DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Daya Tarik Soohe



Makam ini, Haeseung, SunOo, Jay, dan Jake sedang berbincang di bawah pohon depan halaman sekolah.


"Kenapa aku sangat senang saat bertemu dengan Soohe. Rasanya ... hatiku seperti berbunga," terang SunOo.


"Oh ya? Aku juga. Dia seperti punya daya tarik tersendiri. Dia berbeda dari gadis yang kita temui disekolah, benar?" lanjut Jake.


"Aku juga ..." tambah Jay.


"Itu seperti sesuatu yang sedang mengendalikan perasaanku," gumam Jake.


"Hhmm... seperti harus melakukan apa yang dia inginkan?" tanya Haeseung.


"ITU BENAR!" serentak ketiganya.


Haeseung hanya tersenyum. Itu terasa saat aku pertama bertemu pertama kali dengannya. Merasakan sesuatu yang sangat kuat.


"Wah ... Apakah ini yang namanya jatuh cinta secara bersamaan?" seru SunOo dengan polosnya.


"Hahaha ... mustahil kita mengalami hal seperti itu" bantah Jake.


"Itu benar."


"Apa dia seperti kita?" tanya Jake yang jelas terdengar ngasal.


"Tidak mungkin. Sekolah kita memiliki peraturan ketat sehingga vampir tidak akan bisa masuk," balas Haeseung yang dia sendiri juga meragukan jawabannya.


Mereka semua merasakan hal yang sama saat bertemu dengan Soohe. Daya tarik Soohe yang dapat menarik mereka semua.


Ditengah asik berbincang, Sunghoon tiba-tiba muncul dibelakang mereka bak setan dan hampir mengagetkan mereka berempat.


"Hei. Sedang apa kau disitu hah?" tanya SunOo. Nada bicaranya terdengar kesal.


"Apa kalian membicarakan gadis baru itu?" tanya Sunghoon.


"Begitulah." Jay mengangkat bahu.


"Ada apa?" tanya Haeseung.


"Aku hanya ingin mengatakan pada kalian agar tidak terlalu akrab dengan dia."


"Apa maksudmu?" dahi SunOo berkerut.


"Aku merasakan sesuatu yang kuat dari gadis itu,"


"Namanya Soohe, tahu!" SunOo emosi.


"Kau juga merasakannya ya?" Jake mengangguk.


"Jangan terlalu banyak bicara padanya. Hanya boleh sebatas menyapa saja!" jelas Sunghoon. Terdapat nada perintah disana.


"*Aku mengerti maksudmu," ujar Haeseung.


"Kita memiliki rahasia. Bisa bahaya jika sempat salah bicara*," jelas Sunghoon. Ia takut jika rahasia yang mereka sembunyikan terbongkar.


Bruk!


Terdengar suara benda jatuh tak jauh dari mereka berdiri. Serentak mereka langsung menoleh.


Soohe berdiri tepat dibelakang Sunghoon. Ia terlihat gugup dan salah tingkah. Keringat mengalir di keningnya. Sial ia malah mendengar sesuatu yang seharusnya tak ia dengar.


Sunghoon benar tidak menyukainya. Pikir Soohe.


"Ah! Maaf menganggu kalian sedang bicara. Maafkan aku!"


"Soohe kenapa bisa disini?" tanya Haeseung.


"A-aku sedang berkeliling sekolah."


"Aku akan mengantarmu berkeliling sekolah" tawar SunOo dengan semangat.


"Kami akan menunjukkan setiap sudut sekolah ini," sambung Jake yang tak kalah semangatnya.


"Sunghoon kau ikut tidak? ... Tidak mau ya sudah" tanya SunOo dan menjawab pertanyaannya sendiri. Tidak dipikirkannya perasaan Sunghoon itu.


"Oh iya, Soohe, jika kau mendengar perkataan Sunghoon tadi abaikan saja. Dia sedang pms" Jake tergelak.


"Ayo, Soohe!"


Merekapun sepakat untuk mengajak Soohe berkeliling sekolah. Sungguh kesal Sunghoon pada malam itu. Tapi ntah kenapa ia malah ikut berkeliling.


****


"Ini adalah lapangan basket. Dua orang dari kami sedang latihan disini," ujar Haeseung.


"Dua orang?"


"Ya, kami ini bertujuh. Sebentar lagi akan ada pertandingan basket. Jadi mereka sedang fokus latihan," jelas Haeseung.


"Seharusnya kami juga ikut latihan, tapi ntah kena–"


Sebuah bola basket terbang kearah Soohe. Untungnya, Jay dengan cepat menghalangi bolanya. Dan yang lain juga serentak melindungi Soohe. Wajah mereka tiga ratus emanpuluh derajat berbeda dari yang sebelumnya.


