DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Liontin Keluarga Seodeon



Sepanjang perjalanan Soohe hanya menundukkan kepala. Karena kejadian tadi pagi, mendadak ia jadi sorotan murid Academi Delish. Ya tentu saja! Dialah alasan kenapa tujuh bersaudara ini berkumpul dikelasnya pagi-pagi.


Dan tak hening telingannya dari kalimat-kalimat iri yang dilontarkan para murid perempuan begitu ia lewat dengan dikelilingi oleh para wajah Academi Delish.


"Angkat kepalamu Soohe ..." Haeseung menoleh.


"Dia malu karna orang memperhatikannya sejak tadi pagi. Mendadak kau terkenal Soohe..." ujar Jay yang setengah tertawa.


"Mereka iri padamu Soohe" ucap SunOo terang-terangan.


****


Glek-glek-glek ...


Soohe meneguk sebotol air dingin sampai habis. Wajahnya memerah, semerah bunga tulip yang berada dibelakangnya. Karna kalimat yang dilontarkan Haeseung padanya, teman-teman yang lain menggodanya habis-habisan.


"Sungguh tak disangka kak Haeseung sejeli itu. Aku saja tidak memperhatikan aksesoris yang Soohe kenakan. Kak Haeseung memperhatikan Soohe sampai detail terkecil" Jake mengutarakan isi kepalanya dengan lancar.


"Kau benar. Fenomena langka, hahahaha ... Wajar perempuan memiliki kalung yang berbeda. Mereka suka fashion."


Pemicu semua ini adalah kalung Soohe.


"Kalian tolong hentikan ... Lihatlah wajah Soohe sudah seperti tomat" titah Jay. Ia menutup mulut Jake dan SunOo dengan kedua tangannya sambil menahan tawa.


"Kenapa? Bukankah dia terlihat imut?." Kalimat spontan keluar dari mulut Haeseung.


Kini, semua lirikan mereka terpaku pada Haeseung yang tengah tersenyum ringan.


****


Soohe mengusap wajahnya yang basah dengan handuk putih. Tatapannya datar melirik kalung yang tergantung dilehernya.


Warnanya berubah ya ... Apa Ibu tahu apa alasannya?


Tok-tok-tok ...


"Soohe, apa masih lama lagi? Tolong cepatlah sedikit. Perutku sudah tidak bisa menunggu untuk lebih lama lagi!"


Suara Riel sudah terdengar bergetar. Soohe seketika menepuk dahinya. Ia benar-benar lupa.


Beberapa saat yang lalu, Soohe meminta pada Riel agar dia yang menggunakan kamar mandi lebih dulu karna ingin cuci muka. Ya, Riel mengizinkannya karna ia pikir hanya sebentar. Tak sampai lima menit selesai. Dan perutnya bisa diajak kompromi sebentar.


Tapi diluar dugaan, sudah lima belas menit berlalu. Perutnya sudah tidak tahan lagi.


Termenung bisa menghabiskan banyak waktu ya, pikir Soohe.


"Hehehe ..." Soohe tertawa garing.


Ia dengan cepat membuka pintu. Keringat panas dingin mengalir diwajah pucat Riel menyambutnya. Soohe pun langsung bergeser dan memberi jalan untuk Riel, yang sudah terbungkuk-bungkuk.


"Aish ... Sebentar dari Hongkong!"


"Hehehe ... maaf."


BLAM!


Bahu Soohe melompat karena kaget. Ia tertawa geli plus merasa kasihan. Ia tau rasanya penderitaan yang diberikan oleh perut yang mules. Vampir bisa sepert itu.


Soohe berjalan mendekati meja nakas yang berada disebelah tempat tidurnya. Mengambil benda pipih yang tercolok kabel USB putih.


Ia menatap layar hitam ponsel lalu menoleh ke pintu kamar mandi yang terkunci karna ada orang yang tengah termenung didalamnya.


Soohe mengambil kardigannya dan pergi keluar meninggalkan kamar sambil membawa ponsel berlogo apel kopak tersebut.


Ia ingin menelfon Seon Hwa untuk menanyakan perihal liontin warisan keluarganya.


Aku harap ibu tahu sesuatu mengenai ini, ... batinnya penuh harap.


Soohe menyalakan ponselnya lalu mencari kontak Seon Hwa.


"Halo?" Terdengar suara lembut dari dalam ponsel begitu ia mendekatkan benda pipih itu ketelinga.


"Halo, ibu ... ini aku,"


"Soohe, apa kabar nak?"


"Aku baik, Bu. Ibu bagaimana? Apa juga baik?"


"Tentu saja ..."


Soohe tersenyum tipis, "Baguslah ..."


