
Hari ini, Crescencia memutuskan untuk berangkat ke sekolah. Walaupun Dimas telah melarangnya karena baru kemarin dia pulang dari rumah sakit. Namun, Crescencia tetap bersikukuh, karena dia sudah sangat bosan jika harus seharian ada di dalam kamar. Crescencia seperti mayat hidup jika tidak bertemu dengan teman-temannya.
"Cha, lo masih ingat gue?"
"Otak lu masih aman kan? Gak geser kan?"
"Cha, lu gak kena gagar otak, kan?"
Baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam kelas, dirinya langsung di kelilingi teman-temannya yang memberikan pertanyaan beruntun. Crescencia sontak mengembuskan napas panjang. Sedikit tidak mengerti pikiran teman-temannya itu.
"Icha ini cuma kena bola basket. Masak, kelempar bola bisa langsung amnesia atau gagar otak. Lucu kalian!" Crescencia menggeleng kecil. Membelah kerumunan itu agar bisa duduk di mejanya.
"Ya, bisa saja kan, Cha! Gue lihat di sinetron-sinetron, kena gepok kecil aja udah amnesia. Apa lagi elo yang sampai masuk ruang ICU!" kata Zikri yang mendapat anggukan dari yang lain. Sementara Crescencia memilih tidak peduli. Dirinya sendiri juga tidak mengerti kenapa sampai bisa masuk ke dalam ruangan dingin itu.
Crescencia meletakkan tasnya di atas meja. Lagi-lagi, kepalanya menegap kala ada yang bertanya padanya.
"Kok lo udah masuk?" Sepasang mata Crescencia mengerjap. Menatap Nando dan Ara yang memberikan pertanyaan yang sama. Begitupun dengan Ara dan Nando yang kini tengah bertatapan singkat.
"Kalian bisa telepati?" tanya Crescencia. Sementara Ara dan Nando serempak menaikkan bahu acuh. Nando lantas menggeret bangku yang kosong untuk duduk di sebelah Crescencia. Menatap gadis itu yang kini diapit oleh Nando dan Ara.
"Lo baru keluar dari ICU kemarin, ngapain lo nekat ke sekolah, Cha?" Ara yang bertanya.
"Iya. Padahal kita mau rame-rame jenguk ke rumah lo. Percuma juga gue pesen brownis!" sungut Nando merajuk.
Crescencia langsung mengembuskan napas lega. Beruntungnya, hari ini dia memutuskan masuk.
"Gaperlu ke rumah, Icha udah gapapa. Terima kasih ya, Nando. Brownisnya tetep kasih Icha aja, hehe," kata Crescencia. Membuat Ara dan Nando langsung tersenyum simpul.
"Syukurlah kalau lo udah baik-baik aja." Nando memberikan senyumannya, lantas mengacak lembut rambut Crescencia sebelum beranjak pergi.
"Cha!" panggil Ara. Membuat kepala Crescencia menoleh dan menatap teman sebangkunya itu.
"Gue udah dua kali lihat lo mimisan separah itu. Lo ... Beneran gak kenapa-napa?"
Crescencia tersenyum melihat sorot kecemasan dalam mata temannya itu. Kepala Crescencia menggeleng kecil sebagai jawaban. "Gak apa, Ara. Icha cuma kecapekan aja."
Sepasang mata Ara sedikit memicing. Seperti tidak yakin dengan pengakuan Crescencia. Namun, dia segera mengalihkan perhatian kala guru kimianya memasuki kelas.
...🌹...
Crescencia membuka kotak bekalnya. Lantas melahap daging ayam kukus dan mengunyahnya pelan. Ara yang tengah memegang nampan berisi semangkuk bakso dan es teh manis melongok menatap bekal Crescencia. Dahinya sedikit berlipat melihat isi bekal Crescencia yang hanya terdapat wortel, kentang dan daging ayam.
"Lo emang kenyang Cha makan itu?" Ara meletakkan nampan itu di atas meja kantin. Bersebelahan dengan Crescencia yang tengah memasukkan potongan wortel ke dalam mulutnya.
"Kenyang!" jawab Crescencia sembari tersenyum. Sepasang matanya langsung melotot saqt Nando mencuri potongan ayam di sendoknya.
"Huek! Apaan dah ni ayam kagak ada rasanya! Hambar bener kek idup Zikri!" semprot Nando lantas melepeh daging ayam di mulutnya.
"Apaan lu, Nyet, nyinggung-nyinggung nama gue!" protes Zikri yang ternyata mendengar keluhan Nando.
