
Keesokan siangnya, Crescencia dan Nando telah siap-siap untuk berangkat ke pantai. Crescencia memakai setelan kaus putih polos tanpa corak dan dipadukan dengan celana jin hitam polos setengah paha. Sementara Nando memakai setelan serba hitam. Kaus atas hitam, celana jin panjang hitam. Jam tangan yang melingkar di pergelangannya pun berwarna hitam.
Kedua remaja itu kini ada di atas motor hitam besar Nando. Di sepanjang perjalanan, mereka terlihat menikmati perjalanan yang cukup panjang ini. Kaca helm Crescencia dibiarkan terbuka. Membuat wajah dan sebagian rambutnya menari terbawa angin. Di sepanjang jalan itu, keduanya juga bernyanyi lagu apa saja yang terlintas di kepala mereka. Canda tawa tak luput menjadi pelengkapnya. Siang itu seolah dunia milik mereka. Pasalnya, sedari tadi juga mereka dijadikan pusat perhatian oleh banyak orang karena ulahnya yang cukup berisik.
"Nando! Kurang berapa menit lagi sampainya?" Crescencia melayangkan pertanyaan itu hampir sepuluh kali. Dirinya sangat tidak sabar sampai ke tempat tujuan.
"Bentar lagi, Cha..." jawab Nando. Nando sendiri masih nyambung ditanya-tanya Crescencia. Karena Crescencia kalau bertanya pakai effort dengan berteriak kencang di belakangnya.
Kepala Crescencia mengangguk. Lima belas menit kemudian, diri Crescencia dibuat terperangah. Rahangnya terbuka lebar-lebar. Dari kejauhan beberapa puluh meter, Crescencia melihat laut biru yang sangat indah. Bau asin khas pantai mulai tercium di hidungnya. Crescencia jingkrak-jingkrak sendiri di atas motor. Membuat motor itu oleng, hingga Nando dibuat kesal-kesal gemas dengan tingkah laku Crescencia.
Sesampainya di gerbang utama, Nando langsung memarkirkan motornya di sana. Dirinya harus merelakan tangan kanannya yang diseret-seret oleh gadis yang sudah tidak sabar lagi melihat pantai. Bibir Crescencia tersenyum lebar dan sedikit berlari kencang. Membuat Nando mau tidak mau juga harus mempercepat langkahnya.
"Uwaahhhh!" Sepasang mata Crescencia berseri-seri. Rambutnya terbang tersapu angin yang dibawa oleh ombak. Pancaran sinar matahari di atas sana menyapu tubuh Crescencia dan memantulkan terang di permukaan kulitnya yang putih dan bersih.
Crescencia menarik tangan Nando lagi. Menggeret anak itu untuk berjalan lebih dekat ke bibir pantai.
"Lepas sandal dulu, Cha," kata Nando. Crescencia pun menurut. Dia melempar sandalnya begitu saja. Rasa panas pasir putih langsung membakar telapak kakinya.
"Cha!" Nando berteriak kala Crescencia sudah berlari menjauh. Mengembuskan napas panjang lantas memungut sandal Crescencia. Menyimpannya di bawah pohon, kemudian berjalan mendekati gadis itu.
Crescencia tertawa girang kala kakinya tersapu air laut. Benar-benar seperti orang yang baru pertama melihat pantai.
Nando berdiri di sebelah Crescencia. Rambutnya berkibar-kibar tersapu angin. Nando turut tersenyum merasakan segar dan dingin kala air laut menyentuh kedua kakinya. Dirinya juga sudah lama tidak berkunjung ke tempat ini. Nando dan Crescencia menarik napas dalam-dalam. Memenuhi paru-paru mereka dengan udara asin itu.
"Nando, itu apa?" Crescencia menunjuk orang-orang yang tengah naik banana boat. Matanya juga mengedar melihat banyak orang yang bermain selancar dengan eloknya.
"Pisang raksasa!" jawab Nando sableng. "Lo mau naik?"
"Gak. Icha takut dipatok hiu," kata Crescencia polos sekali.
"Bagus." Nando mengembuskan napas lega. Karena dirinya malas sekali jika harus basah-basahan.
