
Pagi ini semua siswa dari dua Academy berbondong-bondong memasuki gedung olahraga. Tuan rumah dari pertandingan kali ini adalah Delish Academy.
Ya! Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh semua orang terutama oleh para anggota tim yang akan bertanding.
Soohe berusaha menyesuaikan langkah kakinya dengan Riel yang berjalan begitu cepat darinya. Mereka berjalan ditengah keramaian yang riuh.
"Soohe ayo cepat! Jika tidak kita akan dapat tempat paling belakang ..." teriak Riel yang berada jauh didepan Soohe.
"Baiklah ..." Soohe mempercepat langkahnya mengejar Riel yang terlihat tak sabaran.
Setelah memasuki gedung, Riel menarik tangan Soohe dan mengajaknya duduk di kursi tingkat empat dari bawah. Itu adalah tempat terbaik untuk menonton menurut Riel.
Soohe berada di tengah-tengah para gadis yang terlihat heboh tak sabar menunggu idola mereka untuk terjun ke lapangan. Soohe memperhatikan setiap wajah perempuan disekitarnya termasuk Riel. Dahinya berkerut.
Apa setiap ada pertandingan mereka selalu seheboh ini? Disekolah lama ku sepertinya tidak ...
Sepuluh menit lagi pertandingan akan segera dimulai. Para pemain memasuki lapangan. Suara teriakan dan tepukan tangan menggema disetiap sudutnya.
Untuk pertandingan awal Haeseung bersama Jay, Jake, JungWon, dan Sunghoon. Sedangkan Niki, SunOo dan tiga orang lagi menjadi pemain cadangan. Lalu, dari tim lawan, Soohe mengenal empat dari sepuluh orang ini. Jiwoong, Haru, Jeon, dan Sungwoo orang pernah dia hajar.
Pertandingan akan dimulai. Suasananya pun menjadi semakin meriah saat mereka bersorak dengan semangatnya. Soohe hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk tangannya.
Kedua tim lawan saling berhadapan dan saling memberi salam. Wasit berdiri ditengah mereka dengan tangan yang dibekali koin dengan ukiran dikedua sisinya.
Haeseung sebagai kapten tim memilih kepala dan Jiwoong memilih ekor. Koinpun dilempar untuk melihat siapa yang akan melempar bola.
"Kepala!" seru wasit.
****
"HWOOAA ... HAESEUNG HEBAT!"
Soohe memiringkan kepalanya begitu mendengar suara melengking dari gadis disebelahnya saat melihat Haeseung berhasil memasukkan bola kedalam ring. Suara itu menusuk telinganya. Dalam hatinya ia merasa kesal. Harusnya tidak perlu seheboh itu. Berlebihan.
Tapi memang ia akui Haeseung memang keren saat memasukkan bola. Tim dari Sunset Beach juga tak kalah hebatnya. Wajahnya saat berkeringat benar-benar memancarkan karisma tersendiri.
Ini berbahaya!
Dan saat yang paling ditunggu oleh semua gadis berseragam Delish Academy adalah serangan senyuman dari Haeseung dan yang lain.
"Sepertinya sekolah kita akan menang lagi," Riel berbicara didekat telinga Soohe.
"Skor dari pertandingan terakhir ini akan menjadi penentu siapa pemenangnya" lanjutnya.
PRRIIIT!!!
Wasit meniup peluit. Menandakan telah adanya sang juara. Suara sorakan kembali menggema dilapangan. Soohe sangat menikmati pertandingan ini.
Kedua tim ini benar-benar melakukan pertandingan dengan baik.
Tim basket dari Delish Academy menjadi pemenangnya. Tentu ini adalah hasil yang membagakan untuk sekolah ternama.
Semua murid bertepuk tangan saat Haeseung selaku kapten menerima sebuah piala. Wajah gembira menghiasi tujuh bersaudara ini. Soohe juga tak kalah senang. Tanpa disadari dia juga ikut bersorak.
"Kalian hebaaat!" teriaknya.
SYUT!
Serentak mereka bertujuh yang ada di lapangan langsung menoleh kearah Soohe. Mereka memanggil nama Soohe dan memamerkan piala yang mereka dapatkan.
.
.
.
"Ahahahahaha ... mereka pasti sangat iri pada mu Soohe!"
"Kenapa mereka iri?"
"Beribu-ribu gadis yang memanggil nama mereka," Riel melihat Haeseung dan yang lain dari ujung koridor, "tapi mereka bertujuh hanya tertuju pada mu."
Riel mengangkat dagunya menunjuk yang ia lihat tadi. Soohe mengalihkan perhatian ke ujung koridor. Ia melihat Haeseung dan yang lain sedang berjalan menghampirinya.
"Aku pergi dulu ya," pamit Riel dan langsung pergi meninggalkan Soohe.
"Riel, kau mau kema-"
"Soohe!" panggil SunOo dan berlari kearahnya.
"Terima kasih karna telah menonton pertandingannya" ucap Haeseung.