"Apasih, lu nyahut aja!" balas Nando dengan ketus. Sementara Crescencia mengembuskan napas kasar memilih tidak peduli.
Selepas makan, Crescencia tidak langsung ke kelas bersama Ara. Dia menyempatkan diri ke kamar mandi untuk buang air kecil. Dan baiknya Ara mau membawa kotak bekalnya.
Crescencia keluar dari bilik toilet.
Berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan serta membilas wajahnya yang panas. Crescencia meraih tisu untuk mengusap wajahnya. Kepala Crescencia menegap. Telinganya menahan bagai seekor anjing yang menemukan mangsa. Crescencia mendengar suara beberapa wanita yang baru saja memasuki toilet.
"Gila! Ganteng banget! Iman gue gak kuat lihat dia lama-lama!"
"Iya! Kasian gue lihat dia dikeringkin kek ikan asin! Kalau gue punya nyali mah dah gue bawain payung, hahaha!"
"Langsung diusir sama Pak Romi yang ada! Kak Tiara yang se famous itu aja langsung diusir gara-gara mau kasih minum."
"Iya juga. Btw, kenapa ya dia sampai bisa dijemur sama Pak Romi?"
"Gue juga kagak tahu! Tapi, dia kan sekelas tuh sama Salma. Kata Salma dia sering gak masuk sekolah. Terus, dia juga jadi inceran guru gara-gara gak pernah nyatet dan kerjain tugas. Di kelas juga katanya sering tidur. Dia juga kayak anak misterius banget. Gak pernah ngobrol sama temen kelas."
"Oh, makanya gue jarang lihat dia. Siapa sih namanya, Dika bukan?"
"Iya kalau gak salah. Gue taunya ya rame di media sosial pas dia baru pindah ke sini. Gue juga jarang banget lihat dia. Kayaknya, ini yang ke dua kalinya deh gue lihat dia. Ganteng sih, tapi kayak bad boy!"
"Tapi yang bad boy lebih hot dan mempesona! Hahaha!"
Keempat perempuan itu tertawa ringan. Berhenti tepat di depan cermin besar lantas mengeluarkan beberapa alat make up nya.
Crescencia yang mendengar nama Dika disebut, langsung keluar dari toilet. Langkahnya sedikit terburu-buru menuju lapangan rumput. Karena di lapangan Indoor tadi digunakan kelas lain untuk berolahraga. Dan satu lapangan tersisa adalah di bagian belakang sekolah.
Sepasang mata Crescencia mengedar. Di sekeliling sana telah banyak perempuan yang sepertinya menjadikan Dika sebagai pusat perhatian. Netra mata Crescencia langsung terpusat pada dua orang gadis yang tengah berjalan ke tengah lapangan. Crescencia terus mengikuti gadis itu, hingga akhirnya teralih oleh teriakan Pak Romi yang menggelegar.
"Kalian! Ngapain masuk ke dalam lapangan?! Mau saya hukum juga?!"
Kedua gadis itu langsung terlihat cemberut dan menatap Pak Romi dengan kesal.
"Saya cuma mau kasih Dika minum, Pak! Kasian anak orang kehausan!" jawab salah satu gadis itu dengan melirik sedikit ke arah Dika yang diam saja.
"Iya, Pak! Bapak emangnya mau tanggung jawab kalau Dika sampai dehidrasi!" timpal temannya.
"Itu sudah jadi urusan saya! Pergi saja kalian ke kelas! Atau mau saya hukum buat bersihin semua kamar mandi wanita?!"
Kedua gadis itu langsung berdecak kesal. Menatap kembali Dika yang sama sekali tidak meliriknya. Kemudian, keduanya langsung meninggalkan lapangan. Pak Romi kembali duduk di bangku kayu tepatnya di bawah pohon besar yang sejuk. Matanya menajam bagai elang. Dirinya terpaksa harus mengawasi ke tujuh siswanya, terutama mengawasi Dika yang sedari tadi ada saja yang mau meringankan beban anak itu. Seperti memberikan tisu, payung, air minum, bahkan kipas angin mini. Pak Romi benar-benar tidak mengerti, orang seperti Dika bisa menjadi pujaan bagi para wanita. Ya, walaupun sialnya dia mengakui ketampanan anak itu sih.
Crescencia berjalan ringan mendekati Pak Romi yang tengah mengibas-ibaskan tangannya demi memberikan kesegaran di wajahnya. Tatapan Pak Romi langsung menajam melihat kedatangan Crescencia.
