Crescencia

Crescencia
Bab 11



Crescencia meletakkan pulpen hitam ke atas buku fisika yang terbuka. Sedikit memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut sakit. Crescencia mengembuskan napas pendek sembari mengelap keringat di wajahnya. Kepalanya tergerak menatap jam dinding kamarnya. Pukul sepuluh malam. Tiba-tiba saja tenggorokannya terasa kering. Teringat akan jadwalnya minum obat yang sudah terlewat.


Crescencia merenggangkan otot-otot tangan dan lehernya. Rasanya tubuhnya ini remuk dan sakit semua. Padahal, tadi sore dia hanya jalan-jalan sebentar bersama Nando, yang tak lebih dari dua jam. Namun, badannya kini terasa sangat pegal, seolah telah  menanjak gunung hingga puncaknya.


Crescencia turun dari kursi meja belajarnya. Hendak keluar untuk mengambil air putih. Namun, langkahnya tertahan di ambang pintu. Kepalanya menegap cepat saat mendengar deru motor yang sangat bising di dekat rumahnya. Crescencia otomatis melangkahkan kedua kakinya menuju balkon kamarnya dengan sedikit penasaran. Angin malam langsung menerpa seluruh tubuh dan mengibarkan ujung-ujungnya rambut beserta pakaiannya.


Crescencia memeluk tubuhnya sendiri. Sedikit kesakitan saat angin dingin menusuk masuk ke tulang-tulangnya. Crescencia menyipitkan matanya. Melihat banyaknya orang bermotor dengan pakaian serba hitam membanjiri halaman rumahnya. Kening Crescencia berlipat-lipat, dirinya mulai bertanya-tanya alasan mereka berkumpul malam-malam seperti ini.


Fokus Crescencia langsung terjatuh pada sosok Dika yang diturunkan dari atas motor. Dua orang berbadan kekar dan berkulit hitam memapah tubuh anak itu.


"Astaga, Kak Dika!" Crescencia langsung berlari secepat kilat. Menuruni anak tangga dengan perasaan kalut. Crescencia bahkan hampir menabrak tubuh Mira yang juga keluar dari kamarnya dengan cemas.


Crescencia meraih kunci yang tergantung di dekat pintu. Memutarnya pada knop pintu sebanyak dua kali sampai pintu besar itu berhasil terbuka.


"KAK DIKA!" pekik Crescencia panik melihat Dika yang setengah sadar. Terlebih melihat kedua rekan Dika yang sedikit menggeret tubuh kakaknya untuk dibantu masuk ke dalam rumah.


"Kak, Dika kenapa?"


Huekk.. Byuurrr...


Tubuh Crescencia langsung menegang saat cairan busuk dan menjijikkan mengguyur seluruh tubuhnya. Rambut, wajah, serta pakaian Crescencia basah mengenaskan. Crescencia menahan napasnya, menahan aroma muntahan Dika yang benar-benar membuat perutnya mual. Tubuh Crescencia bagai dipaku, sehingga anak itu hanya bisa berkedip tak percaya kala Dika kembali mengeluarkan isi perutnya yang berbentuk cairan pekat beraroma alkohol murahan.


"Astaga! Icha!" Mira menarik lengan Crescencia untuk menghindarkan anak itu dari muntahan Dika. Dirinya tak kalah terkejut melihat kondisi Dika yang kembali dengan keadaan mabuk berat hingga harus dibantu kedua rekannya untuk sekadar berjalan.


"Bersihkan tubuhmu dulu, Cha!" peringat Mira yang sedikit menjauhkan diri dari Crescencia akibat aroma badan anak itu yang sangat tidak sedap.


"Tapi Kak, Dika...."


"Cha!" Mira sedikit membentak. Sepasang matanya pun melotot marah. Crescencia menelan ludahnya sejenak, lantas berlari ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sesampainya di kamar mandi, Crescencia benar-benar langsung memuntahkan seluruh isi perutnya.


Mira membuka pintu lebar-lebar. Dirinya sedikit mundur, membiarkan semua rekan Dika untuk masuk ke dalam rumah.


"Taruh Dika di sofa!"


