
Riel mengamati wajah Soohe dengan seksama. Soohe terus meyakinkan sahabatnya ini agar percaya bahwa dia benar-benar sudah baikan.
"Aih ... Aku sungguh baik-baik saja!"
"Benarkah?"
Soohe mengangguk sambil tersenyum, "Iya ..."
Riel segera menjauhkan wajahnya dari hadapan Soohe, "Baguslah kalau begitu aku lega. Aku sangat khawatir semalam."
"Maaf sudah membuat mu khawatir,"
"Kau memang selalu membuat ku khawatir" balas Riel dengan nada kesal.
"Begitukah?"
Riel mengingkat rambut pendeknya asal. Dia menghampiri lemari pakaian, mendongak lalu berjinjit dengan tangan yang berusaha menggapai koper besar bewarna biru muda.
Sedikit kesulitan tapi dia berhasil menurunkan benda yang lumayan beratnya itu. Sambil membuka koper dan menyusun pakaiannya, tanpa menoleh Soohe dia bertanya,
"Murid dari sekolah Sunset Beach itu berkata, saat kau sedang kesakitan, Kak Haeseung dan yang lain berada disana ... dan mereka tidak melakukan apapun padamu."
"Riel, itu ... Aku yang meminta mereka agar jangan mendekati ku," Soohe berbohong.
"Kenapa?"
"Aku ... tidak mau saja," jawab Soohe yang jelas ngasal.
"Ha?! Tidak mau? Apa itu masuk akal?" Riel memutar kepalanya dan melirik Soohe yang berada dibelakangnya tengah tersenyum kikuk.
"Bilang saja kau mau digendong oleh pria tampan dari Sunset Beach itu ya?" nada Riel terdengar sedang menggoda Soohe.
Kamar kembali senyap. Karna sebentar lagi akan libur, mereka mulai mengemasi pakaian kedalam koper.
Soohe termenung, tangannya sibuk menyusun pakaian kedalam koper bewarna pink miliknya. Fikirannya berkelana kemana-mana.
Mungkin semuanya akan jelas nanti.
Sreeet ... Soohe menutup kopernya. Mendirikannya dan menyandarkannya Kedinding sebelah lemari pakaian. Begitu juga dengan Riel yang sudah selesai mengemasi barangnya dan langsung melempar tubuhnya ke kasur.
Soohe melihatnya cuma geleng-geleng saja. Dia teringat akan sesuatu. Setelah kejadian itu dia belum berkomunikasi dengan Haeseung.
Dia menggapai ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Mengusap layar ponsel dan mulai mengetik sebuah pesan.
****
Ting!
Haeseung meletakkan cangkir tehnya dan langsung mengambil ponselnya yang terletak disebelah cangkir. Bibirnya melengkung membentuk senyuman begitu melihat nama yang tertera pada notif pesan yang masuk.
"Sedang apa?"
Haeseung tertawa kecil. Ntah kenapa pesan singkat itu membuat hatinya senang.
"Sedang duduk sambil menikmati teh. Apa kau sudah baik-baik saja?"
"Hem ... Sudah baikan sekarang"
Disaat yang bersamaan Soohe tengah senyum-senyum sendiri membaca pesan dari Haeseung. Detik berikutnya senyumannya berubah menjadi kepanikan saat ponselnya tiba-tiba berdering.
Soohe membenarkan posisi duduknya, kemudian menarik nafas dalam. Dia menggeser tombol hijau pada layar keatas.
"Halo?"
"Soohe, bagaimana kondisimu?"
"Baik ..."
"Soohe ..."
"Iya?"
Soohe terdiam menunggu jawaban dari Haeseung. Dia mendengar helaan panjang dari telfonnya. Dahi Soohe berkerut,
"Apa ada masalah?"
"Maaf Soohe, waktu itu kami tidak bermaksud untuk membiarkan mu,"
Soohe terdiam. Dia membiarkan Haeseung untuk menyelesaikan kalimatnya.
"Aku harap kau tidak salah sangka! Kami benar-benar tidak bermaksu–"
"Haeseung, tidak apa-apa ... Aku tidak tahu alasannya kenapa. Tapi sungguh aku tidak apa-apa."
"Maafkan aku Soohe ..." Haeseung benar-benar merasa bersalah.
"Tak apa..."
"Tapi Soohe, liontin mu itu ..."
Soohe memegang liontinnya, "Liontin ku?."
"Tidak! Lupakan saja ... Intinya aku senang kau sudah baik-baik saja"
Haeseung mengurungkan niatnya untuk membahas liontin itu. Dia berfikir itu mungkin akan jadi pembahasan yang sensitif buat Soohe dan juga dirinya.
