya dari belakang.


Dengan cepat ia langsung berbalik dan melayangkan tinjunya.


Grep!


Tangannya dicengkeram oleh seseorang. Seketika mata Soohe terbuka lebar. Ia tak bisa bergerak menatap nertra dengan perpaduan warna kuning dan hijau ini.


"K-kau?"