Crescencia menundukkan kepalanya. Memperhatikan sepasang kakinya yang kembali tersapu air.
"Nando berapa kali datang ke pantai?" tanya Crescencia sembari mendongakkan kepalanya.
"Emm, berapa ya...." Nando terlihat menghitung. "Tiga kali ini mungkin. Gue juga jarang main ke pantai, Cha. Lo sendiri kok bisa gak pernah ke pantai?" Giliran Nando yang bertanya.
"Papa sibuk. Jadi Icha gak pernah sempat main-main."
"Oh...., Terus, mama kamu?"
Bibir Crescencia tersenyum kelu. Kepalanya menatap hamparan air yang terbentang luas di matanya. "Mama Icha udah sama Tuhan sewaktu Icha masih bayi, Ndo." Suara Crescencia tiba-tiba terdengar serak.
"Sorry, Cha. Gue gak bermaksud," kata Nando tidak enak hati. Sementara itu bibir Crescencia justru tersenyum hangat.
"Gue jadi kangen Mama ...." ucap Nando tiba-tiba. Membuat kepala Crescencia langsung menatap Nando dengan wajah bertanya-tanya.
"Mama sama Papa pisah pas gue masih usia beberapa bulan, Cha. Terus, Papa nikah lagi. Dan sampai sekarang gue gak tahu Mama di mana. Terakhir kali gue tanya Papa, Mama ada di luar negeri," kata Nando menjawab kebingungan Crescencia. Terlihat jelas pancaran kerinduan pada wajah Nando.
"Jadi, Nando sekarang tinggal sama Mama tiri?" tanya Crescencia yang mendapat anggukan dari Nando.
"Sama, Ndo. Icha juga." Crescencia tersenyum kelu. "Tapi, Mama Icha selalu ada di sini." Crescencia mengangkat kalung berbentuk hati di lehernya. Nando menoleh, menatap benda itu dengan lekat.
"Mama Icha selalu ada di hati Icha." Crescencia tersenyum. Dan tiba-tiba saja, Nando menarik tangannya, lantas memeluk tubuhnya. Membekapnya pada dada bidang Nando yang berdetak kencang. Seketika itu, tubuh Crescencia menegang hebat. Jantungnya berdetak kencang. Dia sangat terkejut atas tindakan Nando ini.
"Sorry, Cha." Nando menguraikan pelukannya. Kedua tangannya memegang erat bahu Crescencia. Netra matanya menatap sepasang mata Crescencia penuh keteduhan. Crescencia pun balas menatap netra Nando. Dan dia langsung teringat akan ucapan Ara kemarin. Bibir Crescencia yang kering mulai terbuka dan bertanya,
"Nando suka ya sama Icha?"
Sepasang mata Nando mengerjap. Cukup terkejut dengan pertanyaan itu. Bahkan, kekuatan tangan di pundak Crescencia melemah. Wajah Nando tampak tegang. Dia bahkan menahan napasnya. Nando melemaskan kedua bahunya. Kemudian, menatap sepasang mata Crescencia dalam-dalam.
"Iya. Gue sayang sama lo Cha," kata Nando penuh kejujuran. Sementara jantung Crescencia seolah berhenti berdetak mendengarnya. Ternyata Ara benar akan hal ini.
"Kenapa Nando bisa suka sama Icha?" tanya Crescencia sedikit bercicit. Dirinya langsung teringat akan perasaan Ara. Dia tidak mau jika persahabatannya renggang hanya karena seorang laki-laki.
Nando melepaskan kedua tangannya dari bahu Crescencia. Kepalanya menunduk lemas melihat orang yang disukainya.
"Gue juga gak tahu kenapa Cha. Tapi, setiap gue lihat elo, gue ada rasa ingin selalu ngelindungi elo. Gue pingin selalu dekat-dekat dengan lo. Hati gue nyaman setiap gue lihat elo, Cha...."
Crescencia mendudukkan kepalanya. Merasakan sepoian angin yang mengibarkan ujung-ujung rambut serta pakaiannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia juga tidak mungkin menerima Nando sebagai pacarnya, sebagaimana yang pernah ia lakukan dulu kepada Galang. Walau aslinya, ia juga merasakan sebuah kenyamanan jika berada di dekat Nando.
