Crescencia

Crescencia
Bab 9



Seperti biasa, selepas salat subuh, Crescencia langsung berkutat dengan adonan kue kukusnya. Tentunya dibantu dengan Mira yang sibuk menyiapkan sarapan untuk anggota keluarga di rumah ini. Asap panas nan wangi gurih menyeruak saat Crescencia membuka tutup panci kukusan kue-kuenya. Mira yang tengah mengiris wortel itu langsung terbuai akan aroma kue yang begitu legit menusuk kedua cuping hidungnya.


Crescencia tersenyum senang kala roti-rotinya mengembang sempurna. Ia pun menata apik pada wadah yang biasanya ia bawa ke sekolah.


"Mau ke kamar, Dika?" tanya Mira, melihat Cresencia hendak beranjak dengan membawa satu roti kukus di atas piring kecil.


Crescencia menghentikan langkahnya. Mengangguk singkat, sementara Mira justru terlihat menarik napas panjang.


"Dika dari kemarin belum pulang, Cha," kata Mira memberi tahu.


"Enggak pulang?" Crescencia membeo dengan kedua mata yang melebar.


"Iya. Dika memang sering gak pulang."


Crescencia mengembuskan napas lelah sekali. Sekarang, di mana kakaknya itu melampiaskan emosinya? Apa iya cuma gara-gara dihukum hormat bendera sama Pak Romi kemarin, Dika langsung frustrasi? Yang benar saja!


"Biasanya, Kak Dika kalau gak pulang ke rumah, larinya ke mana, Bi?" tanya Crescencia sembari meletakkan piring di tangannya ke atas meja.


"Bibi juga enggak tahu, Cha. Bibi gak berani ikut campur masalah Dika."


Crescencia terdiam, menurunkan kedua baunya yang terasa lemas. Tanpa kata, Crescencia mengambil keranjang rotinya, memilih untuk bersiap-siap berangkat sekolah.


...🌹...


Di perjalanan, Crescencia kini dapat duduk dengan tenang, karena papanya menyuruh sopir pribadi untuk mengantarkannya ke manapun ia pergi. Hari ini pun Crescencia tidak terlihat seceria biasanya. Anak itu terlihat anteng, karena pikirannya berkelana memikirkan kondisi Dika.


"Ada apa, Cha?" tanya Bimo selaku sopir yang mengantarkan Crescencia hari ini. Dia bertanya karena Crescencia berkali-kali mengembuskan napas berat.


Crescencia sedikit menegapkan tubuhnya. Menggenggam erat seatbelt yang menyilang di dadanya. Dia menatap Bimo dengan lemah. "Kak Dika kalau gak pulang ke rumah, biasanya ke mana ya Pak Bim? Icha khawatir."


Lagi-lagi Crescencia mendapat respons yang sama seperti Mira. Diberi pertanyaan seperti itu justru membuat Bimo mengembuskan napas panjang.


"Anak kayak Dika itu susah diatur.  Saya aja yang baru enam bulan kerja di rumah itu, langsung usap dada lihat kelakuannya. Masih sekolah kok udah kayak preman pasar. Kayak anak gak pernah dapat didikan!"


Sepasang mata Crescencia langsung  melotot. Menatap tajam orang di sebelahnya dengan sangat tidak suka.


"Pak, Bimo! Jangan suka nilai orang dari luarnya aja! Kalau Pak Bimo sendiri gak tahu latar belakang orang itu!" Crescencia sedikit berteriak. Kemudian segera mengalihkan pandangannya ke arah kaca mobil. Napas Crescencia terlihat lebih cepat dari biasanya. Rahangnya pun mengeras. Crescencia cukup sakit hati setelah mendengar perkataan Bimo.


Sementara Bimo terkejut melihat respons dari Crescencia. Bimo dibuat tercenung kala Crescencia tidak berkata apa-apa lagi. Bimo melirik Crescencia beberapa kali lewat pantulan kaca mobil. Raut wajah Crescencia tetap sama, gadis itu terlihat kian menekuk wajahnya.


