
Sepasang remaja ini sedang berdiri dibibir pantai menyaksikan matahari terbit. Mereka terlihat begitu menikmati cahaya matahari terbit.
Hanya mereka berdua dan tak ada siapapun yang menggangu. Kebahagiaan begitu terpancar diraut wajah keduanya.
"Bukankah matahari terbit itu indah?" tanya gadis berambut panjang yang berdiri tepat disebelah sang pria.
"Kau benar. Tapi, aku lebih suka melihat matahari terbit itu dari pantulan mata indah mu" balasnya.
"Terimakasih atas pujiannya, ya Tuan," ucap gadis ini setengah tertawa.
"Soohe ..." panggil pria itu dan spontan sang empu yang dipanggil menoleh.
"Percayalah padaku ... Aku akan melindungi mu apapun yang terjadi."
"Haeseung, itu tidak perlu. Aku bisa menjaga diriku sendiri karena aku kuat!" ucapnya sambil mengangkat kepalan tangannya.
Haeseung mengelus kepala Soohe karena gemas. "Iya baiklah tuan putri ... Kau bisa lakukan sesuka-mu, Tuan putri ku yang cantik."
"Tu-tuan putri?"
.
.
.
Bruuk!
Terdengar suara benda berat yang jatuh kelantai. Menyadarkan kedua gadis yang tengah tengah tidur pulas dengan mimpi indah masing-masing.
"Aawh!" Soohe bangun sambil meringis kesakitan di bahu kirinya.
"Soohe, bagaimana kau bisa jatuh dari atas tempat tidur, huh?" Riel terkejut mendapati Soohe yang tengah duduk dilantai sebelah tempat tidurnya.
"Gila. Dia bilang tuan putri! Kyaaaa ... gila! Gila!"
"Apa? Siapa? Siapa tuan putri?" Riel bingung karna melihat Soohe yang bengun-bangun langsung heboh.
"Dia ... menyebutku tuan putrinya! Gila! Ini gila!" teriak Soohe sambil memukul-mukul bantalnya.
Dahi Riel menyernyit, "Dia? Siapa?."
Soohe tak menggubris pertanyaan Riel. Gadis berambut pendek ini hanya menggaruk kepala dan menguap. Gadis yang menggila dihadapannya membuatnya malas bicara dan ingin kembali tidur.
Begitulah mimpi indah Soohe berakhir. Ini pertama kali ia Haeseung ada dalam mimpinya seorang diri.
"Apa aku harus membeli bantal baru yang bagus agar tidak rusak saat aku memukulinya?" tanyanya ntah pada siapa?
"Hey Riel! Katakan sesuatu ..." Soohe melempar Riel dengan bantal kepala yang ada ditangannya.
"Aish! Terserah pada mu. Ntah apa salah bantal yang nyaman ini sampai kau memukulinya sampai rusak" ujar Riel tanpa mengubah posisi tidurnya.
"Salahnya adalah ... dia datang ke mimpi ku dan mengatakan hal yang manis pada ku!" balas Soohe yang beranjak dari lantai dan naik ketempat tidur.
"Siapa dia?" tanya Riel penasaran.
"Haeseung."
"Apa? Haeseung dari kelas dua belas ketua basket yang tampan itu!" seru Riel yang mendadak bangkit.
****
Hachooo! ...
Haeseung mengusap hidungnya yang terasa gatal. Ia menggelengkan kepala karena pusing. Apa ada yang membicarakan ku?
"Kak, apa kau sakit?" tanya Niki.
"Tidak. Hidungku hanya gatal," jawab Haeseung sambil tersenyum.
"Sepertinya kita belakangan ini jarang bertemu dengan Soohe, benar?" ujar Jay yang terlihat tak bersemangat. Begitu juga dengan Jake yang duduk lesu sambil bersandar di punggung Jay.
SunOo yang datang tiba-tiba menyeringai, "Kalian saja tapi aku tidak."
"Apa kau bangga sekarang?" sela Sunghoon.
"Tentu saja ..."
Disaat yang sama, JungWon yang bermain basket sendiri merasa bosan. Ia melirik kearah saudaranya yang lain. Muncul pikiran jahil dalam kepalanya.
Tanpa rasa takut akan terkena marah oleh saudara tertua, dia melempar bola basket kearah mereka yang sedang duduk-duduk santai di pinggir lapangan basket.
"Daripada kalian sibuk memikirkan gadis itu, lebih baik kita main."
Ajakan JungWon mendapat respon baik dari yang lain. Ya, hitung-hitung sebagai latihan tambahan menjelang pertandingan.
.
.
.