Kepala Crescencia mendongak. Mendapati tatapan Nando yang masih sama. Tatapan teduh yang berhasil membuat dadanya menghangat.
"Tapi Ara suka sama Nando...."
"Gue tahu," jawab Nando. Membuat sepasang mata Crescencia langsung melebar sempurna.
"Nando tahu? Kenapa Nando--"
"Karena perasaan gak bisa diatur, Cha." Nando menjawab terlebih dahulu bahkan sebelum Icha menyelesaikan kalimatnya. Kepala Crescencia kembali menunduk. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Hingga tiba-tiba tubuhnya tersentak kaget kala tangan besar membungkus jari-jarinya.
"Izinkan gue selalu ada di samping lo, Cha. Gue juga gak nuntut lo buat suka gue balik. Dengan lo izinin gue ada, itu sudah jauh lebih cukup.
Crescencia menatap Nando dengan dalam. Mulutnya terbungkam. Mereka berdua saling bertatapan beberapa cukup lama. Hingga akhirnya, Crescencia mengalihkan perhatiannya ke arah hamparan laut. Dirinya hanya terdiam, namun membiarkan saja Nando yang semakin mengeratkan genggamannya.
Mereka berdua duduk di atas pasir dekat pohon. Menatap gerakan ombak yang menenangkan. Langit mulai berbuah menjadi kemerahan. Mereka memang menunggu sang raja siang untuk kembali tidur. Sehingga bisa menikmati sunset di sore hari ini. Sedari tadi, Crescencia menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Nando. Dia tidak memintanya, melainkan Nando yang menarik kepalanya untuk ditempatkan di sana. Jari-jari mereka saling bertaut, merasakan debaran kecil yang membuat merah jambu yang merambat nakal di kedua pipi.
Crescencia mendongak, menatap Nando yang tengah melihat lurus-lurus ke depan. Bibir anak itu sedari tadi tersenyum simpul di tempatnya.
"Nando, terima kasih, ya...." kata Crescencia tiba-tiba. Membuat kepala Nando menunduk untuk melihat rupa Crescencia.
"Terima kasih sudah ada di kehidupan Icha. Terima kasih sudah baik sama Icha. Dan terima kasih atas perasaan Nando sama Icha."
Nando tersenyum. Manis sekali. Tangannya yang bebas mencubit pelan pipi Crescencia.
"Terima kasih kembali, Cha...."
Crescencia pun mengangkat senyumannya. Kembali menyandarkan kepalanya pada pundak Nando. Sekarang, ia yang meminta itu. Crescencia bahkan membalas genggaman tangan Nando. Entah mengapa, dadanya terasa menghangat. Mereka berdua pun kembali berdiam diri. Menikmati langit yang berubah warna menjadi jingga kemerahan. Merasakan semilir angin yang mulai terasa dingin. Hingga langit berubah warna menjadi hitam, keduanya akhirnya memutuskan untuk pulang.
(Penampakan kalung Crescencia seperti di gambar ya)
Pukul delapan malam, motor Nando sampai di depan pagar rumah Crescencia. Nando membantu melepaskan helm di kepala gadis itu. Tangannya langsung turut merapikan rambut Crescencia yang cukup berantakan.
"Terima kasih Ndo ...." Crescencia tersenyum. Menatap lekat-lekat wajah Nando di bawah pantulan lampu jalanan yang remang-remang.
"Iya, Chaaa...., udah sana masuk, cepet tidur. Ingat, besok Senin." Nando mengusap lembut kepala Crescencia. Membuat gadis itu langsung tersenyum senang.
"Iya Nando. Nando hati-hati pulangnya. Kalau udah sampai jangan lupa kabari Icha."
Nando mengangguk. Kemudian menyalakan motornya, lantas pergi dari sana. Crescencia mengembuskan napas panjang. Menatap punggung Nando yang menjauh hingga menghilang di pengelihatannya. Saat dirinya hendak masuk rumah, tiba-tiba saja Dika muncul menghadang langkahnya.