"Sama-sama. Kalian benar-benar menakjubkan!" puji Soohe.
"Benarkah?"
Soohe mengangguk sambil mengangkat kedua jempolnya keudara. "Sangat."
Haeseung tertawa kecil. Ia mengelus pucuk kepala Soohe, "Tarima kasih kalau begi– Aw!"
Kalimatnya terhenti karena ia merasakan sebuah sengatan saat ia menyantuh Soohe. Tak hanya ia. Mendadak Soohe tak berekspresi. Tubuhnya gemetar hebat sampai membuatnya jatuh kelantai.
Apa itu?
"Soohe, kau tidak apa-apa?" SunOo yang ingin mendekati Soohe langsung dicegah oleh Haeseung lewat telepati.
"*Jangan ada yang mendekati Soohe!"
"Apa kau gila*!" Jay menarik lengan Haeseung. "Soohe sepertinya tidak sehat. Kenapa tiba-tiba kau melarangnya?"
Jay maju dan membantu Soohe untuk berdiri. Saat baru menyentuh bahu Soohe, dengan cepat ia menariknya kembali. Ia baru mengerti maksud Haeseung.
"Apa-apaan itu?" gumamnya.
Jay memandang wajah Haeseung yang terlihat bingung sama sepertinya. Jay berdiri dan mundur kesamping Haeseung.
Soohe terlihat seperti sesak nafas. Tangannya bergetar hebat. Tiba-tiba ia mengingat mimpi itu. Dengan panik tangannya melonggarkan dasi pintanya dan mengeluarkan liontinnya yang terasa sangat dingin. Ia memegang dadanya yang terasa sakit.
Haeseung terlihat cemas dengan keadaan Soohe. Tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Sejenak ia melihat liontin yang tergantung dileher Soohe.
Matanya menyipit, memfokuskan setiap detail dan bentuk hiasan liontinnya. Batu liontin itu bewarna merah seperti darah. Ia juga seperti tak asing dengan bentuk liontinnya.
Saat lebih difokuskan, Haeseung melihat ada pusaran hitam didalam batu itu.
"Sebenernya ada apa ini?" tanya JungWon dari telepati nya. Dia panik melihat Soohe yang kesakitan. Tapi melihat kedua kakaknya yang diam, dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Ada yang aneh pada diri Soohe," balas Haeseung. Ia terus menatap Soohe. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berfikir.
Untungnya koridor sekolah sudah sepi karena ini jam pulang sekolah. Jadi tidak ada orang selain mereka disana. Ya hanya petugas kebersiha saja yang kadang-kadang lewat.
"SOOHE!"
Suara dari arah belakang Soohe perlahan mendekat. Pandangan Haeseung dan yang lain langsung beralih ke empat pria yang mereka kenali.
Jiwoong, Sungwoo, Jeon, dan Haru dari sekolah Sunset Beach menghampiri Soohe dan membantunya berdiri. Haeseung terkejut melihat mereka Jiwoong yang tidak mengeluarkan ekspresi apapun saat membantu Soohe bangkit.
"Apa yang sudah kalian lakukan pada Soohe?!" tanya Sungwoo dengan nada tinggi.
Bukannya menjawab pertanyaan Sungwoo, Haeseung malah bertanya balik.
"Apa kau baik-baik saja?" ia menatap Jiwoong. Dahinya berkerut heran.
Jiwoong menyerahkan Soohe pada Sungwoo dan memintanya untuk menggendong tubuh Soohe yang sudah lemas.
Ia menatap tajam mata Haeseung, "Apa maksudmu? Kau bertanya apa aku baik-baik saja? Kau bisa lihat sendiri'kan?"
Jiwoong langsung berpaling dan membawa Soohe pergi dari koridor meninggalkan mereka bertujuh dengan keadaan bingung.
Haeseung hanya diam menatap punggung keempat pria yang membawa Soohe pergi. Tangannya mengepal kuat. Ia kesal. Ia tidak suka jika Soohe disentuh oleh orang yang sebenarnya adalah musuh alami mereka. Tak hanya dia, yang lain juga begitu.
"Kuserahkan Soohe pada kalian!" teriak Haeseung setelah mereka sudah berjalan agak jauh dari hadapan mereka.
Setelah mereka menghilang dari pandangan Haeseung, ia menghela nafas berat. Dia berputar menghadap adik-adiknya. Wajahnya terlihat sangat serius. Dia menatap adiknya secara bergantian.
"Apa itu tadi? Saat aku menyentuh Soohe, aku ... merasa seperti energiku terhisap," terang Jay.
"Apa? terhisap?" Jake kaget.
"Apa maksudnya itu?" tanya Niki.
"Ada yang harus kita selidiki," ujar Haeseung.
"Apa?" Sunghoon kali ini angkat suara.
Haeseung mengusap rambutnya. Kemudian menggaruk sebelah alisnya yang tak gatal.
"Kita bicarakan hal ini saat tiba di kamar."