Bimo menggaruk lehernya yang tak gatal. Dirinya menjadi dilema. Padahal, dia tadi hanya mengeluarkan unek-uneknya. Dan Bimo tidak menyangka akan mendapat amarah dari Crescencia.


"Emm, Icha. Tadi saya dapat pesan dari Pak Dimas. Katanya, sepulang sekolah, Icha harus ke rumah sakit dengan saya," kata Bimo membuka suaranya kala mereka telah sampai depan gerbang sekolah.


"Iya," jawab Crescencia singkat. Kemudian membuka pintu mobil dan turun dari sana. Tak lupa dengan membawa keranjang rotinya. Namun, sebelum Crescencia beranjak pergi, ia menyempatkan diri untuk memberikan satu buah rotinya kepada Bimo seraya berkata,


"Ini buat Pak Bimo. Pak Bimo gak boleh lagi berpikiran negatif sama Kak Dika, ya. Karena Pak Bimo belum tahu aja apa yang dialami Kak Dika. Kak Dika sebenarnya gak seburuk apa yang Pak Bimo pikirkan." Crescencia mengangkat sudut bibirnya ke atas. Memberikan senyuman bersahabat yang membuat Bimo langsung tersenyum lega.


"Iya, Cha. Maaf." Bimo menerima roti itu dengan senang hati.


"Kalau gitu, Icha masuk dulu. Pak Bimo hati-hati. Jangan lupa dimakan rotinya." Crescencia pun berlalu dari hadapan Bimo, dan melangkah ringan menuju kelas.


...🌹...


"Nah! Pucuk dicinta, ulam pun tiba!" teriak Ara senang melihat kehadiran Crescencia. "Cha! Lihat PR Fisika!" lanjut Ara langsung memalak buku tugas Crescencia.


Crescencia mengembuskan napas panjang. Lantas berjalan menuju mejanya untuk meletakkan keranjang rotinya. Di sekelilingnya kini telah ramai oleh teman-temannya yang antre meminjam buku PR nya.


"Ini. Jangan rebutan! Jangan sampai sobek!" peringat Crescencia tegas.


"Oke-oke, sip!" balas Ara dan lainnya dengan senang hati.


"Cha, lo Minggu besok ada acara, gak?" tanya Nando sembari mencomot satu roti di keranjang Crescencia tanpa izin.


Crescencia menoleh, lantas menggeleng pelan. "Enggak ada kayaknya, Nando. Kenapa?"


"Gue mau ajak lo jalan-jalan. Biar lo tahu Malang," jawab Nando dengan menggigit rotinya.


"Jalan-jalan ke mana?"


"Ke mana aja."


Crescencia terdiam. Mencoba menimbang-nimbang tawaran Nando. Cukup menarik, karena selama ia pindah ke kota ini, Crescencia hanya tahu jalan rumah ke sekolahnya saja.


"Iya, Icha mau!" sahut Crescencia yang langsung mendapatkan usapan lembut di kepalanya.


"Sip. Gue jemput lo sore aja ya, biar gak panas."


Crescencia mengangguk senang menatap Nando. Begitupun dengan Nando yang kini berjalan ke tempat duduknya. Sementara di sisi lain, Ara yang mendengar pembicaraan kedua orang itu, langsung berhenti menulis. Tangannya tiba-tiba terasa lemas dengan dada yang cukup sesak. Namun, Ara dengan cepat menggelengkan kepalanya. Mengusir pikiran negatif yang menyakiti hatinya. Ara pun kembali fokus melanjutkan tulisannya.


Selang beberapa menit, semua orang di kelas itu langsung terpusat pada Adam, selaku ketua kelas X-IPA 2 yang memberikan instruksi di depan kelas.


"Pak Romi hari ini gak masuk kelas, ada rapat katanya. Tapi Pak Romi kasih kita tugas. Kita disuruh buat kelompok. Masing-masing kelompok berisikan empat orang. Mengerjakan latihan soal halaman  lima pulih enam. Di tulis tangan di kertas folio bergaris, dilengkapi dengan soal dan rumus penyelesaiannya. Dan dikumpulkan besok pagi."


Semua siswa di kelas itu langsung mengembuskan meloroh sebagai keluhan.