"Lo ikut gue sekarang," kata Dika yang sudah siap dengan jaket di tubuhnya, serta helm di tangannya.
Dahi Crescencia otomatis berlipat. Apa telinganya tidak salah dengar?
"Kak, Dika ajak Icha? Ke mana?" tanya Crescencia mengeluarkan rasa penasarannya.
Dika tidak menjawab pertanyaan itu. Dia justru menarik tangan Crescencia. Membuat gadis itu terseret-seret di belakangnya. Dika memakaikan helm ke kepala Crescencia cukup kasar. Lantas menaiki motor hitamnya yang sepertinya memang telah ia siapkan.
"Naik," kata Dika seraya menghidupkan motornya. Crescencia semakin dibuat bertanya-tanya. Apa Kakaknya itu lagi mabuk? Serius nih, dia diajak?! Ke mana? Jalan-jalan kah? Crescencia hendak menolak, karena dia cukup lelah hari ini. Tetapi, gadis itu hanya bisa menurut. Sedikit loncat-loncat untuk bisa sampai di atas motor Dika yang tinggi dan besar. Setelah itu, Dika langsung menancap gas dalam. Membuat Crescencia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Dika.
Dika menggeber-geber motornya yang melaju kencang. Membawa motor itu bak setan jalanan yang ugal-ugalan. Umpatan makian serta klakson-klakson panjang saling bersautan. Bibir Crescencia sendiri teriak-teriak ketakutan. Gadis itu hampir menangis. Tubuhnya bergetar hebat. Motor Dika oleng ke sana-kemari tanpa jeda hingga nyaris menabrak kendaraan lain.
Napas Crescencia tersengal-sengal. Keringatnya telah basah di mana-mana. Entah mau dibawa ke mana dirinya ini. Motor Dika melaju kencang membelah jalan yang gelap dan sepi. Sama sekali tidak ada lampu penerangan jalan. Di sisi kanan dan kirinya hanya dipenuhi pohon-pohon besar dan tinggi.
Dika memelankan laju motornya kala sinar lampu motornya menyorot kumpulan pria beserta deretan motor gede yang terparkir di sana. Crescencia kontan mengangkat kepalanya. Gadis itu menelan ludahnya susah payah. Kepalanya menelisik setiap orang yang tengah menyambut Dika. Saat itu juga, detak jantungnya berubah cepat. Crescencia mengenali sebagian wajah orang-orang itu. Mereka adalah orang yang pernah mengantar Dika kala itu.
"Bagus, bagus! Ada nyali juga ya lo!" Bima datang dengan bertepuk tangan. Matanya langsung menyorot ke arah Crescencia yang terlihat ketakutan.
Dika membuka helm nya. Membuat rambutnya sedikit berantakan. Matanya menyalang tajam menatap Bima. Di belakang sana telah banyak member Dark House yang memang menunggu kedatangannya.
"Turun, Cha," perintah Dika pada gadis itu. Otomatis, Crescencia langsung turun dari sana. Melepas helm di kepalanya yang ia berikan pada Dika.
Bima menepuk tangan di udara dua kali. Memunculkan asisten pribadinya yang membawa amplop besar dan tebal.
"Ini uang jaminan gue. Pas sepuluh juta." Bima menyodorkan uang itu pada Dhika.
"Gue gak butuh uang lo! Hari ini gue yang bakal bayar mulut lo!" Dika mengepalkan kedua tangannya. Menatap Bima dengan wajah beringas.
Bima tersenyum. Matanya kembali menatap Crescencia yang bersembunyi di belakang Dhika. Bima menyundul pipi dalamnya dengan lidahnya. Dia hendak melangkah maju, namun tertahan oleh Dika yang langsung menghadang langkah Bima.
"Siapin motor lo. Kita tanding sekarang!" kata Dika tidak sabar.
Cuih! Bima meludah di bawah kaki Dika. Membuat otot-otot tangan Dika semakin menonjol keluar. Bima lantas beranjak dari sana untuk mengambil motornya. Sementara Dika kembali memakai helmnya. Salah satu teman Dika datang menghampiri. Menarik dada Dika ke belakang untuk menahan emosi anak itu.
