DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Bulan Purnama (2)



"LANTAS KALIAN MAU APA?" tanya Haeseung dengan pandangan menakutkan.


Soohe merasakan hal aneh saat Haeseung masih memegang bahunya. Aura yang ia rasakan pada Haeseung sebelumnya berbeda. Sangat beda. Aura gelap seakan mengelilinginya.


*


"Sudah kuduga itu ulah kalian!" teriak Jeon.


Soohe segera menahan Haeseung yang hendak berkelahi dengan siswa dari Sunset Beach Academy. Matanya berembun. Perasaannya buruk dengan hal ini.


"Hentika Haeseung!"


Haeseung menatap lekat mata Soohe. Ia terdiam melihat Soohe berteriak.


"Kumohon jangan berkelahi," lanjut Soohe. Tak terasa air matanya menetes.


Soohe tak suka seperti ini. Berada ditengah-tengah keributan yang dia tak tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Kau juga jeon! Kumohon hentikan ini. Kalian jangan berkelahi!" Soohe memohon. Jeon dan temannya yang lain bedecak kesal.


Haeseung menatap sorot mata Soohe, "Maaf, Soohe."


"Hah?" Soohe bingung.


"Aku tidak akan berkelahi. Maaf sudah membuat mu kaget," jelas Haeseung dengan suara santai dan lembut seperti biasanya.


Haeseung menarik tubuh Soohe agar berdiri tepat disebelahnya. Ia menoleh tiga sekawan itu.


"Aku paham kenapa kalian mencurigai kami. Tapi percayalah bukan kami pelakunya ..." ucap Haeseung santai.


"Kalian mengelak tanpa bukti! Bagaimana kami bisa percaya?" sergah Haru yang masih emosi.


Haeseung menyunggingkan sudut bibirnya dengan terpaksa.


"Tak apa jika tak percaya, tapi jangan berkelahi disini. Soohe jadi ketakutan," pinta Haeseung.


Tiga sekawan itu menatap Haeseung tajam. Jelas mereka tidak suka. Haeseung dan enam saudaranya adalah musuh mereka sejak lama.


"Tapi, jika kalian tetap bersikera, lima hari lagi sekolah kita akan bertanding basket kan? ... Bagaimana jika tentukan pemenangnya dari situ?"


"Jangan main kekerasan seperti ini. Ayo kita bertanding secara adil disana."


Mendengar perkataan Haeseung, mereka tampak berfikir sejenak. Haeseung tau cari cara terbaik untuk masalah diantara mereka. Tidak melakukan kekerasan.


Tapi, apa mereka setuju dengan cara ini? Terlihat dari raut wajahnya yang terlihat sinis dan tak bisa ditebak.


"Soohe," panggil Sungwoo.


"Eh, i-iya?"


"Hari ini kami pergi karena mu. Maaf karna sudah membuatmu kaget tadi," ujar Sungwoo.


"Ya, tidak apa-apa..." balas Soohe.


"Tapi ... kejadian ini tidak ada kaitannya dengan pertandingan basket. Dan sebaiknya kalian lebih waspada," tatapan Sungwoo serius, "karena kami terus mengawasi kalian."


"Selain itu, kami akan mengahisi kalian dalam pertandingan," ancamnya.


"Baiklah ... kami akan berhati-hati," jawab Haeseung dengan santai.


Sungwoo menatap Haeseung tajam. Ntah apa yang ia pikirkan.


"Ayo kita pergi!"


Merekapun pergi. Haru dan Jeon yang tidak terima masalah ini selesai begitu saja. Sepanjang jalan mereka hanya mengomel panjang lebar.


Haeseung dan yang lain memang tak akur dengan siswa dari Sunset Beach Academy, karena ada sesuatu yang membuat mereka tidak bisa disatukan.


Benci ketika berpapasan, dan benci dengan bau masing-masing.


Kembali dengan Soohe dan tiga pria yang handsome ini. Setelah Jiwoong dan teman-teman pergi, diantara mereka tidak ada yang berbicara.


"Soohe bagaimana kalau kita pulang juga. Aku akan mengantarmu," ajak Haeseung.


"Ah, iya ... baiklah!."


****


Soohe menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidur. Ia termenung, fikirannya kembali kekejadian sejam lalu.


Perasaannya benar-benar aneh saat itu. Apa lagi saat melihat sosok Haeseung yang seperti tadi. Seperti bukan dirinya.


Insting Soohe menangkap sesuatu yang berbeda dari Haeseung, Niki dan JungWon. Bau mereka berbeda dipenciumannya.


Dan ... bau itu ... bau yang tak asing bagi ku*.