****
Pagi ini begitu cerah. Perlahan udara mulai bertiup hangat. Hari ini adalah hari terakhir mereka bersekolah. Dak esoknya adalah libur musim panas yang menyenangkan. Waktu yang bagus untuk menghabiskan waktu bersama keluarga yang mereka tinggalkan beberapa waktu lamanya karena urusan sekolah.
Soohe duduk sambil menopang dagu dikelas. SunOo yang duduk disebelahnya dengan ragu mengeluarkan suara dan mengajak Soohe bicara.
Untungnya kesan buruk yang ada di kepala SunOo tidak terjadi. Dia mendapat respon baik dari Soohe. Dia takut karna masalah kemarin Soohe marah padanya.
"Hah ... Syukurlah kau tidak marah Soohe. Aku sangat takut jika hal itu terjadi,"
"Kau tenang saja ... aku bukan tipikal orang yang seperti itu."
Mereka berdua pun kembali bicara seperti biasa.
.
.
.
Saat jam istirahat, SunOo mengajak Soohe untuk berkumpul dengan yang lain ditempat biasa yaitu dibawah pohon dekat taman.
Soohe sempat ragu, tapi dia tetap mengikuti langkah SunOo.
"Kakak! lihat siapa yang aku bawa," teriak SunOo.
Keenam pria yang tengah bersantai ria seketika menoleh kearah mereka berdua yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajah sumringah terpancar diwajah mereka semua saat melihat wanita yang mereka sukai berada didepan mata.
Soohe mengangkat tangannya keudara dan menggerakkannya kekiri, kekanan sambil tersenyum.
Soohe disiram oleh banyak pertanyaan dari mereka saat sudah mendekatkan diri kepada mereka. Pusing emang. Rasanya mereka tidak puas jika hanya dijawab "Baik-baik saja."
"Kalian sudah cukup! Lihatlah Soohe kesusahan menjawab pertanyaan kalian. Apa tidak cukup dia jawab baik-baik saja? Kalian juga lihat kan dia baik-baik saja..." omel sang kakak tertua. Dia menarik Soohe agar mendekat kepadanya.
"Soohe, kau liburan kemana nanti?" tanya Jake.
"Pulang kerumah ibu,"
"Apakah jauh dari sini?"
"Hemmm... lumayan. Aku tinggal di sebuah kota kecil,"
"Kota kecil?" gimana Haeseung. "Apa ibumu bekerja?."
"Yap! Ibuku adalah pengusaha dikota itu," jelas Soohe.
Mereka semua mengngguk paham. Kini Soohe yang kembali bertanya pada mereka.
"Dan kalian bagaimana?"
"Kami? Hari pertama libur kami masih tetap disini," jawab Haeseung.
"Kenapa begitu?"
"Kami belum membereskan barang kami," balas Haeseung sambil tertawa kikuk.
"Jadi setelah selesai berkemas kalian akan kemana?" tanya Soohe dengan suara pelan.
"Kami akan ke tempat kami besar bersama ..."
Soohe tersenyum tipis. Dia paham dari ucapan haesey, dan dia tau tempat apa itu.
"Begitu ya..."
"Apa kau akan berangkat besok?" tanya Jay.
"Pagi-pagi sekali aku berangkat agar tak kehabisan tiket kereta."
"Pagi-pagi sekali? Bukankah itu berbahaya?"
"Aku tau itu ... Tapi kalian jangan khawatir. Aku bisa jaga diri,"
"Mau kami antar?" tawar JungWon tanpa sungkan.
"Benar! Kami akan mengantar mu Soohe. Jadi kau tidak akan sendirian di stasiun," sambung SunOo yang semangat.
"Aduh ... tidak perlu melakukan hal yang merepotkan seperti itu ..."
"Merepotkan dari mana? Kami sendiri yang menginginkannya!" Sergah Niki sambil melipat kedua tangannya ke dada.
Soohe jadi bingung. "Kalian tidak perlu melakukan itu ... aku sungguh tidak apa-apa..."
Haeseung hanya tertawa melihat sikap adik-adiknya terhadap Soohe. Mereka begitu perhatian pada gadis yang bisa dibilang belum sampai sebulan mereka kenal.
Dan yang pada akhirnya Soohe mengalah pada mereka dan bersedia diantar oleh mereka sampai di stasiun kereta.
"Selamat bersenang-senang dengan ibumu soohe!" ucap SunOo saat Soohe menaiki kereta. Yang lain hanya melambaikan tangan sambil mengucapkan salam perpisahan pada Soohe.
"Kalian juga! Sampai bertemu lagi..." Soohe juga ikut melambaikan tangan.
Pintu masuk keretapun perlahan tertutup. Dan kereta perlahan mulai bergerak maju. Mereka bertujuh masih berdiri ditempat melihat kereta yang ditumpangi Soohe berjalan sampai hilang dari pandangan mereka.