"Kak Dika mau balap liar?!" teriak Crescencia melotot. Kedua tangannya langsung meremas-remas ujung pakaiannya.
"Lo ke sana." Dika menunjuk Ardi dan beberapa member lain yang tengah berkumpul di sana. Crescencia tidak bergerak. Tubuh anak itu terpaku tidak mengerti.
Dika dan Bima telah berada di belakang garis start dengan motornya masing-masing. Mereka berdua tampak menggeber-geber gas dalam. Suara penuh ricuh memberikan semangat untuk keduanya. Seorang wanita muda dengan pakaian ketat dan kekurangan bahan berdiri di depan mereka. Tangannya mengibarkan bendera bewarna hitam.
Wanita itu mulai berjalan ke pinggir. Mulutnya terbuka dan menghitung mundur.
"Tiga... Dua .... Satu ....!"
Blaaaaarrrrrr!!!
Motor Dika dan Bima melaju kencang. Meninggalkan asap putih dan kepulan debu yang menerbangkan rambut serta ujung-ujung pakaian semua orang yang ada di sana.
Dika semakin menancap gas dalam. Kali ini, dia ada di unggul di depan Bima. Dia sama sekali tidak memberikan celah untuk bisa bisa mencuri tempat. Dua motor itu saling berliuk-liuk di jalanan yang sepi. Keduanya saling kebut-kebutan tanpa ada rasa takut di benak mereka. Saat melewati tikungan pertama, Bima berhasil memepet motor Dika. Membuat motor Dika mengikis jalan dan nyaris saja motornya jatuh ke jurang di sebelahnya.
Bima menggeber-geber motornya tanda meledek. Kini, posisinya lebih unggul di depan Dika. Sisi-sisi geraham Dika saling menindih. Dia pun langsung menancap gas lebih dalam lagi. Membuat motornya melaju kencang dan nyaris terbang. Keduanya terlihat salip-salipan membelah jalan aspal yang dingin ini. Rute yang mereka lewati adalah jalanan putar dengan empat kali tikungan tajam.
Jantung Crescencia dibuat menggila. Keringatnya kian mengucur deras. Perasaannya berubah jadi tak enak. Dirinya sedari tadi melihat jalan yang terkahir Dika lewati. Dia sendiri masih tidak mengerti alasan Dika membawanya ke tempat ini. Crescencia masih berdiri di tempatnya. Dia sama sekali tidak berani gabung di kumpulan orang yang tadi Dika perintahkan. Karena orang-orang itu justru menikmati miras dengan kepulan asap nikotin yang keluar dari mulut mereka.
Suara deru motor mulai terdengar dari kejauhan. Otomatis, semua orang langsung berdiri dari tempatnya. Suara ricuh mulai terdengar dari mulut mereka. Semua menyoraki nama Dika ataupun Bima.
Sepasang mata Crescencia terus tersorot pada jalan yang panjang. Hingga akhirnya sorot lampu yang menyilaukan tampak seiring suara motor yang kian mendekat. Dua pengendara itu saling mempertahankan posisi. Bima yang berada dekat di belakang Dika terus mengincar posisi utama. Sedikit lagi mereka mendekati garis finis.
Bima menancap gas paling dalam. Begitupun dengan Dika. Saat jarak tiga ratus meter, Bima memepet motor Dika. Tanpa banyak kata, Bima langsung menendang sisi motor Dika dengan sangat keras. Membuat motornya dan motor Dika oleng-olengan. Dika yang tidak siap dengan serangan mendadak itu langsung memutar stir ke kanan.
"ANJING LO!" teriak Dika yang kehilangan kendali.
BRAKKKKK!!!!
Motor Dika menabarka pembatas jalan dengan keras. Motor itu langsung meluncur jauh hingga membentuk bunga api akibat goresan besi dengan aspal. Sementara tubuh Dika terpental beberapa meter. Semua orang yang berada di sana langsung menegap dan melotot menatap percikan api yang keluar dari permukaan aspal malam ini.