Kedua teman Dika mengangguk,  kembali menggeret tubuh Dika, lantas membaringkannya ke atas sofa. Dika tertawa dan bersenandung tidak jelas di bawah sadar. Bahkan sesekali anak itu muntah kembali karena pengaruh alkohol yang sangat kuat.


"Berapa banyak dia minum?" Mira melayangkan pandang penuh kesal pada semua teman Dika. Terutama pada dua orang yang baru saja membantu Dika, yang kini tengah melepas kausnya akibat terkena muntahan Dika.


Pria berambut cepak dengan mata yang sedikit merah terlihat mengembuskan napas pendek sebelum menimpali. "Lima botol."


"Lima botol?!" Mira membeo tidak percaya. Mira mendengus saat mendapat tatapan tajam dengan senyuman picik dari mereka.


Tak lama, Crescencia berlari kecil ke arah meraka dengan membawa sebuah baskom dan handuk kecil yang tersampir di pundaknya. Rambutnya yang basah ia gulung ke atas begitu saja. Berjalan sempoyongan dan duduk di sisi Dika.


"Bi, ambilkan kaus Kak Dika." Mira mengangguk, lantas bergegas menuju kamar Dika.


"Berani nyentuh gue! Lo mati." Dika meracau dengan menyeringai di penghujung ucapannya. Crescencia tidak peduli, dia langsung mengangkat kaus Dika yang penuh cairan menjijikkan itu.


"Pergi gue bilang! Lo budek?!" Dika menoyor kepala Crescencia yang sedikit pun tidak membuat kepala itu tergerak. Justru tangan Dika terkulai lemas begitu saja.


Crescencia menahan napas saat Dika meracau tak jelas. Sungguh, aroma alkohol begitu menyengat menusuk lubang hidungnya. Crescencia beralih untuk memeras handuk di pundaknya yang telah ia celup pada air hangat di baskom. Membersihkan tubuh Dika yang lengket dengan sangat telaten.


Di sisi lain, seseorang diam-diam menatap Crescencia dengan lekat. Kedua tangannya ia satukan, memilin sebentar bibirnya yang terasa kering. Netra hitamnya menyapu tubuh Crescencia dari atas hingga bawah dengan tersenyum penuh arti.


"Lo siapa?"


Kepala Crescencia langsung menoleh saat suara berat seseorang melayangkan pertanyaan. Netra cokelat Crescencia langsung terjatuh pada sosok pria dengan model rambut dipotong rapi kini tengah tersenyum menatapnya.


"Bukan siapa-siapanya," jawab Crescencia cepat, dan kembali pada tugasnya. Crescencia menelan salivanya. Sudut matanya sedikit melirik orang di sebelah kanannya yang terus saja mengawasinya. Crescencia dapat merasakan jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak kencang akibat aura pria tersebut. Entah mengapa, Crescencia tidak suka dengan tatapan itu.


Kepala Crescencia kembali menoleh saat orang-orang itu mulai beranjak dari rumahnya. Crescencia menggenggam handuk di tangannya dengan erat. Jantungnya berdetak kencang saat netra matanya kembali bersinggungan dengan netra hitam legam laki-laki yang sempat bertanya padanya. Orang itu menyeringai sebentar, lantas pergi dari sana.


Crescencia langsung mengembuskan napas panjang. Mengusap wajahnya yang tiba-tiba berkeringat. Crescencia menatap Dika yang tengah memejamkan kedua matanya, namun sebelah tangannya bergerak di udara seolah melukis sesuatu. Dirinya merasa khawatir dan kasihan kepada kakaknya itu.


"Ini kausnya, Cha." Mira memberikan kaus Dika. Crescencia pun menerima dan berkata terima kasih pada Mira.


Mira menutup kembali pintu rumah itu. Menatap nyalang ke halaman rumah kala orang-orang itu sengaja menggeber motornya sebelum benar-benar pergi dari sana.


"Mereka siapa, Bi?" tanya Crescencia sembari memasangkan kaus ke badan Dika.


Mira mengembuskan napas kasar dan menjawab, "Mereka kumpulan geng motor Dika. Mereka lah pelaku yang mengenalkan Dika sama minum-minuman keras."


