
Soohe menatap sepasang netra mata tajam yang ada dihadapannya. Hening sejenak. Cengkraman yang mencengkram tangannya terasa semakin kuat.
"Sakit ..." batin Soohe. Ia tak berani bersuara dihadapan pria yang ia kenal wajahnya tapi tidak dengan namanya.
Seperti sengatan listrik bertegangan kecil yang menyentrum hati pria itu. Ia tau gadis dihadapannya itubsedng kesakitan. Dengan cepat ia langsung melepas cengkeramannya.
Soohe tertunduk. Ia mengusap pergelangan tangannya yang terasa panas.
"K-kau sedang apa disini ... dengan berpakaian seperti itu?" tanyanya sambil memalingkan wajah kearah lain. Ia tak ingin menatap langsung Soohe yang tengah mengenakan piama yang terbuka itu. Takut gadis itu akan menganggapnya mesum.
Soohe mengangkat kepalanya, "Aku sedang mencari udara segar."
Pria itu memutar bola matanya. Ia melepas jaket yang ia kenakan dan menyodorkannya ke Soohe. Sejenak ia menatap jaket itu karna tak mengerti maksudnya.
Melihat tingkah Soohe yang kurang peka, ia mendengus.
"Kau bisa terkena flu nanti, bodoh." Pria itu memasangkan jaketnya ke tubuh Soohe.
"Oh ... Ya."
Keheningan melanda Mereke sekali lagi. Soohe kembali fokus pada langit sedangkan pria itu terfokus padanya.
"Kau ... ingat aku'kan?" tanya pria itu.
"Hem ... Kau teman SunOo dan yang lain'kan?" Soohe beralih menatap pria itu, "Nama mu Sunghoon kan?."
"Bagaimana kau bisa tau? SunOo bahkan tidak memberi tahu nama ku pada mu."
"A-aku melihat bet namamu ..." balas Soohe dengan ekspresi yang tak jelas.
Sunghoon tercengang pada gadis yang dihadapannya. Ternyata gadis ini memperhatikannya tanpa ia sadari.
"Ya sudah kalau begitu," Sunghoon memutar tubuhnya hendak hengkang dari sana. Tapi ...
"Ah, mumpung aku bertemu dengan mu disini ..." ia kembali menghadap Soohe, "Ada sesuatu yang ingin aku katakan."
"Katakan?"
"Kau ... jangan terlalu akrab dengan kami. Tidak boleh!"
Soohe tersentak. Kalimat itu bagaikan pukulan keras. Seharusnya dia sadar dari awal bahwa Sunghoon tidak menyukainya.
"Kenapa?" tanya Soohe.
"Kau tidak perlu tau alasannya. Intinya, kau tidak boleh akrab dengan kami!."
Soohe sedih. Matanya mulai berembun. Ia berfikir apa alasannya. Inilah aku. Tak ada yang ingin berteman denganku.
"Baiklah ... Aku tidak akan dekat dengan kalian lagi. Aku tidak akan bertemu kalian lagi ... hiks ..." isaknya.
Sunghoon terkejut. Apa ucapannya terlalu kasar?
"Kok nangis?!" paniknya. Ini pertama kalinya membuat seseorang menangis. Apalagi dia seorang gadis.
"Kau menyuruhku untuk tidak boleh akrab dengan kalian. Baiklah aku akan menurutinya ..." tangis Soohe malah menjadi.
"Eh! Tidak-tidak ... Kau boleh akrab dengan kami. Kali boleh dekat dengan kami! Berhentilah menangis."
Mendengar perkataan Sunghoon seketika tangisnya berhenti.
"Benarkah?! Terima kasih ..." ucap soohe sambil membungkukkan tubuhnya. Ia senang sekarang.
"Sekarang kembalilah kekamar mu!" titah Sunghoon tapi malah ia yang pergi duluan.
Soohe tersenyum sambil menatap punggung Sunghoon.
"Apa kau senang sekarang?" sela seseorang.
Soohe berbalik. Ia sangat terkejut karna Haeseung tiba-tiba ada dibelakangnya, membuat kekuatan kakinya melemah dan ia hilang keseimbangan.
Grep!
"Kau baik-baik saja?" tanya Haeseung setelah berhasil menahan tubuh Soohe yang mau terjatuh.
"I-iya... Kau membuatku terkejut" balasnya dengan suara pelan.
"Maaf" ucap Haeseung sambil melepas lengannya yang melingkar di pinggang Sohee.
"Sedang apa kau disini? Kau tidak tidur?" tanya Haeseung dengan suara lembut.
"Aku hanya mencari udara segar."
"Ayo kembali. Aku akan mengantarmu kekamar."
Diperjalanan, keduanya saling diam. Mereka ingin saling berbincang. Tapi tidak tahu harus dari mana. Dan akhirnya saling diam.
"Dengar, Soohe ... Yang dikatakan oleh Sunghoon tadi, jangan diambil hati, ya."
Bagaimana di bisa tahu?
"Dia tidak sungguh-sungguh mengatakan itu. Jadi percayalah, dia sebenarnya orang yang baik ..."
"Ya aku tahu"
"Dia hanya khawatir pada kami semua."
Ntah kenapa mendengar suara Haeseung hati Soohe menjadi tenang. Ini kedua kalinya ia mendapat teman pria selain Cheol sahabat kecilnya yang mati karna ulah vampir.
"Kalian terlihat sangat dekat. Apa kalian bersaudara?" tanya Soohe penasaran.
"Tidak. Kami tumbuh bersama di panti asuhan. Dan kami menganggap kami adalah saudara. Sebuah keluarga," jelas Haeseung.
"Begitu ya ..."
"Bagaimana dengan mu?" tanya Haeseung.
"Aku?" ia tersenyum getir mengingat orang tuanya yang tewas mengenaskan demi menyelamatkan diri nya sepuluh tahun lalu setelah tragedi yang menimpa Cheol.
"Aku sudah tak memiliki orang tua."
"Soohe, maaf."
Soohe hanya tersenyum, "Tapi aku tak seberuntung kalian. Setelah orang tuaku tiada, aku hidup sendiri."
"Jika boleh tahu, bagaimana orang tuamu meninggal? Aku bukan bermaksud membuat mu sedih. Jika berat tidak perlu diceritakan."
"Tidak apa-apa ... Ada cerita dibalik kematian orang tua ku sepuluh tahun lalu. Ini semua karna ulah vampir brengsek yang sudah membunuh sahabatku."
Haeseung diam mendadak tanpa ekspresi. Vampir?
Tak terasa mereka sudah sampai di kamar Soohe. Soohe menghentikan ceritanya.
"Sepertinya lain kali aku cerita. Terima kasih sudah mau mengantar ku."
"I-iya sama-sama... Istirahat lah."
"Kau juga, Haeseung" balasnya sambil tersenyum.
Nerta mereka saling menatap. Tatapan yang tak bisa diartikan. (Itu hanya tatapan biasa ya para readers)
Haeseung tak bisa menahan tangannya nya lagi. Ia mengelus pucuk kepala Soohe dengan lembut karna ia merasa Soohe sangat menggemaskan.
Blush ...
Wajah Soohe merona karna perlakuan Haeseung padanya barusan.
"Wajahmu memerah, itu sangatlah menggemaskan" gumamnya.
"Selamat tidur Soohe" Pamitnya meninggalkan Soohe yang terpaku di depan pintu.
Haeseung berbahaya bagi jantungnya yang mati ini. Bisa-bisa makin mati jantung ku karna dia.
****
Soohe menyibak selimutnya. Ia duduk dipinggiran tempat tidur. Termenung. Bukan memikirkan Haeseung. Tapi yang lain. Kisah dibalik kematian orang tuanya.
Setelah kematian Cheol, keluarga Soohe dicap sebagai vampir dan Soohe yang sudah membuat Cheol tiada. Oleh karena itu, para warga didesa berencana menghabisi keluarga kecil yang tak bersalah ini.
Karna sebuah keberuntungan atau pertolongan dari Tuhan Soohe selamat dari mereka. Tapi tidak dengan ayah dan ibunya.
Ia sekarang tidak memiliki seseorang untuk berlindung. Ia lari kesebuah kota kecil dan hidup disana. Hidup sebagai gadis jalanan yang tidak memilik apa-apa.
Jika ia lapar ia akan mencari hewan kecil dan menghisap darah mereka. Tapi Soohe kecil tidak bisa terus seperti ini. Ia tak ingin dibilang vampir oleh semua orang.
Ia pun bertekad untuk tidak meminum darah lagi. Jika ada makanan yang terjatuh dari sebuah kedai roti, ia akan memungutnya.
Sungguh berat tubuhnya menerima makanan itu. Tapi tekadnya sudah bulat. Ia akan mengubah dirinya.
Setahun berlalu, begitupun dengan nasibnya yang malang. Ia bertemu dengan seorang wanita tua yang baik hati. Wanita itu mengajak Soohe untuk ikut pulang bersamanya.
Kini nasib Soohe berubah. Ia sudah menjadi putri angkat seorang saudagar kaya. Ia belajar dan disekolahkan di sekolah elit oleh wanita yang sekarang menjadi ibunya.
Soohe sangat menyayangi wanita itu seperti ia menyayangi orangtua kandungnya.