Dengan cepat dia menggeleng. Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin mereka seperti itu, ya'kan? Hahahaha...


Soohe tertawa garing dengan pemikirannya yang aneh. Daripada memikirkan hal yang tidak penting lebih baik dia tidur. Masih ada hal yang lebih penting dari hal-hal aneh yang disimpulkan oleh kepala kecilnya.


————


Soohe terus melangkah maju mengikuti sebintik cahaya dihadapannya. Tak ada cahaya kain yang ia lihat disana. Semuanya gelap gulita.


Ia terus melangkah. Tapi dimatanya, cahaya itu seakan menjauh. Menjauh dan pergi meninggalkannya di kegelapan yang pekat.


Soohe mempercepat langkahnya. Ia ingin terlepas dari kegelapan ini. Ia mengingat wajah kedua orangtuanya. Air mata sudah mengalir.


"Jangan pergi ... Kumohon"


Ia terus berlari ditengah lekatnya kegelapan. Apakah ini sebagian dari diri Soohe? Kebencian, kesedihan, kesengsaraan yang selama ini dia rasakan berubah menjadi kegelapan dihatinya.


Soohe sempat terpuruk. Ia menatap cahaya kecil itu. Ia ingin menyerah, tak kuat untuk mengejar cahaya itu.


Kuku tangan Soohe memanjang, taring dalam mulutnya muncul. Ia hanya meratapi dirinya sambil terisak. Apa ini mimpi? Jika mimpi, tolong bangunkan ia dari mimpi buruk ini!


"Kau pasti bisa ..."


Soohe mengangkat kepalanya. Suara yang terdengar samar itu memberikan semangat hatinya. Ia menatap cahaya itu. Sebuah tangan dari cahaya itu terlihat terulur padanya.


Itu adalah sebuah harapan. Cahaya masa depan akan menariknya keluar.


Soohe mengusap pipinya yang basah. Ia bangkit. Berlari dan berusaha menggapai uluran tangan itu.


Cahaya itu semakin jelas terlihat. Ia melihat Haeseung dan teman-temannya yang lain tersenyum, menanti kedatangannya. Cahaya itu adalah teman-temannya.


Ia melihat Haeseung mengulurkan tangannya untuk menyambutnya. Dirinya perlahan kembali normal. Ia pun mengulurkan tangannya dengan senyuman haru.


Grep!


Soohe menggenggam tangan Haeseung kuat, seakan ia tak ingin melepas genggaman itu.


Haeseung tersenyum hangat, ia mengelus pucuk kepala Soohe dengan lembut.


"Aku tahu, kau pasti bisa ..."


————


Mata Soohe perlahan terbuka. Ia menatap keluar jendela yang memperlihatkan langit biru yang berawan. Mimpi itu membuatnya meneteskan air mata.


Ia senang. Senang karena memiliki sesuatu yang berharga sekarang. Teman-teman yang selalu ada di sisinya. Ia tersenyum begitu melihat wajah kebingungan menatapnya.


"Kau menangis? Apa kau bermimpi buruk? Sepetinya tidak. Kau tersenyum. Apa ini? Kau membuatku takut saja ..."


Soohe bangkit dari tidurnya. Menyibak selimut tebal yang menutupinya.


Grep ...


Ia memeluk Riel dengan erat, "Terima kasih karna sudah menjadi temanku,Riel."


"A-apa? Aku? Kenapa tiba-tiba?"


Riel mengerutkan dahi. Ia penasaran dengan mimpi Soohe dan sampai membuat temannya ini sesensitif ini. Tiba-tiba berterima kasih?


Apa dia masih bermimpi? Terserahlah.


Riel membalas pelukan Soohe yang mendadak ini. Ia tersenyum, "Aku juga berterima kasih pada mu, karna sudah menjadi temanku yang terbaik."


"Kuharap kau tidak membenciku saat tau kebenarannya ..." gumamnya pelan.


"Kebenaran apa maksudmu?" tanya Riel bingung.


Soohe mempererat pelukannya. "Tidak perlu tahu sekarang," balasnya.


"Riel, aku akan melindungimu apapun yang terjadi!"


Mendengar pernyataan Soohe, ia tertawa. Kenapa ia mengatakan sebuah kalimat yang seharusnya lelaki yang yang mengatakan itu.


Itu membuatnya teringat pada kekasihnya Jung-il saat mengatakan hal yang serupa.


"Kenapa? Apa kau seistimewa itu sampai kau ingin melindungi ku?" tanya Riel.


"Iya," singkat Soohe dan sukses membuat Riel merinding. Ia merasa sahabatnya ini sudah stress.