"Sok tahu!"


Crescencia dan Mira serempak menoleh saat Dika kembali mengeluarkan suaranya.


"Mereka itu temen gue. Lo jangan sok tahu. Mereka bahkan lebih berguna daripada nyokap gue."


Crescencia menahan tubuh Dika yang hendak bangkit dari tempatnya. Dika tidak tinggal diam. Anak itu mendorong kasar tubuh Crescencia dengan otot tangannya, membuat tubuh Crescencia terhuyung ke belakang, dan berakhir jatuh menghantam lantai.


"Cha!" Mira memekik dan segera menolong Crescencia. Crescencia sedikit meringis dengan mengusap-usap lengan kanannya.


Satu alis Crescencia terangkat naik. Menatap Dika dengan sangat tidak percaya. Benarkah yang saat ini ia lihat itu kakaknya yang dingin dan berhati batu itu? Ataukah bocah lima tahun yang sedang bersandiwara? Entahlah, Crescencia sendiri hanya bisa menahan tawanya. Sedangkan Mira hanya menggelengkan kepalanya.


"Bi, apa penawar mabok alkohol?" tanya Crescencia sembari memegang tangan Dika, membantu anak itu untuk kembali duduk.


"Lepasin! Gue pengen terbang! Wiuuuhhhh!" Crescencia sedikit menarik tubuh Dika sekuat tenaganya saat kakaknya itu hendak ambruk ke depan.


"Yang saya tahu cuma air putih satu galon!"


"Hah?!" Crescencia langsung tersentak mendengarnya. Bukannya sadar, kakaknya itu bisa saja langsung tewas!


"Bercanda, Cha. Bibi juga gak tahu. Tapi pernah baca, orang mabuk gini bisa diatasi dengan minum banyak air putih atau air kelapa.


Crescencia mendengus. Mendorong kasar Dika yang kini memeluk pinggangnya. Membuat kepala belakang Dika menghantam sofa begitu saja.


"Biasanya, kalau Kak Dika lagi mabuk gini, Bibi kasih apa?" Sepasang mata Crescencia memicing untuk meminta kejelasan.


"Gak pernah Bibi kasih apa-apa. Bibi biarkan dia sampai sadar sendiri. Karena Bibi gak mau ikut campur urusan Dika."


Crescencia kian tersentak mendengar pengakuan Mira. Kedua tangan Crescencia langsung mengepal erat dengan bibirnya yang sedikit terbuka. Menatap Mira dengan sangat tidak percaya.


"Maksud, Bibi? Kalau Kak Dika mati gimana?!" Crescencia tanpa sadar meninggikan suaranya. Napasnya pun mulai bekerja cepat.


"Karena saya yakin Dika gak akan mati cuma gara-gara mabuk. Dulu saya pernah coba bantu Dika, tapi pipi kanan saya malah ditonjok sama dia. Ya, daripada saya yang mati, mending saya biarkan saja Dika seperti itu."


Crescencia mendengus. Hari ini dirinya sangat tidak menyukai Mira. Crescencia membalikkan tubuhnya, sedikit menghentak-hentakkan kedua kakinya menuju dapur. Memperlihatkan pada Mira jika dirinya sekarang lagi kesal. Sementara itu, Mira justru tertawa kecil menatap Crescencia. Mira menggelengkan kepalanya lagi. Sungguh lucu baginya menggoda anak itu.


Crescencia kembali dengan membawa teko penuh air putih dan juga satu gelas berukuran besar. Dirinya langsung mengembuskan napas kasar melihat kepala Dika keluar dari sofa. Crescencia meletakkan teko dan gelas ke atas meja. Membenarkan posisi kepala dan tangan Dika yang menjuntai ke lantai.


"Aduh, Kak Dika ini berat! Sadar diri dong! Icha capek angkatnya!" celoteh Crescencia dengan sedikit ngos-ngosan. Sementara Dika malah bersenandung kecil dengan nada sumbang.