"Buset! Muke gile Pak Romi kasih soal sebegini banyak, dikumpulin nya besok pagi!" keluh Zikri yang membuka buku di halaman itu.


"Masih mending besok pagi daripada hari ini!" balas Adam, walaupun dirinya juga terlihat kesal dengan banyaknya soal di halaman itu.


"Kagak ada mending-mendingnya mah ini! Otak gue aja kayak mau meletus lihat ini soal! Dijelasin juga kagak!" timpal Ara yang langsung memegangi kepalanya yang nyut-nyutan. Yang lain pun mengangguk setuju.


"Cepat kalian bentuk kelompok! Kalau udah, kumpulin daftar nama kelompok kalian di meja gue!" perintah Adam yang membuat kelas langsung sedikit bising.


"Kita sekelompok sama siapa, Ra?" tanya Crescencia sembari mengedarkan pandangannya.


Ara tampak berpikir dengan jari telunjuk yang mengetuk dagunya. Sepasang matanya pun menyapu isi kelas. Bibir Ara terangkat, lantas menunjuk bangku belakang.


"Nando dan Zikri!" seru Ara dengan menunjuk bangku paling belakang.


Kening Crescencia seketika mengkerut. Menatap arah tunjuk Ara dengan tidak percaya.


"Ara yakin? Mereka berdua itu bagai anjing dan kelinci! Tidak bisa bersatu loh," tegas Crescencia sedikit tidak yakin.


Ara mendengus pelan. Mengabaikan ucapan Crescencia. Ia kembali menatap Nando dan Zikri yang sibuk bermain ponsel. Seolah tidak peduli dengan tugasnya.


"Zikri orangnya lumayan pinter matematika. Kemarin saja kuis dia dapet delapan puluh lima. Nilai paling bagus setelah elo!"


Crescencia manggut-manggut, membenarkan ucapan Ara.


"Dan kalau Nando ...." Ara tiba-tiba mengangkat senyumannya. Pandangan matanya seperti orang yang tersipu malu. Pipinya pun terlihat sedikit merah. Crescencia yang melihat tingkah aneh temannya itu hanya bisa menunggu kalimat Ara sepenuhnya. Ia sangat tidak mengerti arti senyuman manis di wajah Ara.


"Nando juga pinter, kok." Ara tersenyum malu-malu. Mengalihkan tatapannya ke arah Crescencia yang tengah menatapnya bingung. Namun, Crescencia mengguk saja mengiakan itu.


"Nando, Zikri!" Tangan Crescencia melambai untuk memanggil dua temannya itu. Keduanya pun berjalan mendekat ke meja Crescencia.


"Kalian udah dapat kelompok?" tanya Crescencia. Keduanya kompak menggeleng pelan.


"Mau gabung sama Icha dan Ara?" tawar Crescencia yang membuat Nando dan Zikri saling bertatapan.


"Kenapa harus sama Zikri!" protes Nando. "Lo cari kelompok lain aja, Zik! Gue gak mau satu kelompok sama elo!"


"Gue juga gak mau satu kelompok sama, lo!" balas Zikri tidak terima. "Lo aja sana yang cari kelompok lain! Lagi pula gue juga enek liat wajah lo itu! Ganteng kagak! Cantik, iya!"


"Sembarangan lo kalau ngomong! Kalau iri bilang aja!"


"Cuih! Masih waras gue! Ngapain juga gue iri sama lo!


"Halah! Bilang aja lo iri!"


Crescencia menarik lengan Ara agar lebih dekat dengan dirinya, dan berkata, "Tuh, kan, apa Icha bilang. Mereka gak bisa disatuin, Ra," bisik Crescencia mengembuskan napas berat.


Bukan hanya Crescencia. Ara lama-lama juga dibuat jengah oleh kelakuan dua temannya itu.


"Stop, kalian berdua!" Ara berteriak di tengah keduanya. Mendorong dada Zikri dan Nando hingga membuat kedua anak itu mundur beberapa langkah. Matanya yang tajam menatap dua orang temannya yang masih terlihat bersitegang.