"Mau ngapain kamu? Kamu mau saya hukum juga?!" tanya Pak Romi dengan ketus. Membuat Crescencia langsung menekuk bibirnya ke bawah.
"Pak Romi mah, marah-marah terus. Emang Bapak mau cepet tua?" balas Crescencia menunjukkan muka sok sedihnya.
Pak Romi terlihat mengembuskan napas berat. Lantas bertanya lagi dengan suara yang lebih bersahabat. "Mau ngapain kamu?"
Crescencia tersenyum. Netra matanya menyorot lesu ke arah Dika.
"Bapak ngapain hukum Kak Dika lagi? Salah apa dia sekarang?"
"Kamu tanya dia salah apa?! Banyakkk!" seru Pak Romi terlihat emosi. "Dia udah bolos, gak kerjain tugas, tidur terus di kelas! Itu anak emang dasarnya gak niat sekolah!"
Terlihat betul amarah di wajah Pak Romi. Terlebih dari deru napas guru itu yang terlihat berkerja lebih cepat. Dadanya pun mulai naik turun menahan kesal.
"Tapi, Pak. Kalau Kak Dika dihukum terus, apa gak membuat Kak Dika lebih berontak? Bukannya kapok, dia malah tak segan buat kesalahan lagi dan lagi. Apalagi sekarang Kak Dika gak pakai topi. Bapak gak kasihan lihat Kak Dika tersiksa kepanasan? Kalau Kak Dika sakit gimana?" celoteh Crescencia dengan menatap gurunya tegas.
Pak Romi berdecak kesal sebelum menjawab pertanyaan Crescencia. "Ya, makanya itu saya kasih dia hukuman biar jera! Saya hanya mengikuti peraturan sekolah yang wajib memberikan hukuman bagi para siswa yang melanggar aturan!"
Kepala Crescencia langsung menggeleng untuk menolak jawaban tersebut. "Tapi, Pak. Dengan Bapak terus kasih dia hukuman, justru semakin membuat siswa jadi lebih parah lagi. Pasalnya, setiap hukuman yang kasar dan berat, justru memberikan rasa sakit hati yang membuat dia memberontak dan semakin tidak terkendali. Inilah sebabnya banyak siswa yang dipandang 'berandalan' gak akan pernah kapok walaupun sudah dikasih hukuman. Karena, bagi mereka, hukuman itu sebagai ajang balas dendam untuk berbuat yang lebih lagi."
Pak Romi menatap Crescencia dengan tajam. Dahinya menampakkan sedikit kerutan. Entah mengapa, lidahnya terasa kelu dan seolah mati rasa oleh pernyataan Crescencia.
"Terus, saya harus buat apa biar para berandalan sekolah ini insaf?!"
Bibir Crescencia tersenyum. Menatap gurunya itu dengan bersahabat. "Saran saya, Bapak sebagai seorang guru, harus bisa melakukan setiap siswa seolah teman sendiri. Sekarang, Icha tanya, apa Bapak pernah bertanya pada Kak Dika tentang alasan dia suka tidur di kelas, tidak mau mengerjakan tugas, bolos sekolah, dan lain-lain? Sebelum Bapak menghakimi dia, seharusnya Bapak sudah tahu, seluk beluk dan latar belakang dia bisa berbuat seperti itu. Karena, yang Bapak tahu cuma luarnya saja. Bapak sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya di alami anak itu di luar sana. Karena, setiap perbuatan, pasti ada penyebabnya, Pak!"
Sepasang mata Pak Romi memicing. Menatap lekat gadis dihadapannya yang membuat dadanya sedikit terasa sesak. Bahkan, mulutnya terasa pahit seolah dirinya ini tertampar oleh suatu kenyataan.
"Bagaimana kamu bisa bicara seperti ini?" balas Pak Romi yang sepertinya masih sedikit ragu mengenai kata-kata Crescencia.
Icha mengembuskan napas pendek sebelum bercerita. "Icha pernah punya teman sekelas, yang setiap harinya selalu tidur di kelas. Bahkan, dia juga sering dapat omelan dan hukuman akibat perbuatannya itu. Sebagian teman-teman Icha juga menganggap dia tidak niat sekolah, dan bahkan merutuki dia kalau hanya jadi beban keluarga dan tidak punya rasa terima kasih karena disekolahkan. Tapi, saat Icha coba ngobrol sama dia, dan Icha tanya kenapa kok setiap hari kerjaannya tidur di kelas, dia menjawab pertanyaan dari Icha yang membuat jantung Icha seakan berhenti berdetak kala itu."