Crescencia mengambil satu gelasnya yang ia isikan air dari teko tadi. Mencoba mendudukkan Dika, namun punggung Dika justru terjatuh menimpa dirinya. Crescencia sebisa mungkin mengatur posisinya. Dan akhirnya, ia meletakkan kepala Dika di atas bahu kanannya. Menempelkan gelas itu pada bibir Dika dengan paksa. Crescencia menuang air putih ke dalam mulut Dika hingga setengah gelas. Dika otomatis terbatuk-batuk, menyemburkan air itu dan mengenai pakaian Crescencia.


"Kak Dika!" pekik Crescencia melotot. "Baju Icha basah kan jadinya! Kak Dika jangan buat Icha sampai mandi dua kali, dong!" Crescencia mencaci. Membenarkan posisi kepala Dika yang ia sandarkan ke badan sofa. Sementara Dika terlihat tertawa di bawah sadarnya.


Crescencia berdiri dari duduknya. Mengibaskan bajunya yang basah dengan tangannya. Kepala Crescencia tergerak saat mendengar sesuatu di belakangnya. Crescencia mengembuskan napasnya, kepalanya menggeleng kecil dengan bibir yang tersenyum. Menatap Dika yang menjatuhkan diri di atas sofa. Crescencia menatap lekat kakaknya itu yang tak lagi meracau. Crescencia dapat melihat napas Dika yang mulai teratur. Dan sepertinya, Dika mulai tertidur.


Crescencia mengembuskan napas pendek. Tidak mungkin juga dirinya memapah Dika ke kamarnya. Berat badan Crescencia sendiri jauh lebih ringan daripada Dika. Bisa-bisa tubuhnya gepeng dulu sebelum Dika sampai kamar.


Crescencia beranjak untuk untuk melepas sepatu dan kaus kaki yang masih melekat di kedua kakinya. Sedikit mengangkat dua kaki besar Dika untuk mencarikan posisi yang nyaman. Crescencia mendengar dengkuran halus yang keluar dari mulut Dika. Tersenyum sejenak, lantas pergi menuju kamar Dika untuk mengambil bantal dan juga selimut.


Crescencia mengangkat kepala Dika dengan sangat hati-hati, meletakkan bantal itu di sana. Karena Crescencia tidak mau jika Dika pegal-pegal saat bangun nanti. Crescencia lantas menyelimuti tubuh Dika yang mulai dingin. Crescencia mendekatkan tubuhnya, menatap lekat-lekat pahatan Tuhan di hadapannya. Bibirnya tersenyum sangat tulus. Menatap setiap inci paras Dika, mulai dari bibirnya yang tipis dan sedikit hitam. Sepasang alis tebal. Rahang tegas. Tulang hidung yang sempurna. Kulit wajahnya yang halus dan tidak terlihat pori-porinya. Ah, baru kali ini dia bisa menatap Dika dengan lekat dan lama. Tangan Crescencia tergerak untuk membelai rambut hitam Dika yang panjangnya sampai menyentuh mata. Dika sangat terlihat kurang mendapatkan kasih sayang. Entah luka sebesar apa yang dirasakan Dika hingga membuatnya seperti ini.


Crescencia mungkin sedikit lebih beruntung dari Dika. Meskipun Mamanya telah tiada, namun, dia masih memiliki sang Papa yang sangat sayang padanya. Crescencia mengembuskan napas panjang dengan perlahan. Ia lantas berdiri untuk beranjak menuju kamarnya. Namun, pergerakannya tertahan saat Dika tiba-tiba menarik lengan kirinya.


Crescencia sedikit tersentak. Menatap lengannya dan tangan Dika secara bergantian. Dika masih terlihat memejamkan kedua matanya. Bahkan wajahnya terlihat sangat pulas. Crescencia mencoba melepaskan tangan Dika dengan perlahan. Namun, dikagetkan dengan Dika yang tiba-tiba bersuara pelan.


"Jangan tinggalin gue."


Crescencia tertegun. Dia menatap Dika dengan sangat tidak percaya. Ada rasa takut sekaligus senang. Takut karena Dika sekarang masih di bawah sadar.  Dan senang bahwa Dika menginginkan kehadirannya. 


"Jangan tinggalin gue. Gue mohon."