Ia menatap dirinya yang selalu membiarkan rambut panjang nya digerai. Setelah dipikir-pikir ia jarang mengikat rambutnya. Bukan karena malas tapibada alasan ia menggerai rambutnya.
Soohe membuka laci nakas yang berada disebelah tempat tidur Riel dan mengambil satu ikat rambut.
"Riel ... aku minta ikat rambutmu satu ya?"
"Yaa ..." jawabnya sendiri karena Riel sudah berangkat ke sekolah awal.
Gadis ini kembali menghadap cermin dan mengikat rambutnya. Ia terlihat sangat berbeda saat rambutnya diikat.
"Hem ... Kau terlihat seperti pelajar sekarang," gumamnya yang puas dengan penampilannya.
Soohe pun menyandang tasnya sambil menggendong sebuah buku catatan kecil di tangan kirinya.
****
Soohe berjalan menelusuri lorong yang ramai. Lalu ada beberapa anak laki-laki yang berlari dan menabrak gadis ini.
Soohe terjatuh. Buku kecil yang ia bawa juga terpental agak jauh dari Soohe jatuh. Ia sedikit meringis karena nyeri dilututnya.
"Maaf!" ucap anak yang menabrak Soohe tanpa mengurangi kecepatan larinya.
Soohe hanya berdecak kesal. Kalau mau main kejar-kejaran jangan disini.
"Soohe, apa kau tidak apa-apa?" tanya Jay yang membantu Soohe berdiri.
"Ya. Aku baik-baik saja, terima kasih." ucap Soohe.
Haeseung mengambil buku catatan Soohe dan sebuah foto. Ia sempat memperhatikan gambar yang ada pada foto yang sudah terlihat sedikit udang karna termakan waktu.
Matanya terbuka lebar saat melihat dua anak kecil yang tengah tersenyum lebar di foto itu. Dia merasa tak asing dengan kedua anak itu.
Ia menoleh kearah Soohe yang dikelilingi oleh saudara-saudaranya. Ia kembali menatap anak perempuan yang ada difoto.
Apa ini? ...
Setelah termenung agak lama, ia memasukkan kembali foto itu kedalam buku, dan mengembalikannya pada Soohe.
"Soohe ini buku mu?"
"Oh iya. Ini punya ku," jawab Soohe yang terlihat sangat senang ketika melihat buku kecil yang bewarna merah muda dengan hiasan burung Flamengo putih ditengah buku.
"Dan aku juga menemukan sebuah foto." ucapnya dengan maksud untuk melihat reaksi Soohe lagi. Ada sesuatu yang ingin dia ketahui.
Seketika wajah Soohe berubah. Alisnya terangkat, "Foto?."
Ia membuka kembali buku itu untuk melihat foto yang dimaksud. Reaksinya seketika berubah.
"Foto ini ... kenapa bisa disini?" raut wajahnya terlihat sedih saat melihat foto yang ia pegang.
SunOo yang penasaran juga melihat foto itu. Wajahnya yang terlihat senang seketika berubah ketika melihat foto itu.
"Soohe, apa itu kau?"
"Iya. Ini aku," jawab Soohe.
SunOo melirik keenam saudaranya dengan lirikan mata yang terkejut. Ia juga tak asing dengan wajah kecil itu.
"SunOo ada apa?" Jay mengirim telepati kepada SunOo karena bingung melihat SunOo yang diam tiba-tiba setelah melihat foto Soohe. Tapi SunOo hanya diam menatapnya.
"Dan anak laki-laki disamping mu itu?" tanya Haeseung dengan tatapan menyidik.
"Cheol. Sahabat sahabat kecilku."
****
Saat kelas telah berakhir, Haeseung, SunOo, Jay, Sunghoon, Jake, Niki, dan JungWon sepakat berkumpul di kamar Sunghoon.
"Anak laki-laki yang foto bersama Soohe adalah ... anak itu," Ujar Haeseung.
"Aku tak masih tak percaya anak itu adalah sahabat Soohe," tambah SunOo.
Sunghoon berusaha mencerna apa yang dikatakan SunOo dan Haeseung.
"Maksud kakak?"
Haeseung menghela nafas berat, "Benar dia adalah anak yang tewas karena ulah kita semua."
Sebuah foto yang muncul dari masa lalu yang kelam mengingatkan mereka semua yang telah hilang kendali sepuluh tahun lalu.
Perasaan cemas memikirkan apa yang terjadi jika kebenaran masa lalu itu akan terungkap dan membuat mereka merasa dibenci. Rahasia yang selama ini disembunyikan akan terungkap suatu saat nanti.
Hanya waktu yang bisa menjawab kapan itu akan terjadi.