Mata Soohe terbelalak. Niatnya diketahui oleh Seon Hwa. Gadis ini menyeringai.


"Apa ibu tahu sesuatu tentang kalung ini jika ia bisa berubah warna?"


"Apa? Berubah warna kata mu?"


"Iya. Terjadi sesuatu beberapa hari yang lalu yang menimpa diriku," ia mengingat kejadian saat di kota malam itu.


"Apa yang terjadi?" nada bicara Seon Hwa terdengar kaget.


"Aku diserang oleh beberapa vampir kelas rendah. Saat aku akan melawan mereka, tiba-tiba tubuh ku tak bertenaga dan tak bisa bergerak. Batu kalung ini terasa dingin dan warnanya berubah menjadi merah darah. Lalu, setelah beberapa hari kemudian, warnanya kembali seperti semula," terang Soohe. "Apa itu? Apa yang terjadi pada kalung ini?."


"Bukankah dulu ibu bilang jika dalam bahaya, liontin ini akan membuka pusat energi dan mengeluarkannya sehingga kita bisa menggunakan kekuatan dengan jumlah besar," tambahnya.


Soohe mendengar suara helaan panjang dari wanita yang ada diseberang telpon.


"Ternyata sudah bereaksi, ya ..."


"Apa maksud Ibu, sudah bereaksi?"


"Kalung itu menyerap energi vampir mu untuk mengaktifkan segel yang ada didalam batu itu."


"Segel?"


"Segel yang mengunci senjata yang bisa menaklukkan segalanya. Senjata keluarga Saedeon."


"Hah?"


"Ibu tidak menjelaskan secara rinci tentang liontin ini kepada mu dulu karna kau masih sangat kecil"


"Lalu, apa maksud Ibu dengan senjata keluarga Saedeon?"


"Senjata suci yang dapat membinasakan vampir yang berjiwa kotor bila ditangan yang benar dan akan menjadi sebaliknya jika ditangan yang salah," jelas Seon Hwa.


"Karna kekuatan yang sangat besar, dan banyak yang vampir kelas atas yang berhati tamak ingin merampasnya, kakek buyut mu menyegelnya kedalam batu permata itu."


"Lalu, tanpa mendapatkan energi yang kuat, segel itu tidak aktif,"


"Apa aku bisa menggunakan senjata itu sekarang?" pertanyaan spontan dari mulut Soohe. Ia terlihat begitu bersemangat.


"Belum bisa."


"E-eh? Belum bisa?"


"Energi yang diperlukan belum cukup! Kau tidak bisa menggunakannya secara sembarang. Bisa berbahaya!" tegas Seon Hwa.


Soohe terlihat lesu. Ia kecewa karna belum bisa menggunakan senjata suci itu. "Jadi ... batu ini bisa menyerap energi ku kapan saja, ya?"


"Bisa dibilang ... iya. Ibu harap kau selalu siap akan hal itu."


Soohe menutup panggilan. Detik berikutnya diedarkan pandangannya kelangit malam yang terlihat kosong.


"Haaahh ... Bagaimana aku akan melawan para vampir itu jika ia terus menyerap energi ku ..."


Soohe mengusap wajahnya, "Senjata ya ... Kira-kira senjata seperti apa ya, sampai bisa menaklukkan segalanya?."


Ia jadi penasaran dengan senjata yang tersegel didalam liontin yang ia pakai sekarang. Senjata yang dapat melindung ketika telah keluar dan membahayakan calon penggunanya karena ia menyerap energi dan membuat tidak bisa melawan.


Soohe berfikir kembali. Liontin ini hanya akan menyerap energi vampirnya saja. Berati ia tidak akan menyerap energi saat dipagi hari dan tidak akan menyusahkan ya disekolah.


"Ibu bilang energi dari segel ini masih kurang. Terus, apa aku harus keluar tengah malam dan membahayakan diriku hanya demi kalung ini? Aahh ... menyebalkan!"


"Aku bisa selamat waktu itu karna ada mereka yang tiba-tiba muncul dan menghabisi vampir sialan itu. Jika tidak ada mereka, mungkin aku sudah tiada atau sekarat ... huhu ..." Soohe geleng-geleng sambil memijit dahinya yang pusing karena masalah ini.


.


.


.


Hai readers😁 maaf Thor baru bisa update chapter baru setelah Hiatus tanpa pengumuman😁🙏


Insyaallah ... Thor akan berusaha update tiap hari tapi nggak crazy up karna waktu yang tidak cukup😅😢


Yup! Terima Gaji atas pengertian kalian semua yang sudah mampir di story Author 😆


Bisa mampir atau add juga Facebooknya Thor 👉


"Atika Suci Wulandari"