Crescencia tersentak kedua kalinya. Menelan salivanya dengan gusar. Crescencia mencoba melepaskan tangan Dika. Namun, genggamannya kian erat. Crescencia termangu untuk beberapa saat. Dia pun menjatuhkan diri di dekat Dika. Apa kakaknya itu sedang merasa kesepian? Entahlah, Crescencia memilih duduk di lantai yang dingin. Sebelah tangannya yang bebas dari cengkeraman Dika, terangkat naik ke atas sofa, tepat di sebelah perut Dika. Crescencia menunggu. Menatap Dika dari bawah dengan menguap beberapa kali. Crescencia mengusap kedua matanya yang mulai terasa berat.  Secara tidak sadar, ia meletakkan kepalanya di atas sofa. Matanya mulai terpejam, pandanganya menggelap, dan Crescencia mulai terlelap dalam tidurnya.


...🌹...


Pukul tiga pagi, Dika tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Hal pertama yang ia rasakan adalah pusing luar biasa yang menyerang kepalanya. Dika mengangkat tubuhnya untuk duduk. Memejamkan matanya rapat-rapat, dengan sebelah tangan yang memegang kepalanya. Dika mulai mengatur napasnya untuk menetralisir rasa sesak. Perlahan, Dika membuka matanya. Megerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya sekitar. Kepala Dika langsung menyapu sekitarnya. Dirinya sedikit linglung beberapa saat. Dan baru menyadari jika sekarang ia berada di ruang tengah rumahnya.


Kepala Dika tertunduk, dan langsung mendapati Crescencia di bawah sana. Keningnya sedikit berlipat, terlebih melihat selimut yang membungkus tubuhnya. Dalam benaknya ia mulai bertanya-tanya, apakah gadis itu yang melakukannya? Pasalnya, selama dia pulang dalam keadaan seperti ini. Tidak seorangpun yang mau menyentuhnya. Dika menyundul kepala Crescencia dengan jari telunjuknya beberapa kali. Membangunkan anak itu dengan sedikit kasar.


Crescencia mengangkat kepalanya. Mengucek matanya dengan sebelah tangannya yang bebas. Crescencia menguap dengan matanya yang mengerjap. Tatapannya langsung jatuh kepada Dika yang menatapnya dengan tajam.


"Ngapain lo?" Dika bertanya dingin sekali menggunakan suaranya yang berat dan serak.


"Nemenin Kak Dika," jawab Crescencia tak kalah serak.


"Ngapain lo nemenin gue! Siapa yang nyuruh?!"


"Kak Dika," balas Crescencia yang masih terlihat terkantuk-kantuk.


"Gue?!" tanya Dika masih tidak mengerti.


Crescencia mengangguk kecil. Mengangkat tangan kirinya yang masih digenggam erat oleh Dika. Dika yang menyadari itu langsung menarik tangannya cepat-cepat. Dirinya dibuat heran dan merasa kikuk. Tatapan Dika kembali menajam saat Crescencia hendak tidur lagi.


"Jangan tidur di sini! Balik sana ke kamar lo!" perintah Dika dengan tegas. Membuat kepala Crescencia terangkat lagi. Crescencia mengangguk ringan, lantas berdiri dari tempatnya. Tubuh Crescencia yang tidak seimbang langsung oleng dan hendak tersungkur, jika saja Dika tidak cepat menahan tubuhnya.


Dika segera menarik tangannya lagi saat tubuh Crescencia telah seimbang. Menatap punggung gadis itu yang mulai menjauh. Crescencia berjalan seperti mayat hidup dengan mulut yang terus menguap.


Dika mengembuskan napas panjang. Memegang kepalanya menggunakan kedua tangannya. Dika menyibakkan selimut di kakinya. Kedua tangannya ia tatap dengan sangat lekat. Dika menggaruk kepalanya yang terasa sangat gatal. Mulutnya mulai merutuki  tangannya sendiri. Dika beranjak dari sana. Membawa bantal dan selimutnya ke dalam kamar. Dika akan melanjutkan tidurnya dan melupakan apa yang telah dia perbuat tadi malam.