"Kalian tuh lama-lama bocah tahu, gak!" bentak Ara yang membuat keduanya langsung mengarahkan tatapan tak suka padanya.


"Serah kalian dah! Kalau kalian berdua gak mau satu kelompok sama gue dan Icha, mending kalian berdua cabut aja dari kelompok gue!"


Crescencia menelan ludahnya terkejut. Sedikit ketakutan melihat Ara yang semarah itu. Ini kali pertamanya ia melihat temannya memaki orang.


"Yah, ngambek dia," kata Zikri.


Begitupun dengan Nando yang langsung mengubah mimik wajahnya menjadi lugu tak berdosa. Ia pun langsung meluruhkan tubuhnya pada kursi kosong di sebelahnya. Mengambil buku tulis yang terletak di atas meja, lantas mengipasi wajahnya yang panas.


"Oke deh kalau maksa," ujar Nando yang langsung menerbitkan senyuman di bibir Ara.


Nando beranjak dari tempatnya. Sedikit melirik sinis Zikri yang juga tengah menatapnya kesal. Nando melangkahkan kakinya menjauh, namun sedikit terhenti di sebelah Ara, menundukkan kepalanya  untuk menyejajarkan kepalanya pada telinga Ara.


"Gak usah marah-marah. Nanti cantiknya ilang."


Tubuh Ara seketika menegang. Dadanya terasa sesak, seolah udara di sekitarnya menghilang entah ke mana. Ara bahkan tidak berkedip dalam waktu beberapa detik. Ara dengan cepat membalikkan tubuhnya, menatap punggung Nando dengan tidak percaya. Bibirnya terangkat sempurna, merasakan desiran aneh yang mulai bergerak di dalam darahnya.


...🌹...


"Jadi, fix kerja kelompoknya di rumah gue, jam tujuh malem?"


Ketiganya mengangguk menjawab pertanyaan Ara.


"Jangan lupa siapin makanan yang enak-enak!"


Ara seketika melotot tajam pada Zikri yang tidak tahu malu itu.


"Ogah banget gue nyiapin makanan buat lo!" ucap Ara sengit seraya memutar kedua bola matanya malas.


"Hei! Lo gak tahu ada pepatah kalau tamu adalah raja?" balas Zikri dengan berkacak pinggang.


"Tau!" timpal Ara. "Tapi mana ada Raja kere yang ngemis-ngemis kayak lo! Lagian kagak ada Raja yang wajahnya buluk kayak keset kecebur empang!" Crescencia dan Nando serempak tertawa membenarkan ucapan Ara. Sedangkan Zikri langsung mendesis kesal. "Sialan!"


...🌹...


Crescencia menunduk untuk membaca kembali nomor ruangan di tangannya, memastikan kembali nomor yang tertempel di dinding putih itu. Serta melihat daftar nama dokter yang terpampang di sana.


Setelah dirasa benar, anak itu kini duduk pada bangku besi di seberang ruangan yang masih gelap. Di sekelilingnya sepi dan kosong. Hanya dia satu-satunya pasien yang menempati deretan bangku itu.


Crescencia sedikit menundukkan kepalanya. Merasakan napasnya yang mulai terasa sesak. Ia mencengkeram lebih erat bangku yang ia duduki, kala keringat dingin mulai merembes dari kulitnya. Crescencia memejamkan kedua matanya erat. Sedikit meringis kala sakit di kepalanya datang kembali.


Suara langkah dari sepatu kulit yang bergesekan dengan lantai itu terdengar menggema. Lama-lama semakin dekat. Crescencia tetap pada posisinya, sama sekali tak bergerak untuk melihat siapa yang datang.


"Icha! Kamu kah itu?"


Crescencia menggigit bibir bawahnya, rasa sakitnya kian menjadi. Seluruh tubuhnya lemas dengan nyeri di mana-mana. Napasnya kian tersengal seolah batu besar menghimpit dadanya.


Melihat tak ada sautan dari Crescencia, suara berat itu kembali terdengar. Namun Crescencia tidak begitu mendengar jelas, kepalanya terasa berputar tak keruan. Membuat perutnya kian terasa mual. Wajahnya pun berubah sangat pucat. Beberapa detik kemudian, tubuh Crescencia ambruk menghantam lantai dengan keras. Membuat dua orang di sana  langsung melebarkan mata dengan panik.