"Dia menjawab, kalau dia itu anak yatim piatu. Dia hanya tinggal bersama Omnya yang bisa dikatakan tidak sayang kepada dirinya. Jadi, sepulang sekolah, dia bekerja hingga larut malam. Bahkan, hingga dini hari. Dan katanya, sekolah lah tempat dia bisa tidur dengan nyenyak."
Napas Pak Romi seketika tercekat di tenggorokan. Bibirnya pun langsung terasa sangat kering. Dan benar saja, dirinya seolah baru sadar jika selama ini dia tidak pernah dekat dengan siswanya. Dirinya juga tidak pernah bertanya apa penyebab siswanya melakukan hal demikian. Walaupun terdengar sepele, ternyata penjelasan singkat itu seolah langsung mempermalukan dirinya. Sudah hampir lima belas tahun dirinya menjadi seorang guru. Baginya, selama itu dirinya telah memberikan yang terbaik buat semua siswanya. Dan hari ini, dirinya seolah tertampar oleh satu kenyataan, jika dirinya belum benar-benar bisa menjadi seorang guru.
Pak Romi memilin bibirnya yang kering. Tanpa beliau sadari, wajahnya sedikit memerah di sana. Namun, sepasang matanya langsung memicing untuk menatap Crescencia dengan sedikit curiga.
"Saya lihat-lihat, kamu kok perhatian sama Dika. Kenapa? Kamu kenal dekat sama dia? Padahal, saat ini yang saya hukum bukan hanya Dika."
Ditanya seperti itu. Membuat sepasang mata Crescencia melebar sempurna. Punggungnya bahkan sedikit terdorong ke belakang, lantas kepalanya menggeleng kecil.
"Ti-tidak, Pak! Icha, cuma salah satu diantara ribuan fans nya Kak Dika, hehe!" Crescencia nyengir kuda dengan menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Sementara Pak Romi langsung mendengus gusar.
"Bisa-bisanya kamu nge-fans sama anak kayak dia!" Pak Romi menggelengkan kepalanya heran.
"Habisnya, Kak Dika ganteng, sih! Makanya, kalau bapak mau banyak fans nya ganteng juga, dong! Hahaha!" Crescencia tertawa di ujung kalimatnya. Sementara Pak Romi kian menatapnya kesal.
"Tapi, Bapak gak perlu ganteng kok buat disegani banyak siswa. Sekarang Icha tanya lagi, Bapak lebih suka mana, ditakuti banyak siswa karena kegalakkan Bapak yang menyamai macan betina? Atau, Bapak lebih suka disegani para siswa karena Bapak kepribadian bapak yang humble dan friendly kepada semua orang? Kalau Bapak pilih poin ke dua, yang bisa Bapak lakukan hanyalah mendekatkan diri dengan siswa. Dan yang jelas, kurangi galaknya, Pak! Karena guru yang galak sering dibenci siswa. Bahkan, banyak yang mendoakan dan menyumpahi Bapak yang tidak-tidak. Saya takutnya kalau ada wali lewat, doa mereka terkabul kan serem, Pak!" Crescencia sedikit berbisik di akhir kalimatnya. Membuat Pak Romi langsung menelan salivanya. Pak Romi menatap Crescencia yang kini tengah menatapnya serius. Seolah-olah memberikan wejangan padanya di siang bolong ini.
Pak Romi mengambil napas panjang seraya berdiri dari duduknya. "Sudah-sudah, kamu masuk kelas, sana! Habis ini udah masuk jam pelajaran!" perintah Pak Romi yang membuat Crescencia mengangguk mantap. Crescencia pun menyalimi gurunya itu sebelum beranjak dari sana.
Namun, sebelum Crescencia benar-benar pergi dari area lapangan, kepalanya menoleh, melihat Pak Romi yang tengah membubarkan tujuh orang siswa, sepertinya, beliau sedang mengakhiri hukumannya. Terlihat tujuh orang itu langsung menepi dengan sedikit menaik-turunkan kerah seragam meraka. Bibir Crescencia otomatis tersenyum simpul, merasa lega saat Dika telah terlepas dari hukuman itu. Crescencia pun kembali melangkahkan kakinya untuk kembali menuju kelas.
Untuk membuat seseorang jera akan perbuatannya, tidak perlu dengan kalimat kasar atau bahkan hukuman fisik yang memberatkan. Cukup dengan berlapang hati memberikan telinga sebagai penyalur cerita. Karena sejatinya, setiap orang hanya perlu pendengar yang baik. Tanpa adanya sebuah penghakiman.Â
...🌹°°°🌹...