"Hey! Apa-apaan itu tadi?" teriak Jay.


"Maaf, Kak Jay! Apa bolanya terbang kearah kalian?" tanya JungWon yang berlari kearah mereka.


"Dasar! ternyata kalian ya!"


"Maaf Kak Jay!" JungWon mengubah haluannya dan kembali ke lapangan.


"Hahaha ... Maaf Kak!" sambung Niki.


Jay hanya mendesah dengan kejahilan dua adiknya itu.


"Soohe apa kau tidak apa-apa?" tanya SunOo.


Mereka berempat menatap Soohe yang sedang berada di dekapan Haeseung. Sungguh kejadian yang tak disangka. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang barusan terjadi.


Haeseung melepas dekapannya. Atmosfer terasa canggung sekarang.


"Maaf," ucap Haeseung dengan suara pelan.


"Aku tidak apa-apa."


****


Soohe menutup pintu kamarnya perlahan. Riel sedang tidak ada karna ia sedang kencan bersama pacarnya. Ia mengedarkan pandangannya disetiap sudut.


"Huh ... Malam yang melelahkan bukan?." Nada bicaranya terdengar sedang mengeluh.


Malam ini adalah malam yang sangat menegangkan baginya. Untungnya tidak ada perubahan pada diriku. Ia menghela nafas berat.


Tiga puluh menit yang lalu ...


Haeseung dan yang lain sudah selesai menemani Soohe Turing. Mereka pamit untuk latihan di lapangan. Ia pun juga pamit untuk pergi karna ia sudah merasa cukup untuk melihat sekolah.


"Semangat lah dalam latihan kalian" seru Soohe.


"Terima kasih, Soohe."


Soohe pun pergi meninggalkan mereka di lapangan basket.


———


Soohe selesai mencuci tangannya. Ia menatap pantulan wajahnya yang pucat. Cukup lama ia menatapi cermin. Tiba-tiba matanya menyipit. Ia mendekatkan wajahnya ke cermin.


"Kulit ku ... mengering."


Beginilah keadaan Soohe yang sesungguhnya. Ia terlalu memaksakan diri untuk menjadi layaknya manusia normal. Menjauhi darah dan memakan makanan yang dikonsumsi manusia. Kulitnya mengalami perubahan.


Soohe merogoh saku jasnya. Dikeluarkannya sebuah pelembap wajah dan sebuah bedak. Dengan lihai ia mengolesi pelembap dan mebedaki bagian wajhnya yang mengering.


"Kau harus bisa menahan diri, Soohe."


"Bukankan ini gila? Mereka mengadakan pemeriksaan mendadak?"


Soohe mendengar dua siswi sedang berbicara. Pemeriksaan apa?


"Ya wajar saja. Ini demi keamanan sekolah kita" sahut siswi satu lagi.


Mata Soohe terbuka lebar. Tangannya seketika bergetar. Raut wajahnya terlihat cemas. Ia harus bisa melewati pemeriksaan ini.


Ia menarik nafas panjang. Ia selesai dengan wajahnya. Menatap dirinya di cermin dengan berani.


"Huuhh... Tenang Soohe."


Pemeriksaan dilakukan di aula. Siswa siswi berbaris dengan rapi menunggu giliran mereka untuk diperiksa. Posisi Soohe masih jauh dibelakang sekarang.


Dan kebetulan ia bertemu tujuh bersaudara ini. Mereka terlihat santai. Begitu juga dengan Soohe. Tapi jauh dalam diri Soohe ia sangat tegang.


"Soohe, kau pasti terkejut dengan pemeriksaan mendadak ini, ya?" tanya SunOo.


"I-iya begitulah,"


"Pihak sekolah selalu begitu. Mereka suka yang mendadak hahaha ..." seka Jake. Soohe hanya ikut tertawa garing agar tidak terlihat jelas jika ia sedang tegang.


Karena asik berbincang dengan tujuh bersaudara ini, tak terasa giliran Soohe sudah tiba.


Pemeriksaan dimulai. Pertama staf akan mengecek suhu tubuh. Vampir cederung bersuhu rendah. Kemudian mulut. Melihat apakah ada taring atau tidak. Dan yang terakhir, mata. Mata vampir berbeda dengan mata manusia. Mata mereka memiliki ciri tersendiri.


Setelah melewati semua itu, staf menulis 'Bersih' di kolom nama Soohe.


"Nak, jangan lupa untuk selalu memakai pelembap wajah. Wajahmu terlihat sangat kering dan makan obat penambah darah, oke? Kau sangat pucat. Habis datang bulan ya?" tanya staf perempuan itu tanpa menaruh curiga sedikitpun.


"Iya, Bu. Obat ku sudah habis," balas Soohe tergagap.