...🌹...


Crescencia membuka kedua matanya perlahan. Cahaya putih menjadi penyambutnya. Crescencia menoleh kala telinganya mendengar suara orang berbicara. Keningnya sedikit berlipat bingung. Di mana dia sekarang? Pertanyaan tersirat itu membuat sepasang matanya menyapu seluruh ruangan ia berada.


"Icha sudah sadar?" Suara berat itu kembali terdengar. Crescencia berusaha mengubah posisinya menjadi duduk bersandar. Dibantu oleh seorang wanita muda yang tersenyum ramah. Cantik sekali.


Pria dengan umur berkisar empat puluhan itu berjalan mendekat. Meletakkan tangan besarnya pada dahi Crescencia. Sedikit mengangguk kecil lantas beralih memeriksa denyut nadi di pergelangan tangannya.


"Saya Dokter Paulus, tadi kamu pingsan saat saya datang."


Crescencia manggut-manggut. Sedikit meringis kala Dokter Paulus bisa membaca kebingungannya. Kini tatapannya beralih pada wanita cantik yang tengah menulis sesuatu pada kertas di tangannya.


"Kalau yang itu asisten saya. Namanya Dara. Kamu panggil saja dia Kak Dara. Dia baru wisuda soalnya," ucap Dokter Paulus kembali menjawab pertanyaan dari raut wajah Crescencia.


"Dokter Paulus bisa baca pikiran, ya?" tebak Crescencia yakin sekali.


Dokter Paulus tertawa renyah. Menggeleng kecil sebagai jawaban. Kedua tangannya kini sibuk membantu Crescencia untuk turun dari atas brankar.


"Kamu tadi ke sini naik lift?"


Kepala Crescencia menggeleng kecil menjawab pertanyaan dari Dokter Paulus. Keduanya kini telah duduk berhadapan di sebuah meja yang terletak di dekat jendela. Dokter Paulus terlihat melotot melihat gelengan kepala Crescencia.


"Mulai besok, gunakan lift Icha! Kamu baru pulang sekolah. Energimu tidak cukup kuat buat menapaki enam puluh lebih anak tangga!"


Bibir Crescencia sedikit mengerucut. Namun ia tak punya pilihan. Karena apa yang dikata Dokter Paulus itu benar adanya.


Dara menyerahkan kertas di tangannya ke atas meja. Dokter Paulus membacanya dengan saksama. Tangan kanannya yang memegang bolpoin itu bergerak di atasnya.


"Melihat daftar riwayat kesehatan kamu, mulai hari Rabu besok, silakan datang menemui saya. Kamu harus rutin menjalani kemoterapi."


Tatapan Crescencia berubah nanar. Kepalanya menunduk dengan dadanya yang kembali sesak. Sejujurnya, Crescencia sedikit lelah dengan semua rutinitasnya selama enam bulan terakhir ini. Dia cukup tersiksa dengan banyaknya obat yang masuk ke dalam tubuhnya. Dan juga harus merasakan nyeri yang luar biasa kala menjalani pengobatan.


"Nanti kamu ambil semua obat yang sudah saya catat bersama Kak Dara. Jangan lupa istirahat dan jangan sampai telat makan."


Crescencia mengangguk kecil tanpa mengangkat kepalanya. Sejujurnya dia ingin menangis saat ini. Tubuhnya sudah terlalu sakit merasakan tusukan besi tajam yang terus menembus kulitnya tanpa henti. Sepasang mata bulatnya menatap nanar kedua tangannya yang kian ringkih dan pucat. Tetesan air mulai berjatuhan membasahi pipinya. Crescencia menggigit bibir dalamnya kuat. Menahan isak tangisnya yang hendak keluar.


"Icha ..., Kamu gak boleh sedih. Kamu gak boleh nyerah, ya. Saya yakin, suatu saat kamu akan sembuh," kata Dokter Paulus saat melihat bahu Crescencia mulai terguncang.


"Ribuan bahkan jutaan orang di dunia ini pun ada yang bernasib sama seperti kamu. Jadi, jangan kamu pikir hanya kamu sendirian yang merasakan sakit ini. Dan Icha harus berterima kasih pada Tuhan, karena Tuhan sangat sayang sama Icha."


Crescencia mengangguk kecil. Kedua tangannya menyapu pipinya dengan lembut. Kini tatapannya mengarah kosong pada sepasang sepatunya yang sedikit kotor oleh tanah. Ini sudah jalan takdirnya. Dan Crescencia harus menerima itu. Karena Crescencia percaya, bahwa Tuhan itu Maha baik. Pasti ada jawaban di semua kisah hidupnya. Yang hanya perlu ia lakukan saat ini ialah, melanjutkan sisa hidup dengan ikhlas.


...🌹...


Sesampainya di rumah, Crescencia langsung membersihkan tubuhnya yang lengket akan debu dan keringat. Rambutnya yang masih basah karena keramas, ia biarkan tergerai begitu saja. Kaus polos dengan celana kulot melekat di tubuh ringkihnya. Sepasang kakinya yang pendek menuruni anak tangga dengan tas ransel yang telah terlampir di punggungnya.


"Kak Dika belum pulang, Bi?" tanya Crescencia pada Mira dengan menoleh pada pintu kamar Dika.


Mira menggeleng pelan. "Belum, Cha."


"Sudah ditelpon? Icha gak punya nomornya Kak Dika."


Mira mendesah berat. "Sudah Bibi coba berkali-kali. Tapi nomor  Dika enggak aktif.


Crescencia menatap nanar pintu kamar Dika. Ia lagi-lagi mengembuskan napas lelah. Dirinya dibuat tak berdaya. Ia tidak mengenali satupun teman Dika. Dan dia juga tidak tahu ke mana Dika biasanya pergi. Crescencia hanya bisa berdoa dan menunggu. Berharap kakak tirinya cepat pulang dengan keadaan baik-baik saja.


"Kamu mau ke mana?" tanya Mira yang melihat Crescencia hendak pergi lagi.


"Icha mau kerja kelompok di rumah Ara. Diantar Pak Bimo," jawab Crescencia.


"Kamu sudah makan?"


Crescencia mengangguk kecil. "Sudah. Tadi beli soto sama Pak Bimo. Yasudah, Icha berangkat dulu, Bi." Crescencia berpamitan. Lantas melangkahkan kakinya menuju mobil yang sudah Bimo siapkan untuknya.


...🌹...


"Assalamualaikum...."


"Waalaikumsalam," balas tiga orang bersamaan. Mereka nampak duduk berhadapan di atas karpet tipis bewarna merah, dengan sebuah meja sebagai batasan.


"Akhirnya dateng juga lo! Gue udah lumutan ini dari tadi nungguin lo!"


Crescencia meringis mendengar ocehan Nando. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah delapan. Dirinya telat tiga puluh menit kurang.


"Maaf, macet." Crescencia lantas duduk bergabung dengan ketiga temannya. Ia hendak duduk di sebelah zikri, namun Nando dengan seenak jidat menarik tangannya untuk duduk tepat di sebelahnya.


"Maaf diterima," sahut Zikri yang tengah memasukkan keripik ke dalam mulutnya.


"Eh! Mulut lo jangan ngegares mulu, dong! Abis nih lama-lama keripik setoples!" Ara memprotes dengan menjauhkan toples kripik yang isinya tinggal sedikit lagi.


"Aelah, Ra! Udah sakaratul maut kali tuh keripik. Mubazir kalau gak dihabisin!" Zikri kembali merebut toples itu. Lantas menyimpannya di sela-sela kakinya yang bersila. Sehingga mustahil bagi Ara untuk merebutnya kembali karena terhalang oleh sebuah meja.


Ara mendesis. Tatapannya langsung terarah pada Nando yang merangkul pundak Crescencia tanpa izin. Entah mengapa, oksigen di sekitarnya seolah menipis, hingga membuat dada anak itu kembali sesak.


"Kurang berapa nomor?" tanya Crescencia seraya menjauhkan tangan Nando dari pundaknya. Mengeluarkan kertas dan pensil di dalam tasnya.


"Kurang tujuh nomor. Kita sudah ngerjain setengahnya. Dan sisanya kita ga bisa," jawab Ara lemah, seraya mengangkat kedua tangannya yang pegal.


Crescencia manggut-manggut. Ia menarik kertas soal itu. Membacanya dengan saksama.


"Oh, ini ...."


"Lo bisa, Cha?!" tanya ketiganya serempak.


Crescencia kembali mengangguk. "Biar Icha coba kerjakan dulu."


Yang lain pun langsung mengangguk senang. Menunggu Crescencia mengerjakan soal itu. Crescencia sedikit menggelengkan kepalanya kala ketiga temannya saling beradu debat walaupun cuma masalah sepele.


"Sudah." Crescencia meletakkan pensilnya ke atas lembar jawabannya. Tak butuh waktu sepuluh menit, Crescencia mampu mengerjakan sisa soal yang menurut teman-temannya sulit.


"SUDAH?!" teriak mereka tak percaya. Bahkan Crescencia sempat menutup kedua telinganya yang tiba-tiba berdengung akibat suara toa teman-temannya itu.


Zikri mengangkat kertas jawaban Crescencia. Ia membacanya dengan lamat-lamat. Lalu ditarik oleh Ara yang juga penasaran cara pemecahan soal tersebut. Dan terakhir dengan Nando, ia sangat dibuat takjub dengan otak Crescencia. Sebuah tamparan kecil bagi dirinya. Ternyata, orang yang bertubuh mungil di sebelahnya itu mempunyai otak yang encer!


"Wah! Hebat banget lo, Cha! Makan apaan lo!" gumam Ara tak percaya.


"Nasi, lah!" jawab Crescencia lugu.


"Hmm. Itu mungkin kelebihan lo, Cha."


Kepala Crescencia langsung menoleh ke arah Zikri. Dahinya berkerut bingung. "Kelebihan apa?"


"Ya, kelebihan lo. Dari luar lo keliatan polos plus tolol. Eh ternyata dalemnya pinter!"


Crescencia seketika melotot tak terima mendengar itu. Ditambah dengan cengiran Zikri yang sangat menyebalkan.


"Sekarang, Icha juga tahu apa kelebihan Zikri!"


"Apa?" sahut Zikri merasa penasaran.


"Kelebihan Zikri itu, bisa menerima dengan ikhlas lahir batin atas kebodohan, kejomloan, dan muka pas-pasan pemberian, Tuhan.


"Ah, sialan, lo!" Zikri mengomel tak terima. Sedangkan ketiga temannya tertawa puas.


"Icha juga tahu kelebihan, Nando."


Nando menghentikan tawanya. Menatap Crescencia penasaran.  "Apa?"


"Nando masih mampu bertahan hidup dengan baik, walaupun  berhadapan dengan orang se-gakguna Zikri!"


Lagi-lagi ketiganya langsung tertawa puas di atas penderitaan Zikri.


"******! ******!" umpat Zikri yang justru membuat ketiganya tertawa sejadi-jadinya.


"Icha juga tahu kelebihan, Ara!" seru Crescencia semangat.


"Sebelum lo ngomong, gue udah tahu sendiri kelebihan gue."


"Eh...?"


Ara mengembuskan napas berat. Menatap ketiga temannya yang kini menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian. Ia lantas membuka suaranya dan menjawab pernyataan dirinya, dengan jeda di setiap kalimatnya.


"Gue punya tiga kelebihan." Ara mengangkat tiga jarinya. Dan menurunkannya satu per satu secara bergantian.


"Pertama, gue dari zigot gak pernah nabung di celengan ayam."


"Kedua, gue gak pernah minum es kepal milo sampai saat ini."


"Dan yang ketiga ...." Ara menggantungkan kalimatnya, membuat ketiganya semakin penasaran.


"Kelebihanku adalah, tidak pernah ada laki-laki yang membalas perasaanku dengan tulus."


" .................."


Seketika, hawa hening nan suram menyelimuti keempat anak itu.