DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret

DARK MOONLIGHT: The Hidden Secret
Kembali Normal



Riel duduk dipinggiran tempat tidur sambil memperhatikan punggung Soohe dari belakang. Sudah satu jam gadis ini berdiri di depan cermin. Tangannya terlipat ke dada.


Apa dia tidak lelah berdiri disana selama satu jam? batinnya. Matanya menyipit. Gadis berambut pendek ini memindahkan tumpuan kakinya. Matanya menyipit menatap pantulan Soohe dari cermin.


"Kapan kau kembali?" tanyanya.


"Sejam setelah aku pergi," jawab Soohe tanpa menoleh kearah temannya yang tengah meliriknya dari tadi.


"Kenapa kau lari saat itu?" tanya Riel lagi.


Soohe berbalik menghadap Riel. Ia menatap wajah temannya itu yang terlihat sangat penasaran.


"Sebenarnya aku ... aku takut darah." Soohe berbohong.


Riel menurunkan kedua tangannya, "Benarkah?."


"Maaf karena aku pergi begitu saja tanpa mengobati mu" ucap Soohe dengan penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa."


Mereka berdua saling tersenyum manis. Awalnya Riel marah kepada Soohe. Tapi setelah dengar alasannya ia mengerti.


Soohe kembali menghadap cermin. Mulai mengamati setiap inci wajahnya. Sudah kembali normal.


"Hei, berhentilah menatap dirimu dicermin. Wajahmu tidak akan berubah karna kau melihat cermin. Bisa pecah cermin itu karna ulah mu," ucap Riel bercanda.


"Tidak. Wajahku berubah," balas Soohe dengan wajah serius.


"Benarkah?"


Soohe memutar kepalanya melirik Riel dari ujung matanya. "Aku tambah cantik tahu! Hahahaha ..."


Sontan riel meraih boneka beruang kecil dan melemparnya kearah Soohe. Tepat sasaran. Bukan kepala, tapi bokong gadis ini.


"Aww ... tepat dibokongku, teman ..."


Kedua gadis cantik ini tertawa geli karna ulah mereka sendiri. Mereka terlihat sangat bahagia.


Soohe tidak pernah tertawa selepas ini selain bersama Cheol. Dan kepergian Cheol pun membawa tawa ceria Soohe bersamanya.


Riel mengulurkan kedua tangannya kearah Soohe. Spontan soohe pun meraih tangan Riel dan membantunya berdiri.


"Soohe, apa sore ini kau sibuk?" tanya Riel.


"Tidak kenapa?"


Riel hanya menatapnya sambil menampilkan senyuman yang tak bisa ia artikan.


****


"Ini ..." Soohe terbengong sesaat setelah mengamati sekitarnya. Ia tau tempat ini. Tempat dimana Haeseung dan yang lain melindunginya dari bola basket.


Mereka berdua duduk di kursi barisan dua bagian tengah.Ia mengamati setiap siswi yang bersorak untuk pria-pria yang ia kenal dengan heboh.


Ternyata Riel mengajaknya untuk melihat tim basket yang sedang latihan. Wajah-wajah tampan itu sungguh menawan dan keren. Ditambah keringat yang mengalir di wajah mereka menambah kesan plusnya.


"Soohe, bukankah mereka sangat tampan?" tanya Riel.


"Iya ..." jawab Soohe dengan suara pelan. Tanpa sadar ia tersenyum begitu melihat wajah Haeseung.


Soohe sangat menikmati pelatihan basket ini. Ia juga ikut bertepuk tangan saat sang kapten basket berhasil memasukkan bola ke ring lawan.


Ia melihat Haeseung yang tengah tersenyum pada segerombolan gadis yang berteriak namanya. Dan kebetulan gerombolan itu tak jauh dari Soohe duduk.


Tatapan mereka saling bertemu ditengah keramaian. Wajah Soohe memerah ketika Haeseung melambaikan tangan padanya.


"Apa ini? Apa Kak Haeseung barusan melambaikan tangannya pada mu!" Riel terdengar begitu terkejut.


"Waaahh... Kau membuat ku iri" ujar Riel.


Soohe berusaha menahan senyumannya, "Apa yang kau bicarakan, Riel?"


"Disini banyak perempuan lain, tidak hanya aku" Soohe malah berdalih.


"Iya kah?" sahut Riel yang tidak percaya. Ia melihat dengan jelas Haeseung melambaikan tangannya pada Soohe. Riel hanya memberikan senyuman mengejek pada Soohe.


"Aku iri," ucapnya dengan nada menggoda.


"Hey, ayolah ... Pacarmu akan marah saat melihatmu ada disini. Apa lagi jika tau alasannya untuk melihat tim basket itu,"


"Dia tidak tahu. Jika iya pun aku akan mengatakan jika kaulah yang mengajak ku untuk menemani mu." Riel menjulurkan lidahnya.


Soohe hanya tertawa dengan tingkah temannya ini.


Soohe merangkul pundak Riel. Berjalan dengan hati-hati agar Riel tidak kesusahan saat ia melangkahkan kakinya.


Mereka keluar dari gedung. Dan kebetulan mereka berdua berpapasan dengan Haeseung dan keenam saudaranya.


"Halo Soohe!" sapa SunOo dan Jake hampir bersamaan.


"Halo ..."


"Soohe, apa kau datang untung melihat kami latihan?" tanya SunOo yang masih terlihat bersemangat.


"Begitulah ..." jawab Soohe.


"TUNGGU!" sela Niki ditengah perbincangan mereka.


"Apa ini si anak baru itu?"


"Iya, benar," jawab Haeseung. "Soohe, ini Niki, dan ini JungWon."


"Halo ..." sapa Niki dan JungWon.


"Halo..."


Mereka berdua sempat tertahan karna perdebatan SunOo dan Sunghoon karna Soohe? Lagi? Dua pria ini selalu begitu. Ntahlah.


"Kau mau kemana habis ini?" tanya Haeseung kepada Soohe.


"Aku ingin kembali ke asrama. Riel sedang sakit jadinaku akan mengantarnya."


"Tidak perlu Soohe, kau ini terlalu baik pada ku," tolak Riel.


"Jadi bagaimana kau pulang?" tanya Soohe.


"Itu Jung-il ..." Riel menunjuk pacarnya yang berada di ujung tangga. "Sayang!" teriak Riel.


"Aih... kau ini" Soohe mendengus.


Pacar Riel datang menghampiri. Wajahnya tampak kesal saat melihat Riel yang sedang sakit tapi tetap bebal ingin keluar.


"Kenapa kau bisa disini?"


"Tidak ada ... Aku hanya menemani teman sekamarku untuk melihat latihan basket."


Riel pun kembali bersama pacarnya. Ditinggalnya Soohe sendiri bersama tujuh pria ini. Haeseung hanya menatap Soohe. Riel adalah alasan untuk pergi malah meninggalkan dia sendiri.


Sial!


"Temanmu sudah pergi bersama kekasihnya. Kau akan kemana?" tanya Jay.


Aku tidak tahu. Hati Soohe merengek tak tahu harus pergi kemana. Mereka semua membuat Soohe tak bisa berfikir. Apa lagi Haeseung yang terus membuatnya gugup.


"Apa terjadi sesuatu pada mu tiga hari ini?" tanya Haeseung.


"Benar! Apa kau baik-baik saja? SunOo bilang kau lebih banyak diam dan menyendiri. Apa terjadi sesuatu?" tanya Jay.


"Hah? Aku ..."


"Untuk apa kalian ingin tahu alasannya, hah? Apakah itu sangat penting bagi kalian?" potong Sunghoon dengan nada ketus.


Plak!


Satu pukulan mendarat mulus di kepala Sunghoon. "Lebih baik kau diam!." ujar Jay yang kesal.


"*Kenapa?"


"Nada bicaramu itu bisa menyakiti perasaan Soohe, bodoh*!" sambung Jake.


"Itu benar. Sunghoon lain kali jangan seperti itu," tegur Haeseung dengan nada lembut.


Sunghoon hanya diam. Ia mengoreksi ucapannya tadi. Mungkin terlalu kasar. Tapi ia tak mau minta maaf dan lebih memilih untuk membuang muka.


"Soohe? Apa kau baik-baik saja? Apa kau ada masalah?" ulang SunOo


"I-itu ... kalian tau? Saat perempuan sedang haid mereka lebih sensitif karena hormon bla bla bla ..." Soohe menjelaskan dengan panjang lebar. Dan ia mendapat tujuh anggukan dari pria-pria ini.


"Ternyata karna itu, ku pikir karna hal lain yang membuat mu menjauhi kami."


Soohe tersentak. Ia mendengar suara Haeseung didalam kepalanya. Ia menatap Haeseung bingung.


Ya, Haeseung bertelepati khusus padanya. *Barusan Haeseung berbicara dalam kepala ku? Apa itu? Telepati?


"Benar. Itu telepati. Kau jangan terkejut oke? aku barusan